Menjadi Istri Mafia Kejam

Menjadi Istri Mafia Kejam
BAB 49_Melahirkan


__ADS_3

Sembilan bulan kemudian.....


Sejak saat Elard mengetahui tentang sang istri yang hamil namun tidak mempertahankan sang bayi membuat Elard murka dan akan mencari dimana pun keberadaan sang istri.


Sembilan bulan sudah Neisha pergi dari kehidupan Elard, selama itu pula elard tetap menyuruh anak buahnya untuk mencari keberadaan Neisha namun tetap tidak menemukan hasil.


Sejak kepergian Neisha, Elard menjadi seorang yang sangat dingin, bahkan sikap dinginnya sebelumnya tambah menjadi-jadi yaitu tambah dingin, cuek dan menakutkan.


Dia juga lebih sering ke markas untuk mencari kesenangannya dengan menghilangkan nyawa tahanannya dan juga berkutat di dunia gelapnya.


Sikap brutal Elard sudah tidak bisa di bendung oleh daddy Brian dan mommy Sheila, membuat mereka mengharapkan sang menantu kembali lagi walaupun hal itu sangat mustahil.


🥕🥕🥕


Di sisi lain, sekarang ini Neisha berada di toko bunga bersama dengan Karen salah satu pegawai juga di toko tersebut.


"Kak nei, itu hamilnya udah berapa bulan kok udah besar aja?" tanya karen salah satu pegawai di sana.


"Ini udah sembilan bulan ren, doakan ya kata dokter prediksinya sih minggu minggu ini." ucap Neisha.


"Wah pasti dong mbk, aku gak sabar deh buat ketemu sama baby nya." ucap Karen excited sekali.


"Haha iya doakan biar baby nya sehat ya ren." balas Neisha.


Setelah itu Neisha menuju ke ruang istirahat karena sekarang toko sudah mau tutup dan Karen menawarkan untuk menutup toko tersebut.


Neisha mulai melupakan kejadian yang pernah menimpanya di masa lalu, dia sudah mulai mengubur semuanya namun tidak bisa langsung, tapi dia akan mencoba secara bertahap.


"Kak, anak kita bakalan lahir." gumam Neisha sambil mengelus perutnya sambil membayangkan wajah tampan sang mantan suami (pikirnya) dan langsung mendapat tendangan dari sang anak di dalam perutnya, seperti tahu bahwa dia juga sangat merindukan ayahnya.


"Kamu pingin ketemu papa kamu ya sayang?" tanya Neisha sambil menghapus air matanya yang akan jatuh.


"Awwwww!" pekiknya Neisha.


"Kak nei, ada apa?" tanya karen masuk ke dalam ruang istirahat di mana Neisha tadi izin untuk istirahat sebentar.


"Aw sakit ren." ucap Neisha mengatur nafasnya dengan baik.


"Aduh ini gimana kak, kayaknya kakak mau lahiran deh, lebih baik kita ke rumah sakit, lagian toko juga udah karen tutup!" seru Karen kemudian membawa Neisha menuju ke rumah sakit.


Sampai di rumah sakit Neisha langsung di rujuk untuk ke ruang bersalin karena saat di check tadi ternyata Neisha akan melahirkan karena sudah akan pembukaan penuh.


Entah Neisha juga tidak menyangka bahwa dia sudah pembukaan dari tadi, karena dia mengira bahwa dirinya hanya kontraksi palsu seperti biasanya saja tapi ternyata dia malah sudah akan pembukaan penuh.


Dini yang sedang bekerja pun langsung izin setengah hari dan langsung menuju ke rumah sakit untuk menemani Neisha lahiran.

__ADS_1


"Karen!" panggil Dini.


"Kak Din, kak Neisha..." ucap Karen takut terjadi apa-apa dengan Neisha yang sudah dia anggap sebagai kakaknya sendiri.


Karen memang teman kerja Neisha sekaligus tetangga dari Dini dan Neisha sehingga Dini kenal juga dengan Karen.


"Bagaimana keadaannya tadi?" tanya Dini.


Dia tadi di kabari oleh dini bahwa Neisha akan melahirkan sehingga dia cukup khawatir dengan kondisi ibu dan sang jabang bayi sekarang ini, apa lagi ini adalah kali pertama Neisha melahirkan entah caesar atau normal mereka berdua juga tidak tahu.


"Tadi kak nei kesakitan banget kak," tutur Karen yang terus menangis.


"Udah gak usah nangis, kita doakan aja semoga Neisha baik baik aja sama baby nya." ucap Dini menenangkan Karen.


Sedangkan di dalam ruang bersalin, Neisha sedang merasakan sakit yang luar biasa, Neisha sekarang ini sudah pembukaan lengkap dan di lihat dari posisi bayinya sesuai sehingga dokter menyarankan untuk melahirkan secara normal.


