MENTARI YANG TERSEMBUNYI

MENTARI YANG TERSEMBUNYI
UNDANGAN


__ADS_3

Andara yang melihat Kenzo mendekati panggung dengan wajah keras, bahu yang bergerak naik turun dan dahi yang mengerut, menyadari ada sesuatu yang telah terjadi. Konsentrasinya buyar dan teralihkan. Hatinya mendadak tidak tenang. Matanya terus menangkap gerak tubuh lelaki itu.


Kenzo yang menyadari perubahan Andara segera mengubah mimik wajahnya menjadi tersenyum. Namun Andara tetap tidak dapat menyembunyikan keresahannya. Selama pertunjukan, gadis itu hanya menatap Kenzo, seakan tidak ingin lelaki itu lepas dari pandangannya.


Sesaat setelah menyelesaikan pertunjukannya, Andara langsung berlari menuruni panggung. Dirinya sudah tidak sabar untuk bertemu lelaki yang sudah memasuki hatinya dengan perlahan namun pasti.


Saat sudah berada di bawah panggung, ia segera melangkahkan kaki menuju ruang dalam aula. Namun sebelum mencapai pintu keluar, sebuah tangan kokoh mencengkeram tangannya. Menyeretnya menjauhi aula.


Andara tersentak. Tubuhnya terus berontak, meminta untuk dilepaskan. Matanya nyalang menatap pada sosok lelaki yang menyeretnya. Mulutnya terkunci menyadari siapa yang telah melakukan semua itu padanya.


"Vano.." Andara berkata lirih saat kesadarannya kembali.


Namun tak ada jawaban dari lelaki itu. Ia hanya terus menyeret Andara menjauhi aula tempat promnight dilangsungkan. Merasa terancam, Andara yang sudah sadar sepenuhnya dengan yang terjadi, langsung berteriak kencang.


"Amel.. Karla.. Tolong." Andara berteriak kencang sambil menangis.


"Dih, diajakin mojok sama pacarnya sendiri aja pake teriak sih Dara."


"Cieee, yang mau mojok.."


"Vano, jangan terlalu agresif ya, pelan-pelan aja neng Daranya takut tuh.."


Sorak sorai dan kalimat godaan banyak dilontarkan teman-teman Andara yang menyaksikan kejadian itu. Sebagian besar dari mereka tidak menyadari ancaman yang mungkin terjadi. Karena memang hampir seluruh teman-teman Andara hanya tahu jika Vano adalah kekasih Andara.


"Amel.. Karla.. Panggil Kenzo.. Tolong panggil Kenzo. Ken!! Kenzo." Andara terus berteriak.


"Kenzo.. Ken.. Tolong aku. Tolong aku Kenzo. Panggilin Kenzo. Ku mohon. Karla.. Amel.. Kenzo.." Andara terus berteriak lantang. Mulai terdengar nada putus asa di dalamnya dan berharap ada yang memberitahu kondisinya pada Kenzo.


Cengkeraman di lengan Andara semakin menguat. Tangis Andara semakin pecah. Tubuhnya sekuat tenaga menahan agar tidak mudah untuk dikendalikan Vano.


"Vano, lepasin. Kamu kenapa sih? Lepasin Van. Ku mohon." Andara mengiba.


Vano berhenti dan membalik badannya, menatap Andara tajam. Kemudian ditariknya tubuh Andara semakin kuat menuju koridor di belakang gedung serba guna.


Saat dirasa sudah jauh dari keramaian, Vano menghempaskan tubuh Andara ke tembok. Menekan tubuh mungil gadis itu hingga menempel tembok dengan lengan Vano sebagai penghalang di sebelah kanan dan kirinya.


Kabut di mata Andara sudah semakin tebal. Ia menangis menatap wajah lelaki itu. Jantungnya berdegup kencang. Bukan lagi rasa cinta yang menjadi penyebabnya namun rasa takutlah yang sudah membuat debaran jantungnya bertalu-talu.


