
Setelah ketegangan di rumah Andara beberapa hari lalu, kini semuanya berjalan seperti biasanya. Namun ada hal-hal yang tidak lagi berjalan sesuai harapan.
Andara dan Vano menjalani hari-harinya bersama lagi. Hubungan yang sempat renggang kini kembali hangat. Sesekali Vano menjemput Andara berangkat sekolah. Karena memang sejak kejadian di rumah Amel, Andara kini lebih sering membawa mobil sendiri untuk menjemput Karla dan Amel. Andara ingin bisa membagi waktunya antara sahabat dan kekasihnya, ia tidak ingin kecolongan lagi dengan kondisi sahabatnya.
Ayah Josh dan Bunda Rania masih menyelidiki kebenaran dari cerita Vano. Kenzo tetap mendatangi SMA Langit Biru, dia tetap mendatangi Andara dan sahabatnya, namun ia lebih sering menghabiskan waktu bersama Amel dan Karla. Karena Andara sepulang sekolah, sering bersama Vano, dan Kenzo cukup tahu diri dengan tidak mengganggunya. Kenzo juga sering mengirim pesan pada Andara. Dan Andara memutuskan untuk tetap membalasnya. Ia ingin tetap berteman dengan Kenzo, mengingat lelaki itu sebenarnya baik dan berhati hangat. Hanya saja jika sudah mengirim pesan romantis, Andara memilih tidak membalasnya. Andara khawatir Kenzo terus memupuk rasa cinta pada dirinya.
Kenzo juga masih sering berkunjung ke rumah Andara, meski terkadang ia justru malah menemui dan membantu Bunda Rania. Jika sudah bersama Bunda Rania, Kenzo bisa bercerita banyak hal pada bunda Rania, lelaki itu merasa sangat nyaman berada di dekat wanita itu seperti berasa di dekat ibu kandungnya. Baginya, keramahan Bunda Rania membuatnya betah mengunjungi rumah Andara. Bunda Rania pun merasa seneng, meski ia tahu tujuan Kenzo adalah menemui Andara, namun hatinya luluh ketika melihat kedewasaan pola pikir Kenzo. Dari banyak hari yang dihabiskan Bunda Rania bersama Kenzo, sesungguhnya wanita itu sangat ingin bertanya secara langsung pada Kenzo tentang Vano.
"Bun, kok bisa sih Bunda masak segini banyak, gitu itu Bunda apal semua bumbunya ya Bun? Gak liat contekan Bun? Harusnya masaknya tuh yang bumbunya hampir sama aja Bun biar Bunda gak bolak balik bikin bumbu terus." Ujar Kenzo sambil memasukkan seekor ayam bakar dalam kardus nasi pesanan katering Bunda Rania.
Rutinitas harian Kenzo sekarang, tiap weekend dia mendatangi rumah Andara, sekedar melepas rindu dengan melihat Andara, meski dia tahu bahwa tiap weekend Andara selalu menghabiskan waktu bersama Vano. Kenzo merasa kesal melihatnya, namun dia belum dapat melakukan apa-apa, jadi untuk mengurangi kekecewaannya, dia membantu Bunda Andara menyiapkan pesenan katering.
"Bunda tuh ya, gak perlu liat contekan, contekan Bunda ada di sini." Jawab Bunda sombong sambil mengetuk kepalanya sendiri.
"Hmm gayanya Bunda.. Eh Bun, harusnya Bunda tuh bikin vlog resep masakan. Kan rame tuh yang pesen katering Bunda, berarti masakan Bunda enak. Ntar Bunda bikin konten yang menarik trs di posting. Ntar pasti banyak yang ngelihat Bun. Secara sekarang kan jaman digital, banyak ibu-ibu muda atau cewek-cewek yang gak tau caranya masak, malah ga bisa masak sama sekali. Mereka pasti cari resep dari internet terus ngikutin deh cara masak dari situ. Cantumin aja keterangan di channel Bunda kalau Bunda ini seorang pengusaha katering, wiiih bakal banyak yang ngikutin channel Bunda deh, Kenzo yakin itu Bun!!" Ujar Kenzo berapi-api.
Bunda yang awalnya tadi acuh dengan omongan Kenzo karena memang Kenzo kadang suka bercanda dan berbicara asal. Namun kini Bunda mendengar dengan seksama. Terlihat Bunda Rania memikirkan serius omongan Kenzo.
"Terus Bunda bisa jadi artis dong ya? Wah Bunda bisa terkenal ya. Eh boleh coba juga tuh Ken. Ini nih yang Bunda suka dari kamu, otaknya encer banget, mikirnya uda jauh ke depan. Di doain Bunda deh biar beneran jadi mantunya Bunda." Bunda memuji Kenzo.
"Aamiin.. Bener ya Bun, doain ya. Ntar Kenzo bantu deh ngerekamnya." Kenzo mulai melakukan negosiasi.
"Iya. Bunda itu pasti doain yang terbaik untuk kalian. Yang penting kalian bahagia tapi keputusan akhir di tangan kalian ya. Tapi Ken, kamu belum capek kan nunggu Dara? Hmm maksud Bunda, kamu kan tau gimana Dara sekarang, maksud Bunda, kamu juga masih muda, jadi.." Bunda berkata dengan hati-hati.
