MENTARI YANG TERSEMBUNYI

MENTARI YANG TERSEMBUNYI
TEMAN BARU (2)


__ADS_3

"Satu.."


Hatiku berdegup kencang saat pembawa acara itu mulai menghitung.


"Dua.."


"Sebentar lagi Mikha!" Lirih suara Bang Arka mengingatkan aku. Kepalaku mengangguk sebagai jawaban.


"Tiga.."


Pembawa acara selesai berhitung diiringi suara Bang Arka, "sekarang sayang."


Bersamaan dengan itu, tanganku terlontar ke belakang. Namun, tubuhku pun ikut ku putar. Buket bunga yang ku pegang, masih tergenggam kuat di tangan.


Mataku berbinar menatap sesosok tubuh yang telah siap di tempatnya. Entah kenapa hatiku ikut bergetar menyaksikan semua ini, terlebih ini menyangkut sahabatku. Sungguh aku bahagia ikut andil dalam kejadian ini.


Setapak demi setapak kakiku turun dari pelaminan dan melangkah menuju sesosok wanita yang menatapku dengan bingung. Buket bunga yang indah ini masih ditanganku dan urung ku lempar. Tak ku hiraukan tatapan aneh dari kerumunan para jomblo pengincar buket bungaku. Bahkan ada Cindy disana yang juga menanti buket bunga ini.


Ah Cindy ya, aku memang sudah berusaha merelakan semuanya dan memaafkan dirinya tapi untuk kembali dekat rasanya masih enggan.


Sepuluh langkah menuju kebahagiaan sahabatku.


Aku merasa sangat gugup tapi senyumku tak pernah surut. Dan gadis itu, ah lucu sekali ekspresinya. Di belakang tubuh gadis itu, telah siap sesosok lelaki dengan satu lutut bertumpu pada lantai.


Mataku melirik ke sisi kananku, ada Aldrich yang dengan santainya masih mengunyak kambing guling. Ah lelaki itu, dia tak terpengaruh oleh kejadian ini. Dia benar-benar terlihat menikmati sesi makannya. Dan lihatlah siapa yang ada di sisinya?


Astaga, apa sejak kejadian di kantin jurusanku tempo hari mereka menjadi berteman akrab? Lihatlah, bahkan mereka berdua sedang menatapku sambil tersenyum. Mereka, Aldrich dan Danen. Tangan Danen bahkan melambai padaku saat ini.


"Fokus ke depan, tak perlu menggubris mereka!" Aku terlonjak saat suara bariton suamiku mengagetkanku dari belakang.


Oh ****, sejak kapan dia mengiringi langkahku? Bukankan skenarionya tidak begini?


Badanku sedikit berputar untuk melihat Bang Arka yang ternyata hanya berjarak dua langkah dariku dan tentu saja dia sedang tersenyum padaku.


"Lihat depan sayang!" Ujar Bang Arka lembut.


Kakiku melanjutkan langkahnya dengan sangat ringan. Aku semakin bersemangat. Lima langkah lagi menuju sosok yang semakin bingung menatapku.


Tiga langkah.


Dua langkah.


Satu langkah.


Dan di sinilah sekarang aku berada. Tepat di depan tubuh sahabatku. Sahabat yang baru ku kenal saat mulai berkuliah. Winda.


"Untukmu Win. Dan selamat." Ucapku lirih.


Pandangan Winda mendadak kosong. Mulutnya terbuka, seperti ingin berkata namun tak ada yang bisa dikeluarkan. Wajahnya benar-benar lucu.


"Buruan diterima bunganya, Win. Capek nih megangnya." Ujarku sambil menarik tangan Winda untuk menggenggam buket bungaku.


"Wah tampaknya buket bunganya sudah dipesan khusus ini ya. Dan wanita cantik bergaun ungu itulah yang mendapatkannya. Selamat Mbak!" Sang pembawa acara pun membantuku untuk menyadarkan Winda dari keterkejutannya.


"Winda!" Aku memanggil gadis yang masih bengong di depanku ini.


"Mbak, itu tolong diterima dulu. Kasihan pengantinnya dicuekin." Sindiran dari pembawa acara mengundang gelak tawa dan tepuk tangan meriah dari tamu undangan.


Bang Arka yang sedari tadi berdiri diam di belakangku, akhirnya ikut beraksi.


"Win, terima bunganya dan lihat di belakangmu." Ujar Bang Arka sambil melingkarkan tangannya pada pinggangku.


