
"Bunda ini ciapa?" tanya Arsha yang baru sadar kalau ada orang lain di samping bundanya.
"Ini tem..." ucap Neisha namun sudah di potong terlebih dahulu oleh Elard.
🥕🥕🥕
"Halo, sayang. Ini pa....." ucap Elard terpotong saat sang istri memegang tangannya sambil menggelengkan kepalanya pertanda untuk tidak memberitahukannya.
Elard pun akhirnya tidak memberitahukan tentang dirinya yang sebenarnya kepada sang anak karena sang istri melarangnya dan mungkin butuh waktu untuk memberitahukan yang sebenarnya.
"Huhhhh, ini om Elard sayang. Panggil om El aja ya," ucap Elard dengan senyum mengembang.
"Halo om El," sapa bocah kecil tampan itu dengan senyum tercetak jelas di wajahnya.
Elard tidak memungkiri bahwa wajah sang anak sangat sangat lah mirip dengannya, bahkan saat tertawa saja Arsha sangat persisi seperti nya.
"Halo tampan, namanya siapa?" ucap Elard dengan senyum merekahnya karena pertama kalinya dia berinteraksi dengan sang anak.
"Nama aku alcha om, om uga tampan," balas Arsha.
"Mau om gendong?" tawar Elard dan langsung di angguki oleh Arsha, namun Neisha malah mengeratkan pelukannya tidak memperbolehkan sang anak pindah dari pangkuannya.
"Enggak." ucap Neisha tegas.
"Nei, sebentar aja." ucap Elard kemudian merebut Arsha dari pangkuannya dengan lembut.
Arsha pun berada di pangkuan Elard sekarang, tanpa terasa air mata jatuh dari mata tajam dan dingin Elard itu membuat Arsha yang berada di depannya langsung bingung.
"Om kenapa nangis?" tanya Arsha menghapus air mata Elard.
"Enggak, om gak nangis. Siapa juga yang nangis, masa cowok nangis." ucap Elard sambil senyum dan menghapus air matanya.
Sedangkan Neisha yang berada di samping Elard melihat ke arah Elard saat sang anak mengatakan bahwa Elard menangis, entah Neisha juga tidak tahu kenapa Elard menangis.
"Sekarang tidur ya tadi kan kamu kebangun pasti masih ngantuk," ucap Elard lembut membelai rambut sang anak penuh kasih sayang an Arsha pun menurut dan langsung merebahkan kepalanya di dada bidang sang papa.
Sedangkan Neisha dia sangat takut berada di dekat Elard, dia seperti langsung teringat akan perbuatan perbuatan Elard dulunya yang membuat dia trauma saja.
"Kamu juga tidur, pasti capek kan." sahut Elard yang bisa melihat dari lingkar mata sang istri yang menandakan Neisha jarang tidur.
Namun Neisha diam saja dan mengalihkan pandangan nya ke arah jendela, Elard memaklumi hal itu pasti sang istri merasa takut berada di dekatnya karena perbuatannya dulu.
__ADS_1
"Maafkan aku," ucap Elard dengan tulus.
Namun sepertinya kata maaf saja tidak mampu membuat Neisha melupakan semua yang sudah Elard lakukan terhadapnya dulu.
"Saya sudah tidak butuh maaf dari anda." tegas Neisha berbicara formal seperti orang asing yang baru saja bertemu.
"Sayang, jangan bicara seperti itu. Aku minta maaf jujur dari lubuk hati yang paling dalam sayang," tutur Elard.
"Setelah apa yang kakak lakukan sama aku!" ucap Neisha meninggikan suaranya membuat Elard langsung menutup telinga sang anak.
"Sayang jangan teriak nanti anak kita bangun," ucap Elard.
"Ini anak aku bukan anak kamu!" pekik Neisha lagi dengan air mata yang akan turun jatuh ke bawah, bahkan semua orang melihat ke arah mereka berdua.
"Jimi, kau bawa anakku terlebih dahulu. Seperti nya aku harus membawa istriku ke kamar agar tidak menjadi tontonan banyak orang." ucap Elard sambil menyerahkan sang anak kepada Jimi.
"Anakku, jangan bawa anak ku!" pekik Neisha berusaha mengambil Arsha namun sayang Elard sudah menariknya terlebih dahulu.
"Kita mau ke mana? Jangan pisahkan aku sama anakku kak," pohon Neisha dengan air mata yang sudah jatuh.
Karena Neisha terus memberontak Elard pun menggendong sang istri seperti karung beras di mana Neisha di taruh di pundaknya.
"Aaaaaa, turunkan aku kak!" pekik Neisha lagi.
