
Di markas besar klan elang, Elard sudah siap dengan pistolnya untuk melenyapkan pengkhianat yang sudah berkhianat dengan klan elang.
"Tuan maafkan saya," pinta orang tersebut memohon ampun karena sudah berkhianat dari klan elang.
"Kau tahu bukan bahwa aku tidak suka pengkhianat dan kau masih mau berkhianat, maka rasakan saja akibatnya. Oh iya istri dan anakmu sudah menunggumu di neraka jadi akan aku percepat pertemuan kalian," ucap Elard dengan seringai kejam.
"Apa! Tuan di mana istri dan anak saya? Mereka masih hidupkan?!" tanya orang tersebut dengan wajah ketakutan nya dengan nasib anak dan istrinya.
"Mereka sudah mati." ucap Elard dan berbarengan dengan tembakan timah panas yang Elard arahkan ke pria malang tersebut.
DOR DOR
Timah panas yang langsung mengenai jantungnya sehingga membuat pria itu mati di tempat secara mengenaskan dengan darah yang terus keluar, bahkan matanya terus terbuka.
"Ck, makanya jangan pernah berurusan dengan ku." tegas Elard.
"Nelson kau kasih bangkai manusia bodoh itu ke karlo." ucap Elard kemudian pergi meninggalkan mayat yang tergeletak di sana.
Kalau kalian bertanya siapa karlo, karlo adalah burung hering peliharaan Elard yang baru saja dia pelihara dua tahun terakhir, hadiah dari uncle Eric.
*Burung hering adalah jenis burung pemakan bangkai ya guys.
Sejal dua tahun terakhir ini juga semua kekuasaan keluarga Ardolph di ambil alih oleh Elard sehingga bebannya sekarang banyak mulai dari perusahaan hingga klan mafia, namun dia menjalaninya dengan santai karena sudah menjadi tanggung jawabnya sehingga semua bisa di handle olehnya, maka dari itu lah daddy Brian mempercayai semua perusahaan nya kepada sang anak.
Setelah keluar dari markas, Elard pun menuju kembali ke mansion dimana di sana ada Oma salma yang sudah beberapa hari ini datang.
Tiga tahun lalu Oma salma juga terkejut mendengar bahwa sang cucu menantunya pergi menghilang, bahkan mendengar hal itu Oma salma langsung menuju ke kota untuk menguatkan sang cucu.
"Oma kenapa di luar?" tanya Elard melihat Omanya duduk di kursi luar.
"Oma cuma kangen sama opa kamu El," ucap Oma salma membawa sebuah gelang pemberian opa Boni.
"Oma yang sabar, opa pasti sudah tenang di sana." ucap Elard menenangkan sang Oma.
"Iya sayang."
"Kamu masih mencari keberadaan istri kamu El?" tanya Oma salma.
"hhhhuuhh, iya Oma. Sebelum dia ketemu Elard bakalan terus mencari keberadaanya Oma," ucap Elard.
"Kamu cinta sama istri kamu sayang?" tanya Oma salma yang sudah sangat jelas di mata yang cucu bahwa ada kerinduan di hatinya ingin bertemu istrinya.
"Entah oma Elard juga tidak tahu, tapi yang Elard rasakan rasanya ingin bertemu dengan dia Oma." sahut Elard.
Rasanya tenang bisa bercerita banyak dengan Omanya, karena Omanya selalu memberikan petuah-petuah yang selalu menyejukkan hatinya di saat hatinya sedang gelisah, sedih dan marah.
__ADS_1
"Oma tinggal di sini aja ya," pinta Elard.
"Iya sayang, Oma akan mulai tinggal di sini lagi. Ternyata jauh dari anak cucu sangat berat, mommy kamu dan daddy kamu juga meminta Oma buat tinggal di sini agar bisa saling ketemu sayang." ucap oma Salma.
Elard pun memeluk sang Oma dengan kasih sayangnya takut akan kehilangan sang Oma, karena waktu opa nya meninggal dia tidak sempat untuk berpamitan untuk yang terakhir kali.
"Ini ada apa nih kok pada pelukan kayak gini?" tanya daddy Brian yang baru saja dari dalam mansion untuk menghampiri Oma salma.
"Daddy ganggu aja, yuk Oma masuk." ketus Elard kemudian membawa Oma salma yang terkekeh dengan tingkah anak dan cucunya pun hanya menuruti saja masuk ke dalam.
"Lah ganggu gimana coba orang aku cuma mau ngajak masuk." tutur daddy Brian tidak terima di anggap pengganggu.
"Loh sayang, kamu sudah pulang. Kebetulan banget nih mommy bikinin kamu kue kesukaan kamu," ucap mommy Sheila membawa piring berisikan kue kesukaan anaknya.
Setelah itu daddy Brian dan Elard menuju ke teras belakang untuk berbincang-bincang sebentar sebelum tidur.
"El, katanya kamu habis bunuh pengkhianat di markas." ujar daddy Brian di angguki oleh Elard.
