Menjadi Istri Mafia Kejam

Menjadi Istri Mafia Kejam
BAB 55_Harus Pergi


__ADS_3

"Akhirnya aku menemukanmu sayang," gumam Elard dari dalam hatinya.


🥕🥕🥕


"Sekian dari presentasi yang dapat saya sampaikan, kurang lebihnya mohon maaf." ucap Neisha menutup presentasi nya.


Setelah itu dia kembali ke kursinya dengan gugup dan berusaha untuk menghindar dari tatapan Elard yang dari tadi terus melihatnya.


Jimi yang melihat nyonya nya berada di depan matanya pun ikut terkejut dan tidak menyangka, selama bertahun-tahun anak buahnya mencari namun tidak ketemu, tapi sekarang malah nyonya nya itu muncul tiba-tiba.


Namun Jimi merasa senang setidaknya tuannya akan memperjuangkan nyonya nya kali ini dan tidak akan menyakiti nya.


Selama presentasi tim lain, Elard juga tak fokus dengan mereka karena yang dia pikirkan hanya lah sang istri, dia curi curi pandang agar tidak ada yang tahu.


Neisha merasa risih saat Elard terkadang melihatnya, rasanya dia ingin pergi dari sini saja. Dia tidak menyangka bahwa akan bertemu Elard di sini.


Hampir tiga jam meeting presentasi proposal kerja sama berjalan dan akhirnya selesai juga.


Neisha segera mengajak boy untuk pergi dari Ard home agar tidak bertemu lagi dengan Elard, dia menyesal menyetujui untuk datang ke sini.


Dia terburu-buru keluar dari ruang meeting tersebut, sedangkan Elard juga keluar dari ruang meeting dan menyuruh Jimi untuk membawa Neisha ke dalam mobilnya.


"Jimi, bawa istriku ke mobilku. Akan ku tunggu di sana, jangan sakiti dia!" tegas Elard kemudian keluar menuju ke mobilnya sambil menunggu sang istri datang.


"Baik tuan."


Jimi pun mengikuti langkah nyonya nya itu yang berjalan cepat sekali tiba-tiba sudah sampai di lobi kantor saja dan akan keluar dari perusahaan.


"Tunggu, nona Neisha." panggil Jimi saat Neisha akan keluar dari gedung Ard home dengan terburu-buru.


"Nei, tuh ada yang manggil kamu." ucap boy menghentikan langkah kakinya.


"Enggak bukan siapa-siapa, yuk buruan!" tegas Neisha menarik tangan boy kencang hingga mereka akan sampai di taxi.


Baru juga akan masuk ke dalam taxi sudah ada yang menarik lengannya membuat Neisha menjauh dari taxi tersebut.


"Lepaskan saya!" teriak Neisha dengan ketakutan.


Jimi menarik lembut tangan Neisha tadi, dia tidak akan menyakiti nyonya nya bisa-bisa dia di bunuh hidup hidup oleh tuannya.


"Tuan, anda di perbolehkan pergi. Saya membawa nona Neisha terlebih dahulu karena ada urusan sebentar," ucap jimi.


Boy yang tidak tahu apa pun hanya menuruti saja dan masuk ke dalam taxi tapi sebelum itu dia pamit kepada Neisha.


"Nei, aku balik ke hotel dulu ya." pamit boy, dia merasa ada yang aneh.


Ada yang di sembunyikan oleh Neisha dari nya tapi entah apa boy tidak ingin lebih tahu kehidupan orang lain karena dia dan Neisha hanya lah rekan kerja.

__ADS_1


"Boy tunggu!" pekik Neisha saat taxi yang di tumpangi boy melaju pergi meninggalkannya.


Dia mencoba untuk melepaskan lengannya dari tangan Jimi yang memegangnya karena dia ingin pergi dari sini.


"Lepaskan tuan, saya ingin pergi!" pekik Neisha.


"Maaf nyonya, tuan sedang menunggu." ucap Jimi.


"Enggak, enggak saya gak mau. Tolong kasihanilah saya tuan," lirih Neisha dengan memohon.


Jimi membawa Neisha ke parkiran VVIP di mana Elard sudah menunggunya.


Jimi pun membukakan pintu untuk nyonya nya agar masuk ke dalam mobil namun Neisha sama sekali tidak ingin masuk dan terus memberontak.


Elard yang berada di dalam pun merasa kesal dan langsung menarik tangan sang istri hingga Neisha mau tidak mau langsung masuk ke dalam mobil tersebut.


"Aaaaaa!" pekiknya karena terkejut.


Jimi langsung menutup pintunya dan langsung menuju ke kursi kemudi dan melajukan mobilnya.


"Tu... tuan," ucap Neisha saat melihat Elard yang duduk di sampingnya dengan berwibawa bahkan pesonanya tetap saja membuat Neisha merasa terpanah, namun dia langsung sadar dari keterpesonaannya dan langsung merasa rasa takut hingga seluruh tubuhnya bergetar hebat.


