Menjadi Istri Mafia Kejam

Menjadi Istri Mafia Kejam
BAB 42_Positif


__ADS_3

"Tahu ah mending kita pergi ya sayang, gak ada Elard gak papa kan?" tutur mommy Sheila kepada Neisha.


"Iya, gak papa kok mom." balas Neisha.


🥕🥕🥕


Pagi harinya Neisha sudah bangun dan menuju ke dapur membuatkan sarapan untuk sang suami.


"Bi, aku mau bikin sandwich buat kak El ya." ucap Neisha.


"Iya nyonya," balas bi Iyem.


Tak lama Elard turun dengan jas rapihnya bertepatan dengan Neisha yang sudah selesai membuatkan sarapan untuk Elard.


"Kak aku hari ini bikin sandwich," ucap Neisha namun Elard hanya diam saja dan memakan sarapannya.


Neisha sedikit sedih namun dia merasa senang karena sarapannya di makan oleh sang suami.


"Ini juga aku buatin bekal buat kak El." ucap Neisha setelah Elard selesai sarapan dan akan pergi ke kantor.


Elard melihat sekilas namun langsung dia tepis kotak makan tersebut hingga isi di dalamnya berhamburan keluar.


"Aku peringatkan jaga batasanmu atau kau ingin menemui orang tuamu sekarang juga." tekan Elard kemudian melenggang pergi meninggalkan mansionnya dan meninggalkan sang istri yang mematung melihat bekal yang dia siapkan untuk sang suami berhamburan jatuh di lantai.


Para maid yang melihat kejadian itu pun merasa iba dan kasihan dengan nyonya nya itu, semua maid tahu bagaimana sikap tuannya kepada istrinya sendiri.


"Nyonya, biar kami saja yang bersihkannya." ucap bi Iyem dan di belakangnya ada beberapa maid juga yang berniat untuk membersihkan nya saat Neisha juga akan membersihkannya.


Bi Iyem memapah nyonya nya itu ke sofa ruang keluarga sedangkan maid lainnya membersihkan makanan yang tercecer.


"Bi, apakah aku emang gak pantes buat kak El?" tanya Neisha dengan lirih kepada bi Iyem.


Bi Iyem mendampingi Neisha untuk menenangkannya agar tidak merasa sedih lagi.


"Nyonya, nyonya gak boleh bicara seperti itu. Tuan tadi hanya kelepasan saja," ucap bi Iyem menenangkan Neisha.


"Bi, Neisha boleh peluk," ijin Neisha, dia sekarang ini perlu pelukan hangat dari seorang ibu.


"Boleh nyonya,"

__ADS_1


Segera Neisha berhamburan ke pelukan bi Iyem merasakan pelukan seorang ibu yang sudah sangat ia rindukan.


Tak lama Neisha sudah mulai merasa tenang, dia juga sudah kembali ke kamarnya. Entah mengapa beberapa hari ini dia merasakan nafsu makannya sangat banyak dan juga beberapa kali mual melanda.


"Aduh kenapa sih ini kok dari kemarin mual terus deh," ucap Neisha.


Neisha segera berlari ke kamar mandi saat dia mulai merasakan ingin memuntahkan semua makanannya.


"Huek..... huek........"


"Ini kenapa sih pingin muntah tapi kok yang keluar cuma cairan gini." seru Neisha merasa lemas sekali berpegangan dengan wastafel kamar mandi.


Setelah dirasa sudah selesai Neisha pun kembali ke kamarnya dan berbaring di ranjangnya karena dia merasa tubuhnya sangat lemas.


Namun tiba-tiba ada sesuatu yang mengganjal pikirannya, dia teringat akan waktu datang bulannya yang menurutnya sudah terlewat, dia melihat kalender dan memang sudah lewat dua minggu.


"Astaga, udah lama juga aku telat kok aku gak sadar sih. Apa ini berpengaruh dengan mual ku ya?" tanya Neisha.


Dia pun mencari kebenaran dari internet soal kenapa seorang wanita mual saat tidak datang bulan, namun yang membikin dia terkejut adalah pernyataan dari internet membuat dia berfikir yang tidak tidak.