Kali ini mata Winda mengerjap, akhirnya dia tersadar.


"Apa Kay?" Tanya Winda yang malah memandang Bang Arka.


Astaga, otak gadis ini belum sinkron ternyata.


Aku maju lebih dekat dengan tubuh Winda, memeluk tubuhnya dan berbisik tepat di telinganya.


"Cerita lengkapnya akan aku ceritakan nanti. Sekarang ambil buket bunganya dan lihat di belakangmu, Winda."


"Emang ada apa?" Tanya Winda setelah pelukanku terlepas.


"Berbaliklah. Sekarang." Perintah ku.


Tanpa menjawab ataupun membantah, Winda segera membalik tubuhnya. Sontak gadis itu berjingkat ke belakang. Wajahnya langsung ditutup dengan buket bunga yang baru diterimanya. Tubuhnya menabrak tubuhku. Untung Bang Arka berjaga tepat di belakangku, hingga aku yang kehilangan keseimbangan tak sampai jatuh.


"Wah, ada lamaran langsung nih! Langsung atau numpang acara teman nih?" Pembawa acara masih saja menggoda.


Suasana kembali riuh oleh gelak tawa tamu undangan.


"Kay, apa ini?" Winda menatapku dengan bingung.


"Menurutmu?" Aku menjawab singkat dengan suara bergetar.


Oh ayolah Kay, kenapa kamu semelankolis ini sih? Aku merutuki diriku sendiri.


"Tapi, kamu tau sendiri kan Kay. Waktu itu Kak Ken--"


Suara Winda terhenti saat tiba-tiba di samping kananku ada sepasang kekasih yang menimpali perbincangan kami.


"Jangan khawatir, Kendrick telah berubah. Dia hanya mencintaimu. Dan aku," Suara lembut wanita menyapa telinga kami dan itu adalah Lily yang sedang bergandengan tangan dengan Gilang, "aku telah memiliki tambatan hatiku sendiri. Ini." Imbuhnya sambil mengangkat kaitan tangannya.


"Jadi?" Tanya Winda dengan singkat.


"Jadi ceritanya nanti dulu ya. Sekarang lihatlah ke belakangmu. Apa kamu gak kasihan lihat kak Ken dari tadi seperti itu?" Ujarku.


Tubuh Winda ku bimbing untuk menatap Kendrick yang tengah berlutut dengan satu kaki. Wajah tegangnya terlihat sangat nyata. Hah, ini pertama kalinya aku melihat dia seperti itu dan sungguh terlihat binar cinta di matanya.


"Hai sayang!" Sapa Kendrick.


Pembawa acara melangkah mendekati Kendrick sambil mengulurkan mikrofon di hadapan Kendrick.


"Biar calonnya kedengeran Mas." Ucap pembawa acara itu.


Kendrick mengangguk sambil tersenyum.


"Jadi, sayang. Pertama, maafkan aku, sudah membuatmu menduga yang tidak-tidak padaku. Tapi sumpah, aku gak macam-macam di belakangmu. Tanya saja Kay, Arka atau Aldrich. Mereka sudah tau kebenarannya dan mereka juga ikut merencanakan semua ini." Ucap Kendrick dengan suara bergetar.


Bang Arka di belakangku terkekeh mendengar suara Kendrick. Aku menyikut perutnya untuk memberinya tanda agar menutup mulutnya.


"Dan kedua," Kendrick menjeda ucapannya sambil menarik nafas panjang, "aku tak seperti Aldrich yang pandai merangkai kata indah. Tapi aku akan langsung melakukan dengan tindakan." Imbuhnya.


"Winda, sayang. Hari ini, di depan orang tuaku, adikku, sahabatku dan seluruh tamu undangan, aku ingin menjadikanmu sebagai satu-satunya wanita yang akan menemani sisa hidupku dan menjalani hari-hari bahagia kita bersama. Jadi, Winda, menikahlah denganku!" Ujar Kendrick sambil menyodorkan kotak beludru merah berisi cincin yang sangat indah.

__ADS_1


Winda yang dilamar, aku yang menahan nafas. Sungguh aku terharu dan sampai meneteskan air mata. Suasana ini sangat indah dan romantis.


Eh tapi yang mana orang tua Kendrick ya? Kenapa aku tak tahu? Apa mereka juga bersahabat dengan Ayah, seperti Kendrick yang bersahabat dengan Abang?


