
Sudah lima hari Ayah Josh dan Bunda Rania berada di Negara Z dan Willy melaksanakan KKNnya. Setiap hari pula Andara melakukan panggilan video pada Ayah dan Bundanya. Bercerita tentang banyak hal dan juga merengek menanyakan kapan mereka pulang.
Memang hal yang lazim bagi Andara untuk selalu menceritakan setiap kegiatan yang dilakukan setiap harinya. Atau hanya sekedar bercerita kejadian yang menimpanya. Perbedaan waktu 12 jam tidak membuat Andara risau untuk selalu menghubungi orang tuanya.
Seperti sore ini, jam menunjukkan pukul 5 ketika Andara baru saja sampai rumah selepas pulang sekolah. Selesai mandi dan berganti pakaian, ia pun melakukan panggilan video dengan orang tuanya.
Tuut.. Tuutt..
Andara menghubungi nomor Bunda Rania. Tidak ada jawaban. Kembali Andara menelepon, kali ini ditujukan ke nomor Ayah Josh.
Tuut.. Tuutt..
Tetap tidak ada jawaban. Andara mulai emosi. Dicobanya lagi menghubungi nomor Bunda Rania. Sampai dering hampir berakhir tidak ada jawaban. Mulai kesal, Andara yang akan mematikan panggilannya, tiba-tiba mendengar suara serak dari ujung telepon.
"Dara, jam berapa ini? Di sini masih gelap Dara. Bunda belum lama tidur udah kamu gangguin," Jawab Bunda Rania dengan suara serak khas bangun tidur.
"Bunda kapan pulang sih? Dara kangen Bun," Rengek andara seperti biasanya.
"Duh Dara, ntar agak pagian aja dong kalau mau ngerengek, Bunda ngantuk!" Bunda menjawab dengan geram.
"Ih Bunda tega banget ninggalin anaknya lama. Bunda gak bertanggungjawab." Andara memulai dramanya.
"Tau ah Dara, kamu yang tega nih. Bunda baru tidur udah kamu bangunin lagi. Kalau mau nelpon tuh inget waktu Dara. Kamu kan bisa ngitung sendiri, kalau di sana jam berapa, di sini jam berapa. Masih gelap banget di sini." Panjang lebar Bunda Rania menjelaskan.
"Tapi Bun, Dara butuh Ayah Bunda. Dara kesepian di rumah. Kak Willy kan juga gak ada. Dara gak ada temen ngobrol di rumah." Ujar Andara mulai terisak.
Mendengar suara anaknya yang mulai serak, Bunda Rania pun segera membuka matanya lebar untuk melihat wajah anaknya yang tertunduk. Ia bangkit dari tidurnya dan duduk di kasur.
"Kamu kenapa? Ada masalah apa?" Tanya Bunda Rania.
"Dara ditanyai Vano pertanyaan yang sulit Dara jawab Bun," Andara memulai ceritanya.
__ADS_1
"Pertanyaan apa? Kamu diajakin nikah?" Tanya Bunda Rania asal.
"Iih Bunda, Dara serius nih!!"
Bunda yang sempat mendengar cerita mengenai Vano dari Ayah, langsung waswas. Khawatir Andara sudah mengetahuinya disaat dirinya berada jauh dari anak gadisnya.
"Ya udah kamu cerita sama Bunda ada apa sebenarnya." Bunda Rania berkata dengan sabar, sambil memperhatikan raut wajah Andara.
"Beberapa hari lalu, Vano bertanya Dara mau ngambil jurusan apa pas kuliah nanti. Dara belum memutuskan mau ambil apa Bun. Terus Vano tanya tentang cita-cita dan mimpi Dara Bun. Dara kan gak mungkin bilang kalau cita-cita dan mimpi Dara jadi nyonya Alvano Pradana," Jawab Andara setengah bergurau, diiringi tawanya yang nyaring.
Deg..
Meski Bunda tahu anaknya sedang bergurau dengan kata-katanya, namun hati Bunda Rania terasa pilu. Bingung harus mengatakan apa pada anak gadisnya. Dadanya terasa sesak. Matanya memanas.
Andara, seandainya berita itu benar dan kamu mengetahuinya, Bunda harap kamu bisa menjaga hatimu nak. Batin Bunda Rania.
"Bun, Dara harus gimana? Harus jawab apa? Harus milih jurusan apa?" Cecar Andara.
