Menjadi Istri Mafia Kejam

Menjadi Istri Mafia Kejam
BAB 69_Jangan Bunuh Saya!


__ADS_3

Keesokan harinya Elard sudah berangkat ke kantor dan menyisakan Neisha dan Arsha yang sedang asik menonton televisi di ruang keluarga.


Hingga tiba-tiba suara bel berbunyi membuat Neisha melihat ke arah pintu depan, dia bingung siapa yang menekan bel itu.


"Sayang bentar ya bunda bukain pintunya dulu," sahut Neisha kemudian pergi menuju ke pintu depan untuk membukakan pintu.


CEKLEK


Neisha membuka pintunya dan langsung menampakkan wajah mikaila dengan berbagai macam barang bawaan yang entah apa isi nya.


"Halo nei, ponakan ganteng aku ada kan?" tanya mikaila dan mendapatkan anggukkan dari Neisha.


"Halo anak ganteng! Tante mika dateng nih bawah banyak mainan!" seru mika masuk begitu saja menuju ke ruang keluarga di mana Arsha sedang berada di sana.


"Wahh apa ini ante?!" tanya Arsha dengan antusias melihat tantenya yang datang dengan membawa banyak mainan.


Bahkan Arsha sampai meninggalkan kartun kesayangannya karena mika yang datang dengan banyak mainan.


"Ini nih Tante bawa banyak mainan buat Arsha!" ucap mikaila dengan semangatnya.


Sedangkan Neisha hanya mengikuti dari belakang diam saja dan melihat interaksi antara mikaila dengan Arsha yang sangat menyenangkan itu.


"Mik, udah sarapan?" tanya Neisha duduk di samping sang anak yang sedang asyik memainkan mainan yang di bawakan oleh mikaila tadi.


"Udah nei, oh ya nih aku bawa masakan mommy. Tadi aku bilang mau ke apartemen kak El terus mommy nitip buat stok makan kak El, karena kak El bilang ke mommy mungkin akan jarang pulang akhir-akhir ini karena ada hal penting, eh ternyata ini toh yang penting." ucap mikaila menggoda Neisha.


"Ih kamu mah," balas Neisha merasa malu dan sekaligus tidak enak karena gara-gara dirinya Elard tidak pulang ke mansionnya.


"Udah gak usah di pikir, aku malah seneng karena ada keponakan ku yang tampan ini." ujar mikaila tahu apa yang dipikirkan oleh sang sahabat itu.


🥕🥕🥕


Di sisi lain di sebuah markas, ada seorang pria yang sedang menunggu waktu untuk melanjutkan balas dendam nya yang selama beberapa tahun ini dia hentikan karena gerak-geriknya hampir diketahui oleh musuh sehingga dia menghilang beberapa tahun ini kesebuah daerah terpencil untuk memantapkan rencana balas dendam nya.


"Tuan, ada kabar terbaru bahwa Elard sekarang sering sekali berada di apartemen nya dari pada di mansionnya." ucap salah satu anak buahnya.


"Bagus, dengan begitu bukan kah lebih mudah buat kita untuk melancarkan balas dendam lagi." ucap pria tersebut dengan seringai menakutkannya.


"Tunggu kau Elard akan ku balaskan dendam ku selama ini atas nama papa ku." tegasnya dengan marah dan mengepalkan kedua tangganya hingga ibu jarinya pada memutih.


.

__ADS_1


Di sisi lain Elard setelah pulang kerja langsung menuju ke arah markas di mana di sana ada tahanan yang ingin dia bunuh yaitu seorang bos mafia di salah satu klan mafia di negara ini.


Bos mafia itu sudah berani-beraninya main main dengannya, menipu klan elang dengan memesan nark*ba dari klan elang namun malah mencuri semua pesanan.


"Di mana orang bodoh itu?" tanya Elard dengan marahnya karena berani-beraninya main main dengan nya.


"Ada di sel tahanan tuan," sahut Nelson.


Elard menuju ke sel tahanan di mana di sana sudah banyak sekali orang orang yang di kurung di sana dan hanya tinggal menunggu kapan waktu mereka semua di eksekusi karena kalau sudah masuk ke dalam sel tahanan klan elang maka jangan berharap untuk bisa keluar dari dalam sana.


"Tuan, maafkan saya. Saya menyesal tuan!" ucap orang tersebut seperti merasa bersalah.


"Heh bodoh!" bentak Elard membuat bos tersebut terkejut dan bergetar ketakutan di balik jeruji besi, begitu pun dengan beberapa tahanan yang melihat hal itu.


Mereka takut jika sudah bentakan keras karena sudah di pastikan bahwa hidup orang itu hanya sampai hari ini saja.


"Apakah menurutmu aku adalah orang yang mudah memaafkan? Kau sudah berani-beraninya main main dengan klan mafia ku jadi siap siap saja kau ku kirim menemui semua anak buah mu yang mungkin sedang menunggu mu," ucap Elard santai sekali seperti tidak ada bebas sama sekali.


