MENTARI YANG TERSEMBUNYI

MENTARI YANG TERSEMBUNYI
LEBIH DEKAT


__ADS_3

"Udah gak usah malu! Kalau udah selesai nangis, angkat kepalamu! Aku juga udah lihat semua." Suara Aldrich yang sedikit tinggi menyadarkanku jika kami telah lama dalam posisi ini. Posisi dimana kepalaku masih menyandar di bahunya.


Astaga! Apa yang sudah kamu lakukan, Kay? Tadi pagi, kamu sudah membuat seluruh jurusan gempar dengan kelakuanmu yang bar-bar. Bahkan kini kamu juga menghancurkan kesan pertamamu di hadapan senior tampan di jurusan. Si tampan nan dingin, Aldrich!


Hah, apa yang harus aku lakukan? Aku terus merutuki diriku sendiri. Menyesal kenapa tidak bisa mengontrol emosiku. Semua gara-gara Danen yang tiba-tiba saja maju bak pahlawan kesiangan untukku. Dasar pecundang!


Aku masih terus menunduk di bahu Aldrich. Rasa malu menyelimuti setiap rongga tubuhku. Aku tak sanggup jika Aldrich harus melihatku seperti ini. Aarrgghh!! Apa yang akan di pikirkan Aldrich? Dia mungkin akan menertawakanku dan mempermalukanku.


"Cepat bangun! Kamu masih harus menyelesaikan hukumanmu, Mikhayla!" Aldrich berseru.


Ucapan Aldrich langsung membangunkan ingatanku ya lain. Hukuman! Astaga kenapa aku melupakan yang satu itu?


Tentu saja Aldrich akan menagihnya. Memangnya siapa aku sampai bisa membuat seorang Aldrich menunda bahkan menghentikan hukumannya. Siapapun kamu, jangan harap bisa lepas dari pengawasan Aldrich jika sudah melakukan kesalahan.


Entahlah, lelaki ini senang sekali menghukum. Mungkin dia sedikit mempunyai gangguan kejiwaan? Dimana dirinya akan merasa senang melihat orang lain kesusahan. Mungkin saja, siapa yang tahu! Aku terus saja berasumsi seperti ini, biar aku tetap waspada.


Aku segera menatap wajahnya, memasang tatapan mata andalanku, tatapan sendu dan polos, berharap Aldrich akan melepaskan aku kali ini.


"Kak, apa harus menjalani hukuman sekarang? Bisa gak ditunda?" Ucapku memelas.


"Hahahah.. Enak aja kamu minta ditunda. Tadi aja sok banget manggil pakai anda-saya, sekarang giliran mau di hukum langsung deh cari aman. Jangan harap kamu lolos dariku!" Aldrich menyindirku dengan sangat jelas.


"Tapi hukumannya apa, Kak?" Aku masih mencoba peruntunganku.


Sialnya, otakku terus saja mengirimkan informasi berbagai hukuman yang mengerikan. Dan parahnya lagi, hukuman memalukan yang selalu terpampang nyata dalam bayanganku.


"Cepat bangun, ikuti aku." Ujar Aldrich sambil menggoyangkan bahunya. Ah dia berharap aku cepat menyingkir dari sisinya. Baiklah, memangnya aku peduli dengan bahumu!


Aku segera bangun dan mengusap sedikit air mata yang masih tersisa. Ku lirik Aldrich juga bangkit dan menatap ke arahku.


"Mau ke kamar mandi dulu?" Ujar Aldrich menawariku.


Seketika tubuhku menegang. Terbayang sudah hukuman apa yang akan aku terima. Kemungkinan besar aku akan dihadapkan pada teman-temanku dan disuruh meminta maaf. Sedangkan saat ini wajahku masih tampak sembab. Oh ayolah, apa dia ingin mempermalukan aku? Dimana harus ku simpan mukaku? Tak mungkin aku menghadapi orang dengan mata bengkak dan hidung merahku!


Aku menatap nyalang pada seniorku itu. Ah masa bod*h dengan segala kesopanan.


