
"Cukup Ken. Cukup. Ini aku Ken, Dara. Lihat aku Ken, aku baik-baik aja." Suara Andara bergetar hebat.
Merasakan ada tubuh mungil yang memeluknya erat dari belakang, Kenzo langsung berbalik dan memandangnya. Seketika mata Kenzo melunak. Amarahnya mencair saat melihat tubuh gadis kesayangannya itu bergetar hebat. Segera ia memeluk Andara dan mengajaknya sedikit menjauh dari Vano.
"Sayang, maafkan aku yang terlambat datang. Maafkan aku." Ujar Kenzo sambil mengusap punggung Andara.
Tangis Andara semakin kencang. Kenzo semakin kuat memeluknya dan Andara membalas pelukannya lebih erat.
"Cukup untuk hari ini. Aku tidak akan mengizinkanmu mengikuti acara ini hingga selesai. Sekarang, kita pulang." Ucap Kenzo tegas. Andara mengangguk di dada lelaki itu.
"Karla, Amel, kita pulang sekarang. Kalau kalian mau nerusin disini, gak masalah, nanti aku kirim orang untuk menjemput kalian." Ujar Kenzo seraya menatap pada sahabat barunya.
Amel dan Karla menggeleng kompak.
"Aku ambil barang-barang dulu Ken. Kita ketemu di parkiran ya." Ucap Karla cepat. Sesaat kemudian mereka telah berlalu dari koridor yang gelap itu.
Kenzo mengalihkan pandangannya.
"Urusanmu denganku belum selesai brengs*k!!" Kenzo menatap tajam pada Vano yang masih tergeletak di lantai. Bibirnya sobek dan berlumuran darah.
Andara menatap Kenzo. Mata lelaki itu masih dipenuhi amarah. Sudut bibirnya berdarah dan pipinya lebam. Andara menyentuh tepat di lukanya.
"Iissshh.." Desis Kenzo merasakan nyeri di pipinya saat Andara menyentuhnya.
"Maafkan aku. Ini pasti sakit. Jadi ku mohon jangan kamu ulangi lagi. Lupakan semuanya." Ujar Andara.
"Kamu masih membelanya sayang?" Selidik Kenzo.
Andara tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Aku hanya gak mau kamu terluka dan merasa sakit. Aku gak suka melihatmu melakukan sesuatu yang sia-sia." Jawab Andara jujur.
"Heh Ken, kamu lihat kan? Dia masih mencintai aku, dia gak akan tega membuatku terluka. Dan kamu hanya akan jadi bayanganku. Dia tidak akan pernah mencintaimu." Terdengar suara Vano disertai tawa sinis yang membuat amarah Kenzo kembali memuncak.
Kenzo segera menempatkan Andara ke belakang tubuhnya dan bergegas berjalan menghampiri Vano. Ia mencengkeram kerah baju Vano dan menariknya untuk bangun. Kini mata mereka sejajar.
"Heh brengs*k, tutup mulutmu." Ujar Kenzo singkat. Tangannya yang mengepal terayun ke atas, siap menyentuh pipi Vano lagi.
Andara yang menyadari itu, segera berlari mendekat. Gadis itu segera menyentuh tangan Kenzo yang terkepal dan satu tangannya yang lain melingkar di pinggang Kenzo untuk memeluknya.
"Kenzo.. Cukup." Lirih Andara berujar, berusaha meredam emosi Kenzo.
Mata Kenzo menatap nyala pada Andara. Kepalanya sedikit dimiringkan. Wajahnya penuh pertanyaan.
"Sayang, kamu? Apa kamu masih mencintainya?" Tanya Kenzo lirih dengan suara gugup dan tangan yang masih mencengkeram kerah baju Vano.
"Ahahaha kamu terlalu naif Ken. Dia itu terlalu mencintaiku, sulit baginya untuk berpaling dariku." Vano mencibir.
"Diamlah Vano!! Jaga mulutmu. Asal kamu tau, hari ini aku sungguh menyesal pernah mencintaimu. Kalau waktu bisa diulang, aku sungguh gak ingin mengenal bahkan berkencan dengan manusia b*jing*n sepertimu." Giliran Andara yang berbicara.
