Menikahi Perawan Tua

Menikahi Perawan Tua
Kita Perlu Bicara


__ADS_3

 


“Udah mulai bucin nih,” ujar Rika yang baru saja datang.  


Atensi Reka dan Nara beralih pada Rika yang baru saja datang. Rika terbahak mendengar ucapan Reka barusan. “Bu Nara, asli saya baru dengar Reka lebay kayak gini,” ucap Rika.


Reka berdecak, “Merusak suasana aja,” ucap Reka.


“Aku gantian dengan Kak Kayla. Tapi usulnya boleh juga, aku mau tanyakan ke perawat bisa nggak kalian dalam satu kamar aja. Ribet juga kalau harus bolak balik,” ujar Rika lalu melangkah untuk meninggalkan ruangan.


“Rika, lo nggak kangen dan khawatir sama gue. Perut gue koyak, lo nggak ngerasa gimana gitu?”


“Enggak,” jawab Rika dengan yakin, “Sekarang ‘kan belahan jiwa lo Bu Nara, bukan gue lagi,” sahut Rika sambil tertawa. “Bunda,” panggil Rika sambil keluar dari kamar.


“Ra, peluk dong,” pinta Reka.


“Nggak. Aku mau kembali ke kamar,” sahut Nara.


...***...


Esok hari, Nara sudah diperbolehkan pulang dengan banyak pesan dari Dokter mengenai apa yang boleh dilakukan dan tidak. Berita tentang Nara diculik pun sudah ramai di kampus. Ardi beberapa kali menghubungi ponsel Nara. Tapi ponsel tersebut saat ini berada di kamar Reka di kediaman Kevin.


“Kalian nanti tinggal dengan Bunda, biar mudah mengawasi. Biar Bunda lebih tenang juga,” cakap Meera pada Reka dan Nara. Nara yang sudah diperbolehkan pulang memilih tetap berada di kamar rawat Reka dan berbaring di ranjang khusus penunggu pasien.


Reka sudah terbebas dari selang infus dan saat ini sudah boleh bergerak bahkan berjalan. “Hari ini aku sudah boleh pulang ya Bun?” tanya Reka.


Meera yang sedang membereskan bekas makan Reka menjawab, “Bunda belum tau dan nggak berani juga usul untuk kamu bisa cepat pulang.”


Reka menoleh pada Nara yang kembali terlelap. “Sudah biarkan saja, hamil muda memang begitu. Mudah lelah, ngantuk belum lagi mual dan pusing. Kalian laki-laki tau enaknya aja, perempuan yang merasakan macam-macam saat hamil apalagi nanti melahirkan,” terang Meera.


Reka hanya mengangguk dan membiarkan istrinya beristirahat. Tidak lama kemudian ada kunjungan dokter. Setelah diperiksa area luka pasca operasi di perut Reka, Dokter akhirnya memperbolehkan Reka pulang. “Tiga hari lagi kontrol ya, sudah boleh kena air asal jangan digosok area lukanya. Kalau hanya terlewat air karena mandi, ya tidak masalah. Nanti dikeringkan dengan dilap tisu atau kain steril,” ungkap Dokter.


Sesuai dengan apa yang disampaikan Bunda Meera, Reka dan Nara akhirnya dibawa pulang ke kediaman Kevin. Karena keduanya masih harus dipantau kesehatannya, Meera tidak mengizinkan mereka pulang ke apartemen.

__ADS_1


“Kamu istirahat saja,” ujar Meera pada Nara. “Nanti Bunda minta Bibi bawakan minum dan cemilan kesini, jadi kamu nggak usah bolak balik.”


Meera akan meninggalkan Nara di kamar Reka, “Bunda, makasih sudah mau mengurus aku,” ujar Nara dengan kedua mata yang sudah berembun. Meera kembali menghampiri Nara dan duduk disamping menantunya. “Nggak boleh begitu, kamu juga anak Bunda.”


“Tapi aku belum pernah merasakah di perhatikan dan dijaga seperti ini dengan Ibu aku sendiri Bun. Sedangkan Bunda, yang baru kenal aku belum lama sudah sangat sayang sama aku. Aku benar-benar beruntung berada di tengah-tengah keluarga ini,” tutur Nara dengan titik air mata di sudut kedua matanya.


Meera memeluk Nara dan mengusap pelan punggung menantunya. “Sudah sayang, jangan sedih-sedih terus kasihan calon bayi kamu.”


“Kalau sedang hamil kamu harus menciptakan suasana senang dan bahagia, jangan sedih nanti berpengaruh dengan pertumbuhan bayi,” terang Meera setelah mengurai pelukannya. Nara hanya mengangguk patuh.


