MENTARI YANG TERSEMBUNYI

MENTARI YANG TERSEMBUNYI
SEMESTA LAIN


__ADS_3

Ada ketakutan yang merayap di tubuhku saat wanita di depanku ini dengan bengisnya mencoba menerobos barikade yang di buat Pak Hadi.


Ini benar-benar bukan drama TV. Tapi ini kenyataan yang aku lihat di depan mataku, bahkan aku termasuk salah satu pemerannya.


Astaga Tuhan, cobaan apa lagi ini? Ketakutanku dituduh sebagai pelakor oleh tetangga Bang Arka atau ketakutanku tentang di arak keliling kampung, kini seakan menguap entah kemana. Yang ada di hadapanku kini jauh lebih menakutkan. Super duper menakutkan!


KEPERGOK ISTRI SAH YANG SEDANG HAMIL SAAT SEDANG REBAHAN DI RUMAH SUAMI ORANG.


Hah, aku merasa sedang menonton drama di TV yang sering Mama tonton saat sore dan malam hari. Aku menggelengkan kepala untuk mengenyahkan pikiran liarku.


"Pergi kamu! Kenapa kamu justru membela wanita sial itu?" Hardik istri Bang Arka.


Tubuhku bergetar mendengar suaranya yang menggelegar. Aku mencoba bersuara tapi tak ada yang sanggup aku keluarkan. Ingin rasanya aku berlari dan menghindar, tapi bukankan itu akan menjadi masalah baru?


Aku menarik nafas panjang, mencoba menenangkan segala risauku. Baiklah, aku akan hadapi, aku juga tak ingin Bang Arka mendapat lebih banyak masalah, apalagi jika itu karena aku.


Aku berdeham, membersihkan tenggorokanku yang sebenarnya tidak ada masalah.


"Ehm Mas Hadi, biarkan saja Mas." Ucapku berusaha membuat Pak Hadi menjauhkan tubuhnya dari ambang pintu.


Pak Hadi menatapku seakan mencari kepastian di mataku. Aku mengangguk sebagai jawaban. Pak Hadi segera menyingkirkan tubuhnya dan beranjak keluar dari kamar.


"Hai Mbak. Aku Kay. Maaf, aku tidur sembarangan di rumah kalian. Aku tidak bermaksud apapun. Aku hanya sedang istirahat." Aku berbicara selembut yang aku bisa. Mataku jelas menunjukkan ketakutan. Air mataku sebisa mungkin ku tahan. Cih, jangan cengeng saat seperti ini, Kay.


"Kamu!" Suara istri Bang Arka terdengar menyayat gendang telingaku, "kenapa kau bisa disini? Apa hubunganmu dengan suamiku?" Lanjutnya.


Aku tersentak. Meski aku tahu akan seperti ini pandangan orang terhadapku, namun saat mendengarnya secara langsung aku tetap saja terkejut. Jantungku menjadi tak terkontrol, berdegup tak beraturan.


"Tenang Mbak, aku bisa menjelaskan. Aku sungguh tidak ada hubungan apapun dengan Bang Arka. Aku hanya--" Aku menggantung kalimatku. Seketika aku bingung harus mengenalkan diri sebagai apa atau bagaimana mengenalkan diriku sendiri.


Mendadak otakku linglung. Bingung dengan pertanyaannya dan pertanyaanku sendiri. Aku bingung menjelaskan padanya. Jangankan menjelaskan pada istri Bang Arka, keberadaanku disini saja sudah membingungkan diriku sendiri hingga sulit untuk dijelaskan.


"Kamu hanya apa? Hah? Kamu selingkuhannya?" Tanya istri Bang Arka tanpa basa basi.


Mataku membelalak mendengar segala ucapannya. Wah, jadi rasanya seperti ini ya, menyakitkan ternyata. Rasanya hatiku diremas, disayat dan diberi perasan jeruk nipis. Padahal aku bukan pelaku, tapi rasanya tetap menyakitkan saat mendengar tuduhannya.