"Tuan.... tolong lepaskan saya," pintanya.


Elard terus menatap Neisha dengan intens, melihat wajah yang selama ini dia rindukan. Dia merasa bersalah karena melihat sang istri sekarang yang merasa takut berada di dekatnya.


Sedangkan Neisha merasa tegang saat Elard memeluknya, hatinya bergetar tapi rasa takut akan hal hal yang pernah dia alami di masa lalu lebih kuat menyerang perasaan nya.


"Mengapa dadamu semakin besar sayang?" tanya Elard berniat menggoda sang istri.


Tapi memang jujur Elard merasa bahwa dada sang istri semakin besar tetapi tubuh yang lainnya masih sama kurus.


"Lepaskan, lepaskan!" tegas Neisha dengan terus memberontak di dalam pelukan Elard.


Elard pun melepaskan pelukan dari sang istri, Neisha langsung menampar wajah Elard dengan keras, bahkan suara nya sangat nyaring hingga Jimi yang berada di depan pun terkejut dengan tindakan nyonya nya itu.


Dia tidak yakin apakah nyonya nya akan selamat kali ini karena sudah menampar wajah tuannya itu.


"Kau menamparku?!" tanya Elard dengan tegas.


Mendengar ucapan Elard membuat Neisha merasa ciut nyalinya, ingin berharap bisa menjadi wanita tangguh dari yang sebelumnya namun selalu saja gagal jika Elard sudah berada di depannya.


Selama ini tidak ada yang pernah menamparnya, namun sekarang dia malah di tampar oleh sang istri.


Elard tidak marah sama sekali malah Elard merasa senang setidaknya setelah marah nanti sang istri akan kembali kepadanya begitu lah pikirnya.


"Sayang jangan marah aku hanya ini membawamu makan siang." ucap Elard saat mereka sampai di sebuah restoran bintang lima.

__ADS_1


Elard membawa sang istri ke sebuah ruangan khusus.


"Sayang kamu mau makan apa?" tanya Elard dengan lembut.


"Aku ingin pulang," lirih Neisha dengan wajah memelasnya.


"Kamu kan sudah pulang sayang, ada aku sekarang." ucap Elard.


"Tuan saya ingin pulang," ucap Neisha.


"Aku mohon jangan panggil aku begitu, aku bukan tuanmu." ucap Elard merasa geram saat sang istri memanggil nya tuan.


"Kak El, aku mohon. Aku ingin pulang," lirih Neisha memohon lagi.


Elard tidak bisa melihat wajah sedang sang istri seperti ini membuat hatinya sakit.


"Akan aku antar pulang tapi makan siang dulu ya," ucap Elard.


Mau tak mau Neisha pun memakan makan siangnya, namun hanya beberapa suapan saja karena dia tidak nafsu makan.


Pikirannya sekarang hanya tertuju kepada Arsha, bagaimana kalau Elard akan mencari keberadaannya dan sang anak.


Setelah makan siang Elard mengantar Neisha menuju ke hotel tempat dia menginap, niat hati Elard ingin mengantar sang istri hingga ke tempat tinggal Neisha namun Neisha terus menolak akhirnya Elard pun tidak ikut mengantar kan nya.


"Sayang, aku pulang dulu. Kamu hati-hati ya terbangnya besok," ucap Elard tahu bahwa besok Neisha akan kembali.


Tanpa menjawab Neisha pun masuk ke dalam hotel dengan terburu-buru.


"Aku harus pergi sekarang," gumamnya.


Neisha menyeret kopernya dan langsung menuju ke bandara karena semakin lama dia berada di ibu kota maka akan semakin banyak dia bertemu dengan orang orang di masa lalunya.


"Sepertinya aku harus menginap beberapa hari di rumah bela karena aku yakin kak El pasti akan menyuruh beberapa anak buahnya buat ngikutin aku," ucap Neisha karena dari tadi saat dia sampai di bandara dia merasa seperti ada yang sedang mengikuti nya membuat hati Neisha gelisah dan takut.


Di sisi lain Elard terus menunggu di depan hotel tempat sang istri menginap, Elard yakin sang istri pasti akan langsung pergi hari ini juga karena dia baru saja mendapat kabar dari Jimi bahwa terdapat perubahan jadwal atas nama sang istri.


"Sayang, apakah kamu akan meninggalkan ku lagi?" lirih Elard.


Elard mengikuti sang istri hingga ke bandara, dia juga memerintahkan beberapa anak buah untuk mengikuti sang istri agar dia tidak ketinggalan lagi keberadaan sang istri.


"Jimi, kau serahkan semua berkas proposal kerja sama dari para pelamar. Dan aku mau kau setelah ini menyelidiki lagi tentang istriku yang bekerja di perusahaan kecil tersebut." ucap Elard dengan penuh semangat karena ada harapan besar untuk membawa sang istri kembali lagi ke dirinya.


"Baik tuan." balas Jimi.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2