Menjadi Istri Mafia Kejam

Menjadi Istri Mafia Kejam
BAB 52_Perwakilan Perusahaan


__ADS_3

TOK TOK TOK


Pintu rumah Neisha di gedor dengan cukup keras membuat Arsha dan Neisha yang berada di ruang tamu yang sedang asyik menonton televisi sampai terkejut.


"Neisha, buka pintunya!" ucap seseorang dari luar.


Dengan perasaan takut dia pun membuka pintu, dan benar saja tebakannya bahwa Bu Siti pemilik kontrakannya datang pasti untuk menagih uang kontrakan.


"Bu Siti," sapa Neisha.


"Gak usah basa basi, buruan mana uang kontrakannya!" ucapnya dengan sedikit meninggikan suaranya.


"Iya bu, sebentar saya ambil kan." ucap Neisha kemudian pergi mengambil uang nya.


"Ini Bu,"


"Nah gitu dong, jangan sering sering telat makanya kalau bayar kontrakan itu." ketus ibu Siti kemudian meninggalkan Neisha.


Neisha kadang memang sering telat bayar kontrakan karena memang uang gajinya dia gunakan untuk hal lain, malah sering Dini talangi terlebih dahulu.


"Bunda kenapa?" tanya Arsha yang melihat wajah bundanya terlihat kurang bersemangat.


"Bunda gak papa kok, yuk kita makan malam." ajak Neisha.


.


Pagi harinya Neisha sudah mulai bekerja lagi, hari ini untungnya Dini tidak bekerja sehingga dia bilang akan menjaga Arsha sekalian melepas kangennya kepada ponakannya itu karena sudah beberapa hari dia sibuk dengan pekerjaan nya.


"Sayang, bunda berangkat dulu ya. Kamu yang nurut sama aunty ya," ucap Neisha.


"Iya bunda, ati ati ya." balas Arsha dengan melambaikan tangannya kearah Neisha yang sudah keluar dari pintu.


Setelah itu Neisha menuju ke tempat dia bekerja, hari ini cukup sibuk sama seperti biasanya dan Neisha sudah terbiasa dengan hal ini.


"Nei," panggil bela.


"Ada apa bel?"


"Tuh pak Hendro tadi cariin kamu," ucap bela.


"Iya kah, ya udah aku ke ruangannya dulu." ucap Neisha kemudian beranjak menuju ke ruangan pak Hendro manajer divisi nya.


Ada rasa takut di hatinya, takut jika pekerjaan nya kurang memuaskan, bisa bisa dia di pecat dari sini.


TOK TOK TOK


"Masuk." intrupsi dari dalam.


"Permisi pak, apakah bapak panggil saya?" tanya Neisha masuk ke dalam ruangan pak Hendro.


"Oh iya Neisha, kamu duduk lah." ucap pak Hendro.


Neisha pun duduk di sofa ruang kerja pak Hendro, sedangkan pak Hendro beranjak dari kursinya dan menuju ke sofa singel di depan Neisha.


"Jadi gini Neisha, tadi tim pemasaran kita di tunjuk untuk mempresentasikan proposal untuk proyek kerja sama dengan Ard home (perusahaan di bawah naungan Ard company di bidang perlengkapan rumah tangga)." ucap pak Hendro.

__ADS_1


Neisha seketika menegang tidak tahu harus bagaimana, dia masih tidak ingin bertemu dengan mantan suaminya bahkan kalau bisa jangan pernah lagi.


"Tapi pak, kenapa tim kita? Bukankah proyek itu di jalankan sama tim lain," ucap Neisha.


Perusahan tempat Neisha bekerja memang sedang mengajukan proposal kerja sama dengan Ard Home untuk meningkatkan nilai perusahaan, jika mereka sampai bisa bekerja sama dengan Ard home maka bisa di pastikan nilai pertumbuhan perusahaan akan semakin tinggi dan banyak perusahaan lain yang melirik ke perusahaan kecil tersebut dan menanamkan uangnya di sana karena nama Ard company termasuk bahan patokan juga berhasil bekerja sama maka bisa di pastikan perusahaan nya akan naik pertumbuhan nya.


Namun sudah beberapa kali perusahaan tempat Neisha bekerja mengajukan proposal tersebut dan selalu di tolak, namun Neisha merasa senang karena dia tidak pernah terlibat dalam proyek ini.


"Kamu kan tahu sendiri kalau tim sana selalu saja gagal jadi pak Rangga meminta tim kita buat maju presentasi siapa tahu berhasil," ucap pak Hendro.


"Lalu kenapa bapak panggil saya?" tanya Neisha sedikit ragu, dia berharap pikirannya tidak benar kali ini.


"Karena kamu termasuk orang yang giat dalam bekerja, bahkan kamu berhasil buat banyak pelanggan untuk perusahaan ini, jadi saya memilih untuk menunjuk kamu sebagai perwakilan perusahaan kita." ucap pak Hendro.


"Ta... tapi pak," seru Neisha.


"Lumayan banget loh nei kalau kamu berhasil menangin kerja sama ini, kamu bisa di angkat ke jabatan yang lebih baik lagi dan bisa menjadi karyawan tetap di sini dari pada hanya sebagai karyawan tidak tetap." ucap pak Hendro.


"Tapi kan pak saya gak tahu siapa yang mewakili Ard home nantinya," ucap Neisha menggali informasi sedetail detail nya.


"Kamu tenang aja, biasanya juga manajer atau enggak direktur dari Ard home nya. Kalau kamu berharap pak Elard yang mimpin mah kejauhan kamu," sahut pak Hendro di akhiri dengan tawa setelahnya.


"Jadi bukan pak Elard pak?" tanya Neisha antusias saat mendengar ucapan pak Hendro tadi.