"Iya dad," balas Elard singkat.
"Daddy rasa sikapmu sekarang tambah ganas dari pada daddy dulu son," ucap daddy Brian namun Elard hanya diam saja tak membalas.
"Apakah anak buah mu sudah bisa melacak keberadaan istrimu?" tanya daddy Brian saat mereka sedang berdua saja di teras belakang.
"Kenapa? Bukanlah tadi kamu bilang sama Oma mu bahwa kamu akan terus mencarinya?" tanya daddy Brian yang memang tadi sedikit mendengar pembicaraan anak dan maminya itu.
"Karena aku merasa sekarang ini dia pasti sudah menikah atau bahkan punya anak dad, aku juga mengingat perlakuan ku kepadanya yang cukup menyakitkan sehingga kadang berfikir apakah dia masih mau kembali?" ucap Elard terlihat murung.
"Kau jangan menyerah El apa lagi melepaskannya, ingat di keluarga Ardolph tidak ada kata menyerah dalam berjuang. Kamu harus tebus semua kesalahan yang pernah kamu lakukan dulu El, daddy sama mommy yakin dia akan memaafkan kamu." ucap daddy Brian menepuk bahu sang anak kemudian pergi meninggalkan Elard yang sedang termenung sendiri.
"Aku ingin menebus semua kesalahanku padamu tapi aku harus mencari mu kemana lagi nei," gumam Elard lirih, sudah sangat pasrah untuk mencari keberadaan sang istri.
Hebat Neisha bisa membuat selang mafia kejam bahkan sering membunuh menjadi seorang yang pasrah mencari keberadaan sang istrinya selama bertahun tahun.
Rasanya ada belati yang menancap di dadanya ketika teringat akan sang istri, rasa yang mulai tumbuh dari hari ke hari menghilangkan rasa benci dan dendam nya selama ini yang menguasai dirinya.
🥕🥕🥕
Di sisi lain Neisha sedang berada di taman kota mengajak sang anak jalan jalan sore karena besok adalah weekend, jadi dia ingin menghabiskan waktunya bersama sang anak, hanya berdua saja.
"Bunda bunda," panggil balita kecil itu menggoyang-goyangkan tangan Neisha.
"Ada apa sayang?"
"Elard pingin minum," pinta nya.
__ADS_1
"Ya udah kita beli yuk."
Neisha pun mengajak sang anak menuju ke penjual minuman tak jauh dari sana, membeli minuman dan juga es krim kesukaan sang anak.
Setelah itu mereka pun duduk di kursi tak jauh dari sana, saat sedang duduk tiba-tiba saja Arsha diam membuat Neisha merasa aneh dan ikut melihat arah mata sang anak.
Ternyata sang anak sedang melihat sebuah keluarga yang sedang melakukan piknik bersama di taman, sang anak sedang asik bermain dengan ayahnya sedangkan ibunya sedang duduk di rerumputan beralaskan tikar.
Sedih jangan di tanya lagi, rasanya Neisha ingin menangis jika melihat sang anak seperti ini.
"Kenapa sayang?" tanya Neisha.
"Enggak kok bunda," balas Arsha berusaha menyembunyikan kesedihannya dari sang bunda.
Meski masih kecil namun Arsha sangat berfikir dewasa sekali, dia sebenarnya sangat merindukan sang papa namun dia juga tidak ingin membuat bundanya sedih karena sekarang ini dia hanya punya bunda nya saja.
Namun di setiap harinya dia akan berdoa untuk bisa bertemu dengan papa nya, setidaknya dia ingin memeluk dan mencium sang papa untuk sehari saja.
"Bunda cekalang kita pulang ya," ajak Arsha menarik tangan Neisha menuju ke halte bis dekat taman.
"Kenapa pulang sayang?" tanya Neisha.
"Alcha capek pingin pulang," rengeknya.
"Ya udah kita pulang ya," balas Neisha.
Sampai di rumah Neisha membersihkan sang anak dan mengajaknya untuk menonton televisi di ruang tamu, maklum lah hanya sebatas kontrakan kecil jadi tidak banyak ruang yang ada.
"Kamu nonton tv dulu ya, bunda mau mandi." ucap Neisha dan di angguki oleh Arsha.
"Iya, bunda." sahutnya sambil fokus dengan tayangan kartun yang ada di televisi.
Neisha masuk ke dalam kamar mandi dengan perasaan sedih, menumpahkan semua tangisan yang menumpuk di hatinya.
Dia jarang menangis, namun dia akan menangis jika melihat sang anak seperti ini atau bahkan jika sangat anak bertanya di mana keberadaan ayahnya.
"Maafkan bunda sayang," lirih Neisha sambil air mata yang terus keluar.
Dia mencoba menutup mulutnya agar sang anak tidak kedengeran, karena nanti Arsha pasti akan banyak tanya saat mendengar bunda nya menangis.
.
.
TBC
__ADS_1