
"Hahhhhhh!" ucap Neisha.
"Sayang kenapa?" tanya Elard membawa Neisha ke dalam pelukannya.
🥕🥕🥕
Neisha tak menjawab dan terus memeluk Elard dengan erat, karena jujur dia sekarang sedang sangat rapuh butuh sandaran dan menurutnya pelukan dari Elard sekarang sangat membantu untuk menenangkan dirinya.
"El, sepertinya istri kamu mempunyai trauma yang cukup dalam. Aku sarankan untuk melakukan terapi agar traumanya bisa segera sembuh," ucap dokter Vinsen.
"Lakukan apapun yang terbaik Vin." tegas Elard memeluk erat tumbuh sang istri yang terus menangis di pelukannya.
Setelah beberapa saat Neisha sudah cukup tenang, Elard pun mengajak sang istri untuk kembali ke apartemen nya.
Elard mengambil cuti selama beberapa hari untuk memastikan keadaan sang istri baik baik saja, karena dia cukup khawatir jika sang istri di tinggal sendirian.
Banyak karyawan yang bertanya-tanya kenapa Presdir nya bisa tidak masuk karena setahu mereka Elard adalah sosok tuan yang cukup disiplin tentang pekerjaan.
Sampai di apartemen suasana masih kosong karena Jimi membawa Arsha ke Playground yang kebetulan ada beberapa anak penghuni apartemen lainnya yang sedang bermain di sana sehingga Arsha tidak merasa kesepian.
"Arsha mana?" tanya Neisha yang baru saja masuk ke dalam apartemen.
"Dia sedang berada di Playground sama Jimi, lebih baik kamu istirahat ya." ucap Elard dan akan membawa sang istri ke kamar karena mereka masih berada di ruang tamu.
"Kak," panggil Neisha saat Elard akan membawa dia ke kamar untuk Neisha beristirahat.
"Ada apa sayang? Apa yang kamu butuhkan?" raya Elard siapa tahu sang istri sedang butuh sesuatu.
"Aku boleh tanya?" izin Neisha untuk bertanya karena dari tadi pertanyaan ini terus saja mengganjal di hati nya.
"Tanya apa sayang?"
"...... kenapa dokter tadi bilang kalau aku istri kakak? Kita kan udah gak ada hubungan apa pun dan juga karena kita sudah tidak ada hubungan apakah lebih baik aku sama Arsha jauh jauh dari kak El, bagaimana nanti kalau pasangan kakak malah marah marah ke aku sama Arsha?" ucap Neisha panjang lebar mengeluarkan semua keluh kesahnya.
__ADS_1
Sedangkan Elard yang mendengarkan pun merasa ingin tertawa karena pemikiran sang istri tentang pasangan dan sekaligus kesal karena sang istri malah ingin pergi lagi.
Elard mengerti pasti sang istri menganggap bahwa dia sudah menandatangani surat cerai yang dulu pernah dia kasih tanpa tahu bahwa mereka sama sekali belum bercerai dan masih sebagai suami istri sah di mata hukum dan agama mereka.
"Kata siapa kita gak ada hubungan lagi, kamu masih istri aku dan aku masih suami kamu secara sah. Dan jangan pernah berfikir untuk pergi dari aku lagi, aku tidak ingin kehilangan kamu dan anak kita untuk ke dua kalinya sayang. Untuk masalah pasangan, aku masih setia menunggu istriku yang pergi tanpa pamit meninggalkan suaminya sendirian." ucap Elard dengan jujur dengan wajah sedihnya mengingat bagaimana dia berusaha mencari sang istri namun tak juga bertemu.
"A.... apa, jadi kakak enggak tandatangani surat itu?" tanya Neisha dengan gugup.
"Iya." jawab Elard singkat.
"Jadi aku mohon jangan pergi lagi dari aku nei, aku menyesal telah berbuat seperti itu sama kamu, aku bersalah nei aku minta maaf. Maafkan aku juga gara-gara aku kamu harus menderita selama tiga tahun ini dengan membesarkan anak kita sendirian dan berjuang sendirian sedangkan aku malah tinggal di tempat bagus seperti ini," jeda Elard dengan air mata yang sudah keluar deras dan bersimpuh di hadapan sang istri.
"Aku seperti orang gila yang mencari keberadaan kamu nei namun tak juga menemukanmu, aku seperti mayat hidup selama tiga tahun ini namun perjuanganku mencari kamu tak bisa membalas semua perjuangan kamu sayang. Terima kasih sudah melahirkan anak yang sangat tampan sekali, kamu boleh hukum aku, hukum aku sesuka kamu, kamu pukul tampar hingga bunuh aku pun aku rela!" terus Elard dengan menyakiti dirinya sendiri karena sudah merasa bersalah kepada sang istri.
