
"Ternyata benar dia adalah anak aku, aku sangat senang sekali." ucap Elard saat baru saja mendapatkan informasi tersebut.
🥕🥕🥕
Sedangkan Neisha membawa sang anak dengan terburu-buru, bahkan Arsha sampai di buat bingung dengan bundanya itu.
"Bunda kenapa?" tanya Arsha di dalam gendongan sang bunda.
"Arsha sekarang kita pergi ya," ajak Neisha kemudian masuk ke dalam taxi bersama dengan Dini.
Sampai di kontrakan Neisha segera membawa sang anak masuk ke dalam dan mengunci pintunya.
"Ada apa sih Nei?" tanya Dini yang sungguh tidak tahu kenapa Neisha seperti ketakutan.
"Nanti aku jelasin ya Din, aku mau nidurin Arsha dulu." ucap Neisha membawa sang anak menuju ke kamar dan menyuruh Arsha bersiap-siap untuk tidur karena hari sudah malam.
Setelah menidurkan sang anak Neisha keluar kamar dan melihat Dini yang duduk di sofa ruang tamu menunggu dirinya.
Saat Neisha keluar Dini terus melihat ke arahnya seperti ingin seger meminta penjelasan dari tindakan Neisha tadi.
"Sekarang kamu jelasin ke aku." tegas Dini menatap Neisha tajam saat Neisha baru saja duduk di sampingnya.
Neisha menguatkan hatinya, ini sudah waktunya Dini tahu semuanya, Neisha sudah tidak ingin merahasiakan siapa ayah dari anak nya lagi karena sungguh dia sangat capek sekali.
"Dia dateng!" ucap Neisha dengan air mata yang sudah keluar dari matanya indahnya.
Dini yang tahu maksud dari ucapan Neisha ikut mematung, selama beberapa tahun ini Neisha tidak pernah membahas masalah ini dan tidak ada yang pernah mencari keberadaan mereka berdua namun tiba-tiba sekarang Neisha malah mengatakan hal tersebut dan ada yang mencarinya.
"Siapa?" tanya Dini memancing agar Neisha mau cerita.
"Ayah Arsha, dia tadi ke sini." lirihnya sambil menunduk dengan bahu yang bergetar membuat Dini membawa Neisha ke pelukannya.
"Siapa ayah Arsha?" tanya Dini.
"Kak Elard." tegas Neisha dengan bahu yang sudah bergetar hebat.
"Elard? Maksud kamu kakaknya mikaila?" tanya Dini dan langsung di angguki oleh Neisha.
Dini mematung mengetahui tentang fakta terbaru ini, dia tidak menyangka bahwa ayah dari Arsha adalah Elard Frey Ardolph putra satu satunya dan juga pewaris keluarga Ardolph.
Namun Dini baru sadar bahwa wajah Arsha memang sangat mirip dengan Elard, bahkan hampir sembilan puluh persen wajahnya sangat mirip membuat Dini tak heran kalau Elard anaknya.
Tetapi yang membuat Dini heran ialah bagaimana bisa Neisha menjadi seorang istri Elard, apa lagi selama ini tidak pernah ada kabar tentang pernikahan pebisnis sukses itu.
"Kamu jangan takut, ada aku yang bakalan jaga kamu. Aku gak akan rela kalau sampai keponakan ganteng ku itu di apa-apain!" ucap Dini menguatkan sang sahabat.
"Tapi aku takut Din, apakah aku harus pergi lagi?!" ucap Neisha.
"Kalau kamu mau itu, ayo aku bantu." ucap Dini.
__ADS_1
"Tapi pekerjaan kamu bagaimana Din?" tanya Neisha bingung sekali.
Dini merasa prihatin dengan Neisha harus menjadi single parents di usia yang masih muda ini, apa lagi sering di hantui oleh mantan suaminya hingga susah untuk beristirahat di setiap malam nya.
Dini bisa melihat dengan jelas bahwa Neisha masih mencintainya namun ada rasa kekecewaan, takut yang dia terima sehingga dia memilih untuk pisah.
"Iya juga, terus Arsha bagaimana jika kita terus di sini?" tanya Dini.
"Aku juga bingung Din," ucap Neisha bingung.
"Nei, apakah tidak ada kesempatan untuk papa nya Arsha? Kamu juga tahu sendiri bukan kalau Arsha sangat ingin bertemu papa nya." ucap Dini.
Dia kasihan kepada Neisha namun rasa kasihannya lebih besar kepada Arsha yang hampir setiap hari dia selalu saja menulis sebuah catatan tentang seorang papa.
Arsha tidak langsung bisa merasakan, dia menulis hal itu dari hal hal yang dia tahu mulai dari cerita temannya hingga film-film kartun yang sering dia tonton.
"Tapi aku takut Din, aku takut jika mereka mengambil Arsha dari ku," ucap Neisha dengan air mata yang sudah menangis deras.
"Udah kamu gak usah pikirin itu lebih baik sekarang kamu tidur gih sana susulin Arsha ke alam mimpi, kamu pasti capek kan?" tebak Dini seratus persen.
"Ya udah aku masuk ke dalam dulu ya," pamit Neisha yang sudah mulai tenang.
Dia pun masuk ke dalam kamar dan langsung menghampiri sang anak yang sudah tertidur lelap di sana.
Neisha memandang lama wajah sang anak yang benar benar sangat mirip dengan Elard, tak khayal jika Elard bisa mengenalinya.
