Menjadi Istri Mafia Kejam

Menjadi Istri Mafia Kejam
BAB 53_Gugup


__ADS_3

"Din," panggil Neisha.


"Ada apa?" tanya Dini.


Arsha sedang berada di ruang tamu menonton televisi sedangkan Neisha dan Dini berada di dapur membereskan piring setelah makan malam tadi.


"Besok aku mau ke ibu kota," ucap Neisha membuat Dini langsung menghentikan aktifitas nya.


"Kenapa?" tanya Dini terkejut karena setahunya sang sahabat tidak ingin kembali lagi ke ibu kota.


"Aku ada pekerjaan di sana, mungkin di sana sampai tiga hari. Aku bingung harus jelasin ke Arsha bagaimana?" ucap Neisha bingung.


"Kamu gak bawa Arsha?"


"Enggak Din, aku cuma sebentar aja kok. Aku mungkin bakalan titipin Arsha ke bude mala." ucap Neisha.


"Ya udah kalau gitu kamu jelasin baik baik aja ke Arsha aku tahu pasti anak pintar kamu itu mengerti nei, nanti aku juga bakalan jagain Arsha nei." sahut Dini.


Neisha bersyukur memiliki sahabat yang sangat mensupport nya banyak hal dan tidak pernah meninggalkan nya bahkan saat dia sedang terjatuh.


"Iya Din, makasih ya." ucap Neisha tulus.


Waktu sudah malam, Neisha mengajak sang anak ke kamar untuk tidur.


"Sayang," panggil Neisha kepada sang anak yang baru saja akan naik ke ranjangnya untuk tidur.


"Iya bunda, ada apa?" tanya Arsha.


"Bunda mau bicara boleh?" izin Neisha.


"Boleh bunda."


"Bunda mau izin untuk ke ibu kota, boleh?"


"Kenapa mendadak cekali bund?"


"Maaf sayang, bunda juga enggak tahu kenapa mendadak sekali." ucap Neisha merasa sedih.


"Ya cudah boleh bunda, tapi nanti alcha minta oleh olehnya ya." ucap bocah kecil tersebut.


Neisha yang mendengar jawaban sang anak merasa senang sekali karena anaknya sangat mengerti kesibukan bundanya dan tidak rewel bahkan dia tidak minta untuk itu.


"Iya, bakalan bunda bawain oleh oleh yang banyak kalau gitu sayang." ucap Neisha untuk menyenangkan hati sang anak.


"Yeyy, maacih bunda."


"Iya sayang." balas Neisha.


"Bunda di Cana belapa hali?" tanya bocah kecil tersebut.


"Sekitaran tiga harian sayang gak papa kan?"


"Iya bunda." balas Arsha dengan dewasanya padahal dia baru saja berusia dua tahun.


"Besok sama bude mala ya, bunda udah bilang kok sama bude tadi." tutur Neisha.

__ADS_1


Arsha pun menganggukkan kepalanya mengerti, dia langsung tidur dengan Neisha yang menepuk-nepuk lengan sang anak seperti memberikan kehangatan kepada sang anak.


"Maafkan bunda ya sayang harus ninggalin kamu, tapi bunda janji nanti setelah pulang bunda bakalan ajak kamu jalan jalan." gumam Neisha di dalam hatinya.


🥕🥕🥕


Pagi hari di tempat lain, Elard baru saja turun menuju ke meja makan. Di sana semua keluarganya sudah siap.


"Pagi." sapa Elard dingin sekali.


"Pagi, sayang." balas mommy Sheila.


Mommy Sheila harus bisa sabar menghadapi sifat anaknya yang sangat sangat dingin sama persis seperti kulkas, bahkan menurut mommy Sheila lebih baik kulkas dari pada sang anaknya mah kalau soal dinginnya.


"Aku pergi." pamit Elard langsung pergi begitu saja menuju ke kantornya.


"Astaga tuh anak kenapa dingin banget sih, capek aku sayang kalau lihat mukanya gitu terus." sahut mommy Sheila mengelus dadanya.


"Kamu yang sabar ya sayang, kamu tahu sendiri kalau Elard memang anaknya gitu. Apa lagi saat di tinggal istri nya," tutur daddy Brian menguatkan sang istri dari sifat sang anak.


Sedangkan Elard langsung menuju ke kantor dengan Jimi sebagai supirnya.


"Bagaimana dengan pencarian nya?" tanya Elard.


"Kami belum menemukan titik terang tuan, tapi dari yang anak buah saya dapatkan bahwa nyonya seperti nya pergi ke sebuah kota jauh dari ibu kota." ucap Jimi membuat Elard merasa setidaknya ada harapan baginya.


"Terus cari dan pantau keberadaan nya," perintah Elard.


"Baik tuan."


Pesona Elard walau pun bersifat dingin namun tetap saja pesona nya menyihir semua mata wanita di dekatnya.


Sampai di ruangannya dia segera mengerjakan tugasnya, dengan tumpukan banyak berkas yang harus dia urus.