Gadis itu beranjak dari balik tubuh Kenzo, menarik tangan Kenzo yang mencengkeram kerah kemeja Vano dan melangkah dengan pasti di depan Vano. Ia menatap wajah lelaki yang pernah mengisi seluruh hatinya.
"Hari ini aku benar-benar melihat dan tersadar, bahwa wajah tampan yang sangat diidolakan di sekolah ini, ternyata tidak lebih dari seonggok sampah yang diberi nyawa. Kamu memuakkan Vano!" Pekik Andara.
__ADS_1
"Cukup sudah kamu mencampuri urusanku. Sudah cukup kamu melecehkan aku. Dan seperti katamu saat itu, diantara kita tidak bisa terjalin sebuah hubungan. Jadi, mari kita berjalan di jalan kita masing-masing tanpa saling menghalangi atau mengganggu." Imbuh Andara.
Gadis itu benar-benar menahan diri untuk tidak merasa takut maupun terintimidasi oleh tatapan Vano. Ia juga menahan diri agar tidak terlihat lemah. Air matanya benar-benar ia bendung agar tidak tumpah di hadapan manta kekasihnya.
Dengan berjalan mundur, Andara menarik Kenzo dan berusaha menjauh dari Vano yang masih terdiam setelah mendengarkan kata-kata Andara yang menohok hatinya. Lelaki itu menatap Andara lekat, sorot matanya melunak, ia sedang meresapi setiap kata yang dilontarkan Andara penuh amarah.
"Kita balik sekarang Ken." Ujar Andara sambil menarik tangan Kenzo dan menjauhi lorong gelap yang menjadi saksi bisu mimpi buruknya. Meninggalkan lelaki yang masih mematung dan meresapi kesalahan yang ia perbuatan.
Kenzo berjalan di samping gadis pujaannya, mengikuti setiap langkah Andara dengan masih menatapnya penuh tanya. Sadar dengan tatapan Kenzo yang menuntut padanya, Andara menghentikan langkah kakinya.
"Ada apa Ken?" Tanya Andara dengan wajah datar.
"Aku hanya ingin tau isi hatimu. Aku ingin bisa membaca apa yang sedang kamu rasakan dan pikirkan." Jawab Kenzo jujur.
Andara mendesah. Menarik tangan Kenzo untuk mengikutinya. Andara membawanya menuju lapangan basket yang ada di sisi kanan tempat parkir sekolahnya.
"Apa yang kamu ingin tau lebih dulu?" Tanya Andara setibanya mereka di pinggir lapangan basket. Mereka sedang duduk di bangku di pinggir lapangan basket, sambil memandang bintang yang malam itu tampak berpendar dengan indah.
"Bagaimana perasaanmu padanya?" Tanya Kenzo tanpa basa basi.
"Kenapa kamu tidak menanyakan perasaanku padamu, bukankah itu lebih penting?" Andara ikut bertanya.
"Aku tau perasaanmu padaku. Aku tidak ingin memaksamu untuk mengatakan perasaanmu padaku. Aku hanya ingin tau perasaanmu padanya." Ujar Kenzo tegas.
"Ken, kamu ingat gak, pertama kali kita ketemu? Aku selalu berpikir, pertemuanku denganmu pasti akan membawa sebuah cerita baru. Dan benar aja, kamu selalu membawa warna baru dalam hidupku." Andara berbicara tanpa menjawab pertanyaan Kenzo.
Kenzo terdiam menatap malam berbintang, matanya menerawang hari dimana ia bertabrakan dengan seorang gadis yang sudah menjungkir balikkan hidupnya. Gadis yang sejak pertama bertemu sudah mencuri hatinya. Gadis manis yang saat ini duduk di sampingnya. Gadis mungil yang tangannya sedang berada di genggamannya.
"Hari ketika aku pertama bertemu denganmu, hari itu juga aku mulai diperlihatkan kebenaran-kebenaran yang ada dalam hubunganku dan dia yang selama ini coba ia tutupi. Bukankah itu menakjubkan?" Imbuh Andara.
