
Di usia kehamilannya yang sudah memasuki trimester terakhir, akhirnya Bian dan Alisha memulai hidup kedua mereka di rumah keluarga Herdianto. Bian memutuskan menuruti keinginan mamanya untuk kembali tinggal bersamaa di rumah itu. Selain Bian memikirkan Alisha, sejujurnya ia mulai tidak nyaman hidup di rumah istrinya yang tak terlalu besar. Bukan karena tempatnya yang tak terlalu bagus dibanding rumahnya, namun ia menyadari bahwa ibu mertuanya selalu mengurusnya dengan baik sehingga hal itu membuat Bian sedikit terbebani. Misalkan saja ketika makan, Bian tidak pernah mempermasalahkan masakan apaa yang akan ia makan, namun ibu mertuanya selalu memasakkannya secara berlebihan layaknya seorang tamu.
Tentunya itu hanya satu dari sekian alasan yang berhasil membuat Bian kembali pulang. Ia merasakan Alisha tengah menyembunyikan sesuatu hal darinya. Terlihat dari beberapa kali ia berusaha membujuk Bian untuk kembali ke rumah itu. Padahal Bian tahu bahwa istrinya tidak pernah merasa nyaman tinggal di sana.
Proses perpindahan Alisha dan Bian hanya dibantu oleh beberapa anak buah David. Mereka tidak terlalu banyak membawa barang karena semua sudah tersedia dan tercukupi di dalam rumah berlantai empat itu.
Begitu masuk ke dalam rumah yang sudah lama ia tinggalkan, Alisha merasa seperti kembali ke garis start padahal dia sudah berlari jauh meninggalkannya. Keadaan di rumah itu masih sama persis dengan saat ia meninggalkannya beberapa bulan yang lalu. Memang tak terhitung lama, tapi Alisha sudah merasa asing lagi dengan kamarnya.
Setelah menata baju-bajunya di lemari, Alisha menyempatkan dirinya menyapa semua asisten rumah tangga yang bekerja di rumah itu. Ada satu asisten rumah tangga yang sangat ia sukai, namanya Marianah. Tapi sering dipanggil Mbak Inah. Alisha merasa dekat dengan Mbak Inah karena dia selalu membantunya dan menemaninya dengan perasaan tulus dan hangat. Bukan berarti asisten lain tak seperti itu, tapi Mbak Inah sedikit berbeda.
Usianya tak terlalu jauh dari Alisha, hanya terpaut empat tahun lebih tua darinya. Dari awal Alisha masuk ke rumah itu, Mbak Inah lah yang selalu mendukung dan menyemangatinya. Terlebih saat dia didzolimi oleh sang ibu mertua. Dua kata yang selalu terucap dari Mbak Inah, sabar dan syukur. Ia selalu menyuruh Alisha untuk sabar menghadapi semua perlakuan Mama Liana. Dan itulah yang membuat Alisha bisa bertahan.
Namun kali ini berbeda. Saat Alisha menyapa semua asisten di dapur, ia tak melihat Mbak Inah di sana. Alisha pun bertanya pada beberapa asisten yang biasa bekerja bersama Mbak Inah, tapi mereka hanya bilang bahwa Mbak Inah tidak pernah lagi berada di dapur. Ia sudah dipindahtugaskan menjadi staf bersih-bersih. Dan tugas utamanya adalah menjaga dan membersihkan kamar Mama Liana, kamar Bian dan Alisha serta ruang kerja Bian.
Mendengar hal itu Alisha tak berpikir apapun, karena perputaran tugas di beberapa bagian memang selalu diterapkan di rumah mewah itu. Alisha pun beralih mencari Mbak Inah di lantai dua, tempat area kerjanya sekarang.
Saat ia menemukan Mbak Inah yang sedang membersihkan ruang kerja Bian, Alisha pun langsung menghampirinya dengan pelan.
“Mbak Inah!” sapa Alisha lembut.
Wanita yang merasa namanya tengah dipanggil pun menoleh ke arah pintu dan mendapati Alisha lah yang memanggilnya. Jika dulu saat Alisha menyapa Mbak Inah, ia akan langsung dibalas dengan pelukan darinya. Tapi kini setelah Alisha menyapanya, Mbak Inah nampak terkejut dan salah tingkah. Alisha pun mengernyitkan dahinya saat melihat perubahan sikap Mbak Inah.