__ADS_1
"Kenzo tau maksud Bunda." Kenzo sudah memotong kata-kata Bunda Rania. Dia sudah memahami ke mana arah omongan Bunda Rania yang tidak hanya sekali ini terlontar.
"Kenzo belum capek Bun, Kenzo akan nunggu. Karena Kenzo tau, akan datang hari di mana Andara pasti butuh Kenzo. Gak masalah meski Dara datang ke Kenzo hanya saat butuh sandaran. Kenzo cuma ingin Dara bahagia dan gak sedih Bun. Kenzo gak mau Andara sedih Bun." Kenzo tertunduk, nada suaranya terdengar getir.
"Ya udah, Bunda ngerti. Tapi kamu juga harus memikirkan diri sendiri, jangan sampai hati kamu juga tersakiti, ya Ken? Bunda seneng kamu di sini, beneran. Tetap main ke sini ya apapun keputusan kalian nanti." Ujar Bunda Rania penuh kasih sayang, karena memang sejak awal bertemu Kenzo, dirinya sudah merasa cocok dengan lelaki ini yang memiliki pemikiran lebih dewasa dari anak seusianya.
Kenzo pun mengangguk.
"Kenzo bakal tiap hari ke sini Bun kalau bisa. Bunda jangan bosen ya. Kenzo cuma khawatir gak bisa lihat Andara lagi. Kenzo takut jauh dari Andara."
Bunda Rania terkesiap mendengar penuturan Kenzo. Rasa penasarannya semakin besar. Kenzo yang merasa sudah kelepasan omongan, segera mengalihkan perhatian Bunda Rania.
"Eh Bun, Kak Willy kapan balik? Kenzo pengen ketemu juga."
"Ken, jangan mengalihkan omongan, sudah lama lho Bunda perhatiin ini, omonganmu beda dari lainnya kalau menyangkut masalah Andara. Ada yang kamu sembunyiin kan?" Todong Bunda Rania.
"Bunda.. Bunda di mana? Anak kesayangan Bunda udah datang nih." Suara bariton yang sangat dikenal Bunda Rania terdengar mendekati dapur.
Pintu dapur katering Bunda Rania pun terbuka. Tampak Willy datang dengan wajah berseri. Dia tidak menyadari Kenzo yang juga ada di dapur itu bersama karyawan Bunda Rania lainnya.
"Bundaku sayang, anak kesayanganmu udah datang." Ucap Willy kembali dengan semangat.
Seluruh mata langsung memandang Willy, Bunda Rania hanya memandang sekilas. Pandangannya melewati bahu Willy. Willy terlihat kebingungan menoleh ke belakangnya, merasa aneh dengan pandangan Bunda Rania.
__ADS_1
"Ada apa sih Bun? Ini Willy udah pulang, senyum kek, atau langsung kasih sambutan gitu kek." Willy mulai kesal.
"Titipan Bunda mana? Gak bawa kan?" Tanya Bunda acuh.
"Titipan apa?" Willy terlihat berpikir keras.
"Oh iya ini, udah Willy bawain makanan khas kota S." Imbuh Willy sambil mengangkat kardus di tangan kirinya.
"Bunda gak butuh makanan, di sini aja Bunda masak makanan banyak tiap hari. Bunda kan pesen bawain mantu. Ya udah lah, kamu di coret dari daftar anak kesayangan, jadi gelarmu cuma anak aja mulai sekarang." Goda Bunda Rania, sambil meneruskan memasaknya.
Willy memutar bola matanya dengan jengkel, dijatuhkannya kardus di tangan.
"Anak sendiri baru datang malah yang ditanyain anak orang." Ujar Willy kesal. Ia langsung memeluk Bunda Rania dari belakang dan menciumnya berulang kali.
Kenzo yang memperlihatkan dari tadi tidak kuat lagi menahan tawanya. Ia pun tertawa terbahak-bahak. Willy yang kaget ada suara lelaki asing di dapur katering Bunda Rania pun segera melepas pelukannya dan melihat sumber tawa tersebut.
"Eh, siapa dia Bun? Penyusup dari mana ini? Bunda sekarang mempekerjakan anak dibawah umur Bun? Ati-ati lho Bun kenal pasal berlapis ntar." Ucap Willy, wajahnya menyelisik penuh tanya.
"Dia yang geser posisimu, dia jadi anak dan mantu kesayangan Bunda mulai sekarang." Jawab Bunda Rania asal.
"Enak aja!! Eh siapa kamu? Anak mana kamu?" Willy yang tidak terima posisinya digeser, langsung bertanya pada Kenzo dengan suara lantang.
"Kak Willy, ayo ngopi?" Jawab Kenzo sambil tersenyum cerah. Dia merasa bisa langsung akrab dengan kakak Andara ini.
__ADS_1
"Kenzo? Si bocah yang kadar kepedeannya over dosis itu?" Tanya Willy ramah, sambil mengulurkan tangan. Willy merasa, Kenzo berbeda dengan Vano meski baru sekali berbincang dengannya.
Kenzo tertawa sambil meraih uluran tangan Willy, sepertinya dia benar-benar senang berkenalan dengan kakak gadis pujaannya itu.