
Setelah pertemuannya dengan Diandra, Bian mendadak menjadi lebih pendiam. Bahkan ketika Alisha menegurnya untuk menemaninya makan, dia tidak terlalu mendengarnya hingga sang istri harus mengulang ucapannya kembali.
“Kamu kenapa?” tanya Alisha.
“Nggak apa-ap, Sayang. Makanlah! Aku temani” jawab Bian seraya tersenyum.
Kendati Bian mengatakan tidak terjadi apapun dengannya, Alisha tahu betul bahwa suaminya sedang menyembunyikan sesuatu. Dan hal itu pasti sangat mengganggu pikirannya.
Karena kesehatannya sudah mulai membaik, bersama dengan kandungannya yang juga baik-baik saja, Alisha pun sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Dia sudah ditelepon Tsabina untuk menunggu dan pulang bersamanya.
Sembari menunggu Bian menyelesaikan administrasi rumah sakit, Alisha memanggil David untuk mengajaknya berbicara. ia merasa sudah siap mental untuk membahas masalah penculikannya malam itu.
“Ada apa, Mbak?” tanya David.
“Mm, soal peristiwa kemarin..”
Alisha menghentikan ucapannya karena David sudah memberinya isyarat untuk tidak membahasnya.
“Mas Bian akan marah kalau aku bahas soal itu sama Mbak Alisha” sahut David.
“Kenapa? Karena aku lagi hamil?” tanya Alisha.
David mengangguk pelan.
Alisha terus membujuk David agar mau mengatakan semua hal yang ia ketahui soal peristiwa itu.
Akan tetapi David masih sedikit ragu, bukan hanya takut akan mempengaruhi kandungan Alisha, sebab ada peran Diandra di dalam cerita itu.
“Vid..”
Akhirnya setelah didesak beberapa kali, David menceritakan beberapa hal yang ia dapatkan dan ketahui dari peristiwa itu. Ia hanya menceritakan proses ketika menemukan lokasi terakhirnya sampai saat ia berhasil menemukan penculik itu. David belum mengatakan bahwa dalang di balik penculikan itu kemungkinan besar adalah Diandra, apalagi pertemuan Bian dan Diandra.
Tetapi Alisha tetap mencium sesuatu yang disembunyikan Bian dan David.
“Apa kalian udah tahu siapa yang menyuruh mereka?” tanya Alisha.
David masih terus terdiam dan nampak kebingungan. Dan entah bagaimana, Alisha menyebutkan satu nama yang menurut dia adalah pelaku yang sebenarnya.
__ADS_1
“Diandra?” tanya Alisha dingin.
Terkadang sikap-sikap Alisha cukup berhasil mengejutkan David. Hari itu pun ia berhasil mengejutkannya lagi dengan tebakannya yang benar.
Akhirnya pertahanan David runtuh. Dia bercerita tentang kecurigaannyaa, hasil penyelidikannya, dan pertemuan suaminya dengan sangat hati-hati.
“Apa maksudnya dia bicara seperti itu?” tanya Alisha.
David menggeleng karena dia memang tidak tahu apa yang dibisikkan Diandra pada Bian.
Dan akhirnya percakapan serius harus terhenti karena Bian sudah kembali masuk ke kamar Alisha.
Raut wajah Bian sedikit curiga dengan keberadaan David di sana. Apalagi mereka terlihat serius.
“Ngomongin apa sih? Serius banget kayaknya” kata Bian.
David sedikit mencuri pandang ke arah Alisha yang mengangguk padanya. David terkejut karena anggukan itu adalah kode agar dia menanyakan pada Biana apa yang masih belum mereka ketahui. David pun menggeleng karena takut Bian akan mengomelinya.
Melihat gelagat istri dan sekretarisnya yang mencurigakan, Bian kembali bertanya tentang apa yang mereka bicarakan sebelumnya.
“Bukan apa-apa, Mas Bi” kata David berbohong.
Bian yang sudah paham arah pembicaraan itu, langsung melirik ke arah David.
“Aku yang minta David cerita, dia udah nolak tapi aku maksa” ucap Alisha pada Bian yang masih mengomeli David dengan tatapannya.
Akhirnya Bian dengan terpaksa menceritakan apa yang Diandra katakan padanya kemarin.