"Apa hamil? Enggak sih aku gak mungkin hamil, aku kan selalu minum pit kontrasepsi yang kak El berikan, udah gak mungkin sih itu." ucap Neisha mencoba membantah pemikirannya.


Namun hingga malam hari Neisha terus saja memikirkan hal hal aneh tersebut membuat dia tidak tenang saja di tidurnya, untung saja sang suami belum pulang kata Meri tadi Elard ada meeting penting sehingga Neisha tidak terlalu gugup di buatnya.


🥕🥕🥕


Bahkan saat rapat Elard banyak sekali merevisi materi yang sedang di presentasi kan, begitulah Elard kalau sedang kesal atau marah maka salah satu jurus andalannya adalah gila kerja.


Sampai di markas Elard langsung menyuruh Nelson untuk membawakan salah satu tahanan yang memang sudah waktunya untuk di bunuh karena tangan Elard sudah gatal sekali untuk menembakkan pelatuk ke arah tawanannya.


"Tuan, maafkan saya. Saya tahu saya salah!" pekik orang tersebut yang sudah berada di ruang eksekusi.


"Haha dasar manusia bodoh, kau berani berbuat maka kau juga harus berani mati di tangan ku." seringai nya tajam.


DOR DOR


Dua tembakan terdengar begitu nyaring di telinga namun hal itu malah membuat hati Elard sedikit membaik.


"Nelson, kau ambil organnya setelah itu kasih tiger dagingnya karena dia sudah lama tak makan daging manusia." ucap Elard kemudian pergi meninggalkan ruang eksekusi.

__ADS_1


"Baik, tuan."


Setelah itu Elard pun kembali ke mansion tepat pukul satu dini hari dan saat sampai di kamarnya dia melihat sang istri tidur dengan damai.


Setelah itu dia tidur di samping sang istri dengan memeluk tubuh mungil sang istri, entah itu sudah mulai menjadi kebiasaannya.


Jika Neisha menurut Elard akan senang, namun sesekali Neisha akan memberontak membuat emosinya sering kali keluar, untung saja hari ini dia sudah tertidur.


'Apakah dia tambah gemukan?' tanya Elard dengan mengerenyitkan dahinya saat tangannya meremas bagian dada yang menurutnya tambah berisi dari sebelumnya.


Namun Elard tidak memperpanjang pemikirannya dan ikut terlelap di samping sang istri.


🥕🥕🥕


Pagi harinya Neisha terbangun terlebih dahulu, dia merasakan berat di perutnya dan melihat sebuah tangan kekar sedang memeluknya.


Secara perlahan dia bangun pelan pelan agar tidak membangunkan sang suami, setelah berhasil keluar dari pelukan sang suami Neisha pun menuju ke kamar mandi untuk melakukan pengecekan.


Sampai di sana dia mengeluarkan testpack yang dia beli beberapa hari lalu waktu bersama mikaila, itu pun atas paksaan sang sahabat yang berharap akan memiliki keponakan.


Elard tidak tahu sama sekali tentang testpack itu karena Neisha menyimpannya secara terpisah dari barang barang yang lainnya karena dia takut jika sang suami tahu maka dia akan di caci maki lagi dan mengatakan dia hanya ja*ang nya saja.


Neisha pun melakukan pengecekan, cukup lama dia menunggu hasilnya hingga saat hasilnya keluar dia hanya bisa mematung di tempat.


Dua garis merah terpampang jelas di dalam sana yang berarti dia positif hamil membuat tangan Neisha bergetar hebat, dia langsung lemas terduduk di kloset.


"Enggak, enggak mungkin!" seru Neisha mencoba mengelak dari hasil yang dia terima.


"Bagaimana bisa?" tanyanya sendiri sambil memegang perutnya.


"Bagaimana jika kak El tahu? Dia pasti akan sangat marah," ucap Neisha merasa khawatir dan juga takut.


"Ayah, ibu. Aku harus bagaimana?" lirih Neisha bingung harus bagaimana.


"Sayang, maafin bunda ya." lirih Neisha mengelus perutnya dan menangis.


Dia menangis meratapi nasibnya, di saat sang suami tidak ingin dia hamil tapi tuhan malah memberikan sebuah janin di dalam perutnya.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2