
Apa yang dilakukan Bian saat ini mungkin adalah wujud dari rasa bersalahnya pada Berlian. Meski ia tidak berada dalam kondisi yang sadar, tetapi melakukan perbuatan itu juga tidak dibenarkan. Ia bahkan menenangkan Berlian dan meninggalkan istrinya.
Namun ada yang belum diketahui oleh Bian. Bahwa apa yang terjadi padanya sejak makan siang hingga terbangun di rumah Berlian, semua adalah ulah dan rencana gadis itu. Dia sengaja bermain dengan rencana baru, playing victim. Bian adalah pria yang tak mudah goyah kecuali dia yang membuat kesalahan itu sendiri. Jika mendapatkannya dengan ‘halal’ tidak mampu meluluhkan hatinya, maka tidak ada cara lain selain ‘paksaan’.
Memang benar bahwa Berlian yang memasukkan obat tidur di dalam minuman Bian saat masih di klub. Dengan bantuan anak buahnya, dia membawa Bian ke dalam kamarnya. Memasang jebakan agar bisa menjadi tameng jika Bian menolaknya kembali.
Dan untungnya Bian terlalu naif karena mempercayai gadis itu hanya dengan ucapannya. Ia bahkan tidak memintanya mengecek segala sesuatu yang berhubungan dengan malam itu. Bian merasa kalah karena dia sama sekali tidak bisa mengingat apapun. Dia juga tidak bisa meminta bantuan siapapun untuk mengatasi hal ini karena Bian masih merahasiakannya dari siapapun.
Yang mengherankan adalah rasa takut dan kegelisahan Bian. Mungkin karena ia mengalami hal itu di hari yang sama dengan kecelakaan yang menimpa Alisha, ia tidak bisa mendahulukan masalahnya di atas masalah Alisha dan anak mereka. Padahal dia hanya mendapat pernyataan bahwa dirinya dan Berlian melakukan hal terlarang itu. Gadis itu tidak mengatakan bahwa dirinya meminta pertanggung jawaban karena hamil atau semacamnya. Bahkan hal semacam itu bagi Berlian adalah biasa. Ia adalah gadis liar yang sebagian besar waktunya dihabiskan di klub malam. Tapi entah kenapa Bian terlihat ‘mudah’ pada gadis itu.
Setelah menenangkan Berlian yang menangis dengan pelukannya, Bian berkata bahwa ia harus segera kembali ke rumah sakit agar tidak dicurigai oleh orang-orang di sana. Mendapat pelukan dari Bian, Berlian pun merasa dirinya mendapat lampu hijau dari laki-laki gagah itu. Perlahan tapi pasti, tumbuhlah sebuah perasaan memiliki di dalam hati Berlian. Ia menggelayuti lengan Bian seolah tak mau ditinggalkan olehnya.
“Apa kamu harus balik sekarang?” tanya Berlian dengan nada yang sudah berubah total.
Bian melepaskan pelukannya dengan canggung. Bagaimana tidak, dia baru saja mengenal Berlian beberapa waktu yang lalu, tapi sekarang mereka sudah berpelukan dan bahkan melakukan hubungan suami istri terlarang. Setidaknya di mata Berlian, karena Bian masih tidak mengingat apakah dia benar-benar melakukan hal itu.
“Aku harus pergi” jawab Bian.
“Terus aku gimana? Selanjutnya kita gimana, Mas?” tanya Berlian lagi.
Bian tampak frustasi sebelum menjawab, karena ia sendiri juga tak tahu langkah apa yang seharusnya ia ambil. Bian benar-benar stres.
“Berikan aku waktu untuk memikirkannya, oke!” jawab Bian.
Dia pun bergegas memacu mobilnya kembali menuju rumah sakit.
***
Sementara ditinggal Bian, Alisha yang sebelumnya masih tak sadarkan diri, akhirnya mulai membuka matanya.
“Cel! Apa kau sudah sadar?” ucap Nadia.
__ADS_1
Setelah melihat beberapa orang di depannya mulai memanggil namanya, pandangan Alisha berubah pada perutnya yang sudah rata.
Dengan suaranya yang masih lemah, Alisha bertanya mengenai keadaan bayinya.
“Dimana bayiku? Apa dia baik-baik saja?”
Semua orang mendadak diam termasuk Mama Liana. Baik David, Nadia bahkan hingga ibunya sendiri tak mampu mengatakan yang sebenarnya. Jika Alisha tahu kebenaran tentang bayinya di tengah keadaannya yang masih seperti ini, pasti kesehatan dan mentalnya akan langsung terpengaruh.
Nadia pun berusaha membahas hal yang lain, tapi Alisha masih saja menanyakan dimana bayinya.
“Al, kamu masih lemah. Jangan mikir yang lain dulu ya!” ucap Nadia lembut sambil menahan tangis.
Alisha mengingat dengan jelas peristiwa kecelakaan itu. Dia juga curiga dengan sikap orang-orang yang terus mengalihkan topik pembicaraan. Ia berusaha bangkit tapi tubuhnya masih sangat sakit dan lemah. Orang-orang pun menahannya agar tidak bangkit dari tempat tidur.
“Aku mau ketemu bayiku, Nad!” kata Alisha.
“Alishaa..” Nadia berusaha menenangkan Alisha yang mulai berontak.