"Eh bukan mb, bukan. Dengarkan aku dulu." Suaraku terdengar panik, Pak Hadi yang menatapku ikut panik.


Aku menarik nafas panjang dan mengalihkan mataku pada Pak Hadi, sekedar ingin memberitahu dia bahwa aku baik-baik saja. Saat aku menatap Pak Hadi, ku lihat di balik pintu ada satu sosok lelaki lagi yang memperhatikanku dengan lekat. Siapa dia? Aku mendadak takut dengan tatapannya.


"Apa yang harus aku dengarkan? Dan apa yang harus kamu jelaskan? Bukankah sudah jelas kamu ada di rumah suamiku? Kalau bukan selingkuhan lalu apa? Apa ada wanita baik-baik datang sendirian ke rumah suami orang?"


Deg.. Deg.. Deg..


Aku menitikkan air mata. Sangat menyakitkan kata-kata istri Bang Arka. Namun aku tidak bisa membantah. Semua itu benar, sangat benar. Aku yang salah, aku yang tak tahu aturan, aku yang melangkahi garis batasnya.


Istri Bang Arka hanya melindungi miliknya. Dan keberadaanku di sini memang tidak bisa di jelaskan dengan pasti. Untuk apa aku ke sini? Dan apa hak ku di sini?


Seketika hatiku pilu. Ini bukan tempatku, ini bukan areaku. Aku harus keluar dengan segera. Aku harus membersihkan namaku sendiri. Persetan dengan semua sakit hatiku, harga diriku lebih utama untuk di selamatkan.


"Aku datang kesini tidak dengan maksud seperti itu, Mbak. Aku hanya anak kecil yang sudah di bantu Bang Arka. Aku bukan siapa-siapa. Aku tidak berharga untuk Bang Arka." Aku membuka suara saat aku mampu menguasai air mata dan hatiku. Aku menarii nafas panjang dan meneruskan kata-kataku.


"Aku tau, Bang Arka sangat mencintaimu, Mbak. Dan asal Mbak tau, aku juga mencintai orang lain, tapi bukan Bang Arka. Aku juga punya hati Mbak. Saat aku tidak ingin milikku direbut orang lain, aku bisa pastikan aku tidak akan merebut milik orang lain."


"Maafkan aku yang sudah membuatmu salah paham Mbak. Aku benar-benar tidak ada hubungan apapun. Benar kata Mas Hadi, aku hanya adik Bang Arka. Setidaknya itulah yang kami rasakan. Tidak ada hubungan apapun seperti kecurigaanmu, Mbak."


"Baiklah, karena pemilik rumah ini sudah datang. Maka aku pamit pulang dulu Mbak. Aku tadi kesini hanya ingin memberitahukan Bang Arka, bahwa aku sudah menerima ijazahku hari ini." Aku mencoba mencari alasan.

__ADS_1


Istri Bang Arka menatapku dengan pandangan mencemooh, jelas keraguan terpancar di wajahnya.


"Kamu kira aku bodoh yang percaya semua ucapanmu? Mana ada maling mengaku maling?" Dengan sinis istri Bang Arka membalas ucapanku.


"Terserah Mbak mau percaya atau tidak. Tapi itu kenyataannya. Kalau Mbak tidak percaya, silakan tanya Bi Sumi dan Mas hadi." Aku mencoba menjelaskan dengan sabar.


"Hah? Bi Sumi? Pak Hadi? Kamu bahkan tau dengan semua yang bekerja di sini. Apa kamu pikir aku tidak semakin curiga dengan hubungan kalian?" Hardik istri Bang Arka padaku.


Aku yakin wajahku sekarang sudah pucat. Otakku saja rasanya membeku, entah akan membantah dengan kata-kata apa lagi sekarang.


"Karena mereka ikut membantuku malam itu." Aku mencoba menjelaskan awal mula ceritaku dengan Bang Arka di mulai.


"Apa? Malam itu? Apa yang kamu lakukan dengan suamiku malam itu ******?" Bentak istri Bang Arka.


