MENTARI YANG TERSEMBUNYI

MENTARI YANG TERSEMBUNYI
SISI LAIN DAVIN


__ADS_3

"Dan kamu Mikha, baru saja melanggar janjimu sendiri. Sekarang terima hukumanmu."


Gleek..


Aku menelan ludahku kasar. Kenapa kamu bodoh sekali sih Kay!! Kan kamu sudah melihat sendiri, tadi Bang Arka mengunci pintu kamar ini, kenapa dengan cerobohnya kamu malah mencoba kabur? Lihat sekarang, kamu malah menambah bensin dalam kobaran api.


Aku terus merutuki tindakan cerobohku. Aku menyesali yang sudah ku lakukan. Kini aku hanya tinggal menanti hukuman, entah apa itu, dari Bang Arka. Ini seperti bumerang, aku yang melempar, aku pun yang terkena.


"Bang, maaf, aku gak bermaksud seperti itu. Aku hanya ingin keluar Bang. Aku gak mau dikurung disini. Apa kata orang jika melihat kita seperti ini? Omongan istrimu tadi sepenuhnya benar Bang, aku yang salah dan melanggar batas." Aku menunduk saat mengucapkannya. Teringat kata-kata yang menyayat hatiku tadi. Bang Arka tajam menatapku.


Aku berniat melepas diri dari kungkungan lengan Bang Arka yang mendesakku hingga menempel ke tembok. Aku terus berusaha menggeser lengannya, tapi rasanya tak berubah sedikitpun. Lengannya terlalu kokoh mengurungku. Aku memukul pelan dada bidang Bang Arka.


"Kenapa kamu peduli ucapan mereka? Kamu tidak meminta makan dan penghidupan dari mereka." Bentak Bang Arka. Ah akhirnya dia bersuara lagi. Entah kenapa aku sedikit lega mendengar suaranya.


"Aku gak ingin dicap sebagai pelakor Bang. Aku punya harga diri dan aku harus menjaga nama baikku juga orang tuaku." Aku terus bersuara.


"Kamu bukan pelakor. Kenapa kamu mengkhawatirkan sesuatu yang konyol, yang kamu sendiri tau jawabannya? Kenapa kamu terlalu memusingkan sesuatu yang tidak perlu? Mereka tidak tau kenyataannya, mereka hanya bisa mencemooh. Jadi kenapa kamu peduli dengan segala omong kosong mereka?" Cerca Bang Arka.


"Semua orang pasti akan berpikir demikian Bang! Apa yang ada di pikiran mereka, jika mendapati wanita lain tidur di kamar seorang lelaki yang berstatus suami orang? Dan yang lebih parahnya, istrinya memergokinya! Semua tuduhan akan mengarah padaku, Bang?" Aku mulai membentaknya.


"Dan apa pedulimu dengan pemikiran mereka, Mikha? Kamu tau itu tidak benar, jadi berhentilah berpikir yang aneh-aneh! Jangan dengarkan mereka. Cukup dengarkan aku. Percaya padaku." Bang Arka balas membentakku.


"Lalu, katakan pada mereka Bang. Beritahu mereka keadaan sesungguhnya. Beritahu mereka aku bukan perusak rumah tanggamu!" Aku kembali terisak. Dadaku bergemuruh, nyeri menyayat hatiku.


Lengan kokoh itu merengkuh tubuhku, membawaku bersandar di dada bidangnya. Hangat dan nyaman. Rasa baru yang mulai ku rasakan sejak beberapa hari lalu saat bersama Bang Arka.


"Kenapa pikiranmu selalu terbang tak terkendali, Mikha? Apa yang coba kamu buktikan? Apa yang coba kamu sanggah? Biarkan saja mereka semua. Dan kamu, jangan mengkhawatirkan sesuatu yang belum tentu terjadi. Tetanggaku bahkan tidak peduli ada kejadian apa di rumah ini!" Suara Bang Arka sudah kembali lembut. Tangannya mengusap lembut punggungku.


"Aku takut Bang. Aku takut. Aku baru pertama kali diperlakukan seperti tadi. Sakit banget Bang. Bukan karena tamparan, tapi ucapannya benar-benar membuat mentalku down." Aku sesenggukan.