Alisha kembali tak sadarkan diri tepat ketika Bian tiba di kamar itu. Mengetahui istrinya kembali pingsan setelah sempat tersadar, Bian mulai khawatir. Apalagi mereka mengatakan bahwa Alisha mencari bayinya.
“Gimana, Bi? Apa kita harus ngomong yang sebenarnya disaat kondisi Alisha kayak gitu?” tanya Nadia cemas.
“Iya, Mas. Kasihan Mbak Alisha nanti” sahut David.
Sementara ibu mertua Bian hanya menangis terisak melihat kemalangan yang menimpa putri dan cucu pertamanya yang sudah dinanti-nanti sejak lama.
Satu orang yang hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Mama Liana hanya berdiri dengan tangan terlipat di dekat pintu. Sorot matanya menyimpan banyak rahasia. Sesekali ujung bibirnya juga terlihat terangkat. Dia pasti menikmati pemandangan ini. Karena kebenciannya pada Alisha tidak pernah berkurang apalagi pudar.
Alisha kembali tersadar untuk kedua kalinya. Tapi kini dia melihat Bian yang telah menggenggam tangannya. Mungkin karena dia telah menyadari apa yang mereka sembunyikan sebelumnya, Alisha pun mulai menangis.
“Mas, dimana bayiku?” tanya Alisha.
__ADS_1
“Sabar ya, Sayang! Kita harus sabar” ucap Bian yang turut merasakan kepedihan yang dirasakan istrinya.
Tangis Alisha pun menjadi-jadi. Ia bahkan tak peduli lagi dengan tubuhnya yang kesakitan. Alisha ingin bertemu dengan jenazah anaknya. Alisha ingin memeluknya untuk yang terakhir kali. Tapi Bian dan ibunya melarang Alisha karena kondisinya yang masih lemah. Tubuh Alisha juga terantuk dengan keras ketika mobilnya menghantam tiang listrik itu.
Namun karena Alisha terus meminta dengan histeris, akhirnya mereka menurutinya. Bian dan semua orang membawa Alisha dengan kursi roda menuju ruang jenazah. Akan tetapi Alisha hanya diperbolehkan melihat dari balik kaca, ketika petugas rumah sakit melakukan proses memandikan dan mengkafani bayinya.
Alisha menangis histeris tatkala melihat tubuh bayi kecilnya sedang dikafani. Ia merasa gagal menjadi seorang ibu yang harusnya menjaga sang anak. Dera air mata Alisha dan Bian seolah menjadi bukti bahwa mereka begitu menyayangkan kejadian ini. Mereka begitu menunggu kehadiran si kecil. Tapi Tuhan telah berkata lain.
Setelah proses pemulasaraan jenazah selesai, mereka meminta Bian untuk segera mengurus pemakaman. Alisha ingin menghadiri pemakaman anaknya, tetapi sang dokter tidak mengijinkan dia keluar dari rumah sakit. Tidak sebelum waktunya.
“Mas, aku pengen nganter dia untuk yang terakhir..” ucap Alisha.
Dengan menunduk sembari menyeka air mata Alisha, Bian mengatakan pada istrinya agar dia menunggu di rumah sakit dengan hati dan pikiran yang tenang.
“Aku yakin, nanti dia akan bawa kita ke surga, Sayang. Kita harus ikhlas dan sabar, ya!” ucap Bian sambil mengecup kening Alisha.
Akhirnya Bian, David, dan ibunya Alisha, memutuskan untuk menghadiri dan membantu proses pemakaman bayi kecil itu. Sementara Nadia tetap menjaga Alisha di rumah sakit. Mama Liana pun tidak tahu berada di mana karena dia tidak kembali ke kamar setelah melihat jenazah cucunya.
Setelah ditinggal oleh seluruh keluarganya ke pemakaman, Alisha sendirian di dalam kamar. Nadia meninggalkan kamar karena sedang mencari makanan untuk dirinya. Dan saat Alisha hendak memaksa memejamkan matanya, tiba-tiba ia mendengar pintu kamar dibuka oleh seseorang. Karena ia tidak ada tenaga untuk mengobrol dengan siapapun, dan ia pikir orang itu adalah Nadia, Alisha memutuskan untuk berpura-pura tertidur.
Namun ia tidak mendengar suara Nadia. Yang ia dengar justru suara ibu mertuanya bersama seorang gadis.
“Kamu lihat dia! Sebentar lagi Bian akan membuangnya karena tidak ada lagi anak diantara mereka” kata Mama Liana lirih.
“Iya, Tante. Aku hari ini seneng banget. Tante tahu nggak, tadi Mas Bian datang ke rumah aku. Dia meluk aku, Tan!” ucap seseorang yang ternyata adalah Berlian.
Rupanya Mama Liana tidak berada di pemakaman melainkan bertemu dengan Berlian yang kembali untuk mengambil mobilnya yang masih ada di parkiran rumah sakit. Dan melihat Alisha tengah tertidur, mereka dengan bebas membicarakannya tanpa tahu bahwa Alisha sebenarnya tidak tidur.
“Oh, ya? Kenapa dia meluk kamu?”
Alisha memasang telinganya dengan mata yang masih terpejam. Meski suara Berlian lirih, tapi Alisha bisa mendengarnya. Setelah tahu apa yang diucapkan Berlian, Alisha kembali meneteskan air matanya.
__ADS_1