Baiklah. Sepertinya inilah titik terendahku. Ini akhir dari pertahananku. Ini batas kesabaranku. Aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Runtuh sudah pertahananku, hancur sudah benteng yang ku bangun.


Air mataku jatuh dengan deras saat mendengar caci maki wanita hamil itu. Hatiku sakit, lebih sakit saat melihat Danen berada di atas tubuh Cindy, sahabatku.


"Maaf Mbak, aku bukan ****** seperti yang Mbak bilang. Aku hanya gadis biasa. Orang tuaku selalu mengajariku menghormati orang lain, terutama yang lebih tua. Namun jika yang dihormati tidak tau aturan sepertimu, maka aku tidak ingin lagi menghormati." Aku masih mencoba menahan amarahku. Aku berniat menjelaskan semuanya dari awal saat istri Bang Arka tiba-tiba mendekatiku dan bertanya dengan sinis.


"Kamu terlalu banyak bicara untuk seorang wanita penjaja cinta. Jadi, kamulah yang menemaninya tiap malam? Kamu yang sudah menjamah tubuhnya tiap malam? Apa kamu tidak sadar, bahwa selamanya kamu gak akan bisa mendapatkannya. Karena apa? Karena aku tidak akan melepaskannya."


"Status kami lebih jelas dan ada anak yang akan mengikat kami. Sedangkan kamu, setelah suamiku puas dengan tubuhmu, dia akan membuangmu, mencampakkanmu seperti barang rongsokan." Istri Bang Arka berkata dengan tajam sambil jarinya menunjuk tepat ke arah wajahku.


Jadi ini istrimu Bang? Yang cintanya selalu kamu jaga? Tapi Bang, mulutnya sungguh sangat berbisa! Bagaimana kamu bisa tahan menghadapinya?


Aku bergidik membayangkan tiap hari Bang Arka mendengar omelannya yang memekakkan telinga. Aku seketika turut prihatin dan tidak terima jika Bang Arka sampai mengalaminya.


"Mbak itu sedang mengandung lho, jaga omongan Mbak. Kata orang, gak baik seperti itu saat sedang hamil." Aku masih mencoba bersabar dan berbicara di sela-sela isakanku.


"Aku sungguh tak ada hubungan apapun dan tidak seperti yang Mbak tuduhkan. Jika Mbak tidak percaya, bisakah kita ke Rumah Sakit sekarang untuk memeriksakan apakah aku masih perawan atau sudah berlubang? Aku bersedia Mbak melakukan itu semua." Aku semakin tersedu saat mengatakannya. Entah kenapa rasa sakit ini semakin bertambah saat melihat tatapan istri Bang Arka semakin tajam.


Otak minimalisku terus berpikir, apa ada yang salah dengan pilihan katanya? Atau aku yang salah dengar? Tidak mungkin kan dia tidak tahu ilmu biologi dasar?


"Jelas ada gunanya Mbak, jika Mbak mau ikut aku ke Rumah Sakit untuk memeriksa status keperawananku, dari situ Mbak akan tau aku masih perawan atau tidak. Jika aku masih perawan itu berarti semua tuduhan Mbak terhadapku hanya omong kosong." Aku membantah semua kata-katanya.


Bang, apa benar ini istrimu? Kenapa dia mendadak bodoh dan tidak mengerti arti keperawanan. Bukankan dia juga seorang wanita? Aku terus memandang wajah istri Bang Arka dengan banyak pertanyaan di benakku. Wajah istri Bang Arka langsung terlihat merah menahan amarahnya.


"Apa hakmu mengajariku tentang semua itu? Yang aku tau, kamu sudah merusak rumah tanggaku. Kamu yang menyebabkan suamiku keluar dari rumah dan meninggalkan aku serta anak kami. Kamu pengacau. Kamu yang merebut suamiku." Istri Bang Arka berteriak histeris.


"Aaaww.." Tiba-tiba istri Bang Arka meringis kesakitan.


