
Reka mengerjapkan kedua matanya, menyesuaikan cahaya ruangan dengan pandangan matanya. Jemari tangannya bergerak akan menyentuh perutnya yang terasa perih dan kaku.
"Reka, kamu sudah sadar nak." Telinga Reka menangkap suara Bundanya. "Bun," panggil Reka. Tubuhnya masih kaku untuk digerakkan.
Meera menghampiri Reka, menggenggam jemari tangan Reka yang terbebas dari jarum infus. "Eltan, panggil Dokter, Reka sudah sadar."
Eltan yang duduk di sofa sedang bertelepon, bergegas bangun dan menekan tombol darurat yang tidak jauh dari brankar Reka. "Jangan banyak gerak-gerak dulu," ujar Eltan lalu kembali ke sofa melanjutkan komunikasi dengan Rika via telepon. Sejak insiden Reno berhasil melukai Reka, Eltan yang membawa Reka ke Rumah sakit termasuk menunggu tindakan operasi bersama Bunda Meera.
Kevin dan Elang yang mengurus dan memastikan Reno akan menerima hukuman sesuai dengan kesalahannya.
“Bun, Nara di mana?” tanya Reka sambil meringis merasakan nyeri di perutnya.
Belum sempat Meera menjawab, Dokter datang untuk memeriksa kondisi Reka. Bertanya apa yang saat ini dirasakan oleh Reka. “Tidak ada masalah ya Bu, tinggal penyembuhan pasca operasi. Jangan terlalu banyak bergerak dulu. Nanti akan ada perawat yang mengarahkan kapan boleh miring, duduk sampai bangun untuk berjalan.” Penjelasan dokter setelah Reka siuman pasca operasi.
“Bun,” panggil Reka lagi. Masih menunggu informasi mengenai Nara.
“Nara, ada. Kamu tenang saja. Fokus dulu dengan kesehatan kamu,” ujar Meera.
“Aku mau bertemu Nara, Bun. Dia dimana sekarang?” tanya Reka lagi. Meera hanya menghela nafas. “Dia juga harus istirahat Reka, sudahlah kamu diam dulu. Dokter bilang kamu boleh bergerak sesuai arahan perawat. Mungkin sekarang belum waktunya.”
“Tapi, Bun.”
“Reka!” Meera menyebut nama Reka dengan dengan nada serius. “Dengarkan Bunda dan perintah Dokter, kalau kamu mau cepat keluar dari sini.”
Menjelang siang, Reka semakin resah. Dia sudah diperbolehkan bergerak bahkan memiringkan tubuhnya. “Bunda,” panggil Reka. Meera yang baru saja keluar dari kamar mandi menghampiri brankar Reka.
“Kenapa? Ada yang tidak nyaman? Bunda bantu geser tubuh kamu,” ujar Meera.
“Bukan itu Bun. Aku mau bertemu Nara, sekarang Nara dimana? Bunda jangan buat aku penasaran.”
Meera memukul pelan paha Reka. “Enggak suami nggak istri. Sama-sama susah dikasih tau. Nara sakit, dia harus bedrest. Dia pingsan waktu kamu sedang dioperasi.”
Reka refleks akan beranjak bangun. “Eh, kamu mau apa?” Meera kembali menahan tubuh Reka agar tetap berbaring. “Kondisi Nara bagaimana Bun? Aku harus bertemu Nara.”
“Astaga, kalian ini memang benar-benar jodoh ya. Sama-sama ngeselin. Nara masih dalam perawatan, ada Kayla yang mendampingi. Dari tadi pagi maksa ingin ke sini, sekarang kamu juga sama. Heran Bunda sama kalian, susah sekali dikasih taunya.”
“Ponsel aku mana Bun, aku telepon Kak Kayla untuk bicara dengan Nara,” pinta Reka.
__ADS_1
Sementara itu, tadi pagi di kamar rawat Nara. “Kak Kayla, bagaimana kondisi Reka?’ tanya Nara dengan raut wajah khawatir. Saat menunggu Reka yang sedang berada dalam ruang operasi karena luka tusuk yang cukup dalam dan menyebabkan pendarahan, Nara jatuh pingsan.
Tiga hari disembunyikan oleh Reno, membuat kondisi Nara melemah. Asupan makanan dan minuman yang kurang juga gejala morning sickness membuatnya kekurangan nutrisi dan dehidrasi. Setelah mendapatkan penanganan, kondisi Nara sudah lebih baik. Bahkan wajahnya sudah tidak sepucat sebelumnya.