"Ken.." Panggil Andara lirih.
Kenzo menoleh, mengalihkan pandangannya pada gadis yang baginya lebih bersinar dari pada bintang-bintang. Kenzo tersenyum sebagai jawaban.
"Terima kasih karena selalu ada untukku. Terima kasih karena selalu mendampingiku. Dan mulai sekarang, bisakah hanya melihatku? Untuk situasi apapun, bisakah hanya melihatku? Bisakah hanya menggenggam tanganku? Bisakah aku menjadi obat penenang untukmu? Aku ingin membantumu juga. Sama sepertimu yang selalu ada untukku, aku juga ingin selalu ada untukmu." Entah keberanian dari mana yang didapatkan Andara, namun yang pasti, malam ini gadis itu ingin mengatakan semua isi hatinya.
"Apa itu artinya kamu tidak lagi mencintainya dan mulai mencintaiku?" Tanya Kenzo sedikit ragu.
Andara menunduk. Entah ia harus mengatakan apa sebagai jawaban atas pertanyaan Kenzo.
"Aku tau. Ini hanya sebuah rasa empatimu untukku. Kamu ingin membalas rasa nyaman yang kamu rasakan saat bersamaku. Namun, rasa cinta itu belum ada. Gak masalah, bagiku itu sama sekali bukan masalah. Aku akan tetap berada di sampingmu. Aku akan terus menunggumu hingga rasa itu ada." Ujar Kenzo saat menyadari Andara hanya akan diam tanpa menjawab pertanyaannya.
Kenzo menunduk, mencoba menyembunyikan kekecewaan di hatinya.
"Yang pasti, di hatiku sudah tidak ada lagi namanya Ken." Jawab Andara yang menyadari kekecewaan Kenzo.
Kenzo mengangkat kepalanya. Menatap ke arah Andara dan tersenyum hangat.
"Terima kasih sayang." Ujar Kenzo lirih.
Senyum lelaki itu mengembang saat mendengar ucapan Andara. Hal yang ingin dia ketahui sudah dijawab dengan jujur oleh gadis pujaannya. Direngkuhnya tubuh Andara dan dikecupnya puncak kepala gadis itu.
"Aku mencintaimu Andara Atmajaya." Ujar Kenzo sambil memeluk erat tubuh Andara.
__ADS_1
Sabarlah Kenzo. Tolong beri aku waktu sedikit lagi sampai aku bisa membalas cintamu dengan sama besar, seperti cinta yang kamu beri untukku. Batin Andara bersuara.
Kenzo yang mengetahui bahwa tidak akan mendapat jawaban dari Andara. Segera mengalihkan perhatiannya.
"Pulang yuk sayang. Karla dan Amel pasti udah nunggu di mobil." Kenzo mulai bangkit berdiri.
"Ken.." Andara menarik tangan Kenzo sebelum lelaki itu berdiri dengan tegak.
"Apa sayang?" Tanya Kenzo.
"Bisa kita rahasiakan ini dari orang rumah? Jangan biarkan Ayah Bunda tau Vano sudah berbuat seperti itu padaku. Kumohon." Pinta Andara.
Kenzo memicingkan matanya. Ia menatap Andara penuh tanya.
"Aku udah tidak mencintainya lagi jika kamu masih ragu, sumpah! Aku hanya gak pingin Ayah Bunda khawatir. Aku juga gak pingin Kakek Nenek khawatir. Kamu tau kan, nenek selalu memintamu untuk berbaikan dengan Vano. Bagaimanapun kalian terikat suatu hubungan yang tidak bisa diputuskan. Aku gak ingin karena aku hubungan itu menjadi berantakan." Andara menjelaskan.
"Asal kamu tau sayang, aku udah memutuskan hubungan itu jauh sebelum aku mengenalmu. Jadi gak perlu khawatir." Ujar Kenzo ketus.
"Kenzo. Lakukanlah demi aku. Aku akan merasa buruk jika para tetua mengetahui hal ini. Tolonglah." Rengek Andara.