"Apa! Kau apakah anak buah ku Elard!! Kau memang manusia kejam!" pekik bos tersebut meraung seperti lupa akan aksinya tadi yang memohon mohon.


"Haha kau memang lucu, tadi kau memohon-mohon padaku untuk memaafkan mu tapi sekarang malah mengataiku." ucap Elard sambil tertawa karena menahan lucu.


"Nelson, kau bawa manusia bodoh ini ke lapangan eksekusi karena dengan menahannya lebih lama di sel ini akan sangat di sayangkan ruangan ku dan juga pengeluaran makanan nya," ucap Elard kemudian berlalu begitu saja.


"Tuan, jangan tuan. Saya mohon lepaskan saya!" pekik orang itu dengan meronta ronta saat anak buah Elard membawanya ke lapangan eksekusi.


Sampai di sana orang tersebut langsung di ikat di sebuah tiang besi dengan kencangnya, lapangan eksekusi sebagai saksi bisu seberapa kejamnya klan elang menghabisi nyawa para tahanannya.


Tak lama Elard datang dengan membawa pistol baru yang baru saja tiba, dia menghampiri orang tersebut dengan seringai tawanya.


"Kau harus beruntung karena kau yang akan pertama kali menjadi kelinci percobaan ku dengan pistol terbaru ku ini," ucap Elard.


"Tolong tuan, jangan bunuh saya!" ucap orang tersebut.


"Sayang sekali aku malah ingin membunuhmu." tegas Elard bertepatan dengan suara tembakan yang sangat nyaring dari peluru yang Elard luncurkan.


DOR


Peluru yang langsung bersarang di dada tawanannya hingga mengeluarkan banyak darah dan juga membuat orang tersebut kesakitan.


"Kau me...mang ib.... iblis Elard, akhhhhhhh!" ucap bos tersebut kemudian langsung tidak bernafas.

__ADS_1


"Haha aku sudah sering mendengarkan kata itu, aku anggap itu sebagian pujian." sahut Elard dengan tawa di wajahnya.


"Kalian bersihkan jasad orang bodoh ini, ambil organnya dan jual setelah itu sisa tubuhnya kasih ke Tiger karena dia sudah beberapa hari ini puasa daging manusia," ucap Elard dengan santai kemudian pergi meninggalkan lapangan eksekusi dan menuju ke ruangannya.


"Tuan," panggil Jimi masuk ke ruangan tuannya itu saat Elard baru saja duduk di kursi kebesarannya.


"Ada apa?" tanya Elard sambil membersihkan sisa-sisa darah yang menempel pada tubuhnya.


"Anak buah saya mengatakan bahwa nona mikaila dari pagi hingga sekarang berada di apartemen," ucap Jimi.


"CK, cepat sekali dia sudah mendatangi istriku lagi. Ya sudah kalau gitu aku akan segera pulang," ucap Elard kemudian beranjak dari kursinya dan memilih untuk kembali ke apartemen nya.


Sampai di apartemen, Elard langsung menuju ke nomor gedung nya. Setelah sampai di sana dia segera masuk dan langsung melihat sang istri dan sang adik yang sedang asyik berbincang-bincang hingga tidak menyadari kedatangannya.


Dia melihat sang anak yang sedang asyik nya bermain mobil-mobilan di depan sang istri.


Tanpa aba-aba Elard langsung duduk di samping sang istri, memeluk pinggang ramping sang istri dengan manjanya dan posesifnya.


Neisha yang mendapatkan perlakuan secara mendadak ini pun merasa kaget hingga berteriak saking kagetnya.


"Aaaaa!" pekik Neisha membuat mikaila dan Arsha yang awalnya sedang santai tiba-tiba melihat ke arah Neisha.


"Kenapa sayang?" tanya Elard dengan santainya.


"Astaga kak El, kalau datang bisa bilang gak sih gak usah ngagetin kayak gini!" protes Neisha merasa kesal.


"Tahu nih kak El ganggu aja," sahut mikaila.


"Kamu ya yang ganggu," balas Elard tidak ingin di anggap pengganggu kepada istrinya sendiri.


"Udah gak usah berantem, lebih baik kakak ke kamar aja buruan. Mik, aku nitip Arsha dulu ya aku mau siapin air buat kak El sama baju gantinya," ucap Neisha menitipkan sang anak yang sedang bermain dengan mikaila.


"Ok nei, kamu santai aja aku bakalan jaga ponakan ganteng aku ini," ucap mikaila.


Neisha pun pergi ke lantai atas di ikuti oleh Elard, sampai di sana Neisha menyiapkan semuanya untuk sang suami.


"Kakak mandi gih udah aku siapin," ucap Neisha.


Setelah itu Elard pun masuk ke kamar mandi dengan senangnya karena merasa bahwa hidupnya akhirnya berwarna dengan hadirnya anak dan istrinya.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2