"Lepasin Vano. Kamu mau apa lagi sih? Lepas." Andara terus memberontak. Namun Vano tetap diam, hanya menatap tajam pada Andara.


"Kita udah selesai Van. Kita gak mungkin bersama. Apa lagi yang kamu mau sekarang?" Andara terus mengiba.


"Kamu." Akhirnya terdengar suara Vano.


"Hah?" Andara kebingungan.


"Yang aku mau hanya kamu, cantik. Hanya kamu, gak ada yang lain." Jawab Vano dengan suara tajam, suaranya bergetar menahan amarah. Matanya mengeras menatap Andara.

__ADS_1


Andara menelan ludah. Menatap bingung pada lelaki yang ada di hadapannya saat ini.


Ini bukan Vano. Ini sungguh bukan Vano. Aku tidak mengenalinya sama sekali. Vano yang ku kenal suaranya lembut dan wajahnya teduh, menenangkan. Tapi sekarang, dia menatapku seakan aku mangsa buruannya. Aku sungguh tidak mengenalnya. Hati Andara terus menjerit. Air matanya tak bisa lagi dibendung.


"Gak bisa Vano. Kita gak bisa bersama. Gak mungkin aku bersamamu. Bagaimana dengan Vanya?" Andara mencoba peruntungannya dengan mengingatkan nama tunangan Vano.


"Dia hanya masalah kecil. Lagian dia tidak mempermasalahkan hubungan kita." Jawab Vano ketus.


"Tapi aku mempermasalahkan. Aku gak mau merusak hubungan kalian. Aku gak mau menjadi orang ketiga Vano!" Andara setengah berteriak.


"Yang aku mau hanya kamu, bukan Vanya ataupun orang lain. Hanya kamu, cantik!" Vano berteriak lantang dengan mata menyalang.


Andara menangis, hatinya sakit mendengar Vano membentaknya. Dulu Vano memperlakukan dirinya dengan sangat lembut. Saat ini yang ada di hadapannya tidak lebih dari seorang monster.


"Tapi aku tidak bisa Vano. Aku tidak mau lagi bersamamu. Aku tidak bisa masuk dalam kehidupanmu lagi." Andara terus mencoba membujuk Vano.


"Kenapa? Karena Kenzo? Apa yang sudah dia beri padamu yang tidak bisa aku berikan? Hah? Jawab!" Andara terlonjak mendengar teriakan Vano.


"Kamu benar-benar munafik cantik. Katamu kamu gak bisa bersamaku karena aku sudah bertunangan. Tapi saat aku bilang, tunggu aku membereskan masalahku, kamu malah berpaling pada Kenzo, orang yang udah seperti saudara bagiku. Apa namanya jika bukan munafik? Kamu yang goyah, namun menyalahkan statusku." Cerca Vano.


Andara terkejut mendengar penuturan Vano. Baru sekali ini gadis itu mengetahui pola pikir Vano pada masalah ini.


Jadi kamu menyalahkan aku yang tergoyahkan oleh Kenzo? Ya, pada awalnya aku memang sempat goyah, namun aku menepisnya dan tetap bersamamu. Sampai hari aku mengetahui kebenaran hidupmu, aku tetap menepis perasaan nyamanku bersama Kenzo. Namun aku harus melepasmu karena kamu bukan milikku dari awal. Batin Andara lirih.


"Ada ruang dalam kehidupanmu yang gak bisa aku masuki Vano. Tempat itu udah ada pemiliknya dari awal. Aku hanya mengembalikan pada pemiliknya dan aku pun kembali pada posisiku. Mengertilah, kita gak mungkin bersama." Andara mencoba membujuk dengan suara lembut. Dia mencoba menahan air matanya.


