MENTARI YANG TERSEMBUNYI

MENTARI YANG TERSEMBUNYI
MENGENAL FLOWER


__ADS_3

"Kak, nanti kakak turun dulu ya baru Kay ikutin dari belakang. Ntar jalannya agak jauhan aja." Aku memberi usul pada Aldrich saat dia sudah memarkir mobil.


Aldrich langsung memandangku dengan tatapan masam. Dih, kenapa lagi dia? Tidak terima? Lha, daripada aku jadi cibiran banyak orang. Lebih baik jaga jarak aman.


"Hah, kayak apa aja sih Kay. Emang kenapa sih?" Aldrich protes.


"Kay gak mau Kak, kalau teman-teman ngira yang aneh-aneh. Kay belum siap mental kalau ada yang ngelabrak Kay lagi." Ujarku asal.


"Lagi? Jadi sebelumnya kamu udah pernah dilabrak? Sama siapa?" Aldrich memicingkan matanya, bertanya dengan wajah yang sulit diterka.


Astaga naga! Mulutmu Kay. Kenapa selalu jadi masalah sih. Rem sedikit dong! Aku merutuki diriku sendiri. Kenapa juga selalu keceplosan?


"Eh bukan gitu Kak, maksudnya...ah gak tau lah. Pokoknya Kay gak mau kena masalah aja lah." Aku berusaha menghindari pertanyaan jebakan dari Aldrich. Hah, kenapa dia peka sekali sih?


"Ya udah terserah kamu. Lagian anak-anak gak bakalan protes, mereka taunya kamu habis kena hukuman. Dan lagi, sekarang mereka kumpul di depan jurusan, tuh pengumuman dari kemahasiswaan. Bentar lagi penutup dari panitia." Aldrich akhirnya mengalah.


Aku menatap keluar mobil, mencari petunjuk dimana teman-temanku berada. Ku longokkan kepalaku tapi tetap aja tak terlihat.


"Udah jangan kayak gitu, jadi jerapah ntar. Mana ponselmu?" Pinta Aldrich tiba-tiba.


"Buat apa?" Tanyaku dengan nada sewot.


"Buat nyimpen nomorku lah, apa lagi?" Aldrich tak mau kalah.


"Idih, emang aku mau ngasih nomorku sama Kakak. Dasar kepedean!" Sindirku.


"Ya udah, gak masalah. Berarti kalau waktunya penelitian ke kebun teh, jangan ikut ya! Batal perjanjian kita!" Sergah Aldrich yang sontak langsung membuatku membelalak.


Ancamannya sangat luar biasa...tepat sasaran.


"Iya, iya.. Gitu banget ngomongnya. Nih masukin." Ujarku sambil menyodorkan ponselku.


Aldrich menatapku heran. Aku sangat tahu alasannya. Namun tangannya tetap terulur mengambil ponselku.


Aku terlalu malas untuk memasukkan nomornya. Jadi ku biarkan Aldrich menyentuh ponselku dan memasukkannya sendiri. Bagiku, ponsel hanyalah ponsel, barang pribadi yang tidak terlalu pribadi toh di ponselku tak ada apapun yang terlalu rahasia.


"Kodenya?" Tanya Aldrich.


"Gak pake kode atau kunci macam-macam. Ori tuh!" Sahutku yang langsung dihadiahi pelototan dari Aldrich.


"Ceroboh! Pakai kode dong." Gerutu Aldrich.


"Gak ada yang penting dan gak ada yang vulgar di ponselku. Semua aman dan tanpa rahasia." Jawabku asal. Aldrich hanya menggeleng pelan sambil memberiku senyuman.


"Wow.." Seru Aldrich tak lama setelah membuka ponselku.

__ADS_1


"Apa?" Tanyaku tak acuh.


"57 panggilan tak terjawab dari Bang Arka." Aldrich membaca tampilan layarku.


Deg.. Deg.. Deg..


Degup jantungku langsung terpacu dengan kencang. Entah kenapa, setiap mendengar atau menyebut nama keramat itu, rasanya debaran jantungku menjadi bereaksi tak normal.


"Kamu punya utang sama Bang Arka? Siapa sih dia?" Aldrich menatapku penuh tanya.


Aku balas menatapnya. Meresapi sorotan matanya yang tajam. Aku tidak mungkin mengatakan semuanya. Aku tidak mungkin menceritakan hal ini padanya. Aku masih belum terlalu percaya pada siapapun. Bahkan Mama Papa pun tak tahu tentang ceritaku dan Bang Arka.


"Oh itu.. Kakakku.." Jawabku lirih tanpa ingin berbohong. Terakhir kali aku dengar, Pak Hadi juga kan menganggap aku adik Bang Arka. Sekalian saja diteruskan. Semoga Aldrich paham dan tidak menuntut penjelasan lebih.


"Kakak ketemu gede?" Lha dia benar-benar malah jadi penasaran.


"Kakakku kuliah di luar kota." Nah, begini kan jujur. Aku memberi pernyataan yang benar. Bukan salahku jika Aldrich menganggap ini sebagai jawaban. Memang sebenarnya Kak Farrel, kakak tiriku, kuliah di luar kota kan?


"Oh, ku kira.." Aldrich menggantungkan kalimatnya.


"Ku kira apa?"


"Gak kok. Ya udah yuk turun. Tuh di ponselmu ada nomorku, kalau butuh apapun kabari aku. Kalau gak butuh juga tolong hubungi aku, kapanpun kamu mau." Aldrich memberi penegasan.