"Hah baiklah sayang. Aku lakukan demi kamu. Tapi aku gak janji bisa mengontrol diriku sendiri jika dia mendekatimu lagi. Aku akan membuat perhitungan dengan tanganku sendiri jika dia masih mendekatimu. Udahlah, ayo kita pulang aja." Ajak Kenzo sambil menarik tubuh Andara dan membawanya dalam pelukannya.
Mereka pun berjalan menuju tempat parkir. Hari ini acara promnight tidak berjalan sesuai keinginan Andara. Segala impian tentang menghadiri promnight dengan penuh suka cita telah pupus. Jangankan menikmati jalannya acara, sekedar untuk kembali bergabung dengan teman-temannya di aula, Andara sudah merasa gemetar.
Namun satu hal yang pasti, hatinya merasa tenang karena semua tabir kelam yang selama ini menyelimuti hatinya telah terbuka. Semua pertanyaan yang menggelayuti hatinya telah terjawab. Hatinya juga merasa senang karena lelaki yang selalu bersamanya, bisa menemani dan selalu berdiri di sampingnya.
Andara masih belum menyadari, perasaannya pada Kenzo. Rasa yang ada di hatinya masih belum ia namai. Entah itu hanya perasaan nyaman atau memang perasaan cinta.
"Yang, kamu gak pingin foto-foto dulu di sekolah, atau di tempat acara? Biar punya kenangan Yang." Ujar Kenzo tiba-tiba.
Andara yang tidak siap dengan pertanyaan Kenzo, hanya menatap bingung pada lelaki itu.
"Emangnya kamu gak pingin kelak suatu saat nunjukin ke anak-anak kita kalau dulu Mommy dan Daddynya juga dateng ke acara promnight yang super keren ini?" Kenzo berkata dengan santai.
"APA??" Andara yang tersadar langsung berteriak saat menyadari pertanyaan Kenzo.
Kenzo terbahak-bahak melihat ekspresi Andara. Dia sudah menebak dengan reaksi Andara yang selalu berlebihan namun selalu menggemaskan di matanya.
"Kenapa sih Yang?" Tanya Kenzo masih dengan tertawa lepas.
"Baru lulus SMA udah mikir anak. Astaga kamu tuh ya! Aku aja masih bingung mau kuliah di mana kalau ternyata aku gak di terima di Universitas Merah Putih. Aku tuh masih harus mikir ujian buat masuk kuliah." Jawab Andara jengkel.
"Makanya, ikut aku aja di Granatala. Enak deh, gak perlu mikir, tinggal masuk. Aman, nyaman dan terkendali." Ucap Kenzo dengan enteng.
"Iya tau, yang punya Granatala, tiap hari promosi aja kerjaannya. Kamu jadi mirip sales boy lho udahan." Sindir Andara.
Kenzo yang mendengar itu hanya bisa terkekeh. Ia merasa lucu melihat segala tingkah Andara.
"Mau foto gak nih? Ayo kita panggil Karla sama Amel dulu. Ntar mereka nyalahin aku lagi karena gak ngambil foto mereka." Ujar Kenzo.
"Ken, aku malah gak pingin punya kenangan apapun untuk malam ini. Aku hanya ingin mengingat malam ini aku bersama kamu, Karla dan juga Amel. Aku cuma pingin mengingat malam ini aku menghabiskan masa putih abu-abuku bersama orang-orang tersayangku." Andara menatap Kenzo penuh arti.
Kenzo merengkuh tubuh Andara, membenamkan wajah gadis itu dalam dadanya. Memeluknya erat dan posesif.
__ADS_1
"Sayang, aku janji, aku akan memberimu malam terakhir SMA yang tidak pernah terlupakan. Aku akan memberimu kenangan indah saat promnight yang akan terus kamu ingat." Kenzo berjanji pada Andara dengan pasti, tanpa ragu.
Mereka berempat pun memutuskan untuk berkeliling kota, sekedar menghabiskan waktu sebelum kembali ke rumah agar tidak ada yang curiga dengan kejadian yang baru saja mereka alami.