"Posisi? Kamu tau sendiri hatiku hanya untukmu cantik, aku yang memilihmu dari awal dan kamu udah menyetujuinya, tapi sekarang? Kamu mencoba berpaling cantik! Kamu mengkhianati aku! Kenapa, hah? Karena Kenzo kan? Hatimu sudah diracuni Kenzo kan? Dia itu sakit cantik, sakit jiwa! Dan kamu mencintainya? Katakan kamu tidak mencintainya cantik. Katakan!!" Vano berteriak. Amarahnya sudah berkobar.


"Jawab cantik! Apa dia membelaimu dengan lembut? Apa dia menciummu dengan ganas? Apa dia memberimu kehangatan tubuhnya? Katakan apa yang sudah ia lakukan! Aku akan memberimu semua yang sudah dia lakukan padamu dengan lebih baik!" Vano sudah hilang kendali. Matanya gelap memancarkan amarah yang tidak bisa dia bendung.


Andara menutup mata, berusaha mengenyahkan mimpi buruk yang sedang dihadapinya. Ia sungguh berharap yang di hadapannya bukanlah lelaki yang beberapa saat lalu pernah menguasai hatinya. Andara mendorong tubuh di depannya itu sekuat tenaga, ia ingin menyingkir dari tempat itu. Sayangnya, tenaganya tidak cukup kuat.


"Kenzo.. Kenzo tolong aku Ken!!" Andara berbisik lirih sambil terpejam, saat usahanya untuk melepaskan diri sia-sia.


"Brengsek!! Jangan sebut namanya dengan mulutmu di hadapanku!!" Maki Vano pada Andara.


Andara tersentak. Ini pertama kalinya melihat Vano sangat murka hingga memakinya. Tubuh Andara bergetar hebat, rasa takut sudah menguasai dirinya. Ia tidak lagi berhadapan dengan mantan pacar yang dikenalnya, tapi entah monster apa yang sedang dihadapi Andara.


"Lepaskan aku. Biarkan aku pergi Vano." Pinta Andara dengan suara bergetar.


"Jika aku tidak bisa memilikimu, maka tidak ada yang boleh memilikimu. Kamu harus jadi milikku." Ucap Vano tegas.


"Jangan bod*h Vano. Kamu tau kita gak bisa bersama. Dan ya, aku mencintai Kenzo. Aku lebih memilih Kenzo daripada kamu. Kenzo yang jujur dengan semua yang terjadi di kehidupannya, membuatku lebih nyaman bersamanya. Kenzo yang katamu sakit jiwa itulah yang aku cintai, yang hatiku pilih, yang aku inginkan untuk selalu bersamanya menghabiskan waktuku." Entah keberanian dari mana yang didapatkan Andara, segala isi hatinya ia luapkan di hadapan Vano.


Mata Vano menyalang. Menatap Andara penuh amarah. Tidak ada lagi tatapan ramah yang meneduhkan di matanya. Yang ada hanya tatapan tajam, siap menerkam.


"Aku bilang jangan sebut namanya di hadapanku. Apalagi menggunakan mulutmu." Ucap Vano dari balik giginya yang dikatupkan.

__ADS_1


"Sepertinya mulutmu tidak pernah diajari sopan santun." Imbuh Vano sambil tangannya mencengkeram rahang Andara.


Andara berontak saat merasakan sakit di rahangnya. Ia menangis saat menyadari tidak hanya hatinya yang sakit, namun fisiknya pun ikut disakiti oleh Vano. Ia sungguh tidak menyangka akan diperlakukan seperti itu oleh Vano.


Vano yang ramah, lembut, penuh kasih, bertutur kata sopan dan yang selalu memandang Andara dengan cinta, kini sudah tidak ada lagi. Berganti dengan Vano yang kejam dan dingin. Tangis Andara semakin menjadi.


"Lepas Vano. Kamu bukan Vano yang aku kenal dulu. Lepaskan aku." Andara memberontak.


"Ya, aku bukan yang dulu. Kamu yang mengubahku." Jawab Vano acuh tak acuh sambil terus mencengkeram rahang Andara.


