Menikahi Perawan Tua

Menikahi Perawan Tua
Wait and See


__ADS_3

“Loh, kamu kenapa sayang?” tanya Reka yang melihat Nara duduk di pinggir ranjang dengan mata sembab dan ponsel di tangannya.


“Kakek, tadi kesini tapi nggak bilang. Kalau aku tau Kakek mau ketemu aku kita nggak usah pergi. Aku merasa Kakek berubah,” ujar Nara lalu terisak. Reka segera duduk di samping Nara dan membiarkan istrinya menangis di dadanya. “Sudah, sayang. Jangan sedih terus nanti anak kita sensitif dan terlalu perasa.” Reka mengusap punggung Nara seraya menenangkannya.


“Tapi memang aku merasakan begitu, Kakek berubah.”


Reka meraih bahu Nara dan menjauhkan tubuhnya agar dapat menatap wajah Nara. “Kamu merasakanya Kakek berubah, bagaimana jika Kakek merasakan lain bahkan jauh dari yang kamu rasakan. Mungkin situasi membuatnya bersikap seperti itu atau bahkan dia merasa tidak enak karena keputusan yang diambil menyulitkan atau akan menyusahkan kamu.”


“Ini semua karena Ibu, untuk apa juga dia menerima Reno sebagai menantu. Kakek pasti serba salah,” sahut Nara.


“Nah, itu maksud aku.”


“Kok sekarang kamu semakin bijak sih.” Nara mengusap pipinya yang basah karena air mata sambil menatap Reka.


“Reka gitu loh,” ucap Reka dengan bangga sambil menepuk dadanya.


“Baru dipuji sedikit udah lebay.”


...***...


Reka yang keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya, tersenyum melihat Nara yang masih meringkuk di bawah selimut. Dua hari kemarin menghabiskan waktu dengan Nara seakan tidak cukup, sore ini setelah dari kampus dia harus kembali ke luar kota sesuai perintah Kevin.


Reka menaiki ranjang dan mendaratkan banyak ciuman di wajah Nara. “Sleeping beauty, wake up.” Nara hanya mengerang lalu mengeratkan selimutnya. “Ra, ke kampus nggak? Nggak biasanya kamu malas begini,” ujar Reka sambil merapikan surai yang menutupi wajahnya.

__ADS_1


“Siapa coba yang bikin aku capek,” ujar Nara masih dengan mata terpejam. Reka hanya terkekeh, “Buat stok seminggu ke depan Ra. Nanti malam aku bakalan tidur sama guling lagi, jadi wajar dong rada semangat. Lagian kamu juga seneng aja semalam, sampe sebut-sebut nama aku terus.”


Nara menarik selimut menutupi wajahnya karena malu, “Nyebelin.”


“Nyebelin tapi nikmat.” Reka beranjak menuju walk in closet sambil bersiul. Tidak lama kemudian Nara pun beranjak duduk lalu turun dari ranjang menuju kamar mandi hanya mengenakan selimut tipis membalut tubuhnya.


“Habiskan susunya.” Reka menunjuk gelas susu yang sudah dia buatkan untuk Nara saat berada di meja makan menikmati momen sarapan pagi. Lalu memanggil salah satu asisten rumah tangganya untuk menurunkan koper dan memindahkan ke bagasi mobil.


“Ingat, bisnis itu pakai perasaan juga bukan pakai emosi. Kalau secara hitungan bisnis sudah aman putuskan untuk lanjut atau mundur, jangan memutuskan tanpa perhitungan,” nasihat Kevin pada Reka.


“Hmm.”


Reka dan Nara duduk di kursi penumpang, dengan Leo yang mengemudi. Seperti biasa, Nara dengan mode dan gayanya sebagai dosen. Dengan rambut dicepol dan kacamata dan setelan blazer juga rok membuatnya terlihat dewasa dan serius.


“Tapi ini bahannya elastis dan pinggangnya karet.”


“Kamu kapan pakai baju hamil, aku lihat kamu belum punya baju begituan?”


“Perut akunya juga masih rata, mungkin kalau sudah buncit baru aku cari baju khusus ibu hamil,” jawab Nara.


“I love you, Bu dosen,” bisik Reka. Nara hanya tersenyum. “Kok nggak dijawab?”


“Harus gitu aku jawab.”

__ADS_1


Reka menghela nafasnya, “Harus diikrarkan lalu dituangkan dalam sikap dan perbuatan,” sahut Reka sambil memasang wajah bete. Tanpa diduga, Nara mendekatkan wajahnya dan mendaratkan bibirnya di pipi Reka.


“Wah, kamu ngegemesin ya,” ucap Reka. Lalu merangkul bahu Nara sambil terus menggoda istrinya, mengabaikan jika ada Leo yang sedang fokus pada kemudi.


Nara turun dari mobil setelah Reka, “Ayo, aku antar ke ruangan kamu.” Berjalan berdampingan melewati koridor menuju ruang dosen. “Setelah ketemu dospem, aku ke kantin ya. Aku hubungi kamu kalau sudah mau jalan,” tutur Reka. Nara mengangguk sebelum mereka berpisah jalan karena Reka harus menemui dospemnya di ruangan yang berbeda dengan Nara.


“Kamu dan Reka tinggal terpisah?” tanya Ardi saat Nara sudah duduk di kursi kerjanya.


“Hmm, dia sedang belajar menjalankan perusahaan,” jawab Nara tanpa menoleh.


“Siap mapan tapi milik orangtua,” sahut Ardi masih duduk bersandar pada kursinya. Nara menghentikan aktivitasnya dan menoleh pada Ardi. “Kamu ada masalah apa sih? Kenapa harus menyinggung masalah Reka.”


Ardi mengedikkan bahunya. “Justru kamu ada masalah apa sampai memutuskan menikah dengan bocah. Kamu pasti tau perasaan aku ke kamu tanpa aku harus ungkapkan dan kamu tidak beri aku kesempatan malah menikah dengan bocah tengil itu.”


“Ardi,” ucap Nara menekan suaranya agar tidak terlalu terdengar oleh yang lain. “Hak kamu untuk menyukai siapapun, tapi hak aku juga untuk tidak merespon perasaan orang lain termasuk memilih dengan siapa aku akan menikah. Aku tidak ingin urusan pekerjaan kita terhambat karena masalah ini. Jadi sudahi saja, agar tidak ada kecanggungan ke depannya,” tutur Nara.


“Oke, aku sportif. Tapi kalau aku tahu bocah tengil itu berulah dan menyakiti kamu, jangan salahkan aku kalau aku akan sedikit memaksa untuk mendapatkan kamu,” ancam Ardi.


Nara hanya menghela nafas, “Tapi itu tidak akan terjadi.”


“Just wait and see.” 


\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2