Apa yang bisa kamu banggakan, Kay? Bahkan hubungan yang sudah 3 tahun saja bisa kandas karena kamu ditinggalkan. Aku terus menanamkan sugesti itu pada diriku sendiri.


"Kenapa harus aku yang hubungi kamu Kak?" Tanyaku sok polos.


"Hah sudahlah. Ayo kita segera bergabung dengan mereka." Seru Aldrich sejurus kemudian.


Aku mengikuti Aldrich turun. Sesuai dugaan, Aldrich tidak mengikuti ideku. Ia berjalan di sisiku hingga kami bergabung bersama teman-teman seangkatanku dan seluruh panitia. Aku melirik sekilas pada Aldrich sebelum berjalan mendekati kelompokku.


Wah!! Jika ada penghargaan aktor terbaik, harusnya Aldrich keluar sebagai juaranya. Lihatlah wajah itu, seketika berubah sekeras batu, setajam karang dan sedingin salju! Aku berdecak dalam hati. Jika ku keluarkan ponselku dan ku putar video Aldrich saat terbahak di kafe tadi, hancur sudah reputasinya. Dasar!


"Kay, kamu tadi lama banget? Di apain aja sama si setan itu?" Bisik Winda saat aku sudah ada di sebelahnya.


Aku melotot menatap Winda. Gadis ini sungguh pintar sekali memberi panggilan. Aku langsung terkikik menyadari siapa yang diberinya panggilan itu.


"Kak Al maksudnya?" Tanyaku sambil mengulum senyum.


"Iyalah, siapa lagi yang punya tampang serem mirip setan kalau bukan si Aldrich itu!" Geram Winda.


"Setan ya. Kamu pintar banget sih ngasih panggilan." Ujarku sambil terbahak yang langsung disambut pukulan dari Winda di bahuku. Kami pun tertawa bersama. Aku segera menutupi mulutku, bermaksud untuk meredam suara tawaku.


Tapi terlambat.

__ADS_1


"Diam kalian yang disana! Dengarkan pengumuman ini atau keluar dari barisan." Aku terlonjak saat mendengar suara bentakan yang ku hafal di luar kepala. Aku memutar bola mataku dengan malas dan mendesah.


"Baru kelar hukuman tadi pagi, jangan cari masalah lagi, Kay! Dasar ratu hukuman!" Bisik Winda menyenggol tubuhku sambil terkekeh.


Aku mendongak, menatap tajam pada Aldrich. Heh, jangan dikira aku takut padamu! Dasar artis KW! Belum lama tertawa terbahak-bahak, sekarang sudah mirip orang sembelit.


Ku lihat Aldrich membelakangi kami dan entah apa yang dilihatnya. Cih, kenapa berbalik? Malu melihatku yang sudah tahu kelakuanmu diluar forum ini?


Drtt.. Drtt..


Ponselku bergetar dan perlahan ku keluarkan.


"Jangan cari masalah, Kay." Winda berbisik namun tak ku hiraukan.


Segera ku buka ponselku. Oh ternyata hanya pesan. Ku lihat nama kontaknya dan mulutku langsung ternganga.


KAK DISMA TAMPAN


Astaga!! Aku sungguh kehabisan kata untuk menghujatnya. Ku alihkan pandanganku, dan ku dapati dia sedang menatapku. Aku balas menatapnya. Dasar Aldrich, sungguh tak tahu malu!


Aku menatap ponselku lagi dan membaca pesan darinya.


Jangan berisik! Perhatikan pengarahan yang diberikan atau aku akan menjadikan ini alasan untuk menculikmu lagi!


Sungguh sangat Aldrich! Alasan yang dibuat selalu sangat luar biasa membuat orang kesal. Aku mengerucutkan bibirku dan menatap nyalang padanya. Amarahku seketika muncul lagi. Aku melihat sudut bibirnya berkedut. Ah dia menahan senyum ternyata, dasar!


"Baik, sebelum kita tutup kegiatan hari ini, saya akan bacakan lagi dosen pembimbing akademik yang akan membimbing kalian selama kalian kuliah di jurusan ini. Tolong dicatat dan diingat. Dan bagi bimbingan Pak Fabian, besok jam 9 pagi, harap datang di ruang kelas 4.1 untuk perkenalan dan pengarahan dari beliau." Tiba-tiba saja Aldrich sudah bersuara memimpin forum ini.


Aku terlalu fokus dengan amarahku sampai tidak menyadari Aldrich sudah berpindah posisi.


Dia menyebut seluruh nama mahasiswa baru beserta dosen pembimbingnya.


"Mikhayla Putri Sanjaya, dosen pembimbing akademik Pak Fabian."


Begitulah aku mendengar namaku disebut beserta dosen pembimbing akademikku selama kuliah ini. Aku memiliki dosen pembimbing yang sama dengan Aldrich, semoga saja aku diizinkan mengikuti penelitiannya. Hah, seketika amarahku hilang dan hatiku tenang.


Makasi, Kak. Dan ikutkan aku di penelitianmu ya.


Aku mengetik pesan dan langsung mengirimnya. Kembali aku menatapnya dan tersenyum padanya. Aldrich membalas senyumku dengan tatapan matanya yang melunak saat melihatku. Terima kasih senior tampan! Semoga dengan mengenalmu hariku makin bersinar.


Belum sempat aku memasukkan ponselku, kini benda pipih itu kembali bergetar. Ku tatap layar ponselku. Hilang sudah senyum yang baru saja ku bentuk. Ku buang jauh pandanganku. Entah aku memandang apa. Pikiranku kembali menerawang.


Bang Arka.


Nama yang terpampang di layar ponselku.

__ADS_1


__ADS_2