Memang kapal itu memiliki beberapa jenis ruangan, yang sekarang Elard masuki adalah ruangan VIP di aman penumpang yang akan menyewa setiap kamar harus membayar dengan jutaan dollar agar bisa menyewa kamar ini.
Hanya orang-orang berdompet tebal yang bisa menyewa kamar ini dan salah satunya adalah Elard, bahkan dia bisa menyewa banyak kamar di sana yang hanya ada beberapa unit saja dengan ruangan tunggu khusus dan pelayanan khusus pula.
Bukan ingin apa-apa tapi Elard tidak ingin pertengkaran mereka di lihat oleh sang anak apa lagi banyak orang di sana tadi dan tadi banyak juga yang melihat ke arahnya.
CEKLEK
Pintu di kunci oleh Elard, Neisha ingin keluar namun langsung di tahan oleh Elard karena dia ingin meluruskan semuanya kepada sang istri.
"Sayang, dengerin aku bentar ya." pinta Elard agar sang istri tidak pergi lagi.
"Kak aku mau ke Arsha, jangan bawa anakku!" pekik Neisha dengan tangisan yang terus keluar.
Elard pun membawa sang istri kedalam pelukannya, sakit hatinya saat melihat sang istri rapuh seperti ini.
Bodoh sekali Elard yang dulu pernah menyia-nyiakan wanita hebat dan tangguh seperti sang istri, bahkan pernah menyuruh sang istri untuk tidak hamil dan memberikan obat kontrasepsi kepada sang istri.
__ADS_1
"Iya enggak, aku gak bakalan pisahin kamu sama Arsha sayang. Aku minta maaf karena sudah memperlakukan perbuatan buruk ke kamu, maaf karena aku pernah kasar sama kamu bahkan menyuruh kamu agar tidak hamil. Maafkan aku sayang, aku menyesal." ucap Elard ikut menangis sambil memeluk sang istri.
Jangan tanya lagi, Neisha sudah tidak kuat menahan tangisannya dari tadi hingga dia merasa kepalanya sangat pusing dan tiba-tiba matanya gelap karena pingsan.
Sedangkan Elard memeluk sang istri namun tiba-tiba Elard merasakan tubuh sang istri yang terlihat lemah, Elard segera melihat sang istri dan melihat mata sang istri yang aduhai tertutup matanya dan pingsan.
"Sayang, sayang bangun." ucap Elard mencoba membangunkan sang istri.
Elard langsung membawa sang istri untuk berbaring di kasur, merasakan tubuh ringkih sang istri membuat hati Elard semakin tersakiti.
Seperti di tusuk dengan jarum bahkan di tembak berkali-kali namun tak seberapa dengan penderitaan sang istri selama ini.
Elard segera memanggil Jimi untuk ke kamarnya dan menyuruhnya untuk membawa dokter yang memang di sediakan oleh awak kapal.
Saat masuk dokter segera memeriksa kondisi Neisha, sedangkan di waktu bersamaan Arsha bangun seperti merasakan apa yang bundanya rasakan sekarang ini.
"Bunda......" teriaknya sambil menangis di gendongan Jimi dan meronta ingin turun dan menghampiri sang bunda nya.
Elard yang melihat hal itu pun langsung membawa sang anak ke dalam gendongan nya dan menenangkan sang anak agar tidak menangis.
"Cup cup ya sayang, bunda sedang tidur jadi jangan teriak teriak gitu nanti kalau bunda bangun gimana?" ucap Elard menenangkan sang anak.
Arsha yang di kasih tahu seperti itu pun langsung menghentikan tangisan nya, dia tidak ingin bundanya terganggu, dia ingin bundanya tidur karena beberapa hari ini Arsha tahu bunda nya sangat susah tidur bahkan sering bermimpi buruk.
"Bagaimana dok kondisi istri saya?" raya Elard cukup khawatir dengan kondisi sang istri.
"Pasien butuh istirahat yang cukup dan seperti nya pasien sedang mengalami stres dan juga trauma nya sedang kambuh," ucap dokter tersebut.
"Sudah saya kasih vitamin, nanti setelah biusnya habis pasien sudah boleh beraktivitas namun yang ringan-ringan saja." ucap dokter tersebut.
"Kalau sudah tidak ada pertanyaan lagi saya permisi," pamit dokter tersebut.
Debbbb
'Apakah Karena Dirinya?' tanya Elard di dalam hatinya merasa bersalah karena perbuatannya selama ini bahkan membekas di hati sang istri.
Elard langsung mematung saat dokter tadi baru saja mengatakan hal tersebut, sang istri ternyata mengalami trauma selama ini. Apa karena dirinya hingga sang istri mengalami trauma seperti itu, kalau iya maka Elard tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri.
.
.
__ADS_1
TBC