
"Ken, beneran nih gak masalah kalau nanti malam aku ikut kamu lagi?" Tanya Andara ragu, saat mereka turun dari mobil dan berjalan hendak masuk ke kediaman Harjanto.
"Berapa kali lagi sih aku harus bilang sayang? Gak masalah, Yang. Malah kamu harus ikut. Aku udah janji mau ngasih kamu kenangan terakhir yang indah saat SMA." Jawab Kenzo dengan mantap.
"Hmm baiklah." Andara menjawab dengan menunduk. Hatinya masih bimbang, terlebih dengan kejadian yang baru saja terjadi di hadapannya.
Kenzo menghentikan langkahnya, menarik Andara untuk menatapnya.
"Apa kamu meragukanku, sayang? Apa kamu gak percaya kalau aku bisa ngelindungin kamu?" Tanya Kenzo dengan raut muka serius.
"Aku hanya gak pingin kamu dapat masalah Ken." Lirih Andara berkata.
"Akan jadi masalah kalau kamu gak datang, sayang. Dan iya, masalah akan selalu datang, tapi kita akan hadapi bersama, setuju?" Kenzo menatap dalam manik coklat Andara.
Andara tersenyum dan mengangguk pasti.
"Asal bersamamu, aku yakin kita bisa."
Kenzo membelalakkan matanya, seakan tak percaya kata-kata yang baru saja dikeluarkan gadis pujaannya.
"Belajar ngegombal dari mana sayang? Aku sampai merinding dengernya." Kenzo coba menggoda Andara.
Dengan cepat Andara menutup mukanya. Malu karena tanpa sadar mengucapkan kata-kata yang menggelikan menurutnya. Kenzo terkekeh dan meraih tubuh Andara, membenamkannya dalam pelukan.
"Jangan malu. Aku seneng dengernya. Secara gak sadar, kamu udah ngeluarin isi hatimu. Tapi, entah kenapa aku tetap pingin denger kamu ngungkapin langsung kata cinta itu, Yang." Bisik Kenzo tepat ditelingan Andara dan dibalas Andara dengan pukulan kecil di dada lelaki itu.
"Ayo kita masuk. Istirahat dulu sambil nunggu waktu buat nanti malam." Ajak Kenzo sambil membimbing Andara masuk ke dalam rumah.
Sesampainya di dalam rumah, mereka menunggu di ruang keluarga. Kenzo sibuk dengan ponselnya.
"Ken, setelah Mami datang, aku balik ya? Aku mau siap-siap juga dong, Ken." Ujar Andara.
"Kamu bisa siap-siap di sini sayang." Jawab Kenzo dengan mata yang masih menatap ponselnya.
"Bajuku di rumah Kenzo. Dan kamu seperti sibuk." Andara menyindir Kenzo.
Sadar dengan sindiran Andara, Kenzo menyudahi bermain dengan ponselnya.
"Maaf, aku sedang koordinasi untuk nanti malam. Aku gak ingin ada yang kurang." Lirih Kenzo berkata.
"Makanya Ken, aku pulang aja biar kamu bisa tenang nyiapin semuanya. Toh nanti malam kan kita ketemu." Ujar Andara.
Kenzo menatap mata Andara, mencoba mencari kekesalan di matanya. Namun Kenzo tidak menemukannya. Ia mengambil nafas panjang dan berkata.
"Baiklah, aku akan mengantarmu pulang sayang, tunggulah bentar lagi." Kenzo akhirnya mengalah.
"Aku bisa pulang sendiri Ken." Tantang Andara.
"Aku antar atau tetap di sini." Balas Kenzo dengan tegas.
Ini warna lain yang kamu sajikan untukku, Ken, setelah kita semakin dekat. Sifat posesifmu semakin menjadi. Tapi entah kenapa aku malah menikmatinya. Batin Andara bersorak.
Andara menatap Kenzo lama dan tersenyum riang.
"Kenapa sayang?"
"Eh, gak kenapa-napa kok, Ken." Andara malu mengakuinya.
"Baiklah. Tunggulah bentar lagi sampai Mami datang, aku akan mengantarmu. Sekarang bolehkan aku memegang ponselku lagi?" Kenzo meminta izin pada Andara dengan mimik wajah yang lucu.
Andara terbahak-bahak menyaksikan pemandangan itu. Ia mengangguk sebagai jawabannya.
Mereka pun menunggu hingga rombongan keluarga Harjanto pulang. Tak lama setelahnya, Andara pamit pulang.
***
Senja telah turun, berganti gelap yang menguasai saat Andara keluar dari kamarnya.
"Bunda.. Oh Bunda.. Bunda di mana sih? Bunda!!" Andara berteriak sambil mengelilingi rumah, mencari keberadaan Bunda Rania.
"Bunda di mana? Bunda." Andara terus berteriak.