Neisha yang melihat Elard yang memukul dirinya sendiri pun merasa kasihan hingga dia ikut jongkok dan memegang tangan Elard agar tidak menyakiti dirinya sendiri karena itu membuat Neisha merasakan sakit di hati.
"Kak udah, udah ya gak usah pukul-pukul lagi. Aku udah maafin kakak kok jadi kakak jangan seperti ini ya," pinta Neisha.
Saat melihat Elard menyakiti dirinya sendiri membuat Neisha tidak tega dan merasa sakit melihatnya, dan hal ini Neisha merasa bahwa sikap Elard sudah cukup banyak yang berubah, dari sikapnya beberapa hari lalu saat bertemu dengan dirinya, Elard selalu saja bersikap lembut kepadanya jauh dari yang dulu di mana Elard selalu menyakitinya.
"Beneran kamu sudah maafin aku? Kalau kamu pingin pukul aku pukul aja sayang tapi jangan membenci ku dan pergi lagi dari ku ya," ucap Elard berusaha memukul dirinya sendiri lagi.
"Iya kak, aku udah memaafkan kakak." ucap Neisha.
Neisha langsung melerainya dan membawa sang suami ke dalam pelukannya agar Elard bisa lebih tenang lagi.
Setelah sudah mulai tenang Neisha membawa Elard ke kamar untuk istirahat karena Neisha tahu Elard pasti lelah hingga setelah di tidurkan di kasur Elard sudah terlelap saja.
Padahal tadi yang akan istirahat adalah Neisha tapi sekarang malah berbeda haluan menjadi Elard yang istirahat.
Entah keberanian dari mana Neisha langsung mencium kening sang suami dengan lembut setelah itu memilih untuk ke dapur untuk membuatkan bubur untuk Elard agar nanti saat bangun Elard sudah bisa makan dan minum obat karena tadi Neisha merasa bahwa tubuh Elard sangat panas.
Saat sedang berada di dapur tiba-tiba pintu apartemen terbuka dan menampakkan sang anak yang berlari ke arahnya bersama dengan Jimi dengan membawakan banyak sekali tas tas belanja.
__ADS_1
"Kak itu apa?" tanya Neisha.
"Nyonya ini barang barang tuan kecil," ucap Jimi menaruh semuanya.
"Apa! Semua ini barang Arsha?"
"Iya nyonya."
"Sayang, kenapa beli banyak banget kayak gini?" tanya Neisha sedikit tidak suka karena sang anak menghamburkan uang.
"Kalena alcha pingin bunda," ucap bodoh tersebut dengan suara seperti ingin menangisnya.
"Kalau begitu saya permisi nyonya," pamit Jimi dan di angguki oleh Neisha.
Setelah Jimi pergi Neisha pun mensejajarkan tubuhnya dengan sang anak, dia akan menjalankan perlahan kepada sang anak agar tidak menghamburkan uang.
"Sayang, bunda tidak melarang kamu buat memberi banyak mainan tapi bukankah bunda pernah bilang ke Arsha kalau mainan boleh beli tapi sebutuhnya saja uang lainnya bisa di tabung." ucap Neisha.
"Iya bunda maaf," ucap bocah kecil itu menundukkan kepalanya karena mereka takut jika bundanya sudah marah, padahal Neisha Ama sekali tak marah dia hanya ingin mengajari sang anak untuk tidak memberi barang barang yang tidak di butuhkan untuk mengajari sang anak cara menyimpan uang.
"Ya sudah karena semua mainan ini sudah terlanjur di beli jadi kita sampai saja tapi nanti kalau memang mau beli cukup beli yang di butuhkan saja ya sayang," ucap Neisha dengan lembut membelai rambut sang anak.
"Iya bunda."
"Ya sudah sekarang bunda mau bikin bubur di dapur, kamu bantuin bunda mau?" tawar Neisha ingin mengajak sang anak memasak bubur.
"Mau bunda!" ucap bocah itu dengan excited sekali.
Mereka berdua dengan senangnya berada di dapur, Arsha membantu dengan duduk saja di kursi khususnya, sebenarnya sesekali Neisha juga mengawasi sang anak, dia ingin membuat ikatannya dan sang anak kuat sehingga setiap pekerjaan dia akan menyangkutkan sang anak.
.
.
__ADS_1
TBC