
Drrtt.. Drtt..
Ponsel Andara kembali berdering. Nyaring suaranya menarik perhatian seluruh manusia yang ada di dalam mobil yang dikendarai Papi Betrand.
"Mi, ini gimana bilangnya? Dari tadi udah gak di jawab nih, sekali lagi gak dijawab bisa-bisa Dara dapet payung cantik nih Mi." Andara tampak cemas saat menunjukkan layar ponselnya yang terus berkedip.
"Udah gak usah diladeni, biarin aja. Pura-pura aja gak tau sayang. Lagian enak kan dapet payung cantik, bisa buat mejeng." Mami Soraya menjawab dengan terkekeh.
"Tapi Mi, kalau payung dari Kenzo, Dara pikir-pikir lagi deh Mi. Dara belum berani ambil resiko dilempar payung sama Kenzo Mi. Tolongin lah Mi, ini Dara kudu bilang apa?" Andara terus mencicit.
"Ini para pria di keluarga Harjanto kenapa sama-sama merepotkan ya. Ditinggal jauh dikit aja gak bisa, selalu nelpon terus tiap menit. Gak kakeknya, gak anaknya, sekarang cucunya juga gitu. Dosa apa Mommy di masa lalu bisa dapet cobaan kayak gini." Celetuk Nenek.
"Itu ungkapan cinta, Mom. Artinya kita tuh gak pengen jauhan dari orang yang kita sayang." Papi menyahut sambil terus mengemudikan mobilnya.
"Tinggal bilang aja kalau posesif, pakai kemana-mana jelasinnya. Udah Dara, biarin aja. Jangan dijawab. Nanti kalau dia marah serahin aja sama kakek. Hehe bener kan Dad?" Omel Mami Soraya.
Terdengar kakek menghembuskan nafas keras.
"Selalu Daddy yang jadi tameng buat nyelesain urusan kalian." Kakek tertawa tertahan saat berbicara.
Panggilan telepon dari Kenzo pun sekali lagi diabaikan oleh Andara. Wajah cemasnya tidak bisa lagi disembunyikan. Entah apa yang gadis itu pikirkan, sekarang otaknya hanya dipenuhi dengan satu kalimat, ingin cepat bertemu dengan sosok yang sudah membuatnya merasa tenang selama ini.
***
"Sayang, kita duduk di mana?" Tanya nenek setibanya mereka semua di aula besar SMA Granatala yang telah disulap menyerupai ballroom mewah dengan desain elegan yang dipenuhi bunga di setiap sudutnya.
"Bapak Harjanto." Suara asing terdengar dari balik punggung mereka.
Semua mata menoleh pada sumber suara. Seorang lelaki berkacamata dan berpakaian rapi, tersenyum menundukkan kepala memberi hormat.
"Izinkan saya mengantar keluarga Bapak Harjanto ke tempat yang telah di sediakan." Ujar lelaki itu.
"Oh baiklah, terima kasih Pak." Sahut Kakek.
Mereka semua mengekor di belakang kakek yang juga mengikuti langkah lelaki tersebut. Andara berada paling belakang dengan tangannya selalu digandeng oleh Mami Soraya, seakan wanita itu takut jika Andara menghilang.
Ini sih bukan cuma para lelaki keluarga Harjanto aja yang posesif, para wanita juga. Apa aku juga kayak gitu ya kalau udah masuk di keluarga Harjanto? Isshh astaga, mikir apa sih kamu Dara. Batin Andara bertentangan, dengan refleks Andara menggeleng-gelengkan kepalanya.
Mami Soraya yang menyadark itu, mengalihkan pandangannya pada Andara dan menatapnya heran.
"Kenapa sayang? Pusing?" Tanya Mami Soraya.
"Hehehe gak Mi." Jawab Andara gugup.
Mereka pun sampai di meja bundar tak jauh dari panggung dengan papan kecil berisi tulisan keluarga Harjanto dibagian tengah meja. Andara duduk diapit nenek di sisi kirinya, dan Mami Soraya yang duduk di samping kanannya. Sedangkan kakek dan papi Betrand ada di sisi masing-masing pasangannya.