Diandra memang dalang dari penculikan Alisha. Tetapi mereka tidak bisa membuktikan hal itu karena para penculik itu mengaku bahwa mereka sendiri yang berinisiatif melakukan penculikan itu. Diandra sengaja mengorbankan mereka dengan iming-iming uang yang banyak.
“Terus maksud ucapan dia itu apa?” tanya Alisha lagi.
Diandra membisikkan bahwa dirinya sengaja menyuruh mereka menculik Alisha untuk membalas dendam pada Bian yang dahulu pernah memenjarakan kakaknya.
“Apa maksud Mas Bian, si penabrak itu?” tanya David.
Bian mengangguk mengiyakan, sementara Alisha mulai tambah kebingungan.
__ADS_1
David mulai bercerita tentang kakak Diandra yang pernah melakukan aksi tabrak lari pada seorang karyawannya. Dan setelah Bian mengusutnya, ia berhasil memasukkan kakak Diandra itu ke dalam penjara.
Setelahnya Bian tidak tahu lagi kabar mengenai kakak Diandra karena Bian telah mengakhiri hubungannya bersama Diandra.
Yang membuat Diandra marah dan ingin membalas dendam, bukan karena Bian memutuskannya, atau dia memasukkan kakaknya ke penjara di saat mereka masih menjalin hubungan. Tetapi dia sangat membenci Bian karena kakaknya meninggal dunia setelah masuk ke penjara.
Diandra memperoleh kabar mengenai kakaknya yang mengakhiri hidupnya sendiri, satu jam setelah kakaknya dinyatakan meninggal.
Setelah kejadian itu, Diandra bersumpah akan membalaskan dendamnya pada Bian dan keluarganya.
“Tapi kenapa dia melepaskanku begitu saja kalau memang niatnya begitu?” tanya Alisha lagi.
Setelah Diandra mengatakan niat aslinya, Bian pikir hanya itulah alasan dia melakukan penculikan itu. Ternyata setelah itu Diandra kembali menelepon Bian.
Diandra menuliskan bahwa Bian harus menceraikan Alisha dalam waktu tiga bulan, atau dia akan mengambil seluruh perusahaan yang keluarga Herdianto miliki. Selain itu, dengan licik dan tanpa sepengetahuan Bian, Diandra telah membawa Mama Liana dan menyanderanya saat mereka sibuk mencari Alisha. Bian yang saat itu memang tidak menghubungi ibunya, hanya mengira bahwa ia sedang berada di rumahnya.
Tapi David menyela bahwa ketika dia melakukan perintah Bian untuk menyelidiki sang mama dan Diandra, dia mendapat laporan bahwa Mama Liana berada di rumah.
Ternyata laporan yang didapat David adalah laporan palsu. Meski tidak sepenuhnya palsu karena Mama Liana memang berada di rumahnya, tetapi dalam keadaan disandera oleh anak buah Diandra.
Alisha dan David terdiam setelah Bian menyelesaikan ceritanya. Bian melirik ke arah Alisha yang terdiam cukup lama. Ia takut kandungannya akan terpengaruh.
“Sayang, kamu nggak apa-apa?” tanya Bian pelan.
“Aku nggak apa-apa” jawab Alisha.
Dia memang sudah mempersiapkan diri dari tekanan perceraian yang selalu dilontarkan padanya. Tetapi ia cukup terkejut dengan perubahan genre hidupnya yang berubah menjadi aksi seperti ini.
Alisha yang nampak berpikir, kini mulai menegakkan kepalanya dan menatap sang suami.
“Kita selamatkan semuanya, Yang” kata Alisha.
“Maksud kamu?”
Seperti ucapannya, Alisha berniat menyelamatkan semuanya. Baik rumah tangganya, kandungannya, perusahaan Bian, dan semuanya.
Untuk masalah perceraian, masih ada waktu karena Alisha tidak bisa diceraikan di tengah kondisinya yang sedang hamil. Setidaknya ia masih memiliki waktu hingga sembilan bulan ke depan.
__ADS_1
Untuk masalah perusahaan, Alisha menyerahkannya pada Bian dan David karena dia tidak terlalu memahaminya. Dan untuk mama mertuanya, Alisha berniat menemui Diandra terlebih dahulu.
Tentunya Bian menolak gagasan istrinya itu. Dia sama saja membahayakan dirinya sendiri. Bahkan berapa kali pun Alisha membujuknya, Bian tetap tak mengijinkannya. Ia hanya menyuruh Alisha untuk tenang karena semua akan ia urus bersama David dan anak buahnya.