MENTARI YANG TERSEMBUNYI

MENTARI YANG TERSEMBUNYI
SAYANG?


__ADS_3

Andara sudah berada di rumah Amel bersama Karla. Kini mereka sudah siap berangkat memenuhi undangan yang sudah diberikan oleh Mama Ita.


Mereka bertiga masing-masing membawa tas yang dibelikan oleh Bunda Rania ketika mengikuti perjalanan dinas Ayah Josh. Sebelum keluar dari rumah Amel, mereka bertiga foto bersama.


Akhirnya mereka berangkat dan tak lama kemudian sudah tiba di lokasi pertama undangan yang mereka bawa.


Sebuah perayaan khitan yang dilakukan secara meriah. Dengan pemeran utama seorang anak lelaki yang masih kecil, sekitar usia 7 tahun.


Andara, Karla dan Amel tidak berlama-lama di sana. Sekedar bersalaman dan memberi selamat pada anak kecil yang dikhitan beserta orang tuanya. Di sana mereka merasa sedikit kikuk dikelilingi banyak anak kecil beserta orang tuanya. Setelah itu mereka bertiga kembali melanjutkan perjalanan menuju acara kedua.


"Mel, kamu salah baca nih kemarin. Ini undangannya cuma satu Mel, bukan dua. Ini itu acara ulang tahun ke 17 tahun dari Vanya Wicaksono sekaligus perayaan pertunangannya yang udah dilakukan bulan kemarin." Ujar Karla sambil mengamati undangan yang dibawanya.


"Buset, belum umur 17 udah ditunangin aja ya. Kayak jaman kapan aja gitu ya." Andara menimpali.


"Tau ah.. Yang penting dateng aja. Katanya ada doorprizenya lho. Dan hadiahnya itu lumayan banget. Ada laptop, logam mulia, sepeda lipat, tiket berlibur dan banyak lagi." Amel menjelaskan.


"Buset, konglomerat Mel bapaknya?" Karla bertanya dengan terkejut.


"Kayaknya sih. Makanya masih bayi udah ditunangin." Jawab Amel asal.


"Serius dari bayi udah ditunangin Mel?" Tanya Andara antusias.


Amel mengangkat bahu. Dia juga sebenarnya hanya mendengar sedikit cerita dari Mama Ita.


"Wah kalau kayak gitu, kasian juga ya. Dia gak bisa milih dong jatuh cinta sama siapa, calon suaminya aja uda ditentukan gitu." Karla menimpali.


"Mereka gitu itu masing-masing punya pacar gak ya? Saling cinta gak ya? Ada pemberontakan gak ya, masa langsung saling nerima gitu sih?" Cecar Andara. Hatinya diliputi penasaran.


"Tau deh. Aku juga penasaran, Mama juga cuma seuprit ceritanya. Ntar deh kita liat kejadian pertunangan dini secara langsung. Duh aku uda laper nih." Amel menimpali sambil mengeluh.


Andara mengangguk sambil masih serius menyetir.


"Iya laper banget nih, tadi di tempat sunatan mau makan isinya kenapa jadi jajanan anak bayi semua ya." Karla mengeluh sambil tertawa.


"Namanya juga anak 7 tahun yang disunat Kar!!" Amel memukul gemas bahu Karla.


Menjelang tengah hari, akhirnya mereka sampai di lokasi acara. Acara diadakan di sebuah taman bunga dengan konsep garden party. Cuaca pun sangat bersahabat, cerah dengan sedikit angin, namun tidak begitu terik. Lokasi acara juga sudah lumayan dipenuhi tamu undangan. Sebagian tamu berusia sama dengan tiga sahabat itu, dan sebagian lainnya nampak seperti relasi dari orang tua gadis yang berulang tahun. Tiga sahabat itu keluar mobil dengan mata yang takjub memandang dekorasi pesta yang ada di hadapannya.

__ADS_1


Taman bunga disulap sedemikian rupa hingga menjadi sebuah tempat yang menakjubkan. Di bagian pintu masuk terdapat rangkaian bunga yang menjulur hingga membentuk menyerupai terowongan. Setelah melewati terowongan bunga terdapat balok es batu yang terukir inisial huruf VV, sepertinya inisial dari pemeran utama pesta ini. Di sepanjang taman terdapat meja-meja yang menyajikan makanan. Di tengah taman terdapat lantai dansa yang dihias dengan bunga bernuansa merah muda. Dan di bagian ujung terdapat panggung yang lumayan besar yang sudah ada kue ulang tahun bertingkat di tengahnya.


Setelah mengisi daftar hadir, mereka bertiga segera masuk ke dalam taman. Sesampainya di dalam, lagi-lagi mereka di kejutkan dengan dekorasi yang sangat meriah dan mewah itu.


"Wow makanan disana keliatannya enak girls." Ujar Karla sambil menunjuk ke arah meja makanan di sisi kirinya dengan dagunya.


"Aku mau sepeda lipat itu dong. Cocok banget kalau di bawa ke car free day. Ya gak?" Mata Andara terpaku pada sepeda lipat yang harganya selangit itu, yang kini bertengger manis di atas panggung sebagai hadiah hadir.


"Aku mau laptopnya." Karla menimpali.


"Kita ke depan dulu yuk, nyalamin itu yang punya acara." Amel membuyarkan lamunan teman-temannya.


"Aku tunggu sini Mel, aku laper banget, ga kuat jalan." Karla berlalu ke arah meja.


Andara mengangguk mengikuti Karla. Namun secepat kilat Amel menarik tangan kedua temannya dan menatap mereka dengan kesal.