"Jadi tamparan tadi gak sakit?" Suara Bang Arka kembali jahil.


Aku mendongak, menatap matanya. Dasar tak tahu malu, setelah membentakku seperti itu, kini dia mencoba menggodaku.


"Penting untuk dijawab ya?" Aku memberinya tatapan sinis, ku dorong tubuh Bang Arka.


Eh bergerak menjauh? Aku mendesah mendapati tubuh Bang Arka bergeser. Dia sengaja mengurungku ternyata. Ku lirik wajahnya, ia sedang tersenyum jahil.


"Aku pulang ya Bang. Aku gak mau ada yang mikir macem-macem. Nanti Mas Hadi sama Bi Sumi malah jadi gimana gitu." Aku hendak memegang gagang pintu saat sekilas aku melihat wajah Bang Arka kembali dingin.


Aku kembali menatapnya. Aduh, salah apa lagi kamu, Kay? Aku mencoba memetakan letak kesalahanku kali ini. Tapi tetap tidak berhasil. Kenapa sih Bang? Aku kan bukan titisan cenayang sepertimu. Katakan Bang, jangan hanya diam.


"Apa Bang? Kenapa menatapku begitu? Ngomong Bang Arka! Sakit gigi ya? Jangan diem bae! Dikira aku titisan paranormal kali ya." Aku berusaha melucu. Lha, gagal juga ternyata! Sudah, pasrah saja, Kay!


"Kamu lupa aku bilang apa tadi?" Yes, dia membuka mulutnya.


"Apa emangnya?" Nada suaraku tak sengaja ku setel ke mode songong.


Benar saja, langkah Bang Arka kembali memaksaku bergerak mundur dan membentur tembok. Hah, aku dalam kungkungan lengannya lagi.


"Abang bilang, Abang gak suka kamu memanggilnya Mas. Ubah panggilanmu, Mikha. Itu mengganggu telinga Abang!" Wajah Bang Arka mendekat ke wajahku saat mengatakannya. Aku bergeming, takjub dengan setiap kata yang baru saja dikatakan Bang Arka.


Apa benar yang ku dengar, Bang Arka seperti tidak terima aku memanggil Mas Hadi kan? Benarkan seperti itu? Tapi kenapa? Otakku langsung berangan tinggi.


"Dan akan ku pastikan, kamu akan menerima hukuman jika terus melakukannya!" Ancam Bang Arka. Aku merinding mendengarnya.

__ADS_1


"Apa yang salah sih Bang? Orang Mas Hadi aja gak masalah, dia terima aja ku panggil Mas. Kenapa Abang yang protes?" Aku membantahnya.


"Baik, kamu yang memaksa Abang, Kay." Suara Bang Arka mendadak serak.


"Eh?" Aku mendadak gugup melihat wajah kami semakin dekat. Aku memundurkan tubuhku namun sayangnya sudah membentur tembok.


Cup..


Mataku membelalak saat merasakan sentuhan hangat di bibirku. Aku terdiam. Menerawang menatap ke langit-langit kamar. Masih meresapi setiap sentuhan hangat di bibirku. Masih menunggu otakku menerima sinyal, bahwa semua ini nyata.


Jantungku berdegup tak beraturan. Entah perasaan apa ini. Dan entah apa yang ku pikirkan. Aku ingin berontak saat sadar yang sedang terjadi. Namun sebagian hati dan tubuhku sepertinya malah... menikmatinya.


Aku memejamkan mata saat tubuhku di rengkuh semakin dekat dalam pelukan Bang Arka. Air mataku meloloskan diri. Ada rasa kecewa pada diriku sendiri yang tidak bisa membuat benteng kokoh.


Ciuman Bang Arka terlepas saat merasakan bibirku tidak memberikan balasan. Bagaimana aku bisa membalas, jika aku masih meraba-raba yang sedang terjadi? Ada apa ini? Kenapa jadi seperti ini? Ada apa denganku?


"Kamu cantik hari ini, Mikha. Dan Abang suka melihatmu di sini. Dan maaf untuk mencuri ciumanmu. Abang hanya lelaki normal." Lirih suara Bang Arka dari ceruk leherku.


Entah apa yang ku rasakan kini. Aku mendadak kaku. Namun lidahku dengan santainya merangkai kata.