Apa kayak gini yang namanya menunggu sesuatu yang dinantikan? Duh rasanya dadaku mau meledak. Berdetaknya yang santai aja, woi jantung! Batin Andara bersorak.
Andara terus tersenyum sambil memandangi panggung. Dirinya benar-benar tidak sabar untuk mengetahui reaksi Kenzo. Andara tidak sadar, ada sosok lain yang sudah memperhatikannya dari balik punggungnya.
"Dara sayang, jangan senyum-senyum sendiri, Papi takut kamu kesambet. Ntar Papi harus ngomong apa dong sama Ayah Bundamu kalau anak gadisnya ini kesambet pas ikut Papi ke sini?" Sindir Papi Betrand saat melihat senyum Andara tidak lepas dari mulutnya sejak tadi.
Sontak semua pasang mata yang ada di meja itu menatap Andara dengan tawa meremehkan.
"Dasar anak muda, baru sebentar gak ketemu udah kayak gitu. Kangen banget ya Dara?" Suara kakek bertanya.
"Eh tangan Andara sampai dingin banget gini. Hahaha kamu gugup Dara?" Nenek semakin membuat wajah Andara memerah.
"Ini tuh wajah anak gadis baru jatuh cinta. Merah dan malu-malu mau." Sindir Mami Soraya sambil terkekeh.
Andara menunduk wajahnya, menyembunyikan raut kemerahan di wajahnya.
Apa benar ini yang namanya jatuh cinta? Serius, mukaku panas banget. Batin Andara berteriak.
"Kayak kamu ya sayang, malu-malu kucing." Papi Betrand menyikut lengan istrinya.
"Kalau kalian itu malu-maluin." Sindiran kakek langsung terucap tiba-tiba.
Semua tertawa mendengar kata-kata kakek. Tangan Mami Soraya meraih tangan Andara, menekannya lembut. Wajahnya menatap wajah Andara. Mata teduh itu sekarang saling menatap. Binar kebahagiaan jelas terpancar pada keduanya.
__ADS_1
"Terima kasih sayang." Lirih Mami Soraya berkata, sambil tersenyum. Andara hanya mampu tersenyum sambil balas meremas tangan Mami Soraya.
"Selamat pagi Pak Harjanto." Sapa seseorang yang sudah berada di sebelah kakek. Tangannya terulur hendak menyalami kakek.
Semua mata melihat ke arah yang sama. Kakek tersenyum sambil membalas uluran tangannya.
"Eh Erwin. Baru datang?" Sapa kakek.
"Iya Pak. Saya kan disini hanya tamu undangan." Jawab lelaki yang bernama Erwin itu sambil bergantian menyalami nenek yang disambut ramah oleh nenek.
"Hei Betrand, Soraya, kalian datang." Pak Erwin mengalihkan pandangannya dan menyalami Mami Papi.
"Sendiri? Ke mana anak dan istrimu?" Tanya Papi seraya membalas uluran tangan Pak Erwin.
"Itu, sedang berjalan di belakang." Jawab Pak Erwin sambil menunjuk belakang Papi Betrand dengan ujung dagunya.
Pandangan mata Papi Betrand teralihkan.
"Wah, datangnya rombongan juga nih." Celetuk Papi Betrand.
"Hahaha tentu saja, aku membawa serta calon menantuku. Dia yang bersekolah di sini. Kau kan tau sendiri anakku bukan lulusan Granatala." Pak Erwin menjelaskan sambil tertawa.
"Tak masalah lulusan mana pun. Di mana mejamu?" Tanya Papi Betrand.
"Tepat di samping kananmu. Antoni belum datang?" Tanya Pak Erwin lagi.
"Kau tau sendiri bagaiman dia." Jawab Papi Betrand sambil terkekeh.
Mami Soraya kembali meraih tangan Andara yang ada di bawah meja. Menggenggamnya dengan erat dengan mata ragu yang menatap Andara. Wajah Andara berubah bingung saat diperlakukan seperti itu oleh Mami Soraya. Saat hendak membuka mulut untuk bertanya, suara wanita lain menginterupsi.