"Sakit Van. Lepasin. Kenzo, tolong aku Ken." Andara kembali berbisik.


"Kamu sungguh mengujiku cantik." Vano menguatkan cengkeramannya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Andara.


"Hmmpp.. Hmmpp.." Suara Andara tertahan oleh bibir Vano yang menempel pada bibirnya.


Tubuh Andara terus memberontak. Tangannya terus mendorong dan memukul dada Vano. Kakinya terus menendang apapun yang ada dihadapannya. Vano yang merasakan penolakan dari Andara, membuat darahnya semakin mendidih. Hatinya sudah dipenuhi oleh amarah. Tubuhnya semakin menekan tubuh Andara ke tembok hingga ruang gerak gadis itu menjadi sangat terbatas.


Andara menangis, hatinya terluka karena pelecehan yang dilakukan oleh orang yang dulu pernah menjadi impian untuk masa depannya.


"Hmmpph.. Hmmpph.." Andara terus berontak.


Nafas Andara mulai tersengal. Dia merasa oksigen di sekitarnya kian menipis. Disaat gerakannya melemah tiba-tiba ia merasakan nafasnya mulai terasa ringan. Ia kembali bisa menghirup udara dengan bebas. Tiba-tiba tubuhnya melorot, ia terduduk di lantai. Matanya ia pejamkan. Ia mengambil oksigen sebanyak-banyaknya, mengisi penuh paru-parunya.


Buuugghh.. Buuugghh..


Andara mendengar suara pukulan yang bertubi-tubi di depannya. Ia masih belum mau melihat apa yang terjadi saat ini. Andara masih memejamkan mata, ia masih mengatur deru nafasnya yang belum sepenuhnya normal.


Perlahan Andara membuka matanya saat mendengar suara pukulan di depannya belum juga usai. Gadis itu melihat, lelaki berkemeja navy sedang menaiki tubuh lelaki yang telah melecehkannya dan memukulinya tanpa jeda. Andara terdiam, ia seakan menikmati pemandangan di hadapannya. Rasa sakit hati karena telah dilecehkan membuatnya menutup mata pada kejadian yang ada didepannya.


"Kenzo, kamu akhirnya datang." Ucap Andara lirih saat melihat lelaki berkemeja navy itu terus memukul tanpa henti. Vano yang ada dibawahnya hanya diam tanpa ada kesempatan membalas.


"Dara.." Teriakan dari suara yang dikenal baik oleh Andara, menarik kembali kesadarannya.


"Amel.. Karla.. Kalian akhirnya datang." Andara terisak.


"Maaf kita telat. Anak-anak baru memberitahu kita. Kamu gak kenapa-napa?" Tanya Amel sambil meneliti setiap jengkal tubuh Andara.


"Dara, Kenzo Dara." Ujar Karla sambil menggoyangkan tubuh Andara. Matanya menangkap pemandangan baku hantam yang terjadi tepat di hadapannya.


Andara seketika tersadar. Ada Kenzo yang harus ditenangkan sebelum semuanya terlambat. Sontak Andara bangkit dari duduknya. Berlari kecil menuju arah Kenzo yang sedang bergulung di lantai bersama Vano.


"Kenzo tenang Ken. Ini aku Ken. Cukup Ken." Andara berteriak. Namun tidak didengarkan. Di mata Kenzo hanya ada amarah.


Tanpa pikir panjang, Andara ikut masuk dalam perkelahian antar lelaki itu.


"Dara hati-hati." Karla mengingatkan dari belakang punggung Andara. Ia tidak berani mendekat.

__ADS_1


Andara langsung memeluk Kenzo dari belakang dan menangis tersedu-sedu.


"Cukup Ken. Cukup. Ini aku Ken, Dara. Lihat aku Ken, aku baik-baik aja." Suara Andara bergetar hebat.


__ADS_2