
Pov Nara
Menatap pintu kamar hotel tempat dimana Reka sudah berada menunggunya. Nara menghela nafas sebelum menempelkan acces card untuk membuka pintu.
"Hai sayang," ujar Reka lalu merengkuh tubuhnya ke dalam pelukan.
"Kenapa nggak pulang ke rumah?" tanyanya saat pelukan sudah mengendur.
"Aku kangen kamu Ra, di rumah itu ada Rika dan anaknya. Pasti rame dan kita nggak akan bisa mesra-mesraan begini deh."
Nara menggelengkan kepalanya pelan, paham maksud dan keinginan suaminya. Lebih dari seminggu tidak bertemu dan menyatu sudah pasti ada hal yang sangat ditunggu-tunggu oleh Reka. Manusiawi memang, mengingat Reka adalah pria dewasa dan normal.
Reka sempat menjawab panggilan telepon dan membahas pekerjaan termasuk Selly. Entah apalagi yang dilakukan oleh wanita itu sampai membuatnya suaminya cukup marah. Reka hanya mendapatkan penjelasan singkat saat dirinya bertanya. Bahkan kini tubuh Reka sudah sangat dekat dengan tubuhnya.
“Aku bersih-bersih dulu, gerah,” ucapnya sambil mendorong tubuh Reka.
Entah bagaimana prosesnya, yang jelas setelah keluar dari kamar mandi dan hanya mengenakan bathrobe. Reka tidak memberikan kesempatan untuknya bicara. Tubuhnya kini sudah merebah di ranjang dan mendapatkan sentuhan-sentuhan yang membuat hatinya berdesir dan sekujur tubuhnya meremang.
__ADS_1
Dering ponsel Reka seakan menyelamatkannya, karena ada bagian tubuhnya yang tidak nyaman dan belum sempat dia sampaikan pada Reka karena langsung diserang dengan sentuhan dan pagutan bibir yang cukup menuntut.
“Ayo Ra,” ucap Reka setelah meletakan kembali ponselnya.
Dirinya sudah dalam posisi duduk bersandar pada headboard, tangannya memastikan selimut tidak turun dan memperlihatkan bagian atas tubuhnya yang polos. Tapi perutnya terus meronta dan tidak mungkin kembali meneruskan apa yang tadi Reka lakukan.
“Aku lapar. Kamu tega mau ngerjain aku dengan kondisi perut aku keroncongan,” ujarnya.
“Hahh,” ucap Reka. Terlihat suaminya mengusap wajah kasar dan frustasi. “Oke, aku pesankan makanan dulu.”
Dia pun kembali mengenakan bathrobe, duduk pada sofa dan menunggu pesanan diantar. Sedangkan Reka berbaring tengkurap di ranjang sambil menyebut namanya.
Tiga puluh menit kemudian, dia sudah selesai dengan makanannya sejak tadi. Sedangkan Reka yang berbaring miring menghadap kearahnya dengan tatapan sendu. Sempat tertawa sekilas melihat suaminya, “Maaf, bukannya aku menyiksa kamu. Tapi memang aku lapar,” ucapnya.
Reka menepuk sisi ranjang di sampingnya. Tahu akan maksud suaminya, dia pun melangkah dan menaiki ranjang. “Sudah siap ‘kan? Atau sekarang ada keinginan lain,” ucap Reka mengejeknya.
“Nggak, sudah pasrah aku,” jawabnya.
__ADS_1
Reka langsung bergerak cepat dengan menyatukan wajah keduanya. Bahkan dia sempat gelagapan karena Reka seperti musafir yang kehausan tanpa memberi kesempatan untuknya menjeda. Bahkan sempat menahan dada Reka agar tidak terlalu menghimpit tubuhnya.
Nafasnya terengah saat Reka melepaskan pagutannya dan menatap wajahnya di sela nafas yang tersengal dan kilatan sendu pada tatapan mata Reka. “Pelan-pelan,” ucapnya pada Reka yang dijawab dengan tawa. “Maaf, refleks karena rindu berat.”
Reka kembali menyatukan wajah mereka lalu berpindah pada ceruk lehernya. Bibirnya hanya mampu melepaskan dessahan nikmat dengan luapan perasaan yang sangat dirindukan. Hanyut dalam pusara memabukkan yang diciptakan oleh Reka sampai keduanya melenguhh dan mengerang karena berhasil melayang dan mencapai puncak kenikmatan tiada tara.
Bagian tubuh Reka masih menyatu di bagian intinya dengan kedua tangan menopang agar tidak menindih tubuhnya. Sedangkan wajah Reka berada di ceruk leher yang sepertinya menjadi bagian favorit suaminya.
“Reka, lepas.”
“Hm. Sebentar, sensasinya masih terasa,” jawab Reka.
“Tapi ....”
“Sttt, ahhhh.” Reka melepaskan penyatuan dari tubuhnya dan merebah tepat disampingnya. "Luar biasa, obat rindu," teriak Reka.
\=\=\=\=
__ADS_1
Halahhh Reka,,