
"Kenapa kau di sana?" tanya Elard yang baru saja masuk ke dalam kamar dan melihat sang istri berada di balkon.
Neisha yang tidak menyadari kapan sang suami datang pun dibuat terkejut karena dia ketahuan melihat adegan di bawah.
"Eng... enggak kak," ucap Neisha terbata-bata pun masuk ke dalam.
🥕🥕🥕
Pagi hari pun berganti, hari ini Neisha bersiap siap untuk ke kampus karena dia hari ini terakhir bimbingan sebelum mulai ujian.
"Kak, hari ini aku ke kampus ya soalnya minggu depan aku udah ujian, kakak doain ya semoga bisa lancar sampai wisuda nanti." ucap Neisha meminta doa saat mereka selesai sarapan, namun Elard hanya diam saja.
"Permisi tuan." ucap seorang wanita dengan pakaian serba formal nya, usianya sepertinya sepantaran dengan Elard dan juga Jimi.
"Oh iya," ucap Elard.
Sedangkan Neisha melihat wanita itu dengan penuh selidik, kenapa bisa ada wanita di sini karena setahunya tidak ada wanita sekali para maid dan juga dirinya selama ini.
"Namanya Meri, dia akan menjadi bodyguard mu." ucap Elard singkat.
"A... apa! Bodyguard? Kenapa aku pakek bodyguard segala? Aku bisa sendiri kok," ucapnya.
"Diam dan turuti saja." ucap Elard membuat Neisha langsung diam seribu bahasa.
"Mari nyonya," ucap Meri saat Neisha akan beranjak dari kursinya.
"Jangan panggil saja nyonya, panggil Neisha saja." ucap Neisha sambil berjalan mensejajarkan dengan Meri namun Meri terus saja mundur.
"Maaf nyonya itu tidak pantas, kalau saya sampai seperti itu maka tuan Elard akan marah dan tuan besar juga akan menghukum saya." ucap Meri membuat Neisha diam.
"Ya sudah terserah kamu." jawab Neisha singkat.
Setelah itu mereka pun menuju ke kampus dengan hening, sesekali Neisha juga melihat ke arah Meri yang duduk di depan bersama supir.
Ya memang Elard menyiapkan seorang supir untuknya sekitar sama dengan umur ayahnya namanya pak Nardi.
"Nyonya sudah sampai." ucap pak Nardi membuyarkan lamunan Neisha.
"Oh iya." jawab Neisha singkat.
Dia pun turun di ikuti oleh Meri, Neisha merasa risih nanti malah tatapan yang lainnya merasa heran kepadanya.
"Meri, aku mohon jangan ikuti aku ke dalam ya aku takut pandangan orang terhadapku akan sangat aneh." ucap Neisha.
"Tapi nyonya, tuan Elard menyuruh saya untuk menemani anda terus."
"Udah kau tunggu sama pak Nardi aja, nanti kalau kak El marah biar aku yang urus." sahut Neisha kemudian pergi dari sana.
Sekitar satu jam an dia berada di ruangan dosennya, kemudian baru lah dia keluar dari sana dan langsung menuju ke arah Meri karena takut jika harus menunggu lama.
__ADS_1
Hari ini memang mikaila tidak datang ke kampus karena tidak ada urusan sehingga dirinya pun hanya sendirian.
Saat akan ke arah mobilnya tiba-tiba saja ada seseorang yang memanggilnya membuat Neisha menoleh ke sumber suara tersebut.
"Nei."
"Danu," balas Neisha saat melihat Danu.
"Loh kamu ke kampus juga?" tanya Neisha.
"Enggak sih tapi aku denger kamu ke kampus jadi aku ke kampus juga, oh ya kamu nanti malam ada acara gak?" tanya Danu yang membuat Neisha langsung melihat ke arah Meri yang menatapnya dengan intens.
'Aduh gawat ini.' batinnya.
"Maaf Dan aku harus pergi, kayaknya aku juga gak ada waktu lebih baik kamu pergi sama yang lainnya aja ya." pamit Neisha kemudian meninggalkan Danu yang merasa heran dengan sikap Neisha.
"Neisha kenapa ya?" tanya Danu kepada dirinya.
Sedangkan Neisha setelah menolak ajakan Danu dia langsung menuju ke parkiran dimana Meri dan pak Nardi berada.
"Pak kita pulang aja ya." sahut Neisha yang langsung masuk ke dalam mobil.
"Selamat," gumamnya pelan.
🥕🥕🥕
"Tuan, pabrik di negara Z akan segera di buka, rencana kapan kita akan ke sana karena pak manajer terus menanyakan hal tersebut," ucap Jimi.
