MENTARI YANG TERSEMBUNYI

MENTARI YANG TERSEMBUNYI
KEBIASAAN MENTARI


__ADS_3

Kenzo kebingungan melihat kejadian yang ada di depannya.


"Dara, kamu bilang dia penggemar siapa tadi?" Mama Ita bertanya, membuyarkan candaan Andara, Karla dan Amel.


"Iya dia penggemarnya Mama Ita, tuh liat Ma, di tangannya aja dia bawa apa tuh." Andara menjelaskan sambil tangannya menunjuk ke arah bungkusan yang dibawa Kenzo.


"Oh maaf tante, saya tadi ga sempat beli apa-apa. Maaf ini kue cuma sedikit tapi jangan diliat jumlahnya ya tante, tapi rasanya. Dijamin enak banget tante, pasti tante bakal ketagihan deh makan kue ini. Tokonya dekat tante, itu di depan perumahan ini. Saya kenal sama pemiliknya tante, keluarga saya sering pesan di toko ini. Enak banget deh pokoknya." Kenzo yang sadar arah pembicaraan Andara, dengan segera menyerahkan bungkusan kue yang tadi dibelinya dan sudah berkurang karena telah dimakan oleh Andara dan dirinya kepada Mama Ita.


Mama Ita yang melihat Kenzo berbicara gugup dan menyerahkan bungkusan kue dengan label nama "Amelia", hanya bisa menahan tawanya.


"Tuh benerkan, penggemar Mama kan?" Andara menyenggol lengan Mama Ita.


Tak lama, terdengarlah tawa Karla dan Amel yang sangat menggelegar. Wajah Kenzo semakin pucat melihat respon mereka. Apa yang salah sih? Apa mereka tau cuma ada 5 kue di bungkusan ini? Kurang banyak ya? Ah sial, gak ada persiapan emang sih. Batin Kenzo.


"Eh Ken, katanya kamu kenal pemilik toko itu, bener kamu kenal?" Karla yang sudah bisa menghentikan tawanya bertanya pada Kenzo.


"Hmm kenal kok, aku pernah ikut nganter Mamaku pesen kue ke rumah pemiliknya." Kenzo menjawab.


"Yakin kamu kenal Ken? Yakin pernah ikut pesen ke rumah pemiliknya?" Andara ikut bertanya.


Kenzo mengangguk ragu. Terdengar lagi tawa menggelegar dari tiga sahabat itu. Sampai suara Mama Ita menghentikan tawa mereka.


"Sudah, jangan digodain terus, kasian. Makasi ya ganteng, kamu udah repot-repot bawa buah tangan untuk Mama. Tapi itu bisa kamu bawa pulang lagi, kalau kurang itu bisa ambil di gudang, boleh ambil sepuasmu karena kamu udah jadi penggemar setia Mama Ita dan ikut promosiin kue itu."


Kenzo mengedipkan matanya berkali-kali. Wajahnya masih tampak bingung dan mulai menerka-nerka yang terjadi.


"Katanya kenal sama pemiliknya, ini pemiliknya di depan mata tapi dianggurin. Minta tanda tangan kek atau foto gitu kek. Payah ah Kenzo." Amel menyindir.


"Iya serius. Aku pernah ikut waktu pesen kue, tempat produksi dan rumah pemiliknya di perumahan Puri Kusuma. Emang waktu itu aku cuma nunggu di mobil sih." Kenzo berusaha meyakinkan semuanya.


Seketika suara tawa terhenti. Semua terdiam, terlebih Amel.


"Iya bener, dulu di Puri Kusuma tempat produksinya tapi sekarang pindah sini. Udah ah masa ngobrol di depan gini, masuk aja yuk biar enak ngobrolnya, sambil makan kue sama teh kan makin enak, ya kan?" Mama Ita yang melihat respon anaknya langsung mencairkan suasana.