“Istirahat ya, Reka masih di bawah. Katanya ada kawan-kawannya yang mau datang,” titah Meera pada Nara.


Dewa dan Yasa yang datang menjenguk Reka. “Jadi ini maksud lo waktu itu, yang minta dukungan kita,” ucap Yasa. Reka hanya mengangguk. 


“Kenapa nggak kasih tau waktu mau gerebek rumah penculiknya?” tanya Dewa.


“Mana sempatlah, waktu ada orang Papih bilang sedang mengintai salah satu rumah tempat dulu Reno tinggal, gue langsung meluncur. Nggak ada inget mau lapor polisi apalagi ngajak-ngajak kalian,” jelas Reka.


“Berita ini juga udah rame di kampus, tapi tenang aja gue dan Dewa sudah menjadi juru bicara. Jadi kalau ada informasi yang kurang pas sudah kita luruskan,” tutur Yasa.


“Nggak ada percayanya amat sama temen sendiri. Mau nggak mau kita sampaikan lo dan Nara sudah menikah karena berita yang beredar. Lo ngerebut Nara dari suaminya, jadi yang ramai insiden lo berantem sama Reno karena merebutkan Nara bukan karena menyelamatkan Nara.”


“Ah, bodo amat. Gue nggak peduli, yang penting Nara sudah aman,” jelas Reka. Semakin ramai obrolan mereka karena kedatangan Vano.


“Ini nih, nggak ada kabarnya banget,” ucap Reka.


“Berisik, gue ngilang juga demi lo. Memang siapa yang nahan-nahan biar Lili nggak aneh-aneh maksa mau ketemu lo,” ungkap Vano.


“Lili siapa?” tanya Yasa dan Dewa serempak padahal tidak janjian.


“Kemana itu bocah sekarang, nggak jadi kuliah di kampus kita ‘kan?” tanya Reka.


“Sudah dimutasi oleh Om Elang, jadi kembali ke asalnya,” tukas Vano.

__ADS_1


Setelah teman-temannya sudah pamit pulang, Reka yang hendak naik ke kamarnya dipanggil oleh Kevin yang baru saja pulang.


“Duduk,” pinta Kevin pada Reka.


“Keluarga Reno mendatangi Pak Radit untuk mencabut laporan penculikan Nara. Papih belum tau apa jawaban Pak Radit. Kamu jangan terlalu gegabah, apapun keputusan Radit yang penting adalah keamanan Nara,” ungkap Kevin.


“Kalau Nara tetap ingin lanjut ke pengadilan, gimana Pih?”


“Iya kita semua maunya begitu, tapi entahlah Radit. Apapun keputusan Radit, sepertinya Nara akan ikuti.”


Reka memasuki kamarnya sambil memikirkan apa yang disampaikan Papinya. Ikut berbaring disamping Nara. tubuhnya belum nyaman dibuat miring menghadap Nara, yang ada hanya bisa berbaring terlentang.


Nara terusik karena pergerakan di sampingnya. Menyadari ada Reka, Nara pun memeluk tubuh Reka. Reka hanya bisa mengusap kepala Nara pelan. “Nggak usah nangis, kata Bunda kamu sedih aja.”


“Aduh Ra, aku kangen banget. Mau peluk kamu tapi gerak aku masih terbatas,” keluh Reka. Nara hanya bisa tersenyum mendengar keluhan Reka. Reka beranjak bangun dan duduk bersandar pada headboard, diikuti Nara.


“Ra, ini beneran kamu hamil?” tanya Reka yang dijawab anggukan kepala Nara. “Jadi, aku sebentar lagi akan jadi orangtua ya.” Reka mengusap perut Nara yang masih rata.


“Aku pikir kamu akan marah atau kecewa karena kehamilan ini,” ucap Nara menyampaikan kekhawatirannya.


Reka menoleh pada Nara. “Kenapa bisa berpikiran begitu?”


“Kita belum pernah bahas hal ini, jadi wajar kalau aku ragu dan takut,” terang Nara.


Reka menghela nafasnya sebelum mengajar Nara bicara serius. “Ra, ada yang perlu kita bicarakan dan ini penting.”


“Tentang apa? Sepertinya serius sekali," tanya Nara.


“Tentang Reno,” jawab Reka. Raut wajah Nara langsung berubah saat mendengar nama Reno. 


\=\=\=\=\=\=


Yuhuuu, mampir yuk, ini karya rekan author

__ADS_1



__ADS_2