
POV ARKA
Ku tatap layar ponselku sesaat setelah aku mematikan panggilanku. Aku tersenyum membayangkan wajah Mikha yang menggemaskan saat sedang ku goda tadi. Ah dia pasti sedang malu saat ini. Mungkin pipinya sudah merah merona.
Tapi tunggu, yang barusan ku goda adalah seorang Mikhayla. Seorang gadis yang sangat tak terbaca tingkah lakunya. Saat aku membayangkan reaksi normal yang akan dilakukan kebanyakan gadis, maka terkadang tidak bagi Mikha. Dia bisa saja melakukan hal yang sebaliknya. Dia kan Mikha, si gadis lucu yang terbalik cara kerja otaknya.
Aku semakin tertawa saat membayangkan mimik wajahnya. Hah sepertinya ini cukup untuk menjadi penyemangatku hari ini. Baiklah, akan Abang tunggu kiriman darimu. Ayo cepatlah Mikha, Abang sudah tidak sabar melihatmu. Abang? Sejak kapan aku memanggil diriku sendiri Abang? Aku terkekeh membayangkan semuanya.
Aku terus melihat layar ponselku. Berharap segera ada nama Mikha di layarnya. Aku menyuruhnya mengirim fotonya. Aku yakin, dia akan sangat cantik hari ini. Ah sial, gara-gara rapat dadakan ini, aku jadi tidak bisa menemani di saat-saat terpentingnya.
Aku menatap rangkaian bunga, boneka beruang yang besar dan coklat yang sudah ku siapkan sejak tadi. Rasa kecewa jelas menyusup di dadaku. Tadinya aku berniat memberinya kejutan dengan datang ke sekolahnya dengan membawa hadiah. Hadiah yang ku harap dia akan menyukainya.
Aku berpikir akan menemui Mikha setelah rapat ini selesai. Namun justru banyak agenda yang harus ku lakukan. Belum lagi aku harus mengurus penelitianku.
Ah kenapa semuanya terjadi secara bersamaan! Aku menarik kasar rambutku, berharap menemukan solusi yang tepat untuk melewati hari ini. Aku sungguh ingin melihat Mikha.
Entahlah, aku juga tidak bisa memberi penjelasan pasti, kenapa akhir-akhir ini aku selalu memikirkan gadis itu. Mungkin karena dia terlihat sangat rapuh di hadapanku. Sungguh itu semua membuatku tak bisa berpaling darinya dan ingin selalu merengkuh serta melindunginya.
Tiing.. Tiiing..
Aha ini yang ku tunggu. Notifikasi pesan di ponselku berbunyi. Aku tersenyum menatap layar ponselku yang menampilkan nama Mikha. Dengan segera ku buka pesan itu.
Namun yang terjadi adalah, air mataku yang tiba-tiba menetes. Dengan cepat ku hapus air itu. Ku tarik nafas panjang, sekedar untuk meredakan gejolak jiwa.
Kubiarkan mataku menatap pesan yang dikirim Mikha sekali lagi. Ku baca pelan pesannya.
Bang, maafkan aku. Tapi tolong jangan ke sekolah ya hari ini. Ku mohon Bang.
Dalam hitungan detik pesan itu telah lenyap dari ponselku. Untuk apa menyimpan sesuatu yang menyakitkan. Lebih baik dibuang saja.
Aku menghela nafas kasar. Ku sandarkan tubuhku ke kursi kebesaranku. Ah semangatku langsung mengendur. Aku telah kehilangan alasan untuk dapat melalui hari ini dengan senyuman.
Segera ku beranjak dari kursi. Aku berniat untuk menyelesaikan rapat hari ini dengan segera. Ya hari ini aku akan mengubur diriku dalam kesibukan. Ada sakit yang menggelitik hatiku saat mengingat pesan itu.
Namun hati tidak bisa dibohongi. Ketika hatimu terluka, maka mulutmu tidak akan terbuka sempurna. Otakmu tidak akan menggerakkan semuanya dengan sinkronisasi yang harmonis. Selalu saja ada kesalahan.
Dan itu ku alami saat ini. Tubuhku di ruang rapat, sedang memperhatikan presentasi dari para kepala bagian. Namun pikiranku, entah dia sudah menjelajah sampai mana.
Aku sangat tahu sumber masalahku namun aku terus memungkirinya. Namun kali ini, aku sudah tidak bisa menahannya. Untuk sebuah rasa baru, ada rasa sakit yang harus ku bayar.
Statusku, siapapun tidak akan sudi berdekatan denganku. Ya, aku menyadari itu. Apalagi dia adalah anak gadis satu-satunya. Aku yakin, itu bukan kata hatinya. Tapi entahlah, dia seorang Mikha yang tidak gampang ditebak. Bisa jadi itu memang keinginannya. Bisa jadi karena dorongan orang terdekatnya. Dan bisa jadi dia kembali membuka hati untuk sampah itu. Ah kenapa hatiku rasanya sangat sakit mengingat semua itu. Sepertinya aku harus kembali kehilangan orang yang ku sayangi.