“Mbak, saya balik lagi!” kata Alisha.
__ADS_1
“Oh, iya Bu. Ibu mau saya buatkan apa?”
Alisha tersenyum canggung dan hanya membalasnya dengan gelengan kepala. Setelah Mbak Inah pamit undur diri untuk membersihkan kamarnya, Alisha mulai bergumam sendirian.
“Ada apa ya sama Mbak Inah? Kenapa dia jadi canggung dan kaku kayak gitu?”
Tak lama setelah Alisha berada di ruang kerja Bian, dia dikejutkan dengan pintu yang tiba-tiba terbuka dengan keras. Mama Liana masuk dengan tatapan yang tajam menusuk seperti biasanya. Tatapan yang sudah lama tak ia lihat pun masih berhasil membuat Alisha bergidik.
“Alisha!” teriak Mama Liana.
“Iya, Ma” jawab Alisha dengan lirih.
“Kenapa kamu suruh Bian menjauhi Berlian? Kamu mau ngatur anak saya?” teriaknya lagi.
Tidak paham dengan ucapan Mama Liana, Alisha pun mencoba mengatur napas dan mempersilakan mertuanya untuk duduk di sofa yang ada di sudut ruangan.
“Halah! Dasar tukang bohong, kamu bilang ke suami kamu untuk jaga jarak dengan Berlian, kan?” teriak Mama Liana semakin keras.
Alisha mulai paham apa yang sedang dibicarakan oleh Mama Liana. Ia pun memberikan perlawanan pertamanya selama menjadi menantu yang tak dianggap di rumah itu.
“Aku memang meminta Mas Bian menjaga jarak dengan Berlian, tapi tidak dengan pekerjaannya, Ma!”
“Halah, masih ngeles aja kamu ini! Awas aja ya, kalau kamu berani menjauhkan Berlian dari Bian, akan kubuat kau menyesal kembali ke rumah ini!” ancam Mama Liana.
__ADS_1
Alisha merasa sedikit takut dengan ancaman itu. Mentalitas tangguh yang selama ini dia latih dan yakini bisa melawan sang mama mertua, ternyata menciut semudah dan secepat itu. Meski demikian, dia segera menata kembali pikirannya agar tidak mudah terpengaruh oleh Mama Liana.
Lagi dan lagi, Alisha mendapat saingan baru dalam memperebutkan Bian. Ia menghibur diri dengan mengatakan pada dirinya sendiri bahwa mungkin inilah risiko memiliki suami kaya raya dan sukses. Meski bagi Alisha suaminya tak terlalu tampan, tapi di mata gadis lain, dia mungkin sangat mempesona. Tapi Alisha tak peduli, ia akan melindungi apa yang telah menjadi miliknya, bahkan jika harus menempel terus pada Bian.
“Sayang, kenapa kamu di sini?”
Suara Bian yang muncul dari belakang membuat Alisha tersentak. Saking terkejutnya, ia sampai memegang perutnya yang sudah sangat besar.
“Kamu ngagetin aja, Mas!” protes Alisha.
“Maaf, Sayang. Kamu nggak apa-apa, kan?” tanya Bian yang mulai merasa bersalah karena membuat Alisha terkejut.
“Nggak apa-apa. Kamu kok di rumah? Katanya tadi balik ke kantor?” tanya Alisha.
“Aku mau ambil berkas sama ganti baju, terus lanjut meeting” jawab Bian sambil mencari berkas-berkas yang ia butuhkan.
“Mm, meeting sama siapa, Mas?”
Bian tampak diam sebelum menjawab pertanyaan Alisha. Karena dia takut jawabannya akan membuat istrinya salah paham dan menimbulkan pertengkaran kecil di antara mereka.
“Berlian..” jawab Bian pelan.
Alisha mengangguk pelan dan tak menunjukkan reaksi apapun. Dia berkata akan membantu menyiapkan baju dan kemeja yang akan ia gunakan dan langsung meninggalkan ruang kerja Bian.
__ADS_1
Entah apa yang ada dalam pikiran Alisha sehingga dia terlihat biasa dan tak memberikan reaksi tertentu, tapi Bian merasa bersalah karena telah berbohong pada istrinya.
Ya, ia berbohong karena sebenarnya Bian tidak sedang bersiap untuk meeting bersama Berlian, melainkan untuk makan malam bersama Berlian dan Mama Liana.