"Kalian di sini nemenin aku, inget itu!!" Amel berbisik tajam pada teman-temannya. Ia pun segera menyeret keduanya untuk mengikuti langkahnya menuju sebelah kiri punggung tempat berdirinya si empunya acara.


Mereka pun sampai di hadapan tuan rumah acara tersebut. Menyalami orang tua dan gadis yang menjadi bintang acara hari ini.


"Om, Tante, saya Amelia, putri Mama Ita Kencana. Mohon maaf Mama gak bisa hadir karena ada acara di tempat lain jadi saya mewakili Mama bersama teman-teman saya Om." Amel memperkenalkan diri sambil bersalaman dengan lelaki paruh baya yang terlihat masih gagah dan tampan.


"Ah om bisa aja. Sekali lagi selamat ya om, tante dan Vanya." Amel kembali berkata sambil menyalami gadis itu dan orang tuanya.


"Makasi ya sayang. Eh sepertinya kalian seumuran ya? Kelas berapa kamu sayang?" Tanya ibu gadis itu sambil membalas uluran Amel, Andara dan Karla.


"Kita kelas XII tante." Jawab Andara.


"Wah iya benar, kita terpaut setahun. Aku kelas XI." Sahut Vanya, gadis yang sedang berulang tahun itu dengan ramah.


"Aku harap kalian menikmati pestanya ya. Maaf kalau ada yang kurang. Sepertinya kalian sudah berteman lama ya? Ah senangnya, seandainya aku bisa berteman juga dengan kalian." Sambung Vanya kembali.


"Iya kita uda dari bayi saling kenal dan satu sekolah terus." Amel menyahut.


"Senangnya. Bolehkah aku kapan-kapan ikut bergabung dengan kalian. Aku sebenarnya sudah melihat kalian dari tadi ketika masuk. Kalian sangat akrab dan aku terhibur melihat tingkah kalian." Vanya bercerita dengan jujur.


Amel, Andara dan Karla hanya bisa menatap Vanya dengan linglung. Bagaimana tidak, sejak masuk tadi mereka sudah sangat ribut dengan kekaguman mereka pada dekorasi meriah acara itu. Belum lagi mereka juga tidak malu untuk segera makan, dan ingin mendapatkan hadiah, bahkan sebelum menyalami si empunya acara.

__ADS_1


Dengan canggung akhirnya mereka bisa tersenyum.


"Aah gitu ya.. " Andara hanya mampu merespon pernyataan Vanya dengan singkat.


"Kalian jangan sungkan ya, silakan nikmati acaranya. Jangan keburu pulang dulu ya, selesai acara kita ngobrol lagi ya. Dan apa boleh kita berteman sekarang?" Vanya menyodorkan tangannya kembali.


Andara, Amel dan Karla membalas uluran tangan Vanya sambil tersenyum. Kemudian bergegas menjauh.


"Malu-maluin tau gak." Karla membuka mulutnya begitu sudah jauh dari Vanya.


"Pulang yuk." Andara menimpali.


"Gak mau makan enak sama dapet sepeda lipat ya? Gak mau laptop juga nih? Kan tadi Vanya uda ngelihat kita dari awal, pasti tau dong kalau kamu pingin sepeda lipat dan kamu pingin laptop, siapa tau nanti nama kalian disebut." Amel mengiming-imingi Karla dan Andara.


"Duh lupa tujuan awal. Yuk berangkat kita isi perut dulu." Karla langsung berlalu menuju meja makanan. Andara dan Amel mengekor di belakang.


"Mohon perhatian, sebentar lagi acara dimulai." Pembawa acara berdiri di atas panggung memberikan pengumuman.


Seluruh tamu undangan segera menghadap ke panggung. Vanya dan orang tuanya juga terlihat naik diatas panggung. Hanya Andara, Amel dan Karla yang acuh tak acuh pada acara dan malah sibuk dengan makanan yang ada di hadapan mereka.


Acara dibuka dengan sambutan dari pihak orang tua Vanya yang menyampaikan tujuan acara hari ini dan ucapan terima kasih pada para tamu undangan.


Sampailah mereka di acara inti. Terdengar lagu selamat ulang tahun yang dinyanyikan oleh para tamu undangan. Diiringi dengan permainan piano yang sangat indah. Andara, Karla dan Amel masih sibuk mecicipi berbagai jenis makanan sambil sesekali mata mereka melirik ke arah panggung.


"Mana tunangannya?" Tanya Karla.


Amel mengangkat bahu.


"Jangan-jangan kabur." Andara iseng menjawab yang dihadiahi pukulan dan tatapan tajam dari sahabat-sahabatnya.


"Aaw sakit tau!! Aku becanda doang!!" Andara berteriak tertahan sambil sedikit mundur menghindari pukulan sahabat-sahabatnya yang datang bertubi-tubi.


Suara Andara dan teman-temannya yang berisik, belum lagi tingkah mereka yang tidak bisa tenang, mendadak jadi pusat perhatian para tamu undangan yang berada tak jauh dari mereka. Namun itu tidak berlangsung lama. Para tamu hanya penasaran dengan yang terjadi, kemudian kembali memusatkan perhatian ke arah panggung.


"Ngomong yang bener, kedengeran Vanya lenyap sudah kesempatan kita dapet hadiah." Karla melotot.


"Astaga lupa!!" Seru Andara sambil menepuk dahinya.

__ADS_1


Tiba-tiba, lengan Andara dicengkeram dengan kuat dari arah belakangnya.


"Kamu ngapain di sini?!!" Suara tajam dari pemilik tangan yang mencengkeram lengan Andara terdengar sangat menakutkan.


__ADS_2