Ku sayangi? Siapa? Apa Mikha? Aah Arka, ada apa dengan otakmu? Tapi.. Aku memang nyaman berada di dekatnya. Aku merasa hidup kembali jika bersamanya. Itu tidak bisa ku pungkiri. Tapi perlu kamu garis bawahi Arka, hanya nyaman! Bukan sayang! Apalagi cinta! Camkan itu dengan otak cerdasmu, Arka! Aku meneriaki diriku sendiri.
Namun logikaku harus berjalan dengan baik. Ada tembok penghalang diantara kami, yang tidak mungkin bisa kami lompati saat ini. Ada hati yang harus aku jaga dan ada kehormatan yang aku pertaruhkan.
Baiklah aku akan mengikuti logikaku saja. Aku tahu itu yang terbaik untuk kita, saat ini. Aku ambil ponselku dan segera mengetik sesuatu yang menjadi isi hatiku.
__ADS_1
Baiklah. Aku sepertinya mengerti, Mikha. Bagaimana mungkin seorang Ayah mengizinkan putri tercintanya di datangi dan dekat dengan seorang pria yang tidak jelas statusnya. Duda bukan, beristri tapi melarikan diri. Selamat atas kelulusanmu, Mikha. Abang bangga padamu. Jadilah anak baik.
Kirim.
Ku matikan ponselku segera. Agar tanganku tidak tergoda untuk menghubungi Mikha.
***
Aku memutuskan pulang, saat kepalaku terasa berdenyut di tengah laboratorium penelitianku. Sudahlah, biarkan saja, akan ku ulangi besok pagi. Aku sudah tidak bisa memfokuskan diri.
Banyak bayangan hitam yang bergelayut di benakku. Saat aku menyuruh logikaku untuk mendominasi, nyatanya hatiku tak bisa dibohongi. Ada nyeri yang ku rasa saat menerima pesan Mikha. Aku ingin berontak, aku ingin berteriak.
Aku hanya seorang lelaki biasa, tak mampu untuk memendam rasa. Rasa bahagia yang baru sebentar ku rasa, sekarang terancam pupus sudah. Kenapa kebahagiaan seakan berlari menjauh dariku? Ini bukan pertama kalinya hal seperti itu terjadi. Sejak-- ah sudahlah, aku tak mau mengingat sakit yang masih menganga di hatiku.
Aku terus mengendarai mobilku, aku ingin segera sampai di rumah. Disanalah aku bisa melampiaskan segala keresahanku. Tempat tenang dan sunyi, hingga saat aku berteriak atau melempar benda apapun, tidak akan terdengar dari luar. Bisikan setan mulai merasuki tubuhku. Ia sudah merencanakan aksi buruknya untuk tubuh dan jiwaku. Baiklah, aku ikuti saja untuk kali ini.
Aku membelokkan mobilku memasuki halaman rumah. Di mana Pak Hadi? Tumben dia tidak ada di pos kebesarannya.
Mataku menangkap pemandangan yang tak biasa. Dua mobil berjejer di halaman rumahku. Wow, ini rekor baru! Siapa yang sudah berani datang ke sini tanpa izinku? Sial, apa yang ku lewatkan hari ini?
Aku segera menuruni mobilku dan berjalan menuju pintu. Saat melewati mobil hitam yang terparkir rapi, aku bisa menebaknya, itu mobil Adinda, istriku. Hahaha istri? Aku mulai meragukannya sejak malam pertama kami. Untuk apa dia ke sini? Dan dari mana dia tahu alamat ini? Sial, dia pasti mengintai pergerakanku.
Dan di sinilah aku, berdiri diam di depan mobil putih yang terparkir sembarangan. Siapa yang mengendarainya? Apa dia baru belajar menyetir? Parkir lurus begini saja dia tidak bisa! Apa susahnya sih parkir dengan rapi! Aku mengumpati siapapun yang mengendarai mobil ini. Mataku ternoda dengan kesemrawutan yang ditimbulkannya.
"Apa kamu bilang? Jika sampai ada apa-apa dengan anak kami, kamu mau bertanggungjawab?" Aku mendengar suara orang berteriak dari dalam, dan aku mengenal suara itu.
"Baik aku akan bertanggungjawab, aku akan meminta Bang Arka menghamiliku juga." Aku mengurungkan niatku untuk masuk mobil saat mendengar ada suara lain dari dalam rumahku.
