
"Sadar nei, ada atau tidak sekarang kak El pasti sudah tidak membutuhkan mu. Dia hanya baik padamu karena nyonya Sheila yang minta, iya pasti nyonya Sheila." tegas Neisha menyadarkan dirinya sendiri.
Setelah itu Elard dan Arsha keluar dari kamar mandi dengan Arsha yang menggunakan handuk yang melilit tubuhnya sedangkan Elard hanya menggunakan bathrobe untuk menutupi tubuhnya.
Saat melihat sang suami jujur bohong jika Neisha tidak merasakan canggung, dia sangat canggung sekali bahwa rasanya Neisha sangat gugup berdekatan dengan Elard.
"Baju Arsha ada di walk in closet sayang," ujar Elard dengan senyum lembutnya karena melihat sang istri bingung.
Tanpa bicara Neisha pun masuk ke dalam walk in closet mencari baju untuk sang anak bersamaan dengan Elard yang juga masuk.
"Ke... kenapa kakak ikut masuk?" tanya Neisha was-was.
"Jangan berfikir yang enggak enggak, aku cuma mau ganti baju aja, kamu gak makein baju Arsha takut nanti dia masuk angin loh." ucap Elard.
Neisha langsung keluar dari walk in closet tersebut dan memakaikan baju untuk sang anak.
Setelah sudah memakaikan baju dan bedak untuk sang anak Neisha berencana akan membawa Arsha turun untuk makan malam.
"Ya sudah sekarang kita makan malam ya," ajak Neisha yang akan menggendong sang anak.
"Bentar bunda kita tunggu om Elad, dia pasti juga lapel." ucap Arsha menolak gendongan sang bunda.
Neisha terkejut karena sang anak menolak ajakannya padahal sebelumnya dia tidak pernah bersikap seperti itu, saat bersamaan Elard keluar dengan kaus hitam polos celana pendek selutut membuat penampakannya tambah menawan dan tetap mempesona.
"Om, ayo kita tulun makan malam." ajak Arsha sambil merentangkan tangannya untuk minta di gendong oleh Elard.
"Iya ayo," balas Elard dan juga mulai menggendong sang anak dengan gembira.
Neisha diam mematung dengan sikap sang anak yang sudah akrab saja dengan Elard.
"Bunda, ayo." ajak Arsha saat dia sudah di ambang pintu namun melihat bundanya yang malah diam saja tidak mengikuti mereka.
"Oh iya." ucap Neisha mengikuti mereka berdua.
Sampai di meja makan Elard langsung menurunkan sang anak di meja yang sudah dia siapkan untuk balita maklum usia Arsha masih dua tahun dan belum bisa untuk makan di meja makan sendiri.
Mereka makan dengan tenang, sesekali Neisha juga menyuapi sang anak agar lebih cepat saja.
"Sayang, besok kita ke psikiater ya." ajak Elard membuat Neisha menghentikan makan malamnya.
"Kenapa? Apakah kamu anggap aku gila?!" tanya Neisha dengan sedikit meninggikan suaranya.
Elard yang mendapatkan jawaban itu pun langsung tidak percaya dengan pemikiran sang istri yang memikirkan hal tersebut.
__ADS_1
"Kamu itu bilang apa sih, aku cuma ingin melihat saja seperti nya kamu mengalami trauma dan itu semua gara-gara aku sayang." tutur Elard merasa menyesal dan bersalah.
Neisha pun mulai paham dan tak salah paham lagi, benar apa yang di katakan oleh Elard bahwa dia mengalami trauma yang dalam dari dulu, namun karena kendala biaya sehingga Neisha jarang bertemu dengan psikiater di kota A sehingga trauma nya tidak sembuh dengan cepat.
Neisha pun menganggukkan kepalanya dengan menunduk, Elard tersenyum melihat betapa gemasnya sang istri sekarang.
"Ya sudah sekarang kita makan lagi, sayang mau nambah?" tawar Elard ke Arsha yang ternyata makanannya sudah mau habis saja.
"Endak om, alcha udah kenyang. Bunda bental lagi alcha mau nonton tv boleh?" tanya bocah kecil itu setelah semua makanannya habis.
"Eh...." jeda Neisha Karena dia tidak mungkin untuk lancang bilang boleh di rumah orang lain.
"Boleh, kalau Arsha mau apapun boleh aja yang penting masih tau yang baik dan yang buruk ya." potong Elard yang tahu kebingungan sang istri.
"Yeyyy, sayang om Elad!" pekik bocah itu.
Setelah selesai makan malam mereka bertiga pun menuju ke depan televisi untuk memutarkan kartun kesukaan Arsha yang memang pasti tayang di jam seginian.
"Apakah biasanya dia jam segini akan menonton televisi?" tanya Elard.