"Kenapa kamu nangis Mikha?" Bisik Bang Arka sambil mengeratkan pelukannya padaku.


"Aku terharu Bang. Aku bahagia banget." Cicitku.


"Belum tentu diterima juga kan si Kendrick!" Bang Arka kembali berbisik.


"Abang!" Pekikku sambil mencubit lengan Bang Arka.


Astaga, punya suami mulutnya kenapa lemas sekali sih? Bukankah dia semestinya ikut bahagia melihat temannya bahagia?


"Becanda sayang! Yakin deh, pasti Winda mau. Kalaupun Winda gak mau, Kendrick akan melakukan seribu satu cara agar Winda jadi miliknya. Percaya deh sama Abang. Abang lebih tau Kendrick." Bang Arka menjelaskan.


Bukannya tenang, aku malah merasa terkejut. Astaga, apa mungkin Kendrick akan melakukan apapun agar Winda jadi miliknya? Apa benar senekat itu?


Pembicaraanku dan Bang Arka terhenti saat riuh suara tamu undangan mulai terdengar.


"Terima!"


"Terima!"


"Terima!"


Bang Arka mengajakku bergabung dengan Gilang dan Lily. Ku lihat wajah Winda yang ternyata sudah dipenuhi air mata. Oh gadis abstrak itu ternyata selain terkejut rupanya juga terharu.


"Ayo jawab Mbak. Kasihan Masnya keburu kesemutan kakinya." Desak pembawa acara saat melihat Winda bergeming.


"Winda, buruan jawab woi! Kelamaan mikir keburu tua. Kasian kak Ken makin jadi kakek-kakek ntar." Oh ****, aku keceplosan!


Sontak saja riuh tawa kembali membahana. Bang Arka menggelengkan kepalanya sambil membungkam mulutku dengan tangannya.


"Santai Nyonya Fabian. Malu ah sama gaunnya." Bisik Bang Arka.


"Emosi banget Bang. Kelamaan deh jawabnya." Bantah ku dengan kesal.


Bang Arka hanya terkekeh mendengarnya dan kembali memelukku dengan erat.


"Jadi gimana sayang?" Tanya Kendrick kembali, "kalaupun kamu gak bersedia, aku akan melakukan segala cara agar kamu menjawab 'ya'." Imbuh Kendrick dengan menampilkan deretan gigi putihnya.


Astaga, tepat sekali yang diucapkan Bang Arka. Aku menatap Bang Arka dan dibalas dengan seringaian.


Ku lirik Winda yang tampak menganggukkan kepalanya dengan air mata yang terus menetes.


"Jawab yang keras dong Mbak. Kita disini pingin dengar juga." Desak pembawa acara.


"Ya, aku mau Kak Ken." Akhirnya, setelah bisa menguasai tangisnya, Winda menjawab permintaan Kendrick.


Kendrick segera berdiri dan menghampiri Winda. Cincin yang tadi dipegangnya, kini telah disematkan di jari manis Winda.


"Terima kasih sayang. Aku pastikan akan membahagiakan dirimu, hari ini, esok dan seterusnya." Ujar Kendrick sambil mencium kening Winda.


Sungguh, hari ini benar-benar menjadi hari bersejarah untukku. Bukan hanya karena hari ini seluruh kenalan kami mengetahui status pernikahanku dengan Bang Arka tapi hari ini juga aku menyaksikan sahabat baikku melabuhkan hatinya pada lelaki pujaannya.


***


"Kita mau kemana Bang?" Tanyaku saat acara resepsi kami telah usai.


"Kini giliran Abang memberimu kejutan." Jawab Bang Arka.


"Emang apa kejutannya?"


"Tunggu aja. Kalau dikasih tau sekarang namanya bukan kejutan Mikha."


Aku mendengus mendengar jawaban Bang Arka. Ku biarkan saja Bang Arka menuntun langkahku mendekati meja dimana keluarga kami berkumpul.


"Ayo semuanya, sekarang waktunya." Ujar Bang Arka kepada kedua pasang orang tua kami.


Aku yang masih kebingungan hanya mampu menatap satu persatu wajah orang tua kami. Mama, Papa, Ayah dan ibu mengangguk sambil berdiri dan bersiap mengikuti langkah Bang Arka.


"Sebenarnya mau ke mana sih?" Tanyaku pada siapapun yang mau menjawabnya.


Tapi ternyata yang ku dapat hanya senyuman.