Suara yang juga sangat aku kenal. Suara yang dengan jelas mengatakan sesuatu yang sukses membuat mataku membelalak dan mulutku menganga lebar. Sungguh seorang Mikhayla! Hanya dia yang bisa mengatakan sesuatu yang besar dengan mulut pintarnya itu namun terkesan sebagai gurauan. Enteng sekali kamu mengatakannya, Mikha. Menghamili? Bagaimana cara kerja pikiranmu sih, Mikha?
Aku bergegas memasuki rumahku. Berharap sesuatu yang buruk tidak terjadi pada keduanya. Meski aku kecewa dengan Adinda, tapi saat ini dia sedang mengandung, ada dua nyawa yang harus dijaga. Dan Mikha, gadis bodoh yang lucu dan selalu menggangguku itu, harus segera ku beri pelajaran pada mulut liarnya.
"Apa kamu bilang?" Cepat Arka, suara Adinda sudah mulai meninggi. Kamu tidak inginkan terjadi sesuatu? Aku terus memacu langkahku. Sebentar lagi ambang pintu. Tunggu Abang, Mikha.
Mikha? Aku mengkhawatirkan Mikha? Bagaimana bisa aku mengkhawatirkan gadis lain saat istri sahku ada di situ juga! Sepertinya otakku mulai bergeser, aku telah tertular virus pergeseran otak dari Mikha, hah!
Plaaaakk..
Kaki ku terhenti saat mendengar suara benda beradu dengan sangat keras. Aku yakin, itu adalah tamparan. Siapa yang ditampar? Apa Mikha? Tubuhku mendadak dingin dan lemas. Aku menyeret perlahan kakiku yang beku. Ayolah Arka, bantu dia. Tapi bagaimana jika Mikha yang menampar? Batinku terus bergejolak membayangkan segala kemungkinan. Di manakah aku harus berdiri nantinya?
Pertanyaan mudah namun sulit untuk dijawab. Di mana aku berdiri, akan menjadi jawaban dari semua kebimbangan dan akan sangat berpengaruh pada masa depan. Masa depanku, Mikha dan Adinda.
"Non Kay! Non gak apa-apa? Bu, tolong sopan sedikit Bu?" Suara panik Pak Hadi memberiku jawaban. Ah jadi Mikha yang ditampar. Hatiku nyeri mendapat kenyataan itu. Apa dia menangis sekarang?
"Mas Hadi tenang aja. Aku tidak apa-apa. Tak ada yang terluka." Dasar gadis bodoh! Selalu menutupi yang terjadi. Katakan yang sakit itu sakit Mikha! Pembohong!
"Sudah Bu, selasaikan baik-baik. Jangan main tangan. Saya akan hubungi Pak Arka. Biar Pak Arka yang menyelesaikan semuanya." Pak Hadi kembali bersuara. Aku ingin segera sampai di kamar itu, tapi kenapa jarak yang ku tempuh terasa sangat panjang. Kakiku berat untuk digerakkan.
__ADS_1
"Aku berhak menampar wajah wanita ****** ini. Dan kamu tak pantas membelanya. Kamu hanya seorang satpam! Tidak lebih. Pergi kamu. Aku berhak mengatur rumah ini." Apa ini Adinda yang ku nikahi selama ini? Bagaimana mulutnya bisa sekasar ini saat wajahnya menunjukkan sebaliknya? Bukankah dia istriku yang lemah lembut? Tapi sekarang dia mencerca Pak Hadi. Apa ini wajah aslimu, Adinda?
"Mas, jangan diambil hati. Nanti coba hubungi Bang Arka aja." Gadisku! Selalu mengkhawatirkan orang lain padahal dirinya sendiri terluka. Aku tersenyum membayangkan wajahnya yang meneduhkan.
"Tenang Non. Bapak sudah biasa direndahkan seperti ini." Maafkan aku Pak Hadi, yang tidak jujur tentang kondisiku.
"Bagus kalau kalian tau posisi. Sekarang keluar dari rumah ini." Astaga Adinda! Kamu benar-benar luar biasa menyebalkan. Mana sopan santunmu? Apa benar kamu istriku selama ini? Kenapa wajahmu yang seperti ini baru ku lihat? Bahkan kamu kalah dengan anak SMA yang baru menerima ijazahnya hari ini.
"Jaga rumah ini sampai Bang Arka pulang. Nanti Mas Hadi bicara dengan Abang." Kenapa kamu bisa sesabar ini Mikha? Lawan dia! Dan kenapa hatiku terasa nyeri saat kamu memanggil Pak Hadi dengan sebutan Mas? Itu terlalu intim Mikha! Ubah panggilanmu segera!
"Cih, wanita tak tahu malu. Berlagak seakan kamu nyonya rumah ini. Aku ini istri sahnya, aku berhak atas apapun di dirinya. Dan beraninya kamu memanggil Bang Arka? Jangan coba-coba menggodanya! Cepat keluar dari sini. Jauhkan tubuh kotormu dari suamiku!" Sungguh aku tidak mengenalimu Adinda. Kamu yang seperti ini, seakan membuat mataku lebih terbuka dengan apa yang sudah kita alami.
