
"Alvano Pradana?" Mata Ayah melihat nama yang ada di seragam Vano. Dahinya berkerut. Alisnya bertaut di kening. Suaranya sedikit bingung, antara bertanya atau menegaskan.
Sekilas Andara melihat mimik muka Ayah berubah menjadi tak terbaca. Tapi dengan cepat Ayah mengembalikan mimik wajahnya.
"Iya om, nama lengkap saya Alvano Pradana,"
"Kamu, anaknya Erwin Pradana?"
"Benar om. Ayah saya Erwin Pradana. Om kenal Ayah saya?" Tanya Vano bingung tetapi sekilas ada kilatan kekhawatiran di matanya, sebentar, hanya sebentar.
"Siapa yang ga kenal dengan Erwin Pradana di Negara ini, pengusaha super sukses di Negara kita," Ujar Ayah Josh sambil senyum tapi senyumannya tidak menyentuh mata. "Ya uda, cepat berangkat sekarang, nanti telat."
Andara dan Vano pun segera berlalu. Bunda Rania dan Willy yang diam sedari tadi, menyadari perubahan wajah dan tingkah laku Ayah Josh. Sadar menjadi perhatian, Ayah Josh segera memperbaiki lagi mimik wajahnya.
"Eh will, kamu berapa lama KKN? Biasanya pulang KKN pada dapat pasangan lho will, kamu rencananya mau cinlok sama temen satu kelompokmu atau sama gadis desa di sana?" Ayah Josh berusaha mengalihkan perhatian.
"Astaga Ayah. Mana bisa begituan direncanakan. Ngaco banget ayah nih. Emangnya Willy tau bakal ada kejadian apa di sana? Program Willy terealisasi aja uda seneng banget," Jawab Willy sewot, dia sadar Ayahnya sedang mengalihkan pembicaraan agar tidak ditanya lebih lanjut.
Willy pun diam, tak bertanya. Ntar aku tanya Bunda aja lah, bisik Willy dalam hati.
"Aku uda selesai makan, aku balik ke kamar dulu ya Yah, Bun. Aku tidur dulu bentar, semalem gak tidur, ntar jam 10 tolong bangunin ya Bun. Hari ini penyerahan proposal kegiatan KKN di kampus." Pamit Willy.
"Ya udah, sana tidur dulu, nanti Bunda bangunin."
Willy berjalan menuju kamarnya. Sampai di tangga dia menghentikan langkah dan menoleh ke arah Ayah Josh.
Bunda Rania pun akhirnya menatap Ayah Josh. Matanya dipenuhi pertanyaan. Sadar tidak bisa menghindari pertanyaan yang akan diajukan Bunda Rania, Ayah Josh pun menghela nafas berat.
**
"Silakan cantik," Vano membukakan pintu untuk Andara setibanya di tempat parkir sekolah mereka. Tangan kanannya terulur untuk membantu Andara keluar dari mobil.
Dengan wajah merona, Andara memegang tangan Vano dan keluar dari mobil. "Makasi sayang," Bisiknya lirih.
"Diiihh ini masih pagi banget, mesra-mesraannya dikurangin dikit dong."
"Iya tau yang baru jadian, masih anget-anget tai ayam kan ya?!"
"Eh gila, kamu pernah megang tai ayam dong, kok tau kalau anget?"
__ADS_1
"Kira-kira doang, atau ntar kita barengan nyobain megang gmn?"
"Iih ogah banget.. Mereka berdua nih, gak kasian apa sama kita-kita, yang naik turun mobil gak ada yang merhatiin." Semprot Amel dan karla begitu melihat Andara dan vano di tempat parkir.
"Yeee pada sirik aja bisanya. Makanya jangan kebanyakan milih, lagian yang dipilih ketinggian banget standarnya," Ledek Andara. Vano di sampingnya tanpa melepas gandengan tangannya cuma senyum melihat tingkah 3 sahabat ini.
"Emang siapa sayang yang Amel dan Karla pengin jadiin pacar?" Tanya Vano penasaran.
"Itu, oppa-oppa drakor yang sering mereka tonton. Ngimpinya ketinggian sih mereka, gak sadar diri, weeekk," Andara menjulurkan lidahnya.
Vano terbahak mendengar jawaban Andara. Inilah sisi lucu dan menggemaskan Andara yang sangat disukai Vano. Andara bisa menempatkan diri dengan baik di manapun dia berada, selalu bersikap hangat pada siapapun dan setia pada sahabatnya.
Vano pun meremas jari Andara lebih kuat, lelaki ini sangat mencintai Andara dan bersyukur sudah mendapatkan cintanya.