"Kamu ikut juga Win?" Tanyaku saat melihat Winda mendekat bersama Kendrick.


"Jelang dos!" Jawab Winda sambil terbahak-bahak.


Astaga, sudah kembali ke wujud asal ternyata gadis ini.


"Kay, gantian ya!" Aku mengernyit menatap Winda yang saat ini berjalan mendekatiku sambil mengerlingkan matanya.


Ada apa sih ini sebenarnya?


Tanpa aba-aba Winda menutup mataku dengan selembar kain. Aku mencoba berontak tapi tak ada yang menghiraukan.


Kini tubuhku dituntun untuk berjalan dengan mata tertutup. Aku tahu siapa yang menuntunku. Tangan posesifnya yang melingkar erat di pinggangku menunjukkan siapa pemiliknya. Tentu saja, hanya Bang Arka yang mampu melakukannya.


Kini aku yakin sedang berada di dalam mobil yang entah melaju ke mana.


"Bang, kita mau kemana?" Tanyaku yang ternyata tak juga membuahkan hasil.


Sial. Memangnya ini mau kemana sih? Tubuhku digerogoti oleh rasa penasaran yang sangat besar.


Entah berapa lama kami berkendara, yang ku rasa sekarang mobil telah berhenti. Lagi-lagi tubuhku digiring keluar dari mobil dan melangkah entah ke arah mana.


"Sudah siap sayang?" Bisik Bang Arka tepat di telingaku.


Aku mengangguk dengan sangat antusias. Rasanya seperti menunggu berabad-abad untuk membunuh keingintahuanku ini.


Bang Arka memelukku dari belakang dan mencium bahuku yang sedikit terbuka sebelum melepaskan penutup mataku.


"Semoga kamu menyukainya, Mikha." Lirih Bang Arka bersuara sambil tangannya melepas penutup mataku.


Mataku mengerjap berkali-kali saat pandanganku mulai terfokus pada satu titik. Reflek tanganku menutup mulutku yang entah sejak kapan terbuka lebar.


Hanya satu kata yang mampu ku ucap. Indah!


Sungguh ini sangat indah. Bangunan dua lantai dengan desain kekinian. Warnanya juga terkesan lembut. Hijau kebiruan dengan sedikit sentuhan kuning dan jingga sebagai pemanis. Taman kecil penuh dengan bunga anggrek ada di sebelah kanan bangunan ini.


Astaga, ini benar-benar indah!


"Bang, ini--" Sumpah, aku tak tau harus mengucapkan apa.

__ADS_1


"Selamat datang di rumah kita. Semoga rumah ini akan menjadi saksi kebersamaan dan kebahagiaan yang akan kita rajut bersama. Mikha, jadilah ratu dalam rumah tangga kita. Jadilah penerang dalam hidupku. Aku mencintaimu sayang." Jawab Bang Arka sambil mengeratkan pelukannya ke tubuhku.


Sontak aku membalik tubuhku dan menatap wajah tampan suamiku. Ah rasanya tak habis rasa syukur ini untuk mengungkapkan betapa beruntungnya aku memilikinya.


"Terima kasih Bang. Kay juga sayang Abang. Kay cinta mentok tok tok sama Abang." Balasku.


Tanpa malu lagi, aku langsung mendaratkan ciuman pada area kesukaan Bang Arka. Bibir lembutnya benar-benar membuatku ketagihan.


Lama kami saling mencumbu sampai ada suara dehaman yang memisahkan ciuman kami.


"Tunggu sampai di dalam kamar dong." Terdengar suara Ayah dari belakang tubuh kami.


Aku dan Bang Arka berbalik. Tersenyum malu menyadari jika banyak penonton di belakang kami. Ternyata semuanya mengiringi kami hingga ke rumah ini. Mama, Papa, Ayah, Ibu, Kendrick, Winda, Aldrich bahkan Danen juga ikut ke sini. Wah ramainya!


Namun mataku justru menangkap satu pemandangan yang lama tak ku lihat.


Aku berjalan mendekat untuk memastikannya dan berteriak saat menyadari mataku tak salah mengenali.


"Mas Hadi! Bi Sumi!"


Ini kejutan lainnya yang kudapatkan. Hatiku langsung bersorak kegirangan saat melihat wajah hangat yang sudah menorehkan kenangan indah di hatiku.


"Ketemu lagi non Kay. Gimana kabarnya?" Pak Hadi menyapaku.