"Kenapa memandangku seperti itu? Apa yang kamu pikirkan? Segera hapus pikiran kotormu padaku! Termasuk segala pikiran burukmu padaku." Suara Aldrich yang diiringi kekehan pelannya membuat dahiku semakin dalam berkerut.


Bagaimana bisa dia seperti..seperti..seperti..seseorang! Aku tak kuasa menyebut namanya. Dan aku hanya bisa mendesah, saat otakku mengirimkan gambaran siapa orang yang sering melakukan hal itu padaku.


"Bang, kamu titisan cenayang ya?" Astaga, Kay! Apa yang kamu bilang barusan? Bukankan barusan kamu bilang tidak mau menyebut namanya? Barusan bahkan kamu memanggil Aldrich 'Bang'! Mulutmu Mikhayla! Kenapa selalu tidak sinkron dengan otakmu!


Ah semoga Aldrich tidak sempat mendengarnya. Tapi apa itu mungkin? Aku menggigit bibir bawahku dan coba meliriknya. Terlambat! Dia mendengarnya. Lihatlah, wajah kebingungan itu.


"Eh itu.." Aku tergugu menjelaskannya.


"Barusan kamu memanggilku, Bang? Aku gak salah dengar? Sejak kapan kamu memanggil aku dengan sebutan 'Bang'?" Aldrich mencercaku dengan segudang pertanyaan.


"Kamu memanggil mantanmu dengan sebutan 'Bang'?" Pertanyaan penuh ironi dilontarkan Aldrich. Matanya nyalang menatapku. Entah karena apa. Mungkin saja dia tidak terima disamakan dengan sang buaya.


"Gak lah. Aku memanggilnya Danen." Aku menyangkalnya.


"Lalu?" Wah seperti Aldrich tidak ingin melepaskanku kali ini.

__ADS_1


"Hmm aku memanggil kakakku dengan sebutan 'Abang' dan tingkahmu seperti kakakku, suka usil, jahil dan sedikit jahat." Aku membuat alasan yang sangat tidak masuk akal! Sejak kapan aku memanggil kakak Farrel dengan sebutan Abang.


Aku memanggil Abang hanya untuk dia. Entah apa alasannya. Tapi semua terasa indah saat aku memanggilnya dengan sebutan 'Abang',


"Oke kalau gitu. Kamu boleh memanggilku Abang. Khusus untuk kamu, aku izinkan. Aku anggap ini panggilan sayangmu." Dengan santainya Aldrich menuturkan. Dan sontak semua itu membuatku terperanjat.


Oh jangan lagi! Kegilaan macam apa yang aku temui ini. Seorang Aldrich yang galaknya minta ampun sejak awal ospek, mendadak bersikap sangat manis. Aku khawatir, jangan-jangan aku sedang masuk sebuah perangkap yang akan membuatku semakin malu atau mungkin semakin...jatuh!


"Heheh gak deh kak, makasih. Aku manggil Kak Al aja ya? Boleh kan?" Aku berusaha menghindari tatapannya.


Mata Aldrich terus menatapku.


"Kenapa? Masih trauma dengan yang namanya cinta? Apa buaya itu terlalu menjatuhkanmu dengan sangat keras? Atau melukaimu dengan sangat dalam?" Aldrich bertanya, jelas ia sedang menyelidiki diriku.


"Aku memanggilnya sampah!" Aku meralat panggilannya, tanpa mencoba menjawab pertanyaannya.


Aldrich tersenyum simpul memandangku. Entah apa yang dipikirkannya ia langsung menyentuk puncak kepalaku dan mengusapnya. Ah bukan mengusap, tapi mengacak-acak rambutku. Apa ia sedang gemas padaku?


"Dari awal melihatmu, aku tahu kamu berbeda. Kamu akan jadi satu dari sekian banyak mahasiswa baru yang bersinar." Aldrich memperjelas ucapannya.


Aku mengernyit, mencoba mencerna ucapannya.


"Kay bawa lampu disko gitu biar bersinar?" Aku menggodanya.


"Aaw.." Aku berteriak kesakitan saat tiba-tiba pipiku dicubit kencang oleh Aldrich.


"Sakit elah, Kak! Apaan sih?" Aku protes.