"Ini bukan yang pertama kali untukku. Danen yang pertama mencuri ciumanku."


Mata Bang Arka kembali nyalang menatapku. Dahinya berkerut dalam. Tengkuk leherku ditariknya lagi.


Cup..


Ciumannya kini semakin ganas bermain di mulutku. Ada apa denganmu Bang? Kali ini aku mencoba untuk melawan. Aku berontak meski hati dan tubuhku, entah karena alasan apa, menginginkan sentuhan ini.


"Lepas.. Lepaskan Kay Bang. Abang kenapa sih. Sudah cukup Bang." Aku berkata lirih sambil terus berontak.


Dengan nafas tersengal Bang Arka berkata, "jangan menyebut nama sampah itu lagi di hadapanku, Mikha! Dan jangan sebut nama lelaki lain di hadapanku! Kamu dengar itu, Mikha?"


"Jangan harap kamu lepas dariku. Kamu hanya milikku Mikha." Ancam Bang Arka.


"Jangan gils dong Bang. Abang itu milik Adinda Bang. Dan aku milik diriku sendiri." Bantahku.


"Tunggulah. Aku pastikan kamu akan jadi milik Abang."


Aku mengangkat kedua alisku. Memberinya tatapan perlawanan.


"Kita hanya saling nyaman Bang. Bukan saling cinta. Bukankan itu filosofi yang Abang ajarkan ke aku tempo hari. Jangan konyol Bang. Kamu senang sekali menjilat ludahmu sendiri!" Sindirku.


Filosofi konyol yang diajarkan Bang Arka terus membekas diingatanku. Karena memang benar, kondisi saat ini, tak ada rasa apapun untuk Bang Arka selain rasa nyaman. Mungkin kami terjebak dalam kenyaman friendzone. Tapi entahlah, memang ada rasa baru namun masih enggan ku namai.


"Kamu tunggu saja. Kenyamanan ini berlabuh kemana! Abang hanya butuh membuktikan satu hal. Jika sesuai dugaan Abang, maka jangan harap kamu lolos dari Abang. Cepat atau lambat, kamu akan jadi milik Abang." Seru Bang Arka.


"Ini tentang apa Bang? Ada hubungannya denganku? Atau Adinda?" Tanyaku.


"Hubungan antara aku, kamu dan dia." Jawab Bang Arka. Aku membelalakkan mata. Selamat Kay, kamu benar-benar telah masuk terlalu jauh dalam kehidupan rumah tangga Bang Arka.


"Dan.. Kalau.. Sesuatu yang mau Abang buktikan itu, tidak sesuai dugaanmu, maka apa yang akan terjadi? Apa yang akan terjadi denganku?" Aku mendadak ngeri dengan pikiran yang tiba-tiba melintas dibenakku.


Apa untungnya ini untukku? Aku merasa aku yang di rugikan. Aku benar-benar harus menjauh dari lelaki ini. Aku mendadak takut. Namun, tak ku pungkiri, rasa nyaman yang diberikan Bang Arka seakan membelengguku. Rasa nyaman yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Sanggupkah aku menjauh?


"Aku.. Aku.." Bang Arka gugup menjawab pertanyaanku.

__ADS_1


Hah ternyata rencanamu belum sempurna Bang. Kamu hanya memasukkan aku, tanpa melengkapi aku dengan amunisi bertempur. Bahkan, jalan keluar untukku pun belum kamu siapkan, Bang.


Lalu apa yang bisa aku harapkan? Apa yang bisa aku percaya? Jangan mengatakan sesuatu yang konyol Bang. Aku baru saja keluar dari kekonyolan yang dilakukan mantan kekasihku dan sahabat baikku. Jangan buat aku menertawakanmu Bang.


"Sudah Bang, jangan meneruskan sesuatu yang kamu tidak tau tujuannya. Kita jalan di jalan masing-masing aja. Kita kembali dari awal aja Bang agar tidak saling menyakiti dan keluar batas." Aku mengakhiri perjuangan Bang Arka untuk menjawab pertanyaanku tadi.


Bang Arka menatapku nanar.


"Pilihannya hanya, kita berteman sewajarnya atau kita cukup tau satu sama lain sebagai seorang yang pernah menolong dan ditolong. Aku sungguh tak sanggup menanggung beban berat lagi Bang. Aku mau bahagia. Aku mau berjalan dengan menatap ke depan, bukan menunduk karena malu." Ujarku.


