
Dalam ambulans, Alisha terbujur tak sadarkan diri, sendirian. Darah mengucur dari beberapa bagian tubuh Alisha, terutama bagian vitalnya. Beberapa orang yang menolong dan sadar bahwa dia tengah hamil pun, segera menyerukan agar Alisha mendapat pertolongan dengan cepat. Sementara sang supir juga masih tak sadarkan diri, namun ia tertolong oleh airbag yang mencuat otomatis saat bagian depan mobil menabrak tiang listrik.
Beruntung lokasi kecelakaan mereka berada dalam radius yang tak terlalu jauh dari rumah sakit yang paling dekat. Setelah tiba di rumah sakit itu pun, Alisha langsung dilarikan ke unit gawat darurat. Tampak beberapa dokter jaga yang menanganinya memerintahkan para perawat untuk segera memanggil dokter obgynuntuk menangani Alisha.
Hiruk pikuk pun berubah menjadi keheningan tatkala dokter kandungan yang selesai memeriksa Alisha berubah menjadi muram dan terdiam. Tentu saja semua yang ada di sana paham betul arti dibalik ekspresi itu.
Segera mereka memeriksa tas Alisha untuk mencari tahu identitasnya. Mereka menemukan sebuah kartu identitas yang ada di dalam dompet. Mereka juga memeriksa ponsel Alisha agar bisa menghubungi keluarga atau siapapun yang bisa diinformasikan mengenai keadaan Alisha.
Setelah berhasil membuka ponsel itu, mereka mencari beberapa nama yang bisa memungkinkan sebagai keluarga atau teman. Dengan cepat petugas rumah sakit membuka bagian panggilan telepon untuk mengetahui riwayat panggilan yang sudah dilakukan Alisha. Mereka menemukan nama Bian dengan tulisan “my hubby”. Namun setelah mencoba meneleponnya, panggilan itu hanya berakhir menjadi panggilan tak terjawab.
Mereka juga menemukan nama Nadia, karena Alisha memang sempat meneleponnya pagi itu untuk mengabarkan bahwa dirinya sudah kembali ke rumah Herdianto. Dan mereka berhasil mengubunginya.
***
Bian bangun dengan kepala yang sangat pusing, ia merasa seperti berputar-putar hebat. Namun ketika ia membuka mata, matahari agaknya sudah tenggelam, berganti sinar bulan yang terlihat remang bercampur mendung. Ternyata hampir seharian Bian tertidur di tempat itu. Ia pun duduk di kasur sambil memutar otaknya, berusaha mengingat semua dari awal.
Kini Bian berhasil mengingat beberapa hal yang tadinya tidak ia ingat. Ingatan-ingatan saat ia berada di klub bersama Berlian, terlintas di pikirannya saat itu. Dia juga ingat saat Berlian membawanya ke klub itu dengan alasan yang menipu. Akan tetapi ingatannya berhenti sampai saat ia meneguk sebuah minuman. Dan ingatan setelah itu, sama sekali tidak bisa ia ingat. Berkali-kali Bian merutuki dirinya yang tidak sadar bahwa minumannya bercampur alkohol.
Setelah mengamati ruangan itu, Bian tahu bahwa itu adalah kamar orang yang dikenalinya, Berlian.
Ia segera keluar dari kamar Berlian sesaat setelah menyadarkan dirinya. Bisa-bisanya dia pingsan hanya karena sebuah koktail. Terlebih ia bangun di kamar gadis itu setelah cukup lama tak sadarkan diri. Pikiran itu terus membayangi Bian. Namun begitu ia membuka pintu kamar, gadis muda itu tidak terlihat di manapun.
__ADS_1
Sebenarnya Bian justru merasa lega saat tak menemukan Berlian , dia tidak harus bertemu dan menghadapinya lagi. Ia sangat malu. Seandainya ia bisa berpikir masa bodoh soal apa yang terjadi saat itu, ia akan pergi saja dari rumah ini. Tapi Bian tidak bisa.
Bian bukan laki-laki yang kuno atau tidak berpikiran terbuka. Ia tahu pasti hal-hal seperti ini akan mudah ia alami. Ia juga paham betul akhir dari kejadian seperti itu. Ia harus tetap memastikan dirinya dan Berlian tak melakukan apapun sebelum meninggalkan tempat itu. Bian juga terus berusaha mengingat agar dia bisa merasa yakin.
"Dimana gadis itu?”
Bian memberanikan diri menjelajah beberapa ruangan untuk mencari Berlian. Tetapi yang ia temukan justru catatan di pintu kulkas yang ditulis dengan panjang nan rapi. Dia membacanya dan mengacak-acak rambutnya hingga berantakan. Bian pun langsung terduduk di depan kulkas.
Aku tidak bermaksud membuatmu dalam posisi sulit, Mas Bian. Tapi jika kau memikirkan hal itu setelah kau bangun, percayalah..kita melakukannya. Aku pergi sebelum kamu bangun. Aku malu. Aku merasa hidupku hancur. Aku harap kamu segera pergi dari rumahku karena aku belum sanggup bertemu denganmu, Mas.
Bian merasa frustasi saat itu juga. Tapi ia juga bingung setelah membaca pesan yang ditulis oleh Berlian. Bahkan dirinya tak bisa mengingat apapun setelah meneguk satu minuman, tapi kenapa Berlian bisa menulis hal seperti ini. Bian mencoba mengingat lagi hingga kepalanya kembali pusing.
"Bodoh kau Bian! Kenapa kau bisa mabuk seperti itu” teriak Bian frustasi, sebab ia masih tak bisa mengingat apapun.
Nampaknya David pun telah menunggu panggilan dari Bian. Belum sampai dua kali nada sambungnya berbunyi, David sudah mengangkatnya. Langsung dengan suara yang terdengar panik, David memberitahu Bian mengenai kejadiaan naas yang dialami istrinya. Ia hanya sempat mengatakan bahwa Alisha mengalami kecelakaan dan meminta Bian segera menuju ke rumah sakit.
Tak begitu lama waktu yang dibutuhkan Bian untuk tiba di rumah sakit tempat Alisha dirawat. Ia berusaha tetap tenang sembari mendekat ke arah orang-orang yang berdiri di depan pintu ruang operasi.
Melihat Bian datang, David pun langsung menghampirinya.
“Mas, Mbak Alisha masih di ruang operasi” ucap David.
__ADS_1
“Apa yang sebenarnya terjadi, Vid? Kenapa Alisha bisa mengalami hal seperti ini?” kata Bian.
Belum sempat David menjawab pertanyaan itu, Nadia sudah memberi sebuah tamparan keras di wajahnya.
“Ini semua gara-gara lo!” teriak Nadia sambil menangis.
Melihat Nadia melakukan hal seekstrim itu, dan tanpa ragu menyalahkan kejadian itu padanya, Bian semakin tak paham dengan semua hal yang terjadi hari itu.
“Apa maksudmu? Kenapa ini semua salahku?” balas Bian setengah berteriak, ia mulai stres kala itu.
“Kau masih bertanya? Dia menggantikanmu ke kantor dengan kondisinya yang seperti itu, karena lo nggak bisa dihubungi. Lo bahkan gak pulang!” teriak Nadia lagi.
Bian bingung harus menjawab dan bersikap seperti apa. Ia tidak mungkin menjawab bahwa ia sedang mabuk dan pingsan di sebuah klub dan terbangun di rumah seorang gadis. Ia memutuskan untuk berbohong bahwa ia terpaksa menginap dan tertidur di hotel setelah bertemu dengan kliennya.
Namun Nadia tidak mempercayainya begitu saja. Bahkan David pun tak percaya, karena dia tahu tidak ada jadwal apapun yang melibatkan klien atau pun investor hari itu.
“Kenapa Mas Bian berbohong?” batin David saat itu.
Akhirnya perdebatan sengit itu terhenti ketika ada seorang dokter yang keluar dari dalam ruang operasi. Dokter itu menghampiri mereka dan menanyakan siapa keluarga yang menjadi wali dari Alisha.
“Saya suaminya, Dokter. Bagaimana keadaan istri saya, Dok?”
__ADS_1
Dan seluruh orang yang berada di sana mendadak terdiam, beberapa terlihat menangis dan berteriak histeris. Terutama Nadia yang kembali menghujani tubuh Bian dengan pukulan-pukulan emosinya.
Hari itu, untuk pertama kalinya Bian merasakan kesedihan yang luar biasa dan tak terukur dalam hidupnya. Sang dokter memberitahunya bahwa Alisha dan dirinya telah kehilangan anak mereka.