
Sebelum lanjut bacanya, jangan lupa buat penilaian dan bintangnya, vote, like dan hadiahnya biar aku semangat buat upload babnya setiap hari, karena butuh effort yang besar buat bisa menyelesaikan cerita kayak gini, kalau ada dukungan dari kalian aku bakalan semangat buat up terus 😊😊
Udah gak mau banyak kata nih lanjut aja ya ceritanya, semoga kalian suka😊
🥕🥕🥕
"Bagaimana jika kak El tahu? Dia pasti akan sangat marah," ucap Neisha merasa khawatir dan juga takut.
"Ayah, ibu. Aku harus bagaimana?" lirih Neisha bingung harus bagaimana.
"Sayang, maafin bunda ya." lirih Neisha mengelus perutnya dan menangis.
Dia menangis meratapi nasibnya, di saat sang suami tidak ingin dia hamil tapi tuhan malah memberikan sebuah janin di dalam perutnya.
🥕🥕🥕
~Flashback On~
Setelah pindah ke mansion baru nya semua barang barang di bereskan oleh para maid.
Sama seperti sekarang semua sedang beres beres beberapa barang barang kecil yang berserakan, hingga Fitri berada di dapur dan melihat sebuah botol kapsul seperti sebuah pil namun dia tidak tahu ini milik siapa.
"Ini punya siapa ya?" tanya Fitri karena di sana semua sudah rapih dan hanya ada Pill itu saja.
Dia pun membaca tulisan yang tertera di kemasan bertuliskan pill kontrasepsi, dia mencerna semua tulisannya dengan baik.
Dia memang hanya lulusan sekolah menengah atas tapi dia tidak bodoh dengan tulisan yang baru saja dia baca itu.
"Pil penunda kehamilan? Tapi siapa yang minum ini kan yang sudah menikah cuma bi Iyem sama mbk Yesi." ucap Fitri bingung dengan pill di tangannya itu.
Mbk Yesi adalah salah satu maid juga di sana yang sudah menikah.
"Apa jangan jangan!" sahutnya sambil melihat ke arah lantai dua.
Kalau bukan bi Iyem dan mbk Yesi siapa lagi kalau bukan nyonya nya karena setahunya para maid di sini semuanya selalu di periksa apakah masih suci atau tidak karena salah satu hal terpenting adalah menjaga kehormatan.
Keluarga Ardolph memang terkenal sangat kejam namun soal memperlakukan karyawan nya mereka juga nomor satu sehingga banyak maid dan asisten lainnya yang merasa di anggap sebagai manusia bekerja di sana.
__ADS_1
"Ini gak bisa di biarin." tutur Fitri membawa botol pill tersebut keluar dari mansion.
Setelah urusannya selesai dia pun kembali ke mansion, hingga sampai di kamarnya dia langsung mengeluarkan semua isi dari botol tersebut dan menggantikan dengan obat penguat kandungan yang dia beli di apotek yang untungnya tak jauh dari sini tadi.
"Nyonya, saya harap nyonya bisa memiliki keturunan dan semoga bisa mengubah sifat kejam dari tuan Elard." ujar Fitri setelah selesai memasukkan obat nya, untung saja bentuk obatnya sama sehingga tidak akan ada yang curiga jika sudah dia ganti.
Setelah itu dia pun membawa kembali botol tersebut dan menaruhnya kembali ke rak makanan, dia yakin nyonyanya akan pergi mencari.
Dan benar saja malam harinya Neisha sedang mencari di dapur, hal itu tak luput dari pantauan Fitri yang kebetulan juga dia akan ke dapur untuk mengambil sampah yang lupa dia bawa.
Dia bersembunyi di belakang tembok dan melihat saat Neisha menemukan botol pil tersebut.
"Nyonya, maafkan saya. Saya hanya ingin yang terbaik buat nyonya," lirih Fitri entah dia bingung perbuatannya kali ini baik atau malah buruk.
~Flashback Off~
🥕🥕🥕
TOK TOK TOK
Pintu kamar mandi di ketuk membuat Neisha kelabakan, dia segera membersihkan kekacauan yang dia buat karena gawat kalau sang suami sampai tahu.