Kekecewaanku semakin menguasai hati. Dengan amarah yang membuncah aku menggerakkan kakiku. Rasanya emosi ini menjadi bahan bakarku. Panas rasanya tubuhku. Aku ingin segera melihat wajah itu, wajah yang menenangkanku. Bukan istriku, melainkan gadis SMA yang beberapa saat lalu mengusik hatiku.
Akhirnya di sinilah aku. Menatap dua wanita yang hadir di hidupku. Yang satu, seorang wanita hamil yang sedang dipegang oleh Pak Tejo, sopir pribadi yang ku siapkan untuk Adinda, agar tidak kembali mengamuk. Dan yang satu gadis cantik berkebaya kuning keemasan, namun hanya terlihat punggungnya. Apa yang akan dia lakukan? Apa dia akan melarikan diri dari masalah, seperti yang sudah-sudah?
"Tidak ada yang boleh meninggalkan rumah ini tanpa izin dariku." Amarahku sudah tidak bisa ku bendung. Suaraku terdengar sangat dingin dan keras. Aku yakin, wajahku pun terlihat sangat menakutkan seperti yang selama ini orang-orang bilang. Ah Mikha pasti ketakutan.
Nah benarkan? Dia pasti menangis, dia pasti ketakutan. Maafkan Abang, Mikha. Ini sisi lain yang kamu belum pernah tahu dariku. Tapi, inilah aku. Jika kamu lebih sering bersamaku, lambat laun kamu akan terbiasa Mikha. Hah, lebih sering? Apa rencanamu akan membawa Mikha memasuki kehidupan rumitmu, Arka? Dewa batinku menyentil keras hatiku.
"Sayang, kamu darimana? Siapa wanita ini? Beraninya dia memasuki rumah kita dan tidur dengan seenaknya di kamar kita?" Suara Adinda terdengar lembut, seperti yang biasa dia lakukan dulu.
Aku mengangkat alisku, bingung dengan perubahan yang terjadi. Apa kau sedang bersandiwara? Hahaha dan lucunya bukan hanya aku, tiga pasang mata yang ada di kamar ini juga membelalak karena terkejut. Kamu sungguh aktris berbakat, Adinda.
Ku lirik Mikha. Wajahnya tampak ketakutan. Air matanya tak berhenti mengalir. Ingin segera ku rengkuh tubuhnya, namun lenganku ditahan oleh Adinda.
Astaga, apa itu? Pipinya merah dan terdapat bekas telapak tangan. Sial! Seberapa keras Adinda menamparnya hingga menimbulkan bekas seperti itu? Genggamanku mengerat. Tubuhku kaku dan Adinda menyadari itu.
"Sayang, kita--" Kata-katanya belum selesai saat aku menghempaskan genggamannya.
"Mikha. Ini pasti sakit. Tunggu, aku akan mengobatimu." Aku memilih mengurus Mikha.
"Sayang, kamu kenapa peduli padanya?" Adinda bertanya dan tak ku dengarkan. Aku sibuk mencari kotak obat di kamar itu.
"Bang Arka, aku gak papa. Aku pulang aja. Ini cuma luka kecil. Aku pulang sekarang ya Bang. Makasi." Mikha bersuara.
Tubuhku seketika berhenti saat mendengar Mikha lagi-lagi meremehkan masalah yang menimpanya. Sungguh ingin ku sumpal mulut pintarnya itu.
Aku membalik badan dan menatapnya tajam. Wajah Mikha mendadak pucat saat beradu mata denganku. Ah dia selalu ketakutan saat aku seperti ini. Masa bodohlah dengan semua itu, asal itu bisa membuatmu menurutiku.
"Pak Hadi, kunci kamar ini! Ambil tas Mikha dan jangan biarkan dia keluar dari rumah ini tanpa izinku." Dengan keras aku memberi perintah. Tak ku hiraukan lagi tatapan marah dari Adinda atau tatapan terkejut dari Pak Tejo.
Ku tarik pergelangan tangan Adinda dan ku paksa dia keluar kamar. Pak Hadi dan Pak Tejo mengikutiku. Wajah protes Mikha terlihat jelas, namun tidak berani membantah. Hanya mulutnya yang terbuka sebentar terus menutup lagi.
"Sayang apa yang kamu lakukan? Kenapa dia tidak kamu suruh pergi saja? Dia menggangguku sayang." Rengek Adinda.
"Dan kamu menggangguku, Adinda!" Bentak ku. Adinda melongo tak percaya dengan sikapku.
__ADS_1
Aah aku terlalu lunak dan mengalah padamu Adinda, hingga kamu menjadi seperti ini.