"Sayang, maafin bunda ya. Bunda bingung sekarang harus bagaimana," ucap Neisha sambil mengelus kepala sang anak.
Dia pun memilih untuk ke kamar mandi menenangkan dirinya sekaligus membersihkan dirinya karena jujur dia sangat capek sekali hari ini.
Di sisi lain saat Neisha ke kamar mandi Arsha pun bangun, sebenarnya dia tidak tidur tadi dan hanya berpura-pura tertidur namun saat melihat bundanya menangis membuat hati Arsha sakit.
"Maafin alcha ya bunda karena alcha pasti kepikiran papa." gumam Arsha merasa bersalah dan menghapus air matanya agar sang bunda tidak tahu dan kembali tidur.
Tak lama Neisha pun keluar dari kamar mandi dan berbaring di samping sang anak, memeluk erat tubuh mungil anaknya yang sangat dia rindukan.
🥕🥕🥕
Di sisi lain Elard sekarang sudah berada di ibu kota karena besok dia ada meeting penting dan juga Nelson tadi menelepon nya dan mengatakan bahwa ada yang bermain-main dengan klan elang nya.
Ada orang yang menyerang pelabuhan dan mengincar pengiriman organ dari klan elang membuat Elard marah besar, dan untungnya semua sudah di tangkap oleh anak buahnya.
"Mana dia?" tanya Elard dengan wajah tak bersahabat.
"Di penjara bawah tanah tuan." jawab Nelson.
Tidak ingin membuang-buang waktu, Elard pun segera menuju ke penjara bawah tanah dan ingin segera mengeksekusi orang bodoh yang sudah berani-berani nya berurusan dengan klan elang.
"Tuan, tolong lepaskan saya!" teriak salah satu orang dari lima orang tersebut saat Elard baru saja sampai di depan sel nya.
__ADS_1
"Haha kau lucu sekali, kau dengan berani menyerang pelabuhan dan ingin menghancurkan pengiriman ku tapi sekarang kau malah memohon ampun, dasar tak tahu malu. Aku sudah sering mendengar hal itu bodoh!" tegas Elard dengan dinginnya.
Para tahanan lain yang melihat pria itu di caci maki oleh Elard merasa kasihan, mereka sudah pernah mendapatkan hal tersebut sehingga lebih baik diam atau kalau tidak maka nyawanya yang akan di pertaruhkan.
"Tuan, apakah pria ini ingin tuan bunuh?" tanya Nelson.
Elard sebenarnya ingin mengeksekusi nya tapi dia urungkan karena tiba-tiba dia mengingat sang istri dan anaknya membuat hatinya senang.
"Tidak usah, kau taruh di sini saja dulu. Aku berbalik hati karena suasana hati ku sedang baik, kalau saja tadi suasana hati ku tidak baik maka sudah ku pastikan kau akan berada di perut Tiger sekarang." ucap Elard kemudian pergi meninggalkan ruang bawah tanah.
"Jimi, kita pulang." ucap Elard kemudian meninggalkan markas.
Sampai di mansion dia langsung kembali ke kamar, dia sangat tak sabar ingin bertemu dengan sang istri dan sang anak lusa karena besok dia sangat sibuk sekali mengurus bisnisnya.
🥕🥕🥕
Keesokan harinya Neisha sudah bersiap-siap karena dia memilih untuk pergi menjauh lagi, dia tidak ingin Elard mengetahui keberadaan nya dan sang anak lagi.
Kalau kalian mengatakan bahwa Neisha egois, dia akan berkata benar, dia sangat egois sampai mempertaruhkan kebahagian sangat nak namun bagi Neisha menjadi dari masa lalunya adalah jalan terbaik setidaknya dia tidak akan mendapatkan perlakuan kasar lagi seperti dulu.
Neisha takut jika sang suami akan menghajar sang anak juga setelah dia pernah di pukuli hingga di jadikan pemuas nafsunya membuat Neisha merasakan trauma berat.
Butuh waktu lama untuk memulihkan dirinya, dan saat dia sudah sembuh tiba-tiba Elard datang.
Dia yakin bahwa Elard tidak ingin anaknya membuat Neisha ketahuan, bahkan kemarin dia sudah tidur dan malah memikirkan untuk pergi dari sana.
"Bunda kita mau ke mana?" tanya Arsha yang pasrah saja saat bundanya mengemasi barang-barangnya.
"Kita mau liburan sayang, kamu mau kan?" ucap Neisha membohongi sang anak.
"Wah beneran bunda kita mau liburan?!" tanya Arsha dengan senangnya karena dia tidak pernah berliburan dengan sang bunda.
"Iya sayang, yukk kita pergi." ajak Neisha.
Neisha pun membawa kopernya dan keluar dari kamarnya, di sana sudah ada Dini yang menunggu dirinya di sofa ruang tamu.
"Kamu beneran mau pergi nei?" raya Dini dengan raut wajah sedih.
"Iya Din, makasih ya kamu sudah mau tampung aku sama Arsha." ucap Neisha ikut sedih.
Dini tidak ikut karena Neisha tidak ingin mengganggu pekerjaan sahabatnya itu yang sudah mulai stabil di kota ini.
"Terus kamu mau ke mana?" tanya Dini.
"Entah, akan aku pikirkan nanti. Aku pergi dulu ya Din," pamit Neisha kemudian pergi meninggalkan kontrakannya.
.
.
__ADS_1
TBC