"Selamat pagi semua." Sapa wanita itu.
Sontak seluruh mata beralih pada pemilik suara itu kecuali Mami Soraya yang memperhatikan wajah bingung Andara.
Wanita tadi menyalami satu per satu yang ada di meja, tak terkecuali Andara.
"Baru tadi dini hari." Jawab Mami singkat.
"Wah siapa anak cantik ini?" Tanya wanita itu.
"Oiya semuanya, kenalkan ini Andara." Papi Betrand berdiri sambil mengenalkan Andara.
Seketika tatapan Pak Erwin mengeras. Begitu juga dengan wanita tadi. Tapi secepatnya langsung ditutupi. Andara yang menyadari itu semakin bingung. Terlebih tangannya semakin digenggam erat oleh Mami Soraya.
Andara pun berdiri, mencoba mengulurkan tangan untuk menyalami kedua pasangan suami istri itu.
"Pagi om, tante, saya Andara." Ucap Andara sopan.
Pak Erwin dan istrinya tersenyum canggung sambil membalas uluran tangan Andara.
"Pagi juga Andara." Balas mereka.
Andara merasakan punggungnya diusap lembut oleh dua tangan yang berbeda. Diliriknya Mami Soraya yang wajahnya tampak cemas. Andara beralih pada nenek yang wajahnya tak jauh beda dengan Mami Soraya, tegang dan cemas.
Ada apa sih ini sebenarnya? Batin Andara.
"Kak Dara!" Terdengar suara ceria berteriak memanggil Andara dari balik punggungnya.
"Vanya!!" Andara berbalik badan dan berseru, suaranya tak kalah ceria.
Andara segera melangkah menuju Vanya yang sudah mendekati kursinya. Kedua gadis itu berpelukan sangat erat, dengan senyum lebar yang penuh ketulusan, seakan mereka sahabat yang telah lama saling kenal. Semua mata memperhatikan interaksi mereka dengan tegang, seperti bersiap-siap menunggu kejutan yang akan terjadi. Sepasang mata terus mengawasi Andara dengan sorot tajam dan jelas menunjukkan ketidaksukaan.
"Apa kabar Vanya?" Tanya Andara setelah melepas pelukannya.
"Baik. Kak Dara sendiri gimana? Ciee ada yang udah resmi nih? Bener kan kata Vanya, kalau Kak Dara itu cinta sama Kak Kenzo." Cerca Vanya sambil berbisik saat akhir kalimat di telinga Andara.
"Ih apaan sih. Gak kok!" Wajah Andara kembali memerah.
Tawa kedua gadis itu menggema.
__ADS_1
"Kalau gak, kenapa sekarang ada di sini? Ini kan hari penting buat Kak Kenzo." Vanya masih belum menyerah untuk menyelidiki.
"Udah ah. Kepo aja sih!" Andara pura-pura merajuk, memajukan bibirnya hingga tampak sangat menggemaskan.
Vanya tertawa menyaksikan wajah itu. Namun tawanya terhenti berganti wajah tegang saat suara bariton datang dari sampingnya. Suara itu pula yang membuat wajah para orang tua disekitar mereka semakin tegang.
"Cantik." Suara itu memanggil. Entah pada siapa ditujukan. Kini Vano telah berdiri di antara Andara dan Vanya. Matanya menatap Andara tapi lengannya melingkar di pinggang Vanya.
Andara yang hafal dengan suara itu, seketika jantungnya langsung berdegup kencang. Kenangan malam prom night kembali menguasai pikirannya. Namun Andara segera menepisnya. Mengganti wajah takutnya menjadi senyum yang dipaksakan.
"Hai Vano." Andara menyapa singkat dengan senyum yang selalu menempel di bibirnya.
Vano bergeming. Matanya menatap tajam pada Andara. Papi Betrand yang menyadari suasana tegang dan canggung yang menyelimuti mereka, langsung berinisiatif untuk mendekati Andara.