Waduh mampus! Jika dia melahirkan sekarang, aku bisa dihajar seluruh orang nih. Dikira aku yang menyebabkan semua ini. Eh tapi bukankan semua akar dari masalah hari ini karena keberadaanku. Hah, benar, semua berasal dari aku. Tapi aku bukan pelakor dan aku bukan wanita hina. Aku gadis baik-baik yang hanya salah langkah dengan tidur di rumah lelaki lain yang merupakan suami orang.


Sungguh Bang, aku tak ada maksud buruk terhadapmu. Bahkan sampai menghancurkan rumah tanggamu. Sama sekali itu semua tidak ada dalam pikiranku. Kamu tahu sendiri Bang, aku mencintai siapa dan aku hanya butuh ketenangan atas semua masalah yang menimpaku.


"Mbak, ada apa Mbak? Kamu kenapa Mbak? Apa yang sakit Mbak? Aku akan telepon Bang Arka, tunggu lah sebentar Mbak." Aku bergerak ke arah istri Bang Arka dan menahan tubuhnya yang membungkuk menahan sakit. Saat hendak berbalik untuk mengambil ponsel yang ada di tasku, lenganku dicekal tangan istri Bang Arka dengan sangat kuat.


"Kamu? Mau menghubungi suamiku? Dasar tak tau malu. Bisa-bisanya kamu menghubungi suami orang tepat di hadapan istrinya." Seketika tubuh wanita hamil di hadapanku ini langsung tegak berdiri seperti tidak pernah merasakan sakit apapun. Aku membelalakkan mataku, berusaha memperjelas penglihatanku.


"Jangan sekali-kali tangan kotormu menyentuh suamiku. Atau menghubungi suamiku. Enyahlah kamu dari hidup kami." Dengan geram wanita itu berkata.


"Tapi Mbak tadi kesakitan, aku hanya ingin menolong." Aku mencicit sambil merasakan nyeri di lenganku.


"Dasar penggoda! Hentikan semua sandiwaramu. Kamu tidak akan bisa menggantikanku." Ucapnya.


"Aku tidak ingin menggantikan posisi Mbak. Aku hanya ingin membantu saja." Jawabku.

__ADS_1


"Aku tidak perlu bantuan dari wanita kotor seperti kamu!" Dia berteriak tepat di wajahku.


Aku mendesah. Air mataku meloloskan diri. Baiklah, aku harus segera keluar dari rumah ini jika tidak ingin semakin sakit hati.


Aku segera membalikkan badanku dan ingin mengambil tasku. Aku harus segera keluar dari rumah ini. Aku ingin ketenangan, bukan malah babak belur dihantam kata-kata menyakitkan.


"Mau kemana kamu? Mau melarikan diri, hah?" Teriaknya.


"Aku mau pulang Mbak, tak ada gunanya kan aku disini jika Mbak tidak percaya. Dan aku lihat, sepertinya Mbak baik-baik aja." Aku menyindirnya setelah ku lihat bahwa dia benar-benar tidak kesakitan sama sekali. Hah dasar wanita ular.


Apa sih yang kau lihat darinya Bang? Dari awal berbicara, mulutnya sudah sangat berbisa. Aku saja langsung bisa menyimpulkan jika dia itu hatinya juga busuk.


"Apa kamu bilang? Jika sampai ada apa-apa dengan anak kami, kamu mau bertanggungjawab?" Teriakannya semakin kencang.


Aku mulai bosan dengan ocehannya. Aku hanya ingin segera pergi dari sini. Kay, kamu bisa, singkirkan dia segera. Aku memberi semangat pada hatiku sendiri.


"Baik aku akan bertanggungjawab, aku akan meminta Bang Arka menghamiliku juga." Mulutmu Kay!! Apa yang kamu pikirkan Mikhayla? Bagaimana otakmu berpikir hingga mulutmu bisa mengucapkan semua itu dengan mudahnya. Dasar otak minimalis!


"Apa kamu bilang?" Nah Kay, lihatlah, kamu sungguh membangunkan singa tidur.


Plaaaakk..


