
Reka menatap heran gedung dihadapannya, “Ini perusahaan siapa? Kamu mau survey apa sih?” cecar Reka. Nara berdecak dengan wajah cemberut. “Ini kantor kakek,” jawab Nara. Reka yang berjalan di samping Nara, menghentikan langkahnya. “Kamu mau menemui Kakek?” tanyanya.
Nara menoleh, “Kakek yang hubungi aku, sepertinya ada orang tuaku juga.”
“Kamu nggak bilang aku, Ra. Terus kamu mau urus hal ini sendirian?” tanya Reka. Nara menarik tangan Reka agar kembali melangkah, “Aku temui kamu di kantin kampus mau menyampaikan hal ini, eh malah lihat salah satu fans kamu. Jadi ambyar,” jawab Nara.
“Kenal juga nggak sama cewek tadi. Kamu bayangin aja, dia bilang sering sapa aku kalau lewat kelas dia. So what, bukan berarti aku cowoknya dong, harusnya kamu bantu aku usir yang macam begitu,” pinta Reka.
“Sok famous kamu.”
“Emang famous,” ujar Reka sambil menekan tombol lift.
Sambil menunggu lift, Reka menoleh ke sekeliling. “Kamu cucu yang punya perusahaan, kok nggak ada yang mengenali,” ucap Reka. “Aku jarang ke sini,” jawab Nara singkat. Tiba di lantai ruang kerja Radit, Nara menyampaikan pada sekretaris kakeknya dan mereka diminta menunggu.
“Ra, berarti kamu pewaris dan pemilik perusahaan ini dong,” bisik Reka. Nara tidak menghiraukan apa yang disampaikan Reka dan fokus pada ponselnya. “Kamu siap Ra kalau diminta mengurus perusahaan ini?” tanya Reka dengan suara pelan.
Nara menoleh, “Kamu perlu masukan dari aku?”
Reka mengedikkan bahunya. “Pertanyaan tadi seharusnya untuk kamu ya. Papih menunggu kamu untuk meneruskan usahanya. Jadi, kamu siap untuk mengurus perusahaan Papih Kevin?” tanya Nara. Reka menghela nafasnya dan menyandarkan punggungnya di sofa yang diduduki.
“Entahlah,” jawab Reka.
__ADS_1
“Tapi hanya kamu, anak laki-laki Papih. Wajar kalau beliau sangat mengharapkan kamu.”
Akhirnya Reka dan Nara dipersilahkan menemui Radit setelah tamu sebelumnya telah keluar dari ruangan. “Duduklah,” titah Radit pada Reka dan Nara. Perbincangan pun terjadi, baik Nara ataupun kakeknya terlihat kedekatan yang berarti. Bahkan sesekali mereka tertawa. Tapi hal itu terhenti saat kedatangan Ibu dan Ayah tiri Nara.
Laila, Ibu kandung Nara menatap tajam pada putrinya. “Nara, kamu tuh kalau mau menolong orang jangan setengah-setengah. Untuk apa kamu cabut laporan tapi kalau banyak persyaratannya,” ujar Laila. Nara menoleh pada Reka, karena persyaratan yang dimaksud bukan muncul dari keinginannya tapi keluarga Reka demi keamanan dan kenyamanan Nara ke depannya.
“Laila, apa yang dilakukan Nara sudah benar. Tidak mungkin dia akan hidup tenang jika orang yang menyakitinya berkeliaran tanpa rasa bersalah,” bela Radit.
“Bukan begitu Yah, kami jadi malu dengan Abimana. Bagaimana kalau dia tetap mempertimbangkan kerjasama dengan perusahaan suamiku.”
“Oh, jadi ini semua masih tentang kerja sama masalah bisnis.” Nara tertawa sinis, “Aku pikir persyaratan yang aku ajukan memberatkan secara kemanusiaan taunya urusan lain. sebelumnya Ibu paksa aku cabut laporan untuk kepentingan kalian, sekarang pun untuk kemudahan kalian. Lalu posisi aku di hidup kalian itu di mana?” tanya Nara dengan nada berbeda.
“Laila, cukup. Aku panggil kalian kesini bukan untuk berdebat,” ucap Radit.
Reka mengusap punggung tangan Nara, “Sabar,” bisiknya.
Pintu ruang kerja Radit terbuka, “Loh banyak orang ya,” ucap Cindy. “Eh ada Reka juga.” Lalu duduk di samping Reka.
“Cindy, apa kamu nyaman kerja dengan kakek?” tanya Laila.
“Hmm, tidak nyamannya bukan karena kakek tapi kepala bagian dan manajer divisi yang rese dan banyak perintah. Memang nggak ada Kek, posisi yang lebih baik dan tidak serumit ini,” keluh Cindy. “Reka, aku kerja di cafe kamu aja ya?” tanya Cindy sambil memeluk tangan Reka. Reka melepaskan tangannya dari tubuh Cindy.
__ADS_1
“Nggak malu nempel ke laki-laki yang sudah beristri,” ejek Nara.
“Nara, Cindy itu saudara kamu berarti iparnya Reka,” jelas Laila.
“Lalu?”
“Wajar kalau dia dekat dengan Reka,” sahut Laila.
“Laila,” Radit kembali mengingatkan putrinya.
“Wajar kalau Cindy dekatnya dengan aku bukan dengan Reka. Kakek aku pamit,” ujar Nara lalu berdiri. Reka pun ikut berdiri dan pamit undur diri. “Reka, aku ikut ya,” ujar Cindy.
“Cindy, kamu sedang bekerja. Gimana Kakek percaya sama kamu, kalau kamu kabur-kaburan,” tutur Laila.
“Ibu benar, jangan sampai Kakek malah berikan warisan ke orang lain karena kamu yang nggak kompeten,” ledek Nara sebelum dia keluar ruang kerja Radit.
“Nara apa maksud kamu?” tanya Laila sambil teriak. Reka bergegas mengajak Nara keluar karena tidak ingin istrinya terjebak pada perseteruan keluarganya.
\=\=\=\=\=\=
Reka, bawa Nara yang jauh dari keluarga toxic
__ADS_1