Menikahi Perawan Tua

Menikahi Perawan Tua
Bab 21


__ADS_3

Akhirnya Alisha telah kembali ke rumah barunya bersama Bian dan David. Begitu sampai di rumah pun ia sudah ditunggu oleh Tsabina yang sudah kembali dari luar negeri.


“Kakakkuuu..” teriak Tsabina dari kejauhan seraya memeluk Alisha.


“Apa kabar, Bin?” tanya Alisha sambil tersenyum.


“Baik, Kak. Kamu gimana, calon ponakanku gimana?” tanya Tsabina.


“Aku baik-baik aja kok.”


Bian menyuruh adiknya untuk berhenti mewawancarai kakak iparnya agar dia bisa kembali beristirahat. Dan Tsabina pun menurutinya dengan gerutuannya yang tak pernah ketinggalan.


Setelah memastikan Alisha telah tertidur, Bian mengumpulkan David dan anak buahnya di rumah rahasianya. Bian memiliki satu rumah rahasia lain yang ia gunakan untuk membahas masalah yang membutuhkan bantuan dari para anak buahnya.


Bian meminta Tsabina menunggu dan menjaga kakak iparnya di rumah. Ia juga memintanya terus mengabarinya semua hala yang terjadi selama ia tidak bersama Alisha.


David telah menyusun rencana untuk menyelamatkan nyonya majikannya terlebih dahulu. Ia meminta Bian untuk mengajak Diandra bertemu dan mengajukan penawaran agar dia mau melepaskan Mama Liana.


“Vid, Diandra itu lulusan luar negeri. Dia tidak sebodoh itu” kata Bian.


“Saya tahu, Pak. Tetapi itu hanya pancingan saja” jawab David.


“Apa maksud kamu?”


David menjelaskan bahwa pertemuan itu hanyalah sarana untuknya agar bisa memperpanjang waktu. David berencana melacak posisi Mama Liana dengan menggunakan alat yang akan dia letakkan di mobil Diandra.


Dan tugas Bian yang lain adalah memancing Diandra agar dia bergerak mendatangi tempat yang ia gunakan untuk menyekap Mama Liana. Dengan begitu dia bisa mengetahui lokasi penyekapan itu.


Bian pun menyetujui rencana David. Ia memastikan agar David tidak tertangkap saat memasang alat pelacak di mobil Diandra. Meski ia tahu David bisa menangani hal-hal seperti itu dengan mudah, tetapi lawan mereka pun juga tidak mudah.


Meski Diandra adalah seorang wanita, Bian tahu betul bahwa dia bisa melakukan apapun yang ia mau demi melancarkan semua hal yang sedang ia lakukan.


David pun memahami dan meminta semua anak buahnya untuk melakukannya dengan rapi dan teliti.


***


Hari yang mereka tentukan pun tiba. Diandra menyetujui permintaan Bian untuk bertemu dengannya. Namun sayangnya ada sedikit hal yang menghambat pekerjaan David dan anak buahnya.


Diandra meminta untuk mengubah tempat pertemuan mereka dengan tempat yang sudah ia tentukan. Awalnya Bian lah yang menentukan tempat pertemuan mereka agar mempermudah David dan anak buahnya menata peralatan pelacak mereka.

__ADS_1


Tetapi untungnya David selangkah lebih maju dalam memikirkan hal itu, sehingga perubahan tempat pun tak menjadi masalah yang berarti baginya dan anak buahnya.


Setelah Bian tiba di tempat yang mereka sepakati, Diandra meminta anak buahnya untuk memeriksa Bian secara menyeluruh.


“Kau telah banyak berubah, Di” ucap Bian saat anak buah Diandra menggeledah seluruh tubuhnya.


“Maklumi aja, Bi. Semua ini karena kamu juga” jawab Diandra sembari tersenyum licik.


Setelah dinyatakan bersih dari apapun yang dirasa mengancam, Bian memulai pembicaraan mereka.


“Aku mau kau melepaskan mama. Aku akan berikan satu balasannya untukmu” kata Bian.


“Oh yaa? Apa yang mau kamu kasih ke aku?” tanya Diandra sembari tertawa lebar.


“Katakan saja! Saham? Perusahaan? Gedung?” jawab Bian.


Diandra justru kembali tertawa dengan keras setelah Bian menyebutkan penawarannya.


“Bian, aku tidak butuh semua itu. Aku hanya ingin kamu menceraikan istrimu” jawab Diandra.


