Menjadi Istri Mafia Kejam

Menjadi Istri Mafia Kejam
BAB 65_Permohonan


__ADS_3

Setelah beberapa saat bubur pun jadi, Neisha pun mengajak Arsha untuk ke kamar Elard melihat kondisinya apakah sudah baikan atau belum.


Saat dia masuk di dalam Elard sudah bangun dengan bersandar di tepian kasur karena mungkin dia merasa pusing.


"Kok kakak udah bangun, sekarang mending makan buburnya dulu habis itu minum obat." tutur Neisha menaruh nampan berisikan mangkuk dan bubur itu di meja samping kasur.


Dia duduk di tepian ranjang sedangkan Arsha memilih untuk menghampiri Elard dan memegang kening Elard yang ternyata panas.


"Bunda om Elad emang cakit, buktinya nih panas." seru bocah kecil itu duduk di depan Neisha sekaligus di samping Elard sambil memeriksa kening Elard tadi.


"Ya sudah kalau begitu kita suruh om Elard untuk makan buburnya ya setelah itu suruh minum obat." ucap Neisha dengan lembut.


"Iya bunda," jawab Arsha semangat.


"Kak makan dulu ya habis itu minum obat," ucap Neisha sambil memberikan mangkuk berisikan bubur buatannya agar Elard memakannya sendiri.


"Bunda, om Elad kan cakit jadi gak bisa makan cendiri." ucap bocah menggemaskan itu membuat Neisha mendelikkan matanya karena ucapan sang anak.


Sedangkan Elard yang mendengar ucapan sang anak pun tersenyum penuh kemenangan, di dalam hatinya bersorak gembira belum di minta sang anak sudah berbicara duluan.


"Ayo bunda," seru sang anak.


Mau tak mau akhirnya Neisha pun menyuapi Elard dengan sedikit canggung, dia rasanya malu sekali. Kalau tidak ada sang anak sudah di pastikan Elard akan makan sendiri.


Hingga suapan terakhir bubur itu pun habis, setelah itu Elard meminum obat yang di siapkan Neisha sebelumnya.


"Sekarang kakak istirahat saja, aku sama Arsha akan ke bawah saja." ucap Neisha kemudian mengajak sang anak untuk turun ke bawah sedangkan Elard berisitirahat.


Hampir dua jam Elard tertidur di kamarnya, sedangkan Neisha dan Arsha berada di ruang keluarga sambil menonton televisi.


"Sayang, sekarang kita ke kamar ya buat tidur ini udah malem." ajak Neisha karena waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam dan sang anak harus sudah tidur karena sudah waktunya tidur dan juga Neisha sudah melihat sang anak yang terus saja menguap dari tadi.


"Iya bunda," ucap Arsha dengan mata yang sudah tinggal 5 watt saja. (Canda ya🤭)


Neisha pun menggendong sang anak menuju ke kamar lantai bawah di mana itu adalah kamarnya yang dulu karena di atas Elard sedang istirahat, Neisha takut akan mengganggu nya.


Setelah menidurkan sang anak Neisha pun memilih untuk ke dapur terlebih dahulu untuk mengambil air putih untuk sang anak siapa tahu nanti malam malam Arsha haus sehingga dia tidak harus mengambilnya lagi keluar kamar.

__ADS_1


Di sisi lain Elard bangun dari tidurnya, dia sudah merasa lebih baik. Dia memutuskan untuk turun ke bawah karena jujur baru di tinggal beberapa saat saja dia sudah sangat merindukan istri dan anaknya.


Dia pun turun namun tak melihat adanya orang di bawah membuat dia sedikit khawatir, saat akan berjalan cepat tiba-tiba saja dia melihat sang istri keluar dari kamar tamu dan menuju ke dapur tanpa melihat ke arahnya.


Hal itu membuat Elard lega, setidaknya sang istri tidak meninggalkannya. Elard pun menghampiri sang istri yang sedang menuangkan air putih di botol kecil pasti untuk anaknya.


"Sayang," panggil Elard membuat Neisha mengalihkan pandangannya karena terkejut dengan suara Elard yang tiba-tiba.


"Kak El, kakak udah bangun. Kok ke bawah sih, ada yang sakit?" raya Neisha khawatir.


"Enggak, aku gak papa kok." sahut Elard kemudian mendekati sang istri dan memeluk istri tercintanya dari belakang.


Tindakan Elard membuat tubuh Neisha mematung di tempat, dia tidak tahu apa yang harus di lakukan, dia seperti tersengat listrik karena tindakan Elard.


"ka.... kak," lirih Neisha dengan gugup.


"Biarkan seperti ini sebentar saja sayang, lima menit saja." ucap Elard semakin erat memeluk sang istri menyalurkan rasa rindunya yang sudah tak tertahankan lagi.


