
"Bicaralah Van. Apa yang ingin kamu katakan padaku." Ujar Andara saat dirinya dan Vano hanya berdiam diri di mobil Kenzo setelah beberapa lama.
"Hanya seperti ini kah akhir cerita kita? Sepertinya kamu udah memilih Kenzo, cantik." Vano akhirnya mulai berbicara. Terdengar nada sinis didalam suaranya.
Andara tersenyum mendengar perkataan Vano.
"Bahkan cerita kita tak seharusnya di mulai Van." Andara menanggapi.
"Aku udah memintamu untuk menungguku. Dan kamu berjanji untuk menungguku. Kenapa sekarang seperti ini cantik?" Vano mengingatkan pada janji Andara. Suaranya sudah mulai meninggi.
"Itu dulu saat aku gak tau, jika kamu bukan lagi lelaki bebas. Kamu udah terikat Vano. Aku tak seharusnya datang dan masuk ke dalam hidupmu. Keberadaanku yang tak seharusnya ada disampingmu. Tempat itu dari awal bukan untukku. Aku hanya kembali pada posisiku Van dan mengembalikan posisi itu pada pemilik aslinya. Aku hanya numpang lewat sebentar." Jawab Andara dengan senyuman. Hatinya terasa lega saat mampu mengatakannya. Beban yang selama ini dirasakannya, menguap dengan segera. Luka yang terasa nyeri di hatinya, mendadak terobati membayangkan wajah Vanya.
Andara seketika teringat perceraian orang tua Amel. Dulu dia sempat menghujat orang baru yang mengusik kehidupan orang tua Amel hingga membuat Amel terpuruk karena perceraian orang tuanya. Peristiwa yang membuat kehidupan Amel berubah karena Papanya lebih memilih membentuk keluarga baru bersama wanita lain yang tiba-tiba hadir diantara mereka.
Andara tersenyum, membayangkan sekarang dirinya lah yang berada di posisi orang ketiga itu. Dirinya lah yang merebut posisi yang tak seharusnya dia masuki. Meski hubungan yang dia masuki juga sebenarnya bukanlah sebuah hubungan yang diinginkan pasangan itu.
"Kenapa kamu tersenyum, cantik? Kamu selalu tampak mempesona kalau senyum gitu. Itu yang membuatku tidak bisa berpaling darimu." Suara Vano memecahkan lamunan Andara.
Andara menoleh, menatap wajah lelaki yang masih bertahta di hatinya. Lelaki yang sudah membuat jejak cinta berbalut luka di hatinya.
Baiklah, selesaikan sekarang Andara. Setelah itu, tutup semua celah yang mungkin bisa dimasukinya. Biarkan luka ini sembuh dan mengering seiring berjalannya waktu. Kubur semua cinta dan kenangan yang tersisa. Ingat, dirimu tak seharusnya memiliki semua itu. Lelaki ini bukan untukmu. Batin Andara berteriak lantang, memberikan keputusan.
"Van--" Andara hendak berbicara.
"Kamu gak pernah memanggilku seperti itu cantik." Vano menyela ucapan Andara.
"Karena aku hanya berhak memanggilmu itu. Vano. Hanya itu." Andara tersenyum.
"Cantik, kamu tau, aku tak menginginkan semua ini. Vanya tau itu. Dari awal aku yang memilihmu. Dari awal aku ingin selalu bersamamu, memperjuangkanmu. Tolong beri aku waktu, aku akan membawamu masuk ke kehidupanku." Vano berkata.
"Jangan. Tolong jangan bawa aku masuk lebih dalam ke kehidupanmu Van. Aku sungguh gak sanggup jika masuk ke dalam hidupmu. Aku bukan gadis tak tau diri Van." Andara menjelaskan.
"Maksudmu apa cantik? Kamu sungguh udah mencintai Kenzo? Kamu udah gak cinta lagi sama aku?" Vano mencerca Andara.
"Dengarkan aku Van. Rasa itu masih ada untukmu, masih tersisa di hatiku. Hanya saja aku tak ingin lagi mempertahankan. Aku tak ingin bertaruh untuk cinta yang tak bisa ku miliki. Aku sadar, dari awal hatimu dan dirimu bukan untukku. Salahku yang udah memasuki kehidupanmu."
"Sekarang yang ku rasakan hanya perasaan bersalah. Lihatlah Vanya, apa aku bisa bersaing dengannya? Lihat matanya Van. Dia hanya melihat ke arahmu. Cintanya terlalu besar untukmu hingga aku tak sanggup jika harus dibandingkan dengannya. Cintaku tak cukup besar untuk bersamamu. Tapi Vanya, cintanya cukup besar untuk membuatmu bahagia." Andara terus menjelaskan.
"Tapi kebahagiaanku hanya bersamamu, cantik." Vano tetap berusaha mencari celah.
"Kebahagiaan itu hanya sesaat Van jika kamu bersamaku. Aku gak cukup kuat untuk bertahan di sampingmu. Cintaku gak cukup besar untuk membahagiakanmu. Aku yakin gak akan mampu memberimu kebahagiaan yang kamu maksud." Andara berkata dengan sabar.
"Apa karena Kenzo?" Tebak Vano.
"Van tolong pahami ucapanku. Pertama, kamu bukan lelaki bebas yang bisa ku miliki. Kedua, ada Vanya yang mencintaimu dengan sepenuh hati. Cobalah pandang dia, lihatlah dia Vano. Pengorbanannya untukmu sangat besar, bahkan dia merelakan kebahagiaannya agar kamu selalu bahagia. Cobalah membuka hati untuk Vanya. Kalian akan menemukan kebahagiaan di dalam hubungan kalian. Temukan itu segera Van. Agar kalian sama-sama bahagia. Vanya gadis baik Van, dia tulus mencintaimu dan aku tulus mendoakanmu." Andara tersenyum.
"Bullshit!! Aku yakin Kenzo mempengaruhimu." Vano mulai menaikan suaranya. Tangannya bersiap meraih pintu mobil dan akan membukanya.
Andara segera mencengkeram lengan Vano. Mencegah lelaki yang telah mengisi hatinya itu untuk keluar.
"Apa yang mau kamu lakukan Vano? Berkelahi dengan Kenzo gak akan menyelesaikan masalah. Ini masalah kita berdua Vano." Ujar Andara.
"Berhenti memanggilku Van atau Vano." Bentak Vano.
__ADS_1
"Namamu kan itu, kamu mau dipanggil apa lagi, Alvano Pradana?" Dengan lugu Andara menjawab.
"Cantik, lihat aku. Apa kamu tidak merasakan cinta yang kuberikan? Apa cintamu benar-benar udah menghilang? Aku bahkan gak pernah mengganti nama panggilan untukmu, karena aku masih mencintaimu. Aku yakin semua ini karena Kenzo." Vano menjelaskan dengan geram.
"Dari awal, dia orang lain dalam hubungan kita. Jika ke depannya ada sesuatu dengan hidupku yang dipengaruhi oleh Kenzo, itu gak ada hubungannya dengan masalah sekarang ini. Hubungan kita, gak bisa dilanjutkan Van. Aku bukan untukmu, aku gak sanggup mencintaimu sebesar Vanya. Jadi, kita akhiri aja sampai disini. Terima kasih udah ngizinin aku untuk bisa mengenalmu lebih dekat dan mencicipi cinta darimu. Aku masih sayang kamu Vano, tapi ini gak akan lama lagi, aku akan menghilangkan rasa sayang ini. Jadi seterusnya, kamu hanya seorang Alvano Pradana, tidak lebih." Andara sudah memutuskan.
"Jangan cantik. Jangan seperti ini. Teruslah bersamaku, bersabarlah." Vano meraup wajah Andara. Ia mendekatkan wajahnya ke arah wajah Andara.
"Gak Vano. Cukup. Jangan memulainya." Andara mendorong wajah Vano
"Apa ciuman Kenzo lebih panas dari ciumanku? Apa kamu sungguh lebih menikmati bibirnya?" Vano mencemooh.
Plaaakk..
Tangan Andara menggantung di udara dengan gemetar. Tangan yang biasa ia gunakan untuk menggenggam tangan kekasih dihadapannya, kini telah menampar pula wajah sang kekasih.
"Kata-kata itu sungguh gak pantas kamu ucapkan Vano. Kamu membuatku menyesal pernah mencintaimu. Tolong, jangan buat kenangan indah yang pernah kita rajut bersama jadi ternoda dengan hal menjijikan seperti ini. Aku hanya ingin mengingatmu sebagai kenangan yang terindah. Ku mohon." Suara Andara bergetar. Air matanya jatuh tak tertahan.
Vano tersadar. Segera diraihnya tubuh mungil sang pujaan hati. Diusapnya punggung yang sedang bergetar itu.
"Maafkan aku. Sungguh bukan itu maksudku. Aku tak ingin melukaimu cantik. Tolong maafkan aku." Giliran Vano yang terisak, mengingat kata-kata menyakitkan yang baru saja ia katakan pada kekasihnya.
Andara menjauhkan tubuh hangat itu, ia berusaha untuk melupakan wangi tubuhnya. Diusapnya air mata yang mengalir.
"Vano. Makasi untuk semuanya. Aku mohon, jangan lagi saling menyakiti. Kita jaga kenangan indah kita. Jangan sampai ternodai lagi. Mulai dari sini, kita tempuh jalan kita sendiri." Andara ingin segera keluar dari mobil itu.
"Gak bisa cantik. Aku gak bisa merelakanmu. Aku masih sangat mencintaimu." Vano bersikeras.
"Hatiku memilihmu Andara Atmajaya. Hatiku hanya mencintaimu. Hatiku gak akan bisa mencintai orang lain lagi." Rengek Vano.
"Bisa. Pasti bisa. Berusahalah. Biarkan waktu yang menjawabnya Vano. Seiring berjalannya waktu, aku yakin kamu akan melupakan cintamu padaku dan mulai mencintai Vanya. Lakukan itu, Vanya sangat mencintaimu." Andara terus membujuk.
"Apa waktu akan menghapusku dari hatimu? Apa kamu berencana untuk tidak lagi mencintaiku?" Tanya Vano.
"Iya, aku berencana melupakan cintaku padamu." Jawab Andara tegas.
"Dan apa orang itu Kenzo?" Tantang Vano.
Andara menarik nafas panjang dan hanya diam menatap Vano.
"Sepertinya aku udah mendapatkan jawabannya cantik. Tapi aku masih gak bisa merelakanmu." Lirih Vano berkata.
"Berusahalah Vano. Baiklah, ayo kita mulai hubungan baru ini dengan baik." Andara mencoba bersuara dengan ceria.
"Gimana definisi hubungan baik antara kita menurutmu cantik?" Vano bertanya.
"Kita bisa memulainya sebagai teman sebangku mungkin." Andara menjawab dengan ragu.
"Antara kita, selain hubungan kekasih, maka gak akan ada lagi hubungan yang bisa terjalin. Hatiku gak bisa menerima. Kamu tau sendiri cantik, hatiku mencintaimu, jadi selain hubungan kekasih, gak ada hubungan yang bisa kita jalin." Vano memberi ketegasan.
"Ja..di.. mak..sudmu?" Andara gugup, tersentak mendengar jawaban Vano.
"Pilihlah cantik. Tetap disampingku sebagai kekasihku. Aku akan mempertahankan kamu dan akan memperjuangkan dirimu. Atau kamu memilih pergi dari sisiku, tanpa hubungan apapun diantara kita. Cukup kita saling mengenal nama, tanpa ada tegur sapa. Anggaplah aku tiada." Ujar Vano.
__ADS_1
Deg..
Jantung Andara berdetak kencang.
Jadi begini akhirnya. Seorang Alvano Pradana telah menunjukkan otoritasnya, tepat di hadapanku. Suaranya jelas terdengar serius tak ada keraguan didalam suaranya. Batin Andara berbisik lirih.
Dengan penuh keyakinan, Andara mengambil nafas panjang dan menjawab.
"Baik, aku memilih yang kedua."
