Menikahi Perawan Tua

Menikahi Perawan Tua
Bab 18


__ADS_3

Ponsel Bian berdering cukup lama sampai ia mulai terganggu dengannya. Ia mengernyitkan dahinya saat melihat bahwa penelepon itu adalah Nadia.


“Halo, Nad!”


Setelah mendengarkan penjelasan Nadia, Bian mulai khawatir dan bingung. Sebab Nadia mengatakan bahwa hingga waktu semalam itu Alisha belum juga mengirimkan pesanan kue yang telah ditunggu pelanggan. Ia juga tidak bisa dihubungi. Nadia mengetahuinya karena nomor Nadia juga dihubungi oleh sang pemesan kue.


Padahal sebelumnya Alisha jelas pamit akan mengantar pesanan kue. Jika pesanan itu belum sampai di pemesannya, kemungkinan terjadi sesuatu dengan Alisha, begitulah pikir Bian saat itu.


Ia meminta Nadia menyelesaikan masalah kue dengan pelanggan, sementara ia akan berusaha mencari Alisha.


Bian langsung menelepon David untuk membantunya memeriksa lokasi terakhir Alisha dari ponselnya. Hal mudah untuk David karena dia adalah mantan peretas yang direkrut Bian untuk menjadi sekretarisnya.


Tidak butuh waktu lama, David langsung menemukan lokasi terakhir Alisha dan langsung menuju ke sana bersama Bian. Begitu sampai di tempat Alisha menunggu mobil yang menculiknya, Bian tak mendapat apapun. Area itu sudah sangat gelap dan sepi, hanya ada beberapa toko di sekitar tempat itu, dan semuanya sudah tutup. Akan tetapi ketelitian David, mereka berdua bisa menemukan sebuah mobil terparkir yang memasang kamera di dashboard-nya.


Tanpa pikir panjang, David langsung melakukan keahliannya meretas database nomor kendaraan untuk mencari pemilik mobil tersebut dengan menggunakan plat nomornya.


Setelah menemukan pemilik mobil itu, mereka langsung memintanya menunjukkan rekaman dasbor mobilnya. David dan Bian berasumsi jika mobil itu terparkir di sana dalam waktu yang cukup lama, bisa jadi Aya juga terekam di sana.


Ternyata benar, Aya terekam dalam rekaman dasbor mobil itu. Bian melihat istrinya naik mobil setelah memasukkan barang pesanan yang akan ia antar. Beruntung Bian bisa melihat tipe, warna dan plat nomor mobil itu. Meski ia tahu nomor plat itu tak mungkin asli, tapi setidaknya ada petunjuk yang bisa digali.


Setelah mengucapkan terimakasih dan meminta rekaman itu, Bian dan David langsung memulai pencarian mereka.


David menelepon anak buahnya untuk mencari mobil itu. Ia mengirimkan foto mobil tersebut ke dalam grup percakapan mereka. Sementara Bian terus berpikir tentang siapa yang mungkin melakukan ini. Kecurigaannya langsung mengarah pada sang mama dan Diandra.


Motif mereka begitu jelas untuk melakukan hal itu. Dan jika benar salah satu atau keduanya melakukannya, Bian bersumpah tidak akan membiarkan mereka sekalipun mamanya terlibat.

__ADS_1


Namun Bian tak langsung bertanya pada Diandra atau mamanya. Dia menyuruh anak buahnya yang lain untuk menyelidiki mereka terlebih dahulu. Jika Bian langsung menggerebek keduanya, sekalipun benar melakukannya, mereka tetap tidak akan mengaku.


“Mas Bian, coba lihat ini!” seru David tiba-tiba.


David memperlihatkan sebuah rekaman video cctv yang ia temukan di sekitar tempat mobil penculik itu pertama kali ditemukan bersama Alisha.


Mobil itu tertangkap cctv milik sebuah masjid dan mengarah ke jalan. Dalam rekaman itu, mobil yang diduga milik pelaku mengeluarkan seseorang dari dalam mobil dengan kondisi tangan dan kaki terikat serta mata yang ditutup dan mulut yang disumpal kain. Setelah mengamati video itu lebih teliti, Bian memukul stir pengemudi mobilnya dengan keras dan disusul teriakannya yang memenuhi telinga.