"Bu Neisha, sebentar lagi ibu akan melahirkan jadi nanti akan saya bimbing agar bayinya keluar ya. Nanti kalau saya hitung satu dua tiga, setelah itu saya mengatakan mengejan maka ibu mengejan ya," ucap dokter Mila.


"Baik dok," lirih Neisha yang harus menahan rasa sakitnya dan masih harus mendengarkan ucapan dokter Mila.


Sebenarnya dokter Mila sedikit kasihan dengan Neisha karena sejak Neisha memeriksakan kandungannya hingga sekarang ini dia tidak pernah di temani oleh suaminya.


Yang seharusnya momen menegangkan dan menyenangkan ini sang suami harusnya ikut menyemangati ibu yang akan melahirkan ini, namun dokter Mila tidak ingin terlibat dalam urusan rumah tangga pasiennya.


Neisha berjuang untuk melahirkan sang anak dengan sekuat tenaga.


"Bu, 1 2 3 mengejan Bu." perintah dokter Mila.


"Aaakkkkkk!" Neisha mengeluarkan semua tenaganya.


Hingga beberapa kali ejanan sang bayi pun keluar dengan selamat tanpa ada halangan apapun.


Oekkkk oekkkk oekkkk oekkkk


Suara tangisan bayi memenuhi ruang persalinan, Neisha di sisa tenaganya merasakan tangisan bayi nya yang membuat hatinya sejuk dan damai.


Di luar ruang bersalin juga, Dini dan Karen mendengar suara tangisnya bayi membuat mereka menangis berduaan sambil berpelukan ikut senang menyambut kedatangan anggota keluarga baru.


"Selamat Bu bayinya berjenis kelamin laki-laki dan semua dalam kondisi sempurna dan selamat." ucap dokter Mila.


Suster pun kemudian membersihkan sang bayi setelah itu membawa bayi tampan itu ke sang ibu untuk di susui untuk pertama kalinya.


"Halo sayang, ini bunda." sapa Neisha untuk pertama kalinya saat bayi itu di taruh di dadanya untuk menyusu.


"Mengapa kamu sangat mirip sekali dengan ayah kamu sayang," lirih Neisha saat melihat wajah sang bayi yang menurutnya sangat mirip dengan sang suami seperti pinang dibelah menjadi dua.

__ADS_1


Mulai dari mata hidung hingga mulut semuanya sama seperti sang suami, yang mirip dengan dirinya hanyalah bulu mata panjangnya dan alis selebihnya mirip Elard.


Neisha menyusui sang bayi untuk pertama kalinya, ada rasa aneh karena dia belum pernah menyusui bayi. Untung saja ASI-nya sangat melimpah bahkan sang anak dengan semangatnya menyusu ke bundanya.


"Sayang, pelan pelan. Gak ada yang minta kok," ucap Neisha dengan nada bercanda.


Setelah menyusu sang anak langsung tidur sedangkan Neisha yang tadi habis di bersihkan pun di bawa ke kamar pasien.


"Neisha," panggil Dini saat Neisha baru saja keluar.


"Kak nei." panggil Karen juga bersamaan dengan Dini.


"Dini, Karen." balas Neisha dengan senyum yang mengembang.


"Neisha selamat ya," ucap Dini sambil memeluk sang sahabat saat Neisha sudah berbaring di ranjangnya.


"Iya Din, makasih ya. Kamu juga ren aku makasih ya," balas Neisha berterimakasih sebanyak-banyaknya karena kalau bukan karena mereka entah sekarang bagaimana nasib nya dia tidak tahu.


"Iya nei, udah gak usah ngomong gitu lagi aku sama Karen udah bosen dengernya." seru Dini bercanda membuat Neisha tersenyum mendengarnya.


"Eh mana anak kamu?" tanya dini lupa menanyakan anak Neisha.


"Masih di bersihin sama suster, bentar lagi bakalan dateng kok." ucap Neisha.


"Anak kamu cowok apa cewek nei?" tanya Dini lagi, maklumlah Mrs. kepo.


"Cowok Din," balas Neisha.


"Wah pasti ganteng deh secara kak nei cantik," ucap Karen menimpali.


"Iya kalau ganteng kalau ayahnya jelek gimana? Emang kamu pernah lihat ayah bayinya?" tanya Dini langsung mendapat gelengan dari Karen.


Ucap Dini sedikit membuatnya memikirkan sang suami, bagaimana jelek orang baby-nya malah mirip ayahnya.


"Kamu nyumpahin anak aku jelek?!" ketus Neisha tidak terima dengan perkataan Dini.


"Eh bukan gitu nei, kan aku bilangnya kalau." balas Dini.


"Permisi," sapa suster dengan membawa box bayi dimana di dalamnya ada bayi Neisha.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2