
"Ada atau tidak ada kamu dalam hidup Abang, Abang tetap akan menceraikan Adinda. Ada hal yang mutlak tidak bisa Abang terima dari dirinya."
Ada atau tidak ada aku Bang Arka akan bercerai? Sebenarnya ada apa ini? Aku terus bertanya pada diriku.
"Bang, ceritakan yang sebenarnya Bang. Ada apa sih Bang? Kay yakin, Abang juga berhak bahagia. Apa tidak ada lagi yang ingin Abang selamatkan dalam pernikahan Abang? Jangan egois Bang, ingat anak Abang yang bentar lagi lahir." Aku terus bersuara, berusaha memberi Bang Arka semangat.
Aku sungguh tidak tahu lagi harus berkata apa. Aku hanya ingin semua kembali ke posisi masing-masing dan saling mendapatkan kebahagiaannya. Aku dan Bang Arka, kami semua berhak bahagia. Bahkan Adinda juga berhak bahagia. Aku sungguh tak mau berada di antara keduanya, aku belum siap jika harus disebut pelakor. Meski hatiku, sudah memilih berada di mana.
"Anak ya? Hmm.. Aku ingat ada anak di perut istriku Mikha. Hanya saja.." Bang Arka hendak menjelaskan semuanya saat ponselku tiba-tiba berdering.
Drrtt.. Drtt.. Drtt..
Bang Arka melirikku. Dahinya langsung berkerut saat menatapku tajam. Aku mendadak gugup dilihat seperti itu.
Aku meraba tasku. Mencari ponselku di dalamnya. Berharap bukan nama itu yang tertera di layar ponselku.
Tiba-tiba saja tasku berpindah posisi. Entah karena gugup atau kurang konsentrasi, aku tidak sadar Bang Arka sudah mendekatkan badan ke arahku dan merebut tasku.
Tangan Bang Arka terulur ke dalam mencari ponselku.
"Bang, udah. Biarin aja. Gak usah diangkat dulu deh. Tadi Abang ngomong sampai mana?" Aku berusaha mengalihkan perhatian Bang Arka. Rasa gugup ku alihkan dengan banyak berbicara namun sialnya, pembicaraan yang ku lakukan sangat tidak berbobot. Kurang halus cara mainmu Kay!
Wajah Bang Arka semakin menggelap kala mengetahuk gelagatku. Ah langkahmu sangat mudah terbaca, Mikhayla!
Ponselku sudah di tangan Bang Arka dan kepala Bang Arka mengangguk-angguk diiringin senyum masam di bibirnya.
KAK DISMA TAMPAN
Nama yang tertera di layar ponselku. Sekerika jantungku berdegup kencang. Entah apa yang akan dilakukan Bang Arka setelah ini.
"Jadi ini yang coba kamu sembunyikan dari tadi? Bahkan nama kontaknya pun sudah terlihat berbeda ya, Mikha?" Sindiran Bang Arka hari ini sangat melimpah kadar pedasnya.
"Bang, bisa aku jelasin semuanya. Itu Kak Al yang ngisi sendiri. Dia yang nulis sendiri namanya Bang. Sumpah deh! Kalau Kay bohong, Kay mau deh jadi tambah cantik." Ujarku sedikit berkelakar.
"Dia bahkan mengambil dan membuka ponselmu sendiri, Mikha?" Suara sinis Bang Arka kembali menghantamku. Yah, salah lagi deh aku!
__ADS_1
"Bukan, Bang.." Aku ingin melanjutkan, namun tiba-tiba aku memikirkan hal yang sangat mendasar.
Kenapa aku sangat takut Bang Arka akan terluka? Kenapa aku harus menjelaskan semuanya pada Bang Arka? Kenapa aku berusaha menutupi semuanya? Dan kenapa Bang Arka bersikap seperti itu? Ini salah! Sangat salah! Hubungan kami pun sudah salah! Otakku terus memutar kalimat itu.
"Kenapa berhenti Mikha?" Bang Arka memperhatikan kegalauan hatiku. Aku menatap Bang Arka.
"Aku tidak bisa menjanjikan kamu apapun Mikha, setidaknya sampai dua bulan ke depan. Tapi, bolehkah aku bersikap egois? Bisakah aku memintamu bersikap berani? Ku mohon Mikha, beranilah. Terjanglah segala batas ini, raihlah tanganku. Aku tidak akan membuatmu menangis lagi, meski aku tidak tahu ke depannya akan seperti apa. Tapi aku akan selalu ada di sisimu. Tidak akan aku biarkan kamu menunduk karena malu. Aku pastikan, kamu akan tegak berdiri melawan angkuhnya dunia. Tapi ku mohon, tetaplah di sisiku. Bersamaku. Meski aku tahu, ini salah." Bang Arka menangis saat mengatakannya. Sakit di hatinya sudah sangat dalam.
"Jangan ada lagi orang yang ku kasihi pergi menjauhiku. Aku sudah cukup merasa banyak kehilangan, Mikha. Jangan lagi kamu ikut menghilang dari hidupku. Aku..aku..aku sungguh membutuhkanmu." Keluar sudah seluruh kata yang ingin diungkapkan Bang Arka. Air matanya mengalir.
Hari ini aku melihat, seorang Bang Arka yang ku kenal tegas dan angkuh pada awalnya, yang selalu berusaha menutupi kesakitannya, ternyata hanyalah sebuah kedok untuk menutupi kerapuhan dan kesepian hatinya.