"Kok bisa disini?" Aku justru balik bertanya dan segera menyalami Pak Hadi juga Bi Sumi.


Tunggu dulu, jika Pak Hadi dan Bi Sumi ada di sini, berarti rumah ini? Aku langsung mengedarkan pandanganku ke sekeliling rumah, mencoba memecahkan teka teki yang kini membelit di otakku.


Nihil.


Otakku tak mampu mencerna yang tengah terjadi. Mataku tak mampu menangkap satu pun bagian yang ku kenal dengan baik.


Eh tapi...


Kakiku melangkah menuju pagar tinggi yang terbuat dari kayu dengan hiasan besi di tengahnya. Aku seperti mengenali pohon besar di seberang jalan sana.


Ya benar! Pohon besar itu adalah pohon yang sama. Pohon yang selalu menjadi titik berhentinya mobilku saat mengamati rumah Bang Arka dari kejauhan, beberapa bulan silam. Aku ingat betul pohon itu.


"Abang, rumah ini, apa rumah yang sama?" Tanpa malu aku berteriak nyaring dari depan pagar.


Bang Arka tersenyum dan mengangguk. Tangannya terulur, memintaku untuk meraih dan mendekatinya.


Sedikit berlari aku mendekati tubuh Bang Arka yang belum beranjak dari tempatnya. Berpasang-pasang mata yang menjadi saksi kejutan Bang Arka padaku sore ini, menatapku sambil mengulum senyum. Mereka ikut berbahagia bersamaku.


Aku langsung menghambur dalam pelukan Bang Arka saat jarakku tak lagi jauh.


"Makasih Abang. Makasih. Kay suka banget. Kay suka berada disini." Ujarku dari dalam pelukan Bang Arka.


"Mudah sekali membuatmu tersenyum. Padahal awalnya Abang kira kamu gak akan mau menginjakkan kakimu disini lagi, Mikha." Lirih suara Bang Arka terdengar ragu.


"Omong kosong dari mana itu? Kay suka banget disini!" Sanggahku dengan segera.


"Terima kasih. Tapi, ini tidak seperti yang dulu," Ujar Bang Arka sambil mendekatkan bibirnya ke telingaku, "Abang sedikit merombak bagian yang menurut Abang meninggalkan kenangan buruk." Imbuh Bang Arka dengan suara rendahnya.


Sumpah, aku merinding jika mendengar Bang Arka bersuara seperti itu.


"Maksudnya gimana Bang?" Wajahku jelas menampakkan kebingungan.


"Masuk aja, kamu akan tau maksud Abang." Bang Arka sudah menarik tanganku dan mengajakku memasuki rumah kami saat ucapannya baru saja terlontar.


Kami semua yang berada di halaman depan, mengikuti langkah Bang Arka memasuki rumah. Mataku membelalak menatap tata letak yang berada di rumah ini.


"Tampak berbeda bukan? Tapi ini tetap rumah yang sama Mikha. Kamu suka?" Tanya Bang Arka saat mataku menatap takjub pada tiap sudut rumah ini.


"Di mana kamarku?" Tanyaku saat aku tak menemukan apa yang aku cari.


"Kamar kita di atas sayang." Jawab Bang Arka.


"Bukan itu. Maksudku kamarku." Ucapanku justru membuat semua orang menatapku bingung.


"Iya kamar kita di atas, Mikha. Gak ada kamarku, atau kamarmu, yang ada kamar kita." Sanggah Bang Arka.


"Maksudnya kamarku. Kamar yang dulu aku tempati saat Abang nemuin aku pertama kali." Ucapku sambil memusatkan tatapanku pada wajah Bang Arka.


Kedua orang tuaku dan mertuaku menggelenhkan kepala saat mendengar ucapanku. Mereka tak lagi menggubrisku dan segera melangkah ke halaman belakang rumah ini. Dan kawan-kawanku tampaknya juga tak berminat mendengar drama yang tengah ku mainkan. Mereka memilih mengikuti dua pasang lansia itu.


Sedangkan Bang Arka langsung merengkuu tubuhku dan berbisik di telingaku.


"Abang sudah bilang, ini rumah yang sama tapi Abang membuang semua bagian yang mengingatkan pada kenangan buruk kita."


"Tapi Kay suka kamar yang dulu. Itu kan kamar kenangan kita juga Bang. Dari situ awal mula perjalanan kita." Ujarku.


"Tapi Abang gak suka Mikha. Kamar itu justru mