
"Hei Van!! Entah sejauh mana yang kamu ceritain ke Andara hari ini, tapi makasi ya, hari ini aku masih bisa melihat senyumnya yang indah. Tapi, ketika datang hari dimana Andara mengetahui semua kebenaran yang kamu tutupi, maka hari itu aku sendiri yang akan datang padamu, membuat perhitungan padamu. Ingat itu Van!!" Kenzo mengeluarkan ancaman dalam kata-katanya dengan lembut di bibirnya yang tersenyum.
Semua mata memandang Kenzo. Ayah Josh dan Bunda Rania saling melirik. Kemudian menatap Vano meminta penjelasan. Namun yang ditatap masih memandang Kenzo dengan penuh amarah.
"Udah sayang, jangan didengerin. Suka asal ngomong emang tuh bocah. Kamu kan uda tau keputusanku. Masuk aja yuk." Andara menarik tangan Vano, menuntunnya masuk ke dalam rumah, berharap emosinya cepat mereda.
Ayah Josh dan Bunda Rania menatap anak gadisnya. Alisnya terangkat melihat respon Andara.
Menjelang berakhirnya senja sore itu, Andara menghabiskan waktu bercengkrama dengan orang tuanya dan Vano. Hingga hampir tiba waktu untuk makan malam, Vano pamit undur diri.
"Gak makan dulu Van?" Ajak Bunda Rania.
"Kapan-kapan aja tante. Makasi. Keburu malem nanti dicariin orang rumah." Tolak Vano dengan halus.
"Ya udah, hati-hati di jalan ya Van."
Vano pun meninggalkan rumah Andara. Setelah melihat kepergian Vano Andara bergegas masuk kamar untuk membersihkan diri.
"Bun, Yah, aku ke kamar dulu ya." Pamit Andara sambil berlari naik ke lantai 2.
Setelah Andara masuk ke kamar, Bunda Rania masuk ke kamarnya menemui Ayah Josh.
"Sayang, tau ga, dari tadi itu Kenzo ngomongnya aneh gitu." Bunda Rania membuka percakapan.
"Aneh gimana?" Tanya Ayah sambil membaca dokumen yang dibawanya dari kantor.
"Sayang, kamu udah tanya belum tentang Vano dan keluarganya? Ada berita terbaru apa? Itu Kenzo kayaknya kenal banget sama Vano deh yah. Dia kyknya tau yang sebenarnya." Bunda berbicara dengan menggebu-gebu.
Ayah Josh akhirnya mengalihkan pandangannya dari dokumen. Ia memandang istrinya dengan tajam.
__ADS_1
"Kenzo bilang gimana?"
Bunda Rania pun menceritakan semua kejadian sore tadi sebelum Ayah Josh datang.
***
Makan malam kali ini Andara banyak tersenyum. Tanpa ia sadari, dirinya sudah diperhatikan Ayah Josh dan Bunda Rania dari tadi.
"Habis ada tragedi di depan rumah, masih bisa-bisanya dia senyum-senyum gitu?" Bunda Rania menyindir.
"Bunda apaan sih." Andara menjawab sambil tersipu.
"Kamu tuh ya, hampir bikin terjadi pertikaian berdarah di rumah kita. Gitu masih gak ngerasa salah." Bunda Rania kembali menyindir.
"Iih bukan salah aku tau Bun, Kenzo aja yang kepedean." Andara membela diri.
"Astaga sayang, jangan ajari anak-anak yang gak bener." Bunda berteriak jengkel pada Ayah Josh.
"Becanda sayang." Ayah Josh membela diri.
"Lagian ada masalah apa sih Dara? Kenapa sampai gitu?" Tanya Ayah Josh dengan bijak.
Andara diam. Dia sedang menimbang-nimbang mana saja yang akan dia ceritakan pada orang tuanya. Akhirnya dia memutuskan untuk menceritakan semuanya. Toh cepat atau lambat mereka juga tau, batin Andara.
"Jadi tadi sepulang sekolah.. "
Andara pun menceritakan semua kejadian di kafe tadi bersama Vano. Semua dia ceritakan tanpa ada yang ditutupi.
Beberapa kali Ayah Josh dan Bunda Rania saling menatap penuh arti. Dahi Ayah Josh sudah mulai berkerut mendengar cerita Andara. Ia membuang nafas kasar begitu Andara selesai bercerita.
