Menikahi Perawan Tua

Menikahi Perawan Tua
Tunggu Aku di Jakartamu


__ADS_3

Nara menjawab pesan Radit- kakeknya.


[Maaf Kek, sepertinya aku tidak bisa hadir]


[Kakek mengerti, tapi perlu kamu ketahui jika Kakek tetap menyayangimu. Meskipun kakek merasa saat ini kita tidak dekat seperti dulu. Selama kamu bahagia dengan Reka dan keluarganya, Kakek ikut bahagia]


Balasan dari Radit sukses membuat hati Nara terasa teriris. Apa yang disampaikan oleh Radit dirasakan pula olehnya. Entah kenapa saat ini dia merasa keluarganya tidak berpihak termasuk sang Kakek. Kedua mata Nara sudah berembun, menelungkupkan wajah pada kedua tangan yang dilipat di atas meja.


Ardi yang baru saja duduk di kursinya menoleh pada Nara lalu menyentuh bahu Nara. “Nara, kamu kenapa?”


Tidak ingin kembali menerima sentuhan Ardi, Nara mengangkat wajahnya dan meraih selembar tisu untuk menghapus air matanya. “Nggak apa-apa,” jawab Nara.


“Kamu nangis?” tanya Ardi sambil mendengus. “Kalian ada masalah ‘kan?”


Nara menghela nafasnya, “Aku dan Reka baik-baik saja. Ini tangis karena aku rindu pada Kakek, aku sudah lama tidak bertemu beliau,” sahut Nara kemudian berdiri merapikan kembali pakaiannya. Ardi menatap perut Nara yang sudah membuncit.


“Mau kemana?”


“Ada pendampingan kegiatan mahasiswa,” sahut Nara.

__ADS_1


“Jangan lupa jam dua ada rapat persiapan wisuda,” ujar Ardi mengingatkan Nara.


“Hm.”


Nara melangkah meninggalkan ruang kerjanya. Dua minggu lagi Reka sidang skripsi, awas aja kalau sampai nggak lulus dan nggak ikut wisuda. Biar tidur di luar sampai aku melahirkan, batin Nara.


***


Sedangkan di tempat berbeda, waktu sudah menunjukkan jam kerja berakhir. Reka sudah membereskan meja kerjanya dan hanya membawa peralatan pribadi miliknya. Lalu menatap ruangan yang sudah lebih dari dua bulan dia tempati untuk belajar mengenai bisnis. Karena perusahaan Papihnya sudah tentu akan berpindah tangan kepadanya.


Reka melangkah keluar ruang kerjanya, saat menuju lift dia melewati meja Selly. “Pak Reka,” panggil Selly lalu berjalan mendekat. “Hm, saya dan yang lain mengadakan pesta kecil-kecilan untuk perpisahan dengan Pak Reka. Lokasinya dekat-dekat sini kok Pak, Klub ternama. Bapak pasti suka,” ujar Selly sambil tersenyum.


Reka menghela nafasnya, mengangkat tangan kiri dan melirik arloji yang melingkar di lengannya. “Saya harus segera pulang untuk packing dan mohon maaf saya tidak bisa hadir. Untuk apa juga kalian harus buang uang untuk pesta di club,” tolak Reka.


Reka terkekeh, “Selly, kamu kalau mau menjebak orang itu yang cerdas. Kamu pikir aku nggak tahu ada ide apa di otak kamu,” tuduh Reka. Reka memang sudah mengetahui rencana licik Selly karena tidak sengaja mencuri dengar pembicaraan Selly di telepon dengan seseorang mengenai ide malam ini yang baru saja disampaikan.


“Bapak tuduh saya punya rencana jahat? Itu fitnah Pak. Apa selama ini Bapak tidak bisa mengenal saya sampai menuduh saya dengan sekeji itu.”


“Justru saya sangat mengenal kamu wanita seperti apa. Sudahlah, sebaiknya kamu fokus mencari calon suami yang single. Jangan jadi perusak rumah tangga orang,” ungkap Reka sambil menyentuh bahu Selly. “Adik saya perempuan, Bunda juga perempuan dan Kakak saya juga perempuan. Tidak mungkin saya mengikuti permainanmu karena hanya akan menyakiti para perempuan yang sangat saya sayangi terutama istri saya.”

__ADS_1


Reka berjalan meninggalkan Selly yang masih menatap kepergiannya. “Suami idaman banget sih. Muda, ganteng, kaya, setia pula, benar-benar beruntung istri Pak Reka.” (dan perlu kita ketahui bersama, tidak ada laki-laki yang paket komplit kayak Reka yess. Ini murni kita ngehalu aja J)


Reka sudah berada di kamarnya, dua buah koper sudah rapi untuk dibawa pulang ke Jakarta. Sejak sore dia tidak bisa menghubungi Nara, sedangkan Leo mengatakan sudah mengantarkan Nara pulang termasuk memastikan istrinya tetap berada di rumah.


Akhirnya Reka menghubungi Bunda Meera. Dalam panggilan telepon itu, Bunda meminta Rika mengecek Nara di kamarnya.


“Penerbangan ke Jakarta jam berapa?” tanya Bunda diujung telepon.


“Siang Bun, ada pertemuan dengan klien yang harus aku hadiri dengan Pak Kris besok pagi,” jawab Reka sambil merebahkan tubuhnya. “Tapi bener Nara sudah pulang Bun?”


“Sudah, Bunda lihat kok. Mungkin sudah tidur, Ibu hamil memang mudah lelah kamu harus paham dan mengerti,” ucap Bunda.


“Sudah tidur Bun, tadi aku lihat sudah berbalut selimut.” Terdengar suara Rika di sana. Reka menghela nafasnya, “Tuh bener ‘kan, sudah tidur,” ujar Bunda lagi.


“Ya udah deh, besok pagi sampaikan ke Nara suaminya yang gantengnya kebangetan bakal pulang. Kasih tahu juga ke Kak Elang untuk siapkan kamar khusus untuk kita berdua, di rumah ada Rika pasti bakal gangguin aku kangen-kangenan sama Nara.”


“Jangan macem-macem, istrimu sedang hamil.”


“Satu macem doang, Bun.”

__ADS_1


Akhirnya Reka mengakhiri panggilan telepon dengan Meera. “Nara, tunggu aku di Jakartamu,” ucap Reka dan tidak lama dia pun terlelap.


\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2