Sebagai pewaris dia harus bisa mengelola ini semua karena dia adalah laki-laki satu satunya di keluarga Ardolph, sedangkan sang adik melanjutkan bisnis mommy Sheila yaitu butik dan juga restoran yang cukup terkenal di ibu kota.


TOK TOK TOK


"Masuk." sahut Elard.


Jimi pun masuk ke dalam dan memberikan sebuah berkas yang harus dia tinjau dan ditandatangani karena akan segera di gunakan untuk besok.


"Ada apa?" tanya Elard


"Ini tuan ada berkas yang harus di tinjau dan tandatangani karena besok akan di gunakan oleh Ard home." ucap Jimi memberikan berkas tersebut.


"Apakah proposal kerja sama yang dikirim kan oleh beberapa perusahaan kecil itu?" tanya Elard.


"Iya tuan."


"Oh jadi besok waktunya presentasi, ya sudah kau boleh pergi." usir Elard kemudian membuka berkas tersebut, entah kenapa tiba-tiba dia merasa tertarik dengan kerja sama itu.


🥕🥕🥕


Sedangkan di sisi lain Neisha sudah berada di pesawat untuk penerbangan menuju ke ibu kota, ada rasa takut dan khawatir namun sebisa mungkin dia akan sesegera mungkin untuk kembali ke pinggiran kota ini agar tidak sampai bertemu dengan Elard.

__ADS_1


Selama tiga tahun dia pergi dan ini adalah kali pertama dia menginjakkan lagi kakinya di kota penuh kenangan pahit dan manisnya kehidupannya, sampai di sana dia pun selidiki was-was dengan suasana dan keadaan.


"Nei, kita ke hotel aja dulu." ajak boy salah satu rekannya nanti.


"I... iya."


Selama satu jam perjalanan mereka pun sampai di hotel tempat mereka menginap, karena jalannya yang macet sehingga butuh waktu lama untuk sampai di hotel.


"Nei, ini kunci kamar kamu dan kamarku ada di sebelahnya. Nanti kalau ada apa-apa tinggal kabari ya." ucap boy.


Setelah mengerti Neisha pun masuk ke dalam kamarnya, dia segera menelepon sang anak karena baru saja di tinggal beberapa jam saja dia sudah sangat merindukan nya.


[Halo bunda!] pekik bocah kecil dari sebrang sana.


[Halo sayang,] Neisha melakukan panggilan video agar dia tahu bagaimana keadaan sang anak.


Untungnya saja sang anak baik baik saja, bahkan di sana juga ada Karen yang baru saja pulang kerja, dia memang sesekali mengunjunginya dan Arsha.


[Wah anak bund banyak temennya nih,] ucap Neisha merasa senang.


[Iya dong, bunda segela pulang ya biar nanti bica kumpul baleng kayak gini.] sahut Arsha dari sebrang sana dengan semangat.


[Iya sayang, ya udah ya bunda tutup. Bunda mau mandi nih,] pamit Neisha.


[Iya, bunda ati ati ya.]


[Iya sayang.] balas Neisha dengan senyum tak pernah luntur dari wajahnya.


Setelah itu Arsha yang menutupnya terlebih dahulu, sedangkan Neisha setelah sang anak menutup nya langsung menghela nafasnya berat, dia berharap semoga besok berjalan dengan baik karena tidak munafik bahwa dia juga menginginkan posisi karyawan tetap setidaknya agar dia bisa menyenangkan sang anak dengan berbagai hal yang di inginkan sang anak.


"Semangat Nei, ini semua kamu lakukan untuk Arsha." tegasnya dengan penuh keyakinan.


***


Keesokan harinya Neisha sudah siap dengan baju kantor terbaiknya karena dia harus memperlihatkan sisi berwibawa nya agar nanti perwakilan dari Ard home mau melihat presentasinya.


Sampai di depan kantor Ard home Neisha sedikit lega karena ternyata Ard home memiliki kantor sendiri sehingga besar kemungkinan dia tidak bertemu dengan Elard.


"Permisi ada yang bisa kami bantu?" tanya pak satpam di depan gedung kantor Ard Home.


Neisha pun menjelaskan maksud dan tujuan mereka datang ke sana, setelah menjelaskan semuanya mereka berdua pun di izinkan untuk masuk ke dalam.


Baru masuk saja mereka berdua terpanah dengan interior dari gedung tersebut, baru cabang saja udah sangat bagus dan megah terus bagaimana dengan pusatnya yaitu Ard company coba.


Mereka di arahkan ke ruang meeting di mana di sana ternyata sudah banyak orang yaitu dari berbagai perusahaan kecil yang juga ingin bekerja sama dengan Ard Home dan akan mempresentasikan proposal mereka sama seperti perusahaan Neisha.


"Boy banyak banget orangnya, aku jadi gugup sama minder banget nih." ucap Neisha merasa gugup melihat banyaknya orang.


"Udah nei gak usah gugup, aku juga gugup kalau kamu gugup aku tambah gugup ini." ujar boy rekan kerja Neisha ikut gugup pula.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2