__ADS_1
"Apa hanya itu yang diceritakan Vano? Kenapa Kenzo sebelum keluar rumah tadi bilang kayak gitu? Dan apa kamu yakin dengan semua ucapan Vano dan keputusanmu? Karena keputusanmu itu nantinya akan mempengaruhi masa depanmu sendiri." Ayah Josh mencerca Andara dengan berbagai pertanyaan.
"Kenzo tuh emang gitu Yah. Dia kalau ngomong suka asal, ceplas-ceplos gitu. Dan aku mau berusaha mempercayai Vano dan memberi dia kesempatan Yah." Andara menjawab sambil menunduk. Hatinya sendiri sebenarnya masih ragu.
Ayah Josh dan Bunda Rania saling memandang. Merasa bahwa memang ada yang disembunyikan Vano. Entah mengapa, Bunda Rania merasa Kenzo lah yang menjadi kunci semua masalah ini. Kenzo lah yang tahu tentang kejadian ini. Bunda Rania sangat berharap bisa berbincang dengan Kenzo langsung. Tapi Bunda Rania sadar, bahwa tidak mungkin menyuruh Kenzo ke rumahnya secara tiba-tiba.
"Andara, kamu boleh mempercayai Vano. Tapi tolong tetap buka mata, telinga dan hatimu ya sayang. Jangan sampai karena cinta kamu jadi buta segalanya. Tolong jaga diri dan hatimu sendiri ya sayang." Dengan lembut Bunda Rania memberi penjelasan.
Andara mengangguk. Mereka pun menyelesaikan makan malamnya dengan diiringi obrolan santai. Setelah selesai makan malam dan bercengkrama, Andara pun pamit ke kamarnya.
***
Di dalam kamar yang bernuansa merah dan hitam. Seorang lelaki sedang berdiam diri memandang ke langit-langit kamarnya.
Aku harus gimana Dara agar kamu bisa melihat ke arahku. Apa selama ini kamu gak tau seberapa sakitnya aku melihatmu bersama Vano? Terkadang aku ingin berhenti, tapi aku sungguh gak bisa, Dara. Aku terlalu mencintaimu sejak pertama kita bertemu.
Kenapa kamu harus menjadi milik Vano? Kenapa bukan aku yang pertama bertemu denganmu? Aku pengen membuang rasa ini Dara, tapi aku selalu ingin di sampingmu, menjaga dan melindungimu, terlebih saat aku tau kamu kekasih Vano.
Aku memang bersaing dengan Vano, hanya saja itu gak masalah buatku. Aku hanya ingin selalu berada di sampingmu untuk menjagamu, untuk melindungimu dan untuk menghapus air matamu. Karena aku tau Dara, cepat atau lambat, air matamu akan tumpah dengan sangat deras. Hatimu akan merasa hancur. Dan aku sangat bersyukur jika aku masih bisa melihat dan menemuimu kalau hari itu tiba.
Tolong, datang saja padaku, tanpa cinta pun aku rela. Aku yang akan membuatmu mencintaiku. Aku yang akan sepenuh hati mencintaimu. Asal kamu bahagia, asal kamu tidak menangis, aku rela Dara.
Tinggalkan Vano, Andara Atmajaya. Tinggalkan sekarang, sebelum hatimu lebih hancur. Aku bisa saja berlaku curang, dengan menceritakan semuanya sekarang juga di hadapanmu. Tapi aku buka lelaki semacam itu. Aku lelaki yang bertarung dengan adil Dara.
Apa kamu tau Andara? Peluangmu bersama Vano hanya 0% saja. Dia bukan lelaki yang bisa dengan bebas kau pilih. Dia bukan lelaki yang bebas melangkahkan kakinya. Ada tangan yang siap meraupmu dengan paksa Andara jika kamu bersikeras untuk masuk mengubah rencananya. Percaya padaku Dara!! Dan tolong datang padaku segera!! Aku gak sanggup melihatmu menghilang Andara Atmajaya.
Lelaki itu menjerit dalam hatinya. Air mata menetes dari matanya. Secepatnya dia menutup matanya dengan telapak tangannya. Dia mengatur nafasnya hingga tenang. Kemudian ia mengambil telepon seluler yang ada di saku celananya. Dipandanginya foto yang menjadi latar belakang ponselnya. Foto yang ia ambil diam-diam di depan SMA Langit Biru.
Aku sungguh mencintaimu Andara. Bisik Kenzo lembut sambil mencium foto Andara.
__ADS_1