Ayah Josh keluar dari kamar dengan wajah lusuh.
"Berisik banget sih Dara. Udah kayak di hutan aja. Ada apa sih?" Tanya Ayah Josh.
__ADS_1
Andara menatap Ayah Josh yang berdiri di ambang pintu.
"Lho, Ayah di situ? Bunda mana? Dari tadi Dara gedor-gedor kamarnya kok gak jawab, pada ngapain sih?" Andara kaget mendapati ayahnya berdiri di depan kamar.
Dengan santainya Andara berjalan hendak masuk ke kamar orang tuanya. Namun tangan kekar Ayah Josh menghalangi.
"Mau kemana?" Ayah Josh bertanya.
"Cari Bunda." Jawab Andara dengan bingung.
"Tunggu di luar aja, Ayah yang manggil." Ayah memerintah.
"Kenapa sih? Dara cuma mau masuk aja kok. Dara mau minta dirias Bunda doang, Ayah." Andara memaksa.
"Ya udah tunggu aja di luar. Ayah yang panggil Bunda." Ayah Josh tak mau kalah.
"Dara keburu-buru Ayah. Kenzo uda mau datang." Andara kembali memaksa.
"Bawel banget sih Dara. Udah tunggu di sana." Ujar Ayah Josh sembari masuk dan menutup pintu kamarnya dengan segera.
Andara menggerutu dan berjalan kembali ke kamarnya. Dia sibuk berjalan mengitari kamarnya dengan gugup, saat Bunda Rania tidak segera datang. Dengan kesal Andara berniat mendatangi kamar orang tuanya lagi. Namun saat hendak membuka pintu kamarnya, Bunda Rania lebih dulu membuka pintunya.
"Bunda lama banget sih." Andara menggerutu.
"Bunda ada perlu bentar Dara." Jawab Bunda sambil tersenyum.
"Perlu apa sih?" Tanya Andara.
"Udah kamu gak perlu tau. Jadi dirias gak nih?" Tanya Bunda Rania.
"Jadi dong Bun. Yang cantik ya. Tapi jangan lama-lama, Kenzo udah berangkat jemput nih." Rengek Andara.
"Dih yang lagi kasmaran." Sindir Bunda Rania.
Akhirnya Bunda Rania pun mengoleskan make up tipis untuk Andara. Sekedar untuk membuat wajah anak gadisnya tampak lebih segar.
"Selesai." Kata Bunda Rania sambil membereskan peralatannya.
"Makasi Bunda, cantik banget." Puji Andara.
"Bun, itu Kenzo deh kayaknya." Andara tampak cemas.
"Udah buruan ganti. Bunda turun dulu."
Dengan segera Andara mengganti pakaiannya dengan gaun berwarna biru yang menambah kesan elegan. Setelah itu, dengan perasaan gugup ia turun ke lantai satu kamarnya.
Deg.. Deg.. Deg..
Berapa kali sih ketemu Kenzo, tapi kenapa ini jantung sekarang berdetaknya gak santai banget. Aku gak sakit jantung kan ya? Batin Andara menerka.
Dengan perlahan Andara jalan menghampiri sosok yang sejak tadi ditunggunya. Sosok yang sedang bercanda dengan kedua orang tuanya. Lelaki yang duduk membelakanginya, yang menggunakan kemeja biru laut dengan celana denim warna navy, senada dengan warna gaunnya.
"Ken." Lirih Andara menyapa. Matanya menatap kagum pada sosok di hadapannya.
Merasa dipanggil, Kenzo segera membalik badannya menghadap sumber suara yang memanggilnya.
Kenzo tersenyum lebar menatap Andara. Kepalanya sedikit di miringkan.
"Mengagumkan. Cantik banget!" Bibirnya meloloskan pujian untuk Andara.
Kenzo pun segera berdiri dan berjalan menghampiri Andara. Menarik tangan kiri Andara dan memasangkan corsage berwarna kuning.
"Sempurna." Kenzo kembali memuji.
"Makasi." Jawab Andara singkat.
"Siap sayang?" Tanya Kenzo.
Andara mengangguk. Hatinya terasa hangat dan penuh kebahagiaan. Mereka berdua berjalan bersama menghampiri Ayah Josh dan Bunda Rania untuk berpamitan. Kenzo menuntun Andara untuk masuk ke mobilnya.
"Ken, ini kado kelulusan untukmu. Khusus untukmu." Andara menyerahkan kotak coklat yang didapatnya dari Nenek pagi tadi.
Kenzo terperanjat. Menatap mata Andara takjub. Segera diraihnya kotak itu.
"Kamu repot-repot ngasih aku kado dan aku sendiri malah lupa memberimu kado. Padahal ini hari kelulusan kita berdua. Maafkan aku sayang. Gak menyiapkan apapun untukmu." Suara Kenzo terdengar penuh haru dan sedikit menyesal.