Ayah Josh yang akhirnya ikut terbangun mendengar percakapan istri dan anaknya, mengguncang bahu istrinya. Menyadarkannya agar segera menjawab pertanyaan anaknya.
Melihat istrinya yang masih terdiam, Ayah Josh mengambil alih panggilan video tersebut.
"Dara, kenali dulu minatmu. Apa keinginanmu? Apa kemampuan yang kamu kuasai yang sekiranya bisa kamu kembangkan. Kalau sudah mengetahuinya, kamu akan dengan mudah memilih jurusanmu untuk kuliah nanti." Ayah Josh menjawab.
"Ayah, Dara kangen. Ayah pulang sekarang ya?" Andara kembali merajuk.
"Nanti kalau kamu sudah menentukan pilihan jurusanmu baru Ayah Bunda pulang." Jawab Ayah menggoda. Ayah Josh tahu, Andara tidak akan bisa memilih jurusan kuliahnya dengan cepat.
"Iih Ayah, jahat banget!! Yah, kalau Dara ambil kedokteran gimana? Kan itu jurusan keren yah, banyak yang minat. Dara juga kepingin minat sama jurusan itu." Tanya Andara.
"Kalau kamu minat dan yakin bisa menyelesaikan, Ayah sih setuju aja. Yang menjalani kan kamu, jadi Ayah hanya akan meminta pertanggungjawabanmu sampai akhir." Jawab Ayah. Menghela nafas panjang, Ayah kembali melanjutkan kata-katanya.
__ADS_1
"Sekarang Ayah tanya, apa kamu sanggup, jika nantinya ada pelajaran tentang anatomi tubuh yang mengharuskan kamu membelah tubuh manusia?" Tanya Ayah.
"Hah? Gak jadi deh Yah. Yang lain aja deh kalau gitu." Andara langsung menjawab tegas.
Gila, gak sanggup aku kalau harus membelah tubuh. Batin Andara sambil bergidik ngeri.
"Andara, jangan memulai sesuatu yang tidak bisa kamu selesaikan dengan baik. Jika sudah menetapkan pilihan dan memulainya, selesaikan semuanya hingga tuntas." Ayah berpesan.
"Iya Yah. Eh Yah, besok Dara ada kunjungan ke Universitas Merah Putih sekalian ambil berkas pendaftaran. Di sana nanti Andara diajak berkeliling dan melihat seluruh jurusan yang ada di kampus itu" Andara memberitahukan jadwal kegiatannya.
"Bagus itu, jadi nanti kamu bisa ngerti apa aja jurusan yang ada di sana. Nanti kamu ada ounya pandangan tentang setiap jurusan dan prospek masa depannya. Ikut saja Dara, tapi yang serius dengerin penjelasannya, jangan pacaran terus," Ujar Ayah Josh sambil bercanda.
"Iya.. Iya Yah.. Ya udah deh yah, Dara mau belajar aja lah, siapa tau dapet petunjuk mau ambil jurusan apa. Bunda ketiduran ya yah? Huh dasar Bunda diajakin ngomong malah tidur lagi." Andara berkata dengan sewot.
Ayah Josh melirik sebelahnya. Menatap Bunda Rania yang hanya diam mendengarkan pembicaraan anak gadis dan suaminya.
"Hmm.. Kamu hati-hati ya, jaga diri. Ayah Bunda sebentar lagi pulang kok." Ayah Josh menjawab sambil mendesah.
"Oke Ayah sayang, muaah, cepet pulang ya." Andara mengakhiri panggilan disertai dengan ciuman jarak jauhnya.
**
"Ada apa?" Ayah Josh bertanya pada istrinya selesai dia mematikan panggilan video dari Andara.
"Tolong segera pastikan masalah Vano sayang, aku gak mau anak kita terlalu berharap dan terlalu cinta padanya," Bunda Rania akhirnya bisa mengeluarkan suaranya.
"Masa depan tidak ada yang bisa menebaknya, sayang. Kita hanya bisa mengusahakan yang terbaik." Jawab Ayah Josh.
"Aku tahu itu sayang, hanya saja jika memang berita itu benar, maka Dara yang akan terluka jika dia terlalu berharap. Pastikan saja dulu beritanya." Desak Bunda Rania.
"Baiklah." Jawab Ayah Josh. Sambil menghela nafas, ia mengambil handphone miliknya di atas nakas dan mengetik sesuatu.
__ADS_1