Singkat Andara menjawab dan sontak membuat Vano langsung memutar kepalanya menghadap Andara. Wajahnya mengeras, dahinya berkerut seakan tidak percaya dengan yang baru saja gadis di hadapannya itu ucapkan.
"Kamu yakin?" Vano masih berusaha menggoyahkan Andara.
"Aku gak pernah ragu pada pilihanku. Sama halnya saat aku memilihmu. Sekarang pun aku tak ragu melepasmu." Andara berkata. Menahan desakan air mata yang menuntut untuk keluar.
Vano menarik nafas panjang sambil menutup matanya. Mencoba menguasai dirinya dari amarah yang terlihat tengah merasukinya.
"Baiklah, jika itu keputusanmu cantik. Bolehkan aku menciummu? Sebagai perpisahan?" Tanya Vano.
"Gak boleh Vano. Aku khawatir, ciuman itu akan menggoyahkan kita." Jawab Andara sambil tersenyum.
Wajah Vano kembali mengeras. Ia merasa gadis yang dicintainya saat ini benar-benar sangat angkuh dan keras hati. Sangat berbeda dengan dulu saat bersamanya.
"Baiklah. Makasi untuk semuanya, Andara. Sampaikan salamku dan permintaan maafku untuk Ayah, Bunda dan Kak Willy. Makasi untuk semua waktu dan hati yang udah kamu beri untukku. Aku permisi." Vano berkata, sambil menatap wajah Andara beberapa saat lalu mengacak puncak kepala Andara dan menggenggam erat tangan Andara. Kemudian bergegas turun dari mobil tanpa melihat lagi ke belakang.
Andara termenung. Menatap tubuh tegap itu menjauh dari mobil. Andara melihat Vano melewati begitu saja Kenzo dan Bima yang berdiri tak jauh dari tempatnya, tanpa melihat atau sekedar bertegur sapa.
Andara menunduk dan tersenyum. Ada kelegaan dalam dirinya, namun menyisakan ruang kosong yang terasa sedikit menyesakkan dadanya. Tanpa sadar Andara memegang dadanya yang terasa hampa.
"Kamu hebat Dara, sangat hebat. Sekarang semua udah berakhir. Kamu udah kembali ke tempatmu, ke posisi yang seharusnya kamu diami. Ini langkah yang benar, Dara. Jangan menyesal dan jangan menoleh ke belakang. Semangat Dara!!" Andara berkata lirih pada dirinya sendiri.
"Ini baru gadisku. Gadis hebatku."
Andara terlonjak mendengar suara yang tiba-tiba didengarnya. Dia langsung menatap sisi sebelah kanannya yang telah terisi dengan sosok lelaki lain.
"Kenzo!!" Andara yang kaget langsung memukul lengan Kenzo.
"Aaw.. Sakit sayang. Kenapa sih dari tadi aku dipukul terus?" Protes Kenzo.
"Kamu ngagetin tau Ken. Duh.." Ujar Andara sambil mengusap dadanya yang masih berdetak kencang.
"Aku harus bertanya atau kamu mau bercerita sendiri?" Suara Kenzo memancing perhatian Andara.
Andara yang paham arah pembicaraan Kenzo hanya tersenyum memandang lelaki itu.
"Udah berakhir, semuanya. Dia gak mau mengenalku lagi. Jadi aku rasa, kami akan menjadi orang asing. Ini akhir cerita kita." Andara menjawab dengan tersenyum.
"Bukan akhir. Tapi ini adalah awal perjalanan kita. Perjalanan baru untukmu sayang. Percayalah padaku, aku yang akan menuntunmu. Apa kamu bersedia?" Kenzo menatap Andara penuh harap.
Andara hanya mampu tersenyum. Senyum tulus yang bisa dia berikan.
Entahlah Ken. Aku belum bisa memenuhi semua keinginanmu. Aku gak pingin menjadikanmu pelarianku. Aku ingin datang padamu dalam keadaan hatiku yang telah membaik dan dapat menghapus semua jejak yang Vano tinggalkan. Bisakah kamu menungguku? Meski tak ada jangka waktu yang pasti. Andara berbisik dalam hati.
__ADS_1