Bian menahan amarahnya yang sudah memuncak hingga ke ubun-ubun. Ia hanya berharap David segera menyelesaikan pekerjaan utamanya, memasang alat pelacak di mobil Diandra.


Diandra tersenyum. Ia tetap bersikukuh meminta Bian menceraikan Alisha sebagai balasan atas perasaannya yang hancur saat ia memutuskannya setelah membuat kakaknya meninggal secara tragis.


Diandra ingin agar Bian menderita seumur hidupnya dengan merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.


Merasa tidak bisa lagi meyakinkan Diandra, Bian melancarkan serangan pamungkasnya. Ia mengatakan pada Diandra bahwa dia tidak bisa melakukan itu. Sekeras apapun usahanya membuatnya berpisah dengan Alisha, hal itu tak akan pernah terjadi.


Bian juga mengatakan bahwa anak buahnya akan menemukan dimanapun ia menyekap mamanya, dengan atau tanpa bantuan dari Diandra.


Mendengar ancaman itu, Diandra langsung meninggalkan tempat itu. Bian yang belum mendapatkan kabar dari David pun langsung berusaha menghubunginya setelah kepergian Diandra. Ia menghampiri David yang tengah mengawasi dari dalam mobilnya.


“Gimana, Vid?” tanya Bian.


“Sudah, Pak. Kita sedang memantau pergerakannya” jawab David.


Bian melihat pergerakan dari sebuah titik yang mewakili mobil Diandra. Ia melihat mobil itu melaju cukup cepat dan berjalan menuju ke suatu tempat yang ia kenali.


Bian semakin mengenali arah dari jalan yang dilalui oleh mobil Diandra.

__ADS_1


“Mas, itu kan..” ucap David panik.


Bian langsung mengambil ponselnya dan menelepon Tsabina, sebab tanpa disangka mobil Diandra justru berjalan menuju rumah yang ditempati Alisha saat ini.


Tuuut


“Halo, Kak!” jawab Tsabina dari balik telepon.


“Bin, Alisha dimana?” tanya Bian panik.


“Ini lagi sama aku, kenapa?” tanya Tsabina.


Bian menjelaskan dengan cepat tentang keadaan yang sedang terjadi saat itu. Untungnya Tsabina dan Alisha sedang berada di rumah sakit untuk memeriksakan kandungannya.


Bian pun langsung menyuruh adiknya untuk membawa Alisha ke hotel mereka untuk mengamankan dirinya. Ia juga memerintahkan anak buahnya yang lain untuk menjemput ibu mertuanya dan membawanya menemui Alisha.


“Kamu kabari terus keadaan kamu di sana!” pungkas Bian di telepon.


Sementara itu di layar laptop milik David, pergerakan mobil Diandra telah berhenti. Dan benar, ia telah menuju ke rumah yang ditempatinya bersama Alisha.


“Sial! Dari mana dia tahu soal rumah itu?” gerutu Bian.


“Berarti ada tikus dalam rumah kita, Mas” kata David.


Bian langsung memerintahkan David agar menjalankan rencana kedua. Firasatnya mengenai kenekatan Diandra ternyata cukup benar. Ia merasa Diandra tidak akan semudah itu terpancing dan menunjukkan lokasi ibunya begitu saja.


Bian meminta beberapa anak buahnya untuk mengikuti mobil Diandra, dan sisanya menyelidiki tempat lain yang dirasa memungkinkan untuk menjadi tempat penyekapan ibunya.


David yang telah meretas ponsel Diandra, berhasil mendapatkan informasi mengenai lokasi-lokasi yang pernah wanita itu kunjungi.


Dan di saat yang bersamaan, ponsel David dan Bian berbunyi. Masing-masing mendapat laporan mengenai apa yang mereka instruksikan.


David mendapatkan informasi bahwa saat ini Diandra memang sedang berada di depan rumah baru Bian. Tetapi ia tidak melakukan pergerakan apapun dan hanya terus berada di dalam mobilnya.


Sementara Bian mendapatkan informasi dari anak buahnya yang berada di tempat lain, bahwa mereka telah berhasil menemukan sang ibu dalam keadaan selamat walaupun beliau sedang tak sadarkan diri.


“Huh!” teriak Bian dan David bersamaan.


Mereka lega karena semua telah teratasi dengan tepat. Namun satu hal yang membuat mereka berdua sedikit bingung. Untuk apa Diandra menuju rumah Bian dan Alisha tetapi dia hanya diam dalam mobilnya tanpa melakukan pergerakan apapun.

__ADS_1


“Vid, ada yang aneh!” ucap Bian lirih.


__ADS_2