"Oppa-oppa di drakor tuh ya, nikmat Tuhan yang ga boleh dilewatkan." Jawab Amel sengit.
"Mereka tuh ibarat udara yang ga mungkin dihindari.. Gantengnya tuh laksana pemandangan alam yang harus diukir di hati," Sambar Karla mulai sok puitis.
"Astagaaa.. Pusing aku tuh lama-lama denger kalian yang ga ada abisnya memuji mereka. Mereka sendiri tuh ga kenal sapa kalian tau!!" Andara pura-pura memijit keningnya.
"Makanya aku tuh pengen pacarku ntar gantengnya kayak oppa-oppa di drakor."
"Bener banget, paling gak sebelas dua belas lah sama oppa-oppa drakor. Atau kalau bisa sih emang bener oppa-oppa di drakor tuh, jadinya kan mereka jadi kenal kita," Ucap Karla yang diikuti anggukan Amel.
Karla memegang kepala, memasang tampang pura-pura kesakitan dan diikuti gelak tawa mereka.
Berempat mereka berjalan bersama menuju kelas mereka. Sambil sesekali masih melontarkan gurauan.
**
"Jadi, ada apa dengan Alvano Pradana dan Erwin Pradana sayang?" Bunda Rania membuka suara saat membantu memasukkan berkas laporan perusahaan di ruang kerja suaminya.
"Sayang, minggu depan aku ada pertemuan bisnis ke Negara Z, kamu bersiap ya," Ayah Josh mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Berapa lama kita disana sayang?"
Merasa senang karena mengira berhasil mengalihkan pembicaraan, Ayah Josh memeluk pinggang Bunda Rania dari belakang, "sekitar 7 hari sayang. Apa kita sekalian bulan madu lagi ya?" Ucap Ayah Josh sambil mencium leher istrinya.
"Berarti barengan sama Willy berangkat KKN dong sayang?"
__ADS_1
"Hmm.. " Gumam Ayah Josh tanpa melepas ciuman di leher istrinya.
"Dara bisa merengek seharian tuh minta ikut, dia gak bakal mau ditinggal sendirian di rumah kalo Willy gak ada."
"Hmm.. " Ayah Josh masih belum melepaskan ciumannya. Semakin dalam membenamkan wajahnya di lekukan leher Bunda Rania.
"Eh tapi kan sekarang dia uda punya pacar ya, jangan-jangan malah uda ga mau diajak kemana-mana lagi tuh bocah."
"Hmm.. "
"Ya udah ya sayang, kalau Dara gak mau ikutan, biar dia di rumah tidur sama Bi Inah aja deh. Lagian dia kan mau persiapan ujian akhir kelulusan ya."
"Hmm.. "
"Oke sayang. Nanti aku siapkan deh keperluan kita selama di sana. Boleh juga ide bulan madunya, lama juga kita gak pergi berduaan ya."
"Hmm.. "
"Dan kalo perlu, selama 7 hari di sana kita akan bulan madu sambil terus membahas Alvano Pradana dan Erwin Pradana," Ucap Bunda Rania sambil berbalik menghadap suaminya. Kata-kata Bunda Rania langsung menghentikan semua aktifitas Ayah Josh.
"Ku kira aku bisa menahanmu lebih lama lagi untuk tidak bertanya dulu," Desah Ayah Josh.
"Dan ku kira kau sudah sangat mengenalku sayang," Senyum Bunda Rania mengembang.
Sambil menghembuskan nafas berat, Ayah Josh mencium lembut bibir Bunda Rania.
"Sebenarnya aku jg belum tau pasti bagaimana kondisinya. Karena itu aku ingin menyelidiki dulu keadaan yang sebenarnya."
"Apa sangat serius keadaannya?" Bunda Rania mengernyit.
"Ya aku juga belum tau pasti sayang. Aku hanya mendengar sedikit saja sih cerita dari sana-sini."
"Dan sampai dimana cerita yang sudah kau dengar, sayang?" Tanya Bunda Rania sabar.
"Dari yang ku dengar, Erwin Pradana hanya mempunyai satu anak lelaki."
"Wah, Dara bisa jadi menantu kesayangan dong," Bunda Rania terkikik membayangkan semuanya.
Terdengar helaan nafas berat Ayah Josh, "tapi yang ku dengar anak lelakinya itu.."
__ADS_1
Ayah Josh memandang wajah Bunda Rania dengan nanar. Dia tidak tega melihat wajah istrinya yang mulai berkaca-kaca.
"Tunggulah, aku akan mencari tahu dulu."