MENTARI YANG TERSEMBUNYI

MENTARI YANG TERSEMBUNYI
KONFRONTASI


__ADS_3

Andara membelalakkan matanya semakin terkejut.


"Kamu.." Andara menunjuk wajah lelaki itu dengan tusuk lidi ciloknya.


"Awas itu tajam, ntar aku kecolok tau!! Bikin gak ganteng lagi ntar, kamu juga kan yang rugi kalau aku berkurang gantengnya." Lelaki itu menjawab sambil tersenyum senang, melihat raut muka Andara yang terkejut.


"Lho, kamu.. Kamu.. Ini kan sapa itu?" Ujar Amel dengan gugup.


"Iya ini yang kapan hari adu jotos sama Vano kan?" Karla menimpali.


"Hmm iya.. Bener. Duh yang diapal kok yang pas adu jotos sih. Bilangnya tuh harusnya gini dong, lho ini kan cowok ganteng kesayangan Dara, gitu seharusnya." Lelaki itu tersenyum memamerkan deretan giginya yang rapi dan putih.


Andara melotot melihat Kenzo, yang dilihat langsung tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Andara yang menurutnya lucu.


"Aku belum kenalan langsung ya? Emang cantikku ini belum cerita apa-apa sama kalian?" Kenzo bertanya dengan mimik wajah yang lucu.


Amel dan Karla kompak menggelengkan kepalanya. Kenzo mendesah, pura-pura kesal.


"Baiklah, aku kenalan sendiri aja. Aku Kenzo. Kesayangan Dara." Lelaki tadi itu mengenalkan dirinya sendiri, yang ternyata ia adalah Kenzo. Dia mengulurkan tangan pada Amel dan Karla sambil matanya melirik pada Andara.


"APA??" Amel dan Karla sontak berteriak.


"Uhuuk.. Uhuuukk.." Andara tersedak. Matanya melotot melihat ke arah Kenzo.


"Jangan dengarin dia. Emang ngaco aja nih anak kerjaannya. Gak ada benernya." Andara menjelaskan dengan kesal.

__ADS_1


"Jangan gitu aah, lama-lama kamu yang bucin sama aku lho." Kenzo mencoba menggoda Andara.


"Iih amit-amit deh. Ngapain sih kamu ke sini lagi? Mau beli cilok? Sana beli aja terus balik." Andara berusaha mengusir Kenzo.


"Suka-suka aku dong mau ngapain. Aku mau ke sini juga gak ada yang ngelarang. Tapi bener juga sih, aku juga kangen cilok di sekolah ini, di sekolahku ciloknya pahit." Kenzo menunjukkan wajah memelas.


"Ada gitu cilok pahit? Ngaco bener deh ini anak otaknya." Andara sewot. Karla dan Amel yang dari tadi memperhatikan juga ikut bingung dengan tingkah Kenzo.


"Iya soalnya pemanis makanannya ada di sini," Kenzo tersenyum hangat, sambil menunduk menyejajarkan wajahnya dengan wajah Andara.


"Jadinya aku ketagihan cilok disini, aaaakk.." Kenzo membuka mulutnya, meminta Andara untuk menyuapinya.


Entah karena saking terkejutnya atau karena wajah Kenzo yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya, Andara menuruti permintaan Kenzo. Ia menyuapi Kenzo dengan cilok yang dipegangnya.


"Nah, bener kan?! Cilok di sini emang paling mantap rasanya." Kenzo mengunyah ciloknya dengan senyum semringah.


"Eh apa? Apa?" Andara terlihat gugup dan salah tingkah. Kenzo tertawa terbahak-bahak sambil mengusap rambut Andara.


"Sebernarnya kamu ini siapa sih? Tau-tau dateng, terus adu jotos sekarang jadi penggemar cilok di SMA kita. Kamu mata-mata ya?" Amel mulai nyerocos.


"Eh iya juga ya? Dara juga nih, disuruh cerita dari kapan hari juga gak cerita-cerita, kebanyakan alasan emang nih si Dara." Karla ikutan nyerocos.


Andara menghela nafas berat. Kenzo terhibur dengan pemandangan di depannya. Ia mengamati setiap perubahan ekspresi wajah Andara dan Ia tertawa terus tanpa jeda.


"Aku juga bingung mau jelasin kayak gimana. Ini orang emang gak jelas, aku juga gak kenal." Andara membuang nafas keras.

__ADS_1


Kenzo yang mendengar ucapan Andara sepeti itu, merasa tidak terima.


"Eh gak kenal aku? Lha yang selama ini sering kirim-kiriman pesan sama aku siapa hayo?"


Wajah Andara memerah karena malu, mendengar ucapan Kenzo yang tanpa disaring di depan sahabat-sahabatnya.


"Ya udah deh, aku kenalan sendiri aja. Aku kenzo, kayaknya kita seangkatan deh, mengingat kalian juga ikut kunjungan ke Universitas Merah Putih kapan hari. Aku SMA Granatala dan aku kesayangan Andara." Kenzo mengenalkan dirinya pada Karla dan Amel, namun matanya selalu tertuju pada Andara.


"Kamu kenalan sama siapa sih? Nengoknya ke Dara mulu." Amel protes.


Kenzo hanya bisa cengar-cengir melihat respon sahabat Andara.


"Jadi kalian siapa?" Kenzo mengulurkan tangannya pada Amel dan Karla.


"Amel."


"Karla."


Mereka akhirnya berkenalan dengan resmi dan saling tersenyum.


"Aku tebak kalian sahabat-sahabatnya Andara, jadi kalian juga sahabatku sekarang, kalau lagi ngumpul kabari ya, ntar aku ikutan." Kenzo menarik kesimpulan sendiri.


"Emang gak ada benernya nih anak. Mana bisa gitu. Kita aja belum lama kenal." Andara tidak terima dengan keputusan Kenzo.


"Eh lagian, bukannya kamu anak Granatala ya? Kita musuh dong!! Kan sekolah kamu musuh bebuyutan dalam hal apapun sama sekolah kita. Jadi kita gak bisa temenan apalagi sering-sering ketemua. Iih ogah deh deket-deket kamu. Sana pulang, kalau ketauan anak Granatala ntar kamu dicoret dari daftar siswa lho." Andara memasang senyum smirknya.

__ADS_1


"Tenang aja, aku ini juru damai Granatala. Dengan bersatunya kita berdua, maka tidak ada lagi saingan diantara sekolah kita. Kita bisa saling mendukung antar sekolah kok. Dan sebentar lagi aku bakalan ngikutin kamu kemanapun, ntar lagi aku bakal jadi permen karet pribadimu yang nempel terus sepanjang waktu dan sulit untuk dilepaskan." Kenzo menjawab dengan santai.


Andara, Karla dan Amel hanya melongo mendengar penuturan Kenzo. Bener-bener kehabisan obat nih anak. Batin Andara.


__ADS_2