Neisha pun hanya diam saja sambil berusaha menetralkan jantungnya agar tidak berdetak kencang karena jujur dia sangat gugup tapi juga menikmati waktu ini.


Elard pun melepaskan pelukannya dan mengajak sang istri untuk duduk di sofa ruang keluarga.


"Sayang, aku mau tanya ke kamu." ucap Elard membuat Neisha mengerenyitkan dahinya.


"Tanya apa kak?" ucap Neisha yang tidak tahu apa.


"Apakah mau mau kembali bersama ku?" tanya Elard dengan wajah seriusnya dan menggenggam tangan sang istri.


Sedangkan Neisha diam saja, sungguh dia bingung harus menjawab apa, karena dia masih trauma namun dalam hatinya Neisha tidak bisa berbohong bahwa dia masih mengharapkan hal tersebut.


"Sayang aku mohon kamu bisa menerima aku lagi ya, aku akan memperlakukan kamu sebagai nyonya Elard Frey Ardolph dan akan membahagiakan kamu. Aku bakalan menebus semua perbuatan ku selama ini ke kamu," ucap Elard memohon untuk sang istri mau bersamanya lagi karena jujur dia hampa tanpa sang istri.


Cukup lama Neisha bergelut dengan pikirannya sendiri, berperang dengan pilihannya menentukan mana yang terbaik.


"I.. iya kak, aku akan mencoba," ucap Neisha dengan gugup.


Neisha merasa bahwa dirinya tidak boleh egois, dia harus bisa mengesampingkan dirinya karena ada sang anak yang sangat membutuhkan kasih sayang dari papa nya bukan hanya dia saja.

__ADS_1


Buktinya baru beberapa hari bersama saja sudah membuat Arsha merasa nyaman dengan Elard, Neisha juga tahu kalau sang anak sangat ingin tahu bagaimana rasanya mempunyai seorang ayah dari beberapa cerita teman temannya.


Neisha juga akan mencoba untuk menyembuhkan traumanya walaupun tidak mudah tapi Neisha akan mencoba nya.


"Maksudnya?" raya Elard ingin memperjelas semuanya kepada sang istri.


"Aku akan mencoba kembali ke kakak, tapi aku ada permohonan!" ucap Neisha membuat Elard yang awalnya merasa senang tiba-tiba menjadi murung.


"Permohonan? Apa sayang?!" raya Elard.


"Aku mohon jangan berlaku kasar seperti dulu lagi, kalau kakak memang tidak menginginkan aku sama Arsha kakak bisa minta aku sama Arsha untuk pergi menjauh sekarang juga tapi jangan dengan kekerasan, aku tidak ingin kakak memukul anak ku." ucap Neisha dengan air mata yang keluar dari mata indahnya.


Elard yang mendengar permohonan sang istri pun merasa hancur hatinya, luka sang istri sangat dalam dan itu semua gara-gara dirinya.


"Sampai mati pun aku tidak akan pernah lagi melepaskan kalian, ingat Elard Frey Ardolph hanya mencintai Aneisha Cheryl Adiguna Ardolph seorang." ucap Elard penuh keyakinan membuat Neisha merasa bahwa sudah saatnya dia membuka kembali hatinya kepada pria yang dulu sangat dia cintai bahkan sampai sekarang.


Saling menatap membuat Elard memiliki keberanian hingga Neisha merasakan benda kenyal menyentuh bibirnya, mereka berpagutan cukup lama hingga Neisha merasakan kehabisan nafas barulah Elard melepaskan ciuman tersebut.


Kali ini Elard mencium dengan lembut tanpa ada paksaan hingga kekerasan membaut Neisha pun ikut menikmatinya.


"Manis," sahut Elard setelah melepaskan ciumannya dan menaruh ibu jarinya ke bibir sang istri untuk membersihkan saliva yang saling bertukar itu.


Neisha merasa malu dengan ucapnya Elard, dia tidak cukup mengerti tentang ciuman seperti ini dan menurutnya ciuman Elard sangat berbeda sekali dari yang dulu.


Dengan beraninya Neisha pun memeluk sang suami karena sampai sekarang mereka belum bercerai sehingga masih bisa ya kan di panggil suami.


"Kakak, Neisha capek!" keluh Neisha sambil memeluk erat sang suami dan bersandar di dada bidang sang suami dengan air mata yang mengalir tanpa permisi.


Elard membalas pelukan tersebut tak kalah eratnya, dia seperti merasakan seberapa rapuh sang istri dan beban selama beberapa tahun ini yang selalu di bawa oleh sang istri, mulai dari hamil sendirian, melahirkan sendirian hingga membesarkan seorang anak yang sangat tampan sendirian.


"Maafkan aku sayang," ucap Elard memeluk sang istri ikut menangis karena sang istri juga menangis di pelukannya.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2