"Ya bukan lah, kalau pak Elard lebih baik saya sendiri yang presentasi." ucap pak Hendro.


"Ya sudah pak kalau begitu saya mau," ucap Neisha senang karena tadi dia mengira Elard akan hadir, namun dia baru ingat kalau perusahaan nya ingin bekerja sama dengan Ard home bukan Ard company semuanya.


"Nah gitu dong, kalau gitu besok kamu sama boy bakalan pergi ke ibu kota." ucap pak Hendro.


"Pakek nanya lagi, ya buat persiapan presentasi lusa Neisha." sahut pak Hendro.


"Tapi pak, kenapa tidak di sini saja?" tanya Neisha.


"Udah gak usah banyak tanya, sekarang kembali bekerja." perintah pak Hendro alhasil mau tidak mau Neisha pun pamit pergi.


"Kalau begitu saya permisi." pamit Neisha.


Di dalam hatinya dia senang bisa mengikuti proyek ini karena selama dia berada di sini tidak pernah mengikuti proyek besar seperti sekarang, namun dia juga cukup takut karena dia akan berurusan dengan anak perusahaan Ard company.


Ada rasa ingin menolak sebenarnya dari dirinya, dia masih belum bisa untuk kembali ke kota yang sudah memberikan banyak kenangan indah dan juga ketambahan pahit dan menakutkan.


"Ya tuhan semoga aja gak pernah ketemu sama kak El." ucap Neisha menenangkan hatinya.


Sore harinya Neisha pun sampai di kontrakan nya dan langsung melihat sang anak yang tertidur di sofa ruang tamu.


"Udah pulang nei?" tanya Dini keluar dari dapur.


"Kenapa kok tumben udah tidur jam segini?" tanya Neisha menaruh tasnya dan melepas jas kantor serta heels nya.


"Tadi pagi aku ajak Arsha ke taman bermain nei, dia seneng banget katanya, terus banyak temennya. Eh waktu di perjalanan malah tidur," kekeh Dini mengingat betapa lucunya keponakan nya.


"Ya udah kalau gitu aku bersih-bersih dulu ya," pamit Neisha.


Setelah cukup segar dia pun keluar menuju ke sofa dan ternyata sangat anak sudah bangun dan duduk di sofa tersebut sambil melihat televisi namun Neisha melihat wajah sang anak terlihat murung.

__ADS_1


"Loh anak bunda udah bangun," seru Neisha dengan senyum manisnya.


"Bundaaaa!" pekiknya lari menuju sang bunda dan memeluknya namun dengan air mata yang sudah menetes dari kedua matanya membuat Neisha khawatir ada apa.


"Ada apa sayang kok nangis?" tanya Neisha khawatir dengan membalas pelukan sang anak.


Neisha melihat sekilas ke arah Dini yang mengangkat bahunya pertanda dia tidak tahu apa yang terjadi.


"Tiba-tiba aja bangun terus murung kayak gitu Nei," sahut Dini.


"Kenapa sayang?" Naya Neisha terus memeluk sang anak.


"Tadi waktu alcha di taman ada temen alcha yang pamer kalau dia di ajak alan alan cama papa nya, alcha jadi pingin uga bund alan alan cama papa." ucap bocah berusia dua tahun itu kemudian memeluk sang bunda.


Neisha yang mendengar ucapan sang anak merasa sesak di dada, dia menganggap bahwa dengan adanya dia saja maka Arsha akan tetap utuh namun ternyata dia salah sang anak pasti sangat ingin bertemu dengan ayahnya.


"Udah sayang, kan ada bunda. Arsha gak suka ya sama bunda?" tanya Neisha tak kalah sedihnya.


Arsha yang melihat raut wajah sang bunda yang terlihat sedih pun merasa bersalah karena sudah menanyakan perihal sang papa kepada bundanya.


Segera dia menghapus air matanya dan memeluk erat sang bunda agar tidak menangis.


"Sudah bunda, alcha cama bunda aja gak papa kok." sahut Arsha.


Neisha memeluk sang anak dengan erat dan meminta maaf karena tidak bisa membawa ayah dari sang anaknya.


"Maaf ya sayang, papa lagi kerja nanti kalau udah banyak uang papa pasti bakalan jemput kita," ucap Neisha memberikan alasan kepada sang anak.


"Iya bund." balas Arsha.


Dini yang melihat interaksi anak dan ibu nya itu membuat dia sedih, selama beberapa tahun ini Neisha sangat tersiksa mulai dari hamil hingga melahirkan kemudian membesarkan sang anak, dia berharap kelak sang sahabat bisa mendapatkan kebahagiaan nya sendiri.


.


.


TBC


Annyeong Readers πŸ€—πŸ€—πŸ€—


Happy New Year 2023πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰


Semoga di tahun yang baru ini semua keinginan kita di kabulkan oleh Allah, semua hal-hal baik akan terjadi, bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi dan berguna bagi semua orang😊😊


Yuk di mainkan guys😊😊πŸ₯°πŸ₯°


Jangan lupa favoritkan ❀️ cerita ini, kasih penilaiannya juga ya aku tunggu bintangnya 🌟🌟🌟🌟🌟, jangan lupa vote juga, like, komentar dan juga hadiahnya 🎁 biar aku tambah semangat buat upload bab barunya setiap hari😊


Doakan juga siapa aku bisa terus menghasilkan karya-karya yang lebih baik lagi dari sebelumnya, bisa memberikan bacaan yang menghibur dikala kesusahan, kesedihan, kesenangan dan kegalauan kalian semuanya 🀭😊😊πŸ₯°πŸ₯°


Salam hangat dan cinta dari author amatir ini πŸ₯°πŸ₯°


By : Lala_Syalala


Follow juga IG : Lala_Syalala13

__ADS_1


__ADS_2