"Kenapa kamu harus malu?" Bang Arka mengernyit.


"Apa kata orang jika melihat kita masih berdekatan seperti ini? Statusmu, akan membuatku terpelosok ke lembah hitam penuh lumpur dan duri Bang." Lirih ku berkata.


Bang Arka memelukku erat, "aku tak akan membiarkan kamu terluka, Mikha. Percayalah."


"Aku percaya padamu Bang. Tapi, tolong beritahu mereka! Beritahu mereka yang sesungguhnya."


"Aku sudah bilang, jangan memikirkan sesuatu yang belum terjadi." Bang Arka menenangkan ku.


Aku diam, tak ingin menjawab.


"Aku punya kado kelulusan untukmu. Tunggu disini." Bang Arka melepas pelukannya. Dia berjalan keluar kamar.


Aku berjalan menuju ranjang. Terduduk disana dengan perasaan hampa. Kenapa menjadi seperti ini? Pertanyaan demi pertanyaan menggelayuti hatiku.


Jika aku menjauhinya, aku merasa hampa. Jika aku terus berdekatan dengannya, maka hidup dan masa depanku dipertaruhkan. Aku harus segera mengambil keputusan.


Ku lirik Bang Arka sudah masuk kembali ke kamar sambil menenteng bunga, boneka beruang dan bingkisan coklat yang banyak. Ah apa aku bisa menjauh dari lelaki yang telah membantuku bangkit dan memberikan aku kenyamanan ini, setelah tragedi itu?


"Mikha, kenapa ngelamun? Ini." Bang Arka membuyarkan pikiran kosongku. Aku menatapnya, tangannya telah terulur memberiku hadiah.


"Selamat atas kelulusanmu. Semoga kedepannya semakin lancar." Doa tulus dia panjatkan.


"Makasi Bang." Aku meraih hadiahnya. Tersenyum manis pada Bang Arka. Aku memang suka hadiah-hadiahnya.


"Bang.. Aku anggap, ciuman tadi adalah hadiah kelulusan untukku juga." Aku berkata lirih sambil menarik nafas dalam.


"Bang, makasih untuk semua bantuan dan perhatian yang Abang beri untuk Kay. Makasih untuk kenyamanan yang Abang ciptakan untuk Kay. Makasih untuk--"


"Cukup! Jangan teruskan omonganmu. Aku gak mau dengar!" Suara Bang Arka memotong ucapanku.


"Dengarkan aku Bang. Makasih untuk semua yang udah Abang kasih untuk Kay. Entah apa jadinya Kay tanpa Abang malam itu. Makasih juga sudah membantu menyembuhkan luka Kay." Aku menarik nafas panjang sebelum mengatakan keputusanku.


"Kita, sudahi semua ini Bang. Anggaplah aku hanya gadis kecil yang kamu tolong. Sudah, hanya itu saja Bang, gak lebih." Bagus Kay! Tegaslah mengambil keputusan. Jaga dirimu sendiri, jangan mengandalkan orang lain.


"Apa yang mau kamu sudahi, Mikha? Bahkan kita belum memulainya." Bang Arka kembali mencengkeram tanganku. Matanya kembali nyalang menatapku. Atmosfir diantara kamu menjadi dingin.


"Benahi dulu hidupmu Bang. Aku gak siap berada diantara kalian. Aku bukan gadis murahan, aku menjaga diriku dengan maksimal, kamu tau itu Bang!" Aku meneteskan air mata saat mengatakannya.


Cengkeraman Bang Arka mengendur. Dia memundurkan langkahnya. Kata-kataku menamparnya dengan cukup keras. Matanya menghangat menatapku.


Hatiku perih, namun harus dilakukan agar tak semakin bimbang. Dan aku sudah memilih.


"Aku pamit Bang. Aku terima semua ini. Ku anggap ini kenang-kenangan darimu." Aku keluar kamar dengan air mata bercucuran.

__ADS_1


Segera ku masuki mobilku, menyalakannya dan keluar dari halaman rumah Bang Arka.


Terima kasih Bang untuk semuanya.


__ADS_2