__ADS_1
"Kamu aja udah kado buat aku, Ken." Ujar Andara.
"Dih, jadi ratu gombal ya kamu sekarang. Sampai panas dingin aku dengernya. Padahal kata yang ku nantikan dari dulu, gak juga segera ku dengar." Sindir Kenzo.
Andara memukul pelan bahu Kenzo dan tertawa mendengar sindiran Kenzo.
"Makasi ya sayang. Aku bukan ah." Ucap Kenzo sambil bersiap menarik pita yang ada di kotak itu.
"Jangan! Jangan sekarang bukanya. Tunggu nanti setelah selesai acara." Sergah Andara.
"Lha lama banget Yang. Sekarang aja lah. Penasaran tau." Kenzo merajuk.
"Nanti Ken. Sabar dikit napa." Ujar Andara.
"Kenapa dikasih sekarang kalau gak boleh dibuka? Tau gitu kan nanti aja ngasihnya." Rengek Kenzo.
"Ya udah kalau bawel aja, aku ambil lagi nih kadonya." Ancam Andara.
"Eh jangan dong. Barang yang udah diberi tidak bisa diambil kembali." Kenzo berkata dengan tegas.
"Eh kok gitu? Tapi itu cuman aku pinjemin aja lho, jangan diambil ya." Andara tiba-tiba panik.
"Apaan sih isinya? Jadi penasaran aku. Buka sekarang ya?" Tanya Kenzo sambil menggoyangkan kotak coklat itu.
"Udah ah, nanti aja. Ayo sekarang berangkat aja, nanti kemalaman lho." Ajak Andara.
"Oiya!" Kenzo menepuk jidatnya.
Ia kemudian menyalakan mesin mobilnya kemudian Kenzo pun melajukan mobilnya menuju Granatala.
***
"Ken, nanti jangan jauh-jauh dari aku ya." Rengek Andara saat Kenzo baru saja memarkirkan kendaraannya.
"Apa kamu takut sayang? Apa kamu gugup?" Kenzo coba menggoda.
"Aku kan gak kenal siapapun di sini. Lagian--" Kalimat Andara menggantung.
"Kamu tenang sayang. Di sini gak akan ada yang berani menyentuhmu. Kejadian di Langit Biru gak akan terjadi di sini. Aku janji." Kenzo menjawab semua keraguan yang menyusup di hati Andara.
Andara menatap Kenzo dalam. Hatinya kembali menghangat.
"Aku percaya padamu, Ken." Andara tersenyum.
"Baiklah. Ayo kita masuk. Kita buat kenangan indah akhir SMA kita." Ujar Kenzo bersemangat.
Kenzo pun melangkahkan kakinya keluar dari mobil dan berjalan ke sisi penumpang, membukakan pintu untuk Andara. Tangan Kenzo terulur untuk membantu Andara keluar mobil. Andara menyambutnya dengan senyum.
Mereka berjalan beriringan menuju aula yang siang tadi dijadikan tempat penyerahan ijazah. Mata Andara membelalak saat kakinya melangkah masuk aula itu. Sekarang ruangan itu dihias sedemikian rupa hingga di tengah ruangan terdapat lantai dansa yang sangat indah.
"Ini ruangan yang tadi siang kan, Ken?" Tanya Andara penuh keraguan.
"Iya lah, sama aja kayak tadi siang." Jawab Kenzo.
"Tapi ini kelihatan beda Ken! Ini indah banget." Andara masih menatap kagum pada desain ruangan itu.
"Kamu suka?" Tanya Kenzo.
"Banget." Jawab Andara singkat sambil matanya terus mengamati seisi ruangan.
Di depan ada panggung kecil yang letaknya sedikit lebih tinggi dari lantai aula. Desain panggungnya juga sangat menakjubkan, ada beberapa bunga yang menghiasinya. Di sisi luar sebelah kiri diisi dengan hidangan, berupa makanan, minuman dan beberapa macam camilan.
"Udah ah, jangan bengong aja, sayang. Hmm nanti aku tinggal bentar ya." Kenzo membuyarkan lamunan Andara.
"Hah? Gak mau. Emang kamu mau ke mana sih?" Andara berseru.
"Aku mau naik panggung sayang. Nanti kamu nunggu di deket situ ya." Kenzo berkata sambil menunjuk sisi samping panggung.
"Lokasi bangus untuk melihatmu bermain." Andara menganggukan kepala.
"Setuju?" Tanya Kenzo.
"Sangat setuju." Jawab Andara tanpa ragu.
Mereka pun tersenyum. Acara farewell party pun tak lama kemudian di mulai. Hilir mudik para siswa terjadi di aula. Senyum dan tawa menghiasi wajah mereka. Para siswa sedang memahat kenangan akhir sekolah mereka.
__ADS_1