"Wah senangnya kalau semua sudah saling kenal gini. Yang akur ya, kan kalian itu saudara." Ucap Papi Betrand sambil memegang kedua pundak Andara.
Andara dan Vanya mengangguk sambil tersenyum. Namun Vano masih terlihat angkuh dengan sorot mata yang tidak berubah sama sekali.
Giliran Mami Soraya yang bertindak saat melihat semua itu. Secepatnya Mami Soraya merengkuh tubuh Andara dan menariknya mendekati tubuhnya.
"Kalian anak-anak hebat, pasti bisa menjaga diri. Ayo duduk, sebentar lagi di mulai." Mami Soraya memutuskan interaksi diantara mereka.
Pak Erwin dan istrinya mengangguk, dan akan beranjak ke kursi yang sudah disediakan untuk mereka, hingga suara kakek menghentikan langkah mereka.
"Kenapa dengan wajahmu Vano?"
Semua mata menatap Vano dengan penuh tanya. Namun Vano tetap bergeming, matanya hanya menatap Andara. Wajah Andara kembali menegang, khawatir yang ditutupinya selama ini akan terbongkar.
"Gak kenapa-napa Kek, hanya masalah kecil antar lelaki aja. Tenang aja Kek, Vano bisa mengatasinya." Jawab Vano angkuh sambil matanya melirik Andara.
"Ya udah, kalian duduk semua." Suara Kakek membubarkan percakapan mereka.
Semua orang kembali ke posisi masing-masing.
"Sampai nanti Kak Dara." Ujar Vanya saat akan melangkah menuju kursinya.
"Oke Vanya, sampai ketemu lagi." Jawab Andara santai.
Andara kembali duduk di samping nenek dan Mami Soraya. Dilihatnya wajah yang ada disekitarnya.
Jadi begini maksudnya? Pantas aja semuanya mencercaku dengan berbagai pertanyaan dan membombardirku dengan banyak petuah. Sekarang aku tau, bahwa ada seseorang yang belum bisa berhenti melakukan kekonyolannya. Bahwa akan ada resiko besar dari keputusan yang aku ambil. Batin Andara.
"Tapi aku gak takut." Suara lirih Andara menarik perhatian nenek dan Mami Soraya yang tepat ada di sampingnya.
"Ada apa sayang?" Tegur Mami Soraya.
"Apa yang kamu pikirkan Dara?" Nenek ikut bertanya.
Andara menatap Mami Soraya dan Nenek satu per satu. Dengan senyum hangat ia menggenggam tangan wanita yang ada di sampingnya seraya berkata.
"Nenek, Mami. Jangan pasang wajah tegang seperti itu. Dara sama sekali gak ada masalah dengan Vanya dan Vano. Dara udah tau semua kok dan Dara benar-benar udah melepaskan Vano. Di hati Andara udah gak ada Vano. Jadi santai aja ya. Dara udah gak mikirin dia sama sekali." Ucap Andara dengan pasti.
Nenek dan Mami Soraya menatap Andara dengan tersenyum. Tangannya menggenggam lembut tangan Andara.
"Kamu anak baik sayang." Ujar Mami Soraya
"Terima kasih Dara. Kamu hebat." Puji Nenek.
Mereka pun kembali duduk dan menunggu acara pelepasan di SMA Granatala di mulai. Wajah tegang yang sempat tersemat pada masing-masing wajah mereka, kini perlahan memudar.
Drrt.. Drttt..
Nada notifikasi masuk di ponsel Andara.
Jangan harap kamu bisa lepas dariku, meski kamu memilih berada di sisi itu. Jika aku gak bisa memilikimu, jangan harap dia ataupun orang lain juga bisa memilikimu. Kamu hanya milikku.
Andara mendesah lelah membaca pesan dari seseorang yang pernah mengisi hatinya.
Tak ku sangka, seperti ini rupa aslimu, Vano. Ini bukan cinta Vano, ini obsesif. Aku harus siap menghadapimu. Batin Andara.
__ADS_1