Aku ikut menangis dan memeluk tubuh lemah di hadapanku ini.
"Kay hanya takut Bang. Kay takut terlalu jauh mencampuri kehidupan rumah tangga Abang. Kay takut merusak semuanya." Aku terisak saat mengutarakannya.
"Semua udah rusak saat kamu belum datang Kay." Bang Arka bersuara ditengah isakan yang coba ia tahan.
"Dan yang menjadi alasan utamanya adalah Kay takut akan semakin masuk terlalu jauh dalam zona kenyamanan yang Abang ciptakan. Kay takut jadi ketagihan Bang." Aku berusaha jujur.
"Kamu terpaku pada kaliman nyaman yang sempat aku lontarkan saat kita belanja dulu ya? Apa kamu tidak sadar, kemana rasa nyaman itu kini berlabuh, Mikha?" Pertanyaan retoris macam apa itu Bang?
"Kenyamananku, telah berlabuh untuk hatimu, Mikha. Jadi, tolong tetaplah di sisiku. Temani aku, dan berjuanglah bersamaku." Suara Bang Arka sontak membuat isakanku terhenti. Aku tatap matanya, tidak ada kebohongan di dalamnya.
Apa kamu sadar yang kamu ucapkan Bang? Apa kamu sedang menyatakan cinta padaku? Oh ayolah Bang, jangan bercanda denganku!
"Aku sangat sadar yang aku ucapkan Mikha. Jika itu yang membuatmu ragu." Astaga, titisan cenayang sudah kembali. Dia selalu bisa menjawab pertanyaan dalam hatiku!
"Adakah masa depan untukku bersamamu Bang? Masa depan yang benar, yang tidak menghancurkan masa depan orang lain, maksdku." Lirih ku bertanya.
"Tunggulah dua bulan lagi, akan aku berikan kamu masa depan yang jelas."
"Jika dalam dua bulan ini masa depanku tidak terlihat, dan aku sudah terperosok masuk ke hatimu, apa yang akan kamu lakukan Bang?" Tanyaku dengan ragu. Aku butuh kepastian. Aku butuh jalan keluar saat nanti terjadi perang.
Perang? Ya, aku yakin jika aku bersama Bang Arka, cepat atau lambat akan terjadi perang seperti tempo hari.
__ADS_1
"Jika dalam dua bulan ini sudah keluar, maka itu menjelaskan semuanya." Jawab Bang Arka penuh teka teki.
"Apanya yang keluar Bang?" Tanyaku penuh kebingungan.
"Ikuti saja aku, dan aku tidak akan mengecewakan kamu."
"Jika dalam dua bulan ini tidak keluar, entah apapun itu yang kamu maksud, lalu apa yang terjadi denganku Bang?" Aku masih menuntut penjelasan Bang Arka.
"Semakin hari aku semakin yakin dengan hatiku. Aku tidak akan salah kali ini."
"Bagaimana kamu seyakin itu Bang?"
"Karena aku belajar biologi."
Oh Tuhan, kekacauan apalagi ini? Heh Pak Dosen, jangan suka main tebak kata dong! Aku bingung mencerna segala ucapanmu. Kemampuan otakku belum sehebat titisan cenayang macam dirimu.
"Dan apa maksud ucapanmu Bang?" Aku masih terus menerornya dengan pertanyaanku.
"Ikuti saja aku, dan percaya padaku Mikha. Bisakah kamu melakukan itu? Aku akan menceritakan semuanya jika saatnya tiba. Aku hanya membutuhkan sebuah bukti lagi. Tapi tolong, kamu juga harus menjaga tingkah lakumu."
Aku mendesah kasar dan mengalihkan pandanganku ke arah meja kerja Bang Arka. Cih, maksudnya apa? Aku jaga jarak dengan semua lelaki begitu?
Tiba-tiba mataku menangkap sesuatu yang selama ini mengganjal di benakku. Oh jadi itu sebabnya, kenapa aku tidak mengenalinya kemarin. Dasar! Bisa-bisanya dia membuat bingung aku.
"Baik Pak Fabian Arkananta Syahputra. Saya akan mengikuti semua saran anda Pak Dosen!" Aku mendelik, saat menyadari nama lengkap Bang Arka. Pantas saja nama asing namun dengan orang yang sama.
Bang Arka balik melotot ke arahku. Habis sudah kamu Kay! Jangan lagi membangunkan macan tidur. Duh mulutku, jangan lagi meracau yang aneh-aneh sekarang ya. Aku bergidik menatap Bang Arka.
"Kamu tidak pernah menanyakan nama panjangku dan apa pekerjaanku, Mikha. Jadi bukan salahku jika kamu tidak tahu aku dosenmu. Bukankah ini kebetulan yang sempurna? Bukankah ini termasuk takdir kita? Kita jalani saja yang sudah tersaji di depan kita, Mikha. Aku yakin, ini awal baru hidup kita." Bang Arka tersenyum sambil mengusap lembut puncak kepalaku.
"Jangan menghindar dariku, jangan menjauhiku. Aku butuh kamu, Mikha."
Aku tersenyum menatap Bang Arka. Sungguh ini adalah hari yang membahagiakan. Semua kata-kata Bang Arka sungguh membuatku melambung tinggi.
Aku hanya berharap, bisa menjalani keadaan ini dengan baik. Meski ini adalah awal yang salah, aku tahu itu dan aku menyadarinya. Tapi hatiku, ingin menentang sekali lagi.
__ADS_1
Aku ingin melangkahi batas itu.