Saat Neisha bangun Elard pun bangun karena pergerakan sang istri, dia menunggu sang istri namun lama sekali dia berada di kamar mandi.
Kesabaran Elard pun habis dan menggedor pintu kamar mandi, jangan jangan sang istri tertidur di sana, begitu lah tebaknya.
Neisha pun menyembunyikan testpack nya di kantong celana tidurnya dan akan menyimpannya di lemarinya saja agar sang suami tidak tahu.
Dia keluar dari sana dengan perasaan was-was, ada rasa khawatir sang suami akan mengetahuinya sungguh dia tidak siap jika nanti sang suami memintanya untuk menggugurkan kandungan yang masih sangat kecil ini.
"Kau kenapa lama sekali?!" tanya Elard dengan wajah masam nya di pagi hari.
"Maaf kak, tadi perut aku sakit banget." ucap Neisha dengan memegang perutnya.
"Minggir aku mau mandi, dan kau segera buatkan sarapan karena aku harus segera ke kantor." tutur Elard kemudian masuk ke dalam.
"Sabar ya sayang, papa kamu emang gitu." ujar Neisha sambil mengelus perutnya yang bahkan belum terlihat membesar.
__ADS_1
Setelah itu Neisha pun menuju ke bawah lebih tepatnya ke dapur, di sana sudah ada para maid yang mulai sibuk dengan pekerjaan nya.
Baru saja masuk ke dapur rasanya Neisha ingin muntah saja, dia merasa mual sekali mencium aroma amis ikan yang sedang di bersihkan oleh mbk Yesi, namun Neisha mencoba untuk menahannya karena bisa ketahuan jika dia sampai muntah sekarang.
Setelah di rasa bau amis sudah hilang, Neisha bisa bernafas lega lagi karena tidak perlu menahan nafasnya lama.
Tak lama sarapan sudah jadi dan Elard sudah berada di meja makan, mereka sarapan dengan tenang ralat bukan mereka tetapi Elard karena untuk Neisha dia malah tidak bisa tenang memikirkan bagaimana mengatakan hal tersebut kepada sang suami.
"Ada apa?" tanya Elard yang sudah selesai sarapannya.
"Eh, enggak kok kak." balas Neisha.
Dia takut mengatakan tentang kehamilan dirinya sekarang ini.
"Kau sudah minum pil mu?" tanya Elard tiba-tiba membuat Neisha tegang.
"Eh... be... belum kak, nanti kalau ke kamar aku akan minum," sahut Neisha dengan gugup.
"Jangan lupa untuk minum karena aku tidak ingin kau hamil," ucap Elard kemudian meninggalkan meja makan dan pergi untuk bekerja.
Mendengar ucapan sang suami tadi Neisha di buat diam seribu bahasa, bahkan tubuhnya sudah sangat tegang memikirkan nasib sang jabang bayi ini.
"Nyonya, nyonya tidak apa-apa?" tanya Fitri saat melihat nyonya nya itu diam saja di meja makan padahal meja makannya akan segera di bersihkan.
"Eh, oh iya maaf. Aku ke atas dulu ya," pamit Neisha.
Sampai di kamarnya di segera menuju ke walk in closet dan mengambil testpack yang dia simpan di tumpukan bajunya.
"Sayang, bunda harus gimana ini? Ayah ibu aku harus bagaimana?" tanya Neisha dengan lirih karena dia sudah sangat pasrah dan tidak tidak tahu harus bagaimana ini.
Hingga lama terdiam dan berfikir Neisha pun menemukan sebuah jawaban yaitu pergi dari mansion ini karena satu satunya penghalangan adalah berada di sini, tapi dia tidak tahu bagaimana caranya.
"Iya, aku harus pergi dari sini. Jika aku di sini kak El akan tahu dengan perutku nantinya yang akan tambah membesar, dia akan menyuruhku untuk menggugurkan nya dan aku tidak mau hal itu terjadi karena anak ini tak bersalah sama sekali." ucap Neisha yakin dengan keputusannya.
"Tapi bagiamana caranya aku pergi? Di sini banyak sekali pengawal dan setiap aku akan pergi aku pasti akan di temani oleh Meri," sahut Neisha mulai lemas lagi karena dia tidak tahu bagaimana cari pergi dari sini.
.
__ADS_1
.
TBC