"Benar sesuai dugaanku. Kamu akan berbeda dan memberi kesan mengesankan...padaku." Aldrich menambahkan dengan suara lirih.


"Udah jangan banyak mikir. Tampangmu gak cocok buat mikir serius. Sekarang ikuti aku." Aldrich menarik tanganku untuk mengikutinya.


Aku pasrah. Berjalan mengekori Aldrich. Entah mau dibawa ke mana dan akan menerima hukuman apa.


"Masuk." Perintah Aldrich tegas dan singkat.


Dengan ragu aku memandangnya, bergantian dengan memandang mobil yang ada di hadapanku.


"Jangan mikir aneh-aneh deh, Mikhayla!" Dengan tepat, Aldrich membaca pikiranku, benar-benar mirip, dia!


"Kay, panggil aja aku, Kay Kak Al." Aku meralat panggilanku untuk mengurangi kegugupanku.


"Memang beda! Disaat cewek normal akan menjawab apa, eh kamu malah menjawab apa!" Aldrich terkekeh.


"Memangnya ada yang salah dengan otakku ya, Kak?" Aku malah khawatir terjadi pergeseran fungsi otakku.


Aldrich tertawa renyah. Terhibur dengan pertanyaanku. Dasar aneh!


"Gak ada yang salah dengan otakmu. Itu karena kamu istimewa, Kay." Ah dia sudah membenarkan panggilannya. Suaranya lebih lembut dan tatapan matanya membuatku tersipu.


"Masuklah. Ini hukumanmu." Imbuh Aldrich dengan lirih dan menatapku teduh. Tangannya terulur membukakan pintu mobil.


"Apa hukumannya? Kakak bisa seenaknya ngasih hukuman tanpa diskusi ya?" Aku mengingat cara dia yang meminta kami semua berdiskusi untuk menentukan hukumanku tadi.

__ADS_1


"Temani aku makan, aku belum makan dari tadi." Aldrich mencondongkan tubuhnya mendekati aku, saat membisikkan kalimat yang membuatku menganga.


"Hukuman apa itu?" Aku mencoba membantahnya.


"Silakan pilih, kita kembali ke lapangan dan kamu meminta maaf pada seluruh teman-temanmu dengan resiko mereka semua melihat wajah bengkakmu ini. Atau, temani aku makan, hanya aku dan kamu yang tau kondisimu sekarang. Pilihlah dan ku harap kamu membuat pilihan yang bijak." Aldrich tersenyum jahil saat selesai mengatakannya.


Sesuai dugaanku, hukumannya akan seperti itu. Meminta maaf. Hah dia memang ingin mempermalukan aku dari awal.


Eh tapi, dia mengajakku makan, apa dia berharap aku akan memilih opsi ini? Tapi kenapa? Apa dia ingin melindungi aku? Apa dia tidak ingin aku merasa terluka dan malu jika harus menghadapi teman-teman? Ah entahlah, mungkin dia memang mau berbaik hati padaku, tak ingin aku terlihat lemah di hadapan orang lain, terutama sampah itu.


"Baiklah, Kak. Ayo kita makan aja. Kebetulan aku lapar." Akhir dari pilihanku sudah ku buat.


Aldrich tersenyum lebar. Hangat menjalar di tubuhku, mengingat ada sedikit kebaikan dari dirinya setelah sebulan penuh dia menyiksaku dengan berbagai hukuman.


"Pilihan tepat dan sesuai keinginanku. Jadi, masuklah." Aldrich memberi kode agar aku masuk ke mobilnya.


"Tasku kak?" Aku bertanya setelah sadar tasku masih di lapangan.


"Tunggu di dalam mobil, aku akan mengambilnya." Suara Aldrich tegas, tak ingin dibantah.


Aku mengangguk dan menatap punggungnya yang berjalan menjauh.


Aku melihat Aldrich menghentikan langkahnya, saat melintasi gedung fakultas. Kepalanya menunduk memberi hormat pada seorang lelaki yang separuh badannya sudah berada di dalam gedung dan hanya menyisakan kepala bagian belakang yang menyembul.


"Siapa dia? Oh mungkin salah satu dosen disini." Aku bermonolog.