"Iya Ma.." Andara, Karla dan Amel kompak menjawab. Langsung mengikuti Mama Ita yang akan beranjak masuk rumah.


"Tunggu, maksudnya gimana sih Ma?" Kenzo sudah mulai mengikuti mereka memanggil Ibunya Amel dengan sebutan Mama.


"Jadi toko di depan punya Mama Ita? Terus sekarang rumah dan tempat produksi di sini? Jadi Mama Ita yang bikin kue-kue enak ini? Dan Mama Ita ibunya mereka bertiga?" Kenzo masih berusaha menebak yang terjadi.

__ADS_1


Andara yang melihat wajah Kenzo yang kebingungan langsung memegang kedua pipi Kenzo dan menggerakkannya ke kiri dan kanan. Tiba-tiba Andara menempelkan dahinya ke dahi Kenzo dan menggesekkan hidungnya ke hidung Kenzo. Andara gemas melihat respon Kenzo hingga tak sadar melakukannya.


Kenzo membeku, Karla dan Amel terkejut hingga mulutnya terbuka, Mama Ita tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


Karla langsung menarik lengan Andara, menjauhkan dari Kenzo. Kenzo masih terdiam, ia begitu terkejut.


"Astaga.. Aarrgh.." Andara yang tersadar dengan yang dilakukannya, langsung berlari masuk rumah secepatnya. Ia menutupi wajahnya dengan telapak tangan.


Mama Ita menepuk bahu Kenzo, berusaha menyadarkannya. Amel yang masih terkejut hanya bisa menoleh ke kanan dan kiri, memandangi tingkah Andara dan wajah terkejut Kenzo bergantian.


"Ma, tolong panggilin dokter, kayaknya Kenzo kena serangan jantung deh Ma. Di sini rasanya gak karuan, detaknya uda sampai kedengeran kayak suara kaki kuda waktu lari. Tolong Ma, panggil dokter, Kenzo mau panjang umur." Kenzo berkata sambil menunjuk dadanya.


Mama Ita tersenyum melihat kelakuan anak-anak remaja di hadapannya. Ia segera menarik Kenzo untuk masuk ke rumah. Karla dan Amel mengikuti di belakang mereka.


Di dalam rumah, Andara bersembunyi di dalam kamar Amel. Dia terlalu malu untuk berhadapan dengan Kenzo dan sahabat-sahabatnya.


Aah sial, Dara apa yang kamu lakukan sih, bisa-bisanya kamu kayak gitu sama Kenzo. Sama Vano aja kamu jaim terus. Duh malunya. Batin Andara, merutuki kebodohannya.


"Dara ayo keluar. Kamu gak bisa sembunyi terus. Selesaikan masalahmu sayang, atau selamanya menjadi salah paham." Mama Ita masuk dan membelai rambut panjang Andara penuh cinta.


"Dara malu Ma." Andara mengakui.


Mama Ita tersenyum menenangkan. "Semakin malu kalau kamu tidak menyelesaikannya sayang."


Tampak Kenzo duduk dengan tegang dan tidak menyentuh apa pun di hadapannya. Padahal sedari awal, ia sangat tertarik dengan kue-kue buatan Mama Ita.


"Eh sayang, Andara. Aku.. Aku.. Aku seneng kok digituin kamu. Eh.." Kenzo gugup berkata dan langsung menutup mulutnya dengan telapak tangannya, menyadari kata yang keluar dari mulutnya.


Semua melotot melihat Kenzo.


"Hmm.. Mama Ita, Kenzo permisi pulang dulu aja ya. Kenzo mau periksa ke dokter dulu aja." Kenzo berdiri hendak pamit.


"Kamu sakit?" Andara bertanya, wajahnya berubah menjadi khawatir.


"Iya.. Eh gak kok." Kenzo menjawab dengan gugup.


"Gini ya kalau orang jatuh cinta, otak sama mulutnya jadi gak sinkron." Karla tertawa meledek.