"Besok kita akan terbang ke negara Z, atur semuanya." perintah Elard.
"Baik tuan." ucap Jimi kemudian pergi dari ruangan tuannya itu.
Sebenarnya beberapa waktu lalu harusnya Elard terbang ke sana namun karena ada beberapa hal maka dari itu dia pun baru akan terbang besok.
Saat sedang sendirian tiba-tiba Elard teringat bahwa Meri sedang mengantar sang istri, segera dia menelepon Meri menanyakan tentang keadaan sang istri padahal Meri selalu mengabarkan dimana dan dengan siapa nyonyanya itu berada bahkan dengan seorang pria tadi siapa kalau bukan Danu pun Meri sampaikan semuanya membuat rahang elard mengeras karena mengingat cowok itu terus saja akrab dengan sang istri.
"Setelah dia lulus sepertinya aku harus mengurungnya agar tidak kabur dengan pria lain." ucapnya dengan mencengkram handphone nya.
Elard tanpa sadar melakukan hal itu, sebenarnya dalam dirinya ada rasa ketertarikan kepada sang istri namun karena kebencian akan pikirannya tentang sebab mereka menikahlah yang membuat Elard membenci hal itu.
🥕🥕🥕
Drettt drettttt
Telepon berdering saat mereka sedang berada di mobil bersama dengan pak Nardi dan juga nyonya nya.
[Halo tuan.] jawab Meri langsung takut jika di tunda tunda.
Neisha yang mendengar Meri menyebut panggilan untuk sang suami pun merasa penasaran, kalau memang khawatir dan kepo keberadaannya kan seharusnya meneleponnya tetapi kenapa malah harus lewat perantara kayak gini, batin Neisha.
__ADS_1
[Kau sekarang berada di mana?] tanya Elard dengan nada marahnya, Meri tahu kalau tuannya itu sedang marah pun hanya patuh dan menjawab dengan jujur saja.
[Kami sekarang akan kembali ke mansion tuan.]
[Bawa dia ke kantorku lewat jalur khusus yang langsung menuju ke lantai ruangan ku.] ucap Elard kemudian mematikan ponselnya begitu saja.
"Nyonya, tadi tuan memerintahkan untuk membawa nyonya ke kantor tuan jadi sekarang kita akan ke kantor, nyonya." ucap Meri lebih seperti pernyataan.
"Apakah ada hak ku untuk menolak," sahut Neisha yang hanya pasrah saja kalau sudah perintah dari sang suami.
Sampai di kantor Neisha langsung di arahkan ke lift yang langsung menuju ke lantai ruangan sang suami di mana di sana hanya ada ruangan sekertaris dan juga ruangan presdir.
"Meri, kamu beneran kak El nyuruh aku ke sini? Aku kok tiba-tiba takut ya, aku gak ngelakuin kesalahan kan?" tanya Neisha merasa heran juga karena tidak biasanya sang suami menyuruhnya ke kantor atau malah tidak pernah sama sekali.
"Iya nyonya, ini semua perintah dari tuan." jawab Meri singkat.
Neisha hanya menuruti saja hingga mereka sampai di lantai ruangan sang suami di mana dia langsung melihat Jimi asisten sang suami yang sedang duduk di mejanya.
"Meri, aku bisa ke sana sendiri lebih baik kamu tunggu di sofa itu aja ya," ucap Neisha agar Meri tidak capek mengantarnya terus.
"Tapi nyonya," ucap Meri belum selesai karena di potong Neisha.
"Udah sana duduk aja." sahut Neisha.
Setelah itu dia pun menuju ke arah Jimi untuk menanyakan keberadaan sang suami ada atau tidaknya.
"Jimi." panggil Neisha.
"Nyonya, maaf saya tidak tahu kalau nyonya sudah datang." ucap Jimi merasa bersalah.
"Gak papa, oh ya kak El ada?"
"Ada nyonya, mari saya antar." tawar Jimi.
"Enggak usah aku bisa masuk sendiri." ucap Neisha kemudian meninggalkan Jimi dan mengetuk pintu ruangan sang suami.
TOK TOK TOK
.
.
TBC
Hai readers 🤗🤗
Maaf ya sebelumnya karena aku kemarin enggak upload bab karena ada kesibukan yang tidak bisa di tinggalkan, aku bakalan berusaha buat upload beberapa bab jadi dukung cerita ku biar aku semangat buat melanjutkan cerita ini ya 😊
JANGAN LUPA FOLLOW AKUN INI, KLIK TOMBOL ❤️, JANGAN LIPA JUGA VOTE, LIKE, SHARE KE TEMEN KALIAN DAN JUGA JANGAN LUPA BINTANG NYA YA😊😊
__ADS_1