Dia ingin mengetahui semua hal tentang sang anak yang tidak sempat dia tahu.
"Iya." jawab Neisha singkat.
Kemudian mereka pun menonton dengan diam dan hanya sesekali tawa lucu sang anak yang membuat dua orang tua itu ikut senang melihat senyum lebar dari wajah bocah tampan itu.
Elard menggendong sang anak dengan hati-hati agar tidak terbangun, sedangkan Neisha mengikuti Elard dari belakang.
Sampai di kamar Elard menurunkan sang anak, Neisha merasa gugup dengan adanya Elard di kamar.
"A.. aku tidur di sofa aja," ucap Neisha merasa tidak mungkin dia akan tidur dengan Elard juga.
"Kamu tenang aja aku gak bakalan tidur di sini kok jadi kamu tidur aja di samping Arsha ya," ucap Elard mencium kening sang anak kemudian terakhir dia mencium kening sang istri setelah itu pergi menuju ke kamar di samping kamar sang istri.
Elard pergi meninggalkan Neisha yang mematung di tempat tidak tahu harus berekspresi seperti apa.
.
Pagi harinya Neisha sudah bangun dan sudah mandi pula, dia segera turun untuk masak sarapan namun Neisha malah melihat Elard yang sudah selesai menyiapkan semua sarapan untuknya.
"Kak El yang masak ini semua?" raya Neisha tidak percaya.
"Iya, ya sudah kalau gitu aku mau mandi dulu sambil bangunin Arsha, kamu di sini aja ya." ucap Elard kemudian pergi meninggalkan Neisha.
__ADS_1
"Ya tuhan, kenapa sikap kak Elard semakin hari semakin membuat aku goyang ya tuhan." batinnya.
Skip.....
Sekarang ini Elard akan membawa Neisha menuju ke psikiater andalannya yang juga menjaganya selama tiga tahun ini, karena setelah kepergian Neisha dari dirinya Elard merasa kosong, sepi hingga rasanya dia frustasi dan hampir gila.
Kalau kalian bertanya kenapa tidak ada Arsha, jawaban nya adalah dia sedang bermain dengan Jimi di Playground, Arsha tampak senang sekali bisa bahkan memperbolehkan bunda dan Elard untuk pergi.
Sampai di tujuan Elard menggenggam tangan sang istri agar tidak gugup, karena Elard tahu pasti sang istri akan sangat gugup dan tegang, bisa terlihat dari tangannya yang terasa dingin dan berkeringat.
"Jangan tegang ada aku di sini," ucap elard menenangkan sang istri dan menggenggam tangannya dengan erat.
Sedangkan Neisha entah bagaimana dia pun percaya dengan Elard, mungkin karena dia merasa takut hingga tak bisa berfikir jernih.
"Pagi dok," sapa Elard saat mereka sudah berada di ruangan dokter Vinsen.
"Pagi tuan Elard," balas dokter Vinsen.
"Ada apa ke sini? Bukankah kita hari ini tidak ada janji temu sebelumnya hingga kamu buat janji kemarin?" tanya dokter Vinsen yang memang seumuran dengannya dan juga salah satu teman kampusnya dulu.
"Ini.... dia bukankah istri mu?" tanya dokter Vinsen tak menyangka bahwa akhirnya Elard sudah menemukan istrinya juga, karena Elard pernah menceritakan tentang sang istri kepada dokter Vinsen.
"Iya, dan aku ingin memeriksakan kondisi terkini istriku, aku takut bahwa dia mengalami trauma di masa lalu," ucap Elard dengan serius begitupun dengan dokter Vinsen yang juga serius akan hal tersebut.
Sedangkan Neisha malah bingung karena dia tidak tahu apa yang mereka berdua bicarakan.
"Oh hai perkenalkan aku Vinsen," sapa dokter Vinsen menjabat tangan Neisha.
"Neisha," balas Neisha menyambar tangan dokter Vinsen juga.
"Kau jangan pegang pegang!" bentak Elard tidak terima miliknya di pegang pegang oleh orang lain.
"Dasar suami kesepian, mentang mentang istrinya udah ketemu tapi masih galak aja ya," seru dokter Vinsen.
Neisha di ajak untuk duduk lebih rileks, dokter Vinsen ingin mengetahui seberapa trauma yang di alami oleh Neisha.
Elard terus berada di samping sang istri, Neisha mulai melakukan pemeriksaan dengan serius hingga beberapa saat setelah pemeriksaan tersebut selesai tiba-tiba saja Neisha bangun dan langsung meneteskan air matanya dan menangisi sesuatu.
"Hahhhhhh!" ucap Neisha.
"Sayang kenapa?" tanya Elard membawa Neisha ke dalam pelukannya.
.
__ADS_1
.
TBC