"Udah semua di sini, gak ada yang boleh pulang sampai kue Mama dihabisin semuanya." Akhirnya Mama Ita memberi keputusannya dan diikuti dengan anggukan kepala para remaja itu. Mama Ita pun beranjak ke dapur mengambil minuman.

__ADS_1


Andara dan Kenzo terlihat sangat canggung. Karla dan Amel melihat mereka bergantian.


"Kalian sampai kapan mau diem-dieman kayak gini. Ntar lama-lama kalian aku kurung di kamarku lho." Amel bersuara.


"Oke Mel, setuju. Kasih tau yang mana kamarmu. Yuk sayang berangkat." Kenzo langsung berdiri dan menarik tangan Andara.


"Dasar mesum!!" Andara menepis tangan Kenzo.


Kenzo akhirnya duduk di samping Andara, mengusap pucuk kepala Andara dan berbisik, "gak usah malu, aku aja seneng digituin. Lain kali lagi ya."


Wajah Andara seketika memerah. Dadanya bergemuruh. Mampus, kenapa lagi ini jantungku?? Batin Andara berteriak.


Kecanggungan diantara mereka pun mencair. Kenzo dengan segera mengambil alih keadaan dengan lelucon-leluconnya. Andara juga sudah kembali seperti biasanya.


"Eh serius nih, kalian gak mungkin kembar kan?" Kenzo bertanya dengan wajah penasaran.


"Ken, kamu dari tadi mikir ini?" Andara malah mengajukan pertanyaan. Kenzo mengangguk.


"Kamu tuh ya, gak bisa liat apa muka kita mirip gini?" Karla menimpali.


"Anak-anak, kasian Kenzo, udah jangan dikerjain mulu." Mama Ita datang sambil membawa minuman.


Kenzo terdiam, tampak memikirkan ucapan Mama Ita. Tiba-tiba mengambil kue dan membaca label nama di bungkusnya.


"Amelia." Ucapnya membaca label nama toko roti Mama Ita.


"Kalau kalian kembar, harusnya nama tokonya AKA dong, Amel, Karla dan Andara." Kenzo mulai menemukan titik cerah dari pertanyaannya.


"Ini toko Mama Ita, namanya Amelia. Anak Mama Ita itu Amel. Kalian berdua cuma numpang ikut nyicip kue gratis doang. Sama kayak aku." Kenzo memberikan jawaban dari teka-teki yang ada di kepalanya sambil menuding Andara dan Karla bergantian.


Karla langsung melemparkan bantal kursi yang ada di belakangnya.


"Dasar.." Andara bergumam.


Mereka menghabiskan waktu dengan bercerita banyak hal untuk saling mengenal. Tiga sahabat itu menceritakan bagaimana awal mula persahabatan mereka dan bagaimana persahabatan itu terjaga sampai sekarang. Kenzo merasa dirinya sudah mulai diterima di komunitas Andara. Ia juga tahu, Andara, Karla dan Amel bukan sekedar teman sekolah, mereka lebih seperti saudara.


Tak terasa waktu semakin larut. Kenzo pun pamit pulang diikuti Andara dan Karla. Sebelum pulang ke rumahnya, Andara mengantar Karla terlebih dahulu. Akhirnya Kenzo memutuskan untuk mengikuti Andara dan Karla pulang dulu baru kembali ke rumahnya. Mobil mereka berjalan beriringan. Andara dikawal oleh Kenzo.


Setibanya di gerbang rumah Amel mobil mereka bersisipan dengan mobil yang menuju ke kantor Mama Ita. Sepertinya mereka adalah konsumen Mama Ita yang akan memesan kue.

__ADS_1


Kenzo memperhatikan dengan seksama mobil yang baru masuk ke halaman rumah Amel. Dengan berbisik dia berkata lirih, "sepertinya mobil itu gak asing deh."


Kemudian, ia pun meninggalkan halaman rumah Amel, mengikuti mobil Andara yang ada di depannya.


__ADS_2