Pipi kiri ku seketika terasa panas dan nyeri. Inilah balasanmu Kay. Kamu sudah mengobrak-abrik batasmu sendiri. Kamu yang tidak menjaga mulutmu. Ah tapi tetap saja, hatiku rasanya sangat sakit mendapat tamparan ini. Air mataku semakin deras ku rasa.


"Non Kay! Non gak apa-apa? Bu, tolong sopan sedikit Bu?" Pak Hadi membelaku. Ia segera berlari di hadapanku. Tubuhnya menjadi perisai hidup untukku.


"Mas Hadi tenang aja. Aku tidak apa-apa. Tak ada yang terluka." Aku berbohong. Aku sangat terluka Mas Hadi. Terluka dalam dan luar tubuhku.


Ku lirik wajah wanita itu. Dia tersenyum puas setelah menamparku. Dasar wanita ular. Sungguh buas tingkahmu. Aku menangkap sosok lelaki yang sedang menahan lengan wanita itu agar tidak lagi menyerangku. Siapa dia sebenarnya?


"Sudah Bu, selasaikan baik-baik. Jangan main tangan. Saya akan hubungi Pak Arka. Biar Pak Arka yang menyelesaikan semuanya." Pak Hadi kembali bersuara.


"Aku berhak menampar wajah wanita ****** ini. Dan kamu tak pantas membelanya. Kamu hanya seorang satpam! Tidak lebih. Pergi kamu. Aku berhak mengatur rumah ini." Istri Bang Arka mencerca Pak Hadi.


Ah sungguh menyebalkan sekali dia. Mulutnya benar-benar berbisa. Entah racun apa yang sudah dia minum, tapi tiap kata yang keluar dari mulutnya sangat menyakitkan.


"Mas, jangan diambil hati. Nanti coba hubungi Bang Arka aja." Aku mencoba menenangkan Pak Hadi yang terlihat menahan amarah.


"Tenang Non. Bapak sudah biasa direndahkan seperti ini." Jawab Pak Hadi dengan suara bergetar.


"Bagus kalau kalian tau posisi. Sekarang keluar dari rumah ini." Bentaknya sambil jarinya menuding. Matanya nyalang menatapku dan juga Pak Hadi.


Aku mendengus, kesalku sudah tak tertahankan. Namun aku harus melindungi hatiku. Lebih baik aku segera keluar saja, daripada aku semakin sakit dan tak bisa menahan diri.


Aku membalik badan, melangkahkan kakiku menuju ranjang. Ku ambil tasku dan berkata pada Pak Hadi.


"Jaga rumah ini sampai Bang Arka pulang. Nanti Mas Hadi bicara dengan Abang."


"Cih, wanita tak tahu malu. Berlagak seakan kamu nyonya rumah ini. Aku ini istri sahnya, aku berhak atas apapun di dirinya. Dan beraninya kamu memanggil Bang Arka? Jangan coba-coba menggodanya! Cepat keluar dari sini. Jauhkan tubuh kotormu dari suamiku!" Hardik wanita ular itu padaku.


Aku ingin mengumpat. Bolehkan aku memaki wanita hamil? Mulutku ingin membalasnya tapi aku juga sadar posisiku. Hah lagi-lagi statusku yang jadi kelemahan.


Aku segera melangkahkan kakiku. Namun belum sampai melewati tubuh wanita ular itu, suara bariton yang sangat ku kenal menyapa telingaku.


"Tidak ada yang boleh meninggalkan rumah ini tanpa izin dariku."


Seketika tubuhku bergetar. Sontak air mataku meleleh dengan tak tahu malu. Kau datang Bang. Akhirnya kau datang. Aku sungguh memerlukanmu saat ini.

__ADS_1


Seluruh sakit hatiku seketika menyeruak ke permukaan. Dengan cepat sakit itu meminta perhatian. Entah kenapa, saat ini juga aku ingin mengadukan segala kekesalanku. Tapi untungnya aku masih bisa menahan diri. Aku menutup mulutku rapat. Namun mataku mengatakan yang sebaliknya.


Bang, selamatkan aku. Seperti itulah kira-kira ucapan mataku saat menatap Bang Arka.


__ADS_2