Ia melihat orang yang terikat itu adalah Alisha. Bian mengenali baju yang dikenakan istrinya, karena pada saat ia menawarkan diri akan mengantarnya, Bian melihat istrinya saat dia berdandan sehingga dia sangat hafal dengan pakaian yang dipakai sang istri.


“Itu Alisha! Sial!” teriak Bian emosi.


“Mas, tenang dulu! Ayo kita kesana!” kata David khawatir.


Bian pun memacu mobilnya dengan cepat hingga membuat David berpegangan pada pegangan di atas jok. Mereka mencari posisi masjid itu, karena di dalam video para penculik itu membiarkan Alisha terkulai di pinggir jalan sementara waktu sudah semakin malam dan jalan itu sangat sepi.


Dan memang benar bahwa itu adalah Alisha. Bian mulai panik dan terus memanggil nama Alisha. Terkadang teriakannya pun keluar saat Alisha tak kunjung membuka matanya. Bian juga langsung melepas semua ikatan, penutup mata, dan sumpalan yang ada di mulut istrinya.


“Al..Alisha!” Bian terus berusaha mengguncang-guncang tubuh Alisha.


Tak lama Alisha nampak membuka matanya, namun setelahnya ia kembali tak sadarkan diri. Bian pun langsung membawa istrinya pergi dan menuju rumah sakit.


Selama perjalanan ke rumah sakit, Bian terus memeluk sang istri dengan wajah yang panik dan cemas. Sesekali David melirik dari kaca spion, Bian tampak menyeka air matanya. Terlebih saat ia mengetahui bahwa kepala bagian belakang Alisha mengeluarkan darah. Bian menyerukan David untuk menambah kecepatan mobil mereka.


Sesampainya di rumah sakit, Bian langsung menggendong Alisha ke dalam ruang gawat darurat. Setelah dokter yang menangani tiba, Bian dan David keluar dari ruangan dengan ekspresi penuh kecemasan.

__ADS_1


Ketika dokter sudah keluar dari ruang gawat darurat dan menghampiri mereka, raut wajah Bian dan David berubah dari cemas menjadi terkejut.


Pasalnya, selain dokter itu mengatakan bahwa Alisha sudah baik-baik saja dan hanya syok, sang dokter juga memberitahu Bian bahwa Alisha tengah hamil.


“Usia kandungannya masih sangat muda, baru tiga minggu. Sepertinya istri Anda belum menyadarinya, jadi mohon dijaga baik-baik kandungan istrinya, ya!” ucap dokter itu sambil berpamitan pergi.


Bian masih diam terpaku dengan wajah terkejutnya. Sementara David malah lebih dulu melonjak kegirangan. Ia bahkan memukul-mukul lengan bosnya sendiri.


Saat Alisha dipindahkan ke ruang perawatan, Bian terus menunggunya hingga dia sadar. Bahkan ia tak tidur sama sekali. Berulang kali diusapnya pipi istrinya, dikecup keningnya, dan digenggam pula tangannya.


Hingga saat Alisha membuka matanya, Bian memeluknya dengan penuh kehati-hatian nanun tetap hangat.


“Maafin aku, sayang!” ucap Bian lirih sambil menangis.


Alisha yang menyadari dirinya berada di rumah sakit, mulai mengingat kejadian yang menimpanya malam itu. Ia pun mengelus punggung sang suami yang menangis di dalam pelukannya.


“Nggak apa-apa, sayang. Aku udah nggak apa-apa” balas Alisha.


Bian melepaskan pelukannya dan menatap wajah istrinya yang masih pucat. Lantas ia pun mengalihkan perhatiannya pada perut Alisha.


“Maafin papa, sayang!” ucap Bian sambil mengelus perut Alisha yang masih rata.


Mendengar ucapan Bian, Alisha mengerutkan keningnya. Bahkan ia mengira dirinya sedang bermimpi.


“Yang..”

__ADS_1


“Iya sayang, kata dokter kamu hamil” ucap Bian.


Alisha meneteskan air matanya. Ia sangat terkejut karena ia tak pernah merasa bahwa dirinya hamil. Rasa sakit yang ia alami malam itu, berubah menjadi kebahagiaan yang luar biasa dalam hidupnya. Bian pun kembali memeluk istrinya, kali ini dengan lebih hangat dan lebih erat.


__ADS_2