Aldrich menghentikan langkahnya dan ia tampak berbincang dengan lelaki itu. Sesekali mereka tertawa. Sepertinya dia memang dosen disini. Terlihat dari gerak tubuhnya, Aldrich sangat menghormatinya. Ah senior galak itu, kini terlihat berbeda di mataku. Kesan galaknya langsung berubah seketika hari ini.


Dua kali tepukan di bahu Aldrich dan ditutup dengan senyum keduanya, menjadi akhir dari perbincangan mereka. Aldrich melanjutkan langkahnya kembali.


Aku melayangkan pandanganku ke sisi lain dari gedung Universitas ini. Hah semoga aku bisa melewati masa kuliahku dengan damai dan menyenangkan. Bertemu dengan orang baru yang mampu memberiku semangat dan kebahagiaan. Aku sangat berharap itu!


"Ngelamunin apa?" Aku tersentak, kaget dengan sapaan Aldrich yang tiba-tiba ada di sebelahku.


"Kapan kakak datang?" Aku polos bertanya.


"Makanya, jangan suka ngelamun! Emang mikir apa sih?" Aldrich bertanya.


Aku menarik nafas panjang sebelum menjawab. Berharap bebanku terhapus sejalan dengan hembusan nafasku.


"Kak Al, bisakah aku melalui hari-hari kuliahku dengan damai dan menyenangkan? Aku sangat berharap itu semua. Bertemu dengan orang baru yang membuatku semangat dan melupakan yang telah lalu. Orang baru yang akan membuatku bahagia dan menyimpan kenangan indah." Entah apa yang ku pikirkan, tiba-tiba mulutku berbicara gamblang dihadapan Aldrich.


"Kamu bisa! Karena kamu istimewa, Kay! Yakinlah, 4 tahunmu disini akan menyenangkan. Dan saat ini juga bisa ku pastikan, aku akan turut serta mengambil bagian dari kenangan indahmu itu." Ujar Aldrich tiba-tiba, yang langsung ku sambut dengan pelototan mata.


Aku sungguh tak percaya apa yang dia katakan! Apa ada masalah dengan telingaku? Atau Aldrich memang sedang membuat janji indah padaku? Aku menggelengkan kepala, mencoba mengenyahkan berbagai kemungkinan yang melintas di kepalaku.


"Kenapa kamu geleng-geleng kepala? Dan itu, ada apa dengan matamu? Kamu kesurupan? Makanya jangan ngelamun di sini. Di sini banyak penunggunya. Apalagi di pohon besar itu tuh." Aldrich menunjuk pohon beringin di taman tempatku menangis tadi.


Seketika aku menutup mulutku dengan kedua tangan dan menoleh ke kiri ke kanan. Takut langsung menjalar di tubuhku. Benarkah itu? Jangan-jangan memang benar! Buktinya aku langsung berbicara macam-macam dengan Aldrich. Sepertinya otakku sudah dipengaruhi oleh makhluk astral penghuni pohon beringin itu.


"Hahahah kamu lucu! Sangat lucu, Kay! Ekspresi apa itu? Makasi ya Kay, sudah masuk jurusan ini. Akhir kuliahku, sepertinya akan menyenangkan!" Aldrich terbahak sambil menjalankan mobilnya.


"Ikuti aku mulai sekarang. Di mulai dengan makan dulu sebagai perkenalan."

__ADS_1


Aku memandang Aldrich penuh tanya. Tapi masa bod*hlah dengan semua omongan meracaunya itu. Anggap aja ini sebagai omong kosong untuk menenangkanku hari ini. Sepertinya dia juga tampak terkejut dengan kelakuanku hari ini. Tiba-tiba marah kemudian menangis tersedu.


Baiklah, lalukan saja apa mau Aldrich untuk hari ini. Aku pun tak mungkin kembali mengikuti kegiatan yang tersisa. Lagi pula, sang ketua panitia ada bersamaku, jadi sepertinya hari ini akan aman dan baik-baik saja. Kemudian aku mengangguk dan menyetujui untuk mengikutinya hari ini. Setidaknya, ada pengalihan untuk hatiku yang...hah...entahlah.


__ADS_2