“Operasi Reka berjalan lancar, saat ini sudah dalam kamar perawatan. Kamu fokus dulu dengan kondisi tubuh kamu ya. Ada Bunda yang menjaga Reka,” jelas Kayla. Mengingat Nara sebelum menikah dengan Reka berada dalam perawatan Radit sang Kakek, Meera meminta Kayla menjaga Nara, anak-anak Kayla dan Elang saat ini berada di kediaman Kevin bersama para pengasuhnya juga Rika.
“Tapi, Kak.”
“Nara. Kondisi kamu juga mengkhawatirkan, kalau kamu masih mau mempertahankan kehamilan kamu sebaiknya dengarkan apa kata Dokter.”
Terdengar ketukan pintu kamar Nara dan pintu yang dibuka. Ternyata Leon, Ayah dari Nara yang datang.
“Nara, kenapa bisa begini? Ayah baru dapat kabar kemarin dan langsung pulang.”
Kayla memberikan tempat untuk Nara dan Ayahnya dengan duduk di sofa. Entah percakapan apa yang dilakukan oleh Nara juga Ayahnya, Kayla tidak terlalu fokus mendengarkan. Dia memilih saling berkirim pesan pada Elang dan menanyakan kondisi anak-anaknya.
Siang harinya, Nara kembali merengek ingin bertemu dengan Reka. Kayla juga bingung bagaimana membujuk Nara untuk sabar dan tunggu sampai kondisi mereka sama-sama pulih.
“Aku hanya ingin melihat keadaan Reka, Kak.”
Kayla mendampingi perawat yang mendorong kursi roda yang diduduki Nara.
“Loh, Kayla. Kenapa Nara diajak ke sini?” tanya Meera saat melihat Nara yang berada di kursi roda.
“Nanti kalau sudah mau kembali ke kamar, panggil saya aja ya Bu,” ujar perawat yang mengantarkan Nara. Kayla mendorong kursi Roda Nara mendekat pada brankar.
“Ayo, Bun. Kita ke keluar dulu. Biarkan saja mereka mau bicara apa kali. Susah dikasih taunya,” ajak Kayla.
“Reka, kamu belum boleh banyak bergerak. Cukup bicara saja, jangan aneh-aneh,” nasihat Bunda.
“Reka.”
“Nara.”
Panggil Reka dan Nara berbarengan. “Reka, A-aku ... aku benar hamil anak kamu. Bukan anak Reno, kamu jangan percaya apa yang disampaikan Reno. Selama dia menculik aku, tidak ada yang terjadi diantara kami. Dia mengunci kamar tempat aku berada, kecuali saat kamu datang. Dia marah karena aku berusaha kabur,” ungkap Nara.
Reka mendengarkan apa yang disampaikan Nara. “Hari itu aku pulang lebih awal karena tidak nyaman di tubuh aku. Aku juga membeli berapa testpack dan aku baru tau aku hamil karena alat-alat itu. Kemudian Reno datang, jadi aku benar-benar belum menyampaikan ke kamu.”
__ADS_1
Nara serba salah karena Reka hanya diam. “Reka, kamu percaya aku ‘kan?”
“Hmm, gimana ya?” ujar Reka menatap langit-langit kamarnya. Terdengar helaan nafas Nara, “Reno sudah ditangkap, apa kamu akan menceraikan aku?” tanya Nara sambil menunduk.
Reka menoleh ke arah Nara. “Cerai?”
Nara mengangguk tanpa menatap Reka. “Aku memaksa kamu menikahi aku karena masalah Reno, sekarang situasi sudah lebih aman. Kamu pasti ingin menceraikan aku.”
Reka menghela nafasnya, “Aku tau kamu hamil, Nara. itulah yang membuat aku semakin frustasi mencari kamu. Lalu sekarang kamu bahas perceraian, nggak salah?”
Nara pun menatap Reka. “Jadi, kamu nggak akan ceraikan aku?”
“Kenapa harus bercerai? Kamu sedang hamil, hamil anak aku,” tutur Reka.
“Jadi, kamu percaya aku?” tanya Nara.
“Lalu aku harus percaya siapa? Reno? Yang bener aja, kalau nggak ingat hukum sudah aku habisi dia,” tegas Reka.
“Banyak gaya, buktinya perut kamu tertusuk,” ejek Nara.
“Ini karena ... aduh,” ujar Reka sambil meringis.
“Reka, kamu jangan banyak bergerak dulu,” ucap Nara dengan nada penuh kekhawatiran.
“Ra, aku mau peluk kamu.”
“Nggak boleh, perut kamu masih sakit.”
Reka berdecak, “Bisa nggak sih, kita dirawat dalam satu kamar aja. Biar bisa lihat kamu terus, terpisah begini bikin aku khawatir.”
“Udah mulai bucin nih,” ujar Rika yang baru saja datang.
\=\=\=\=\=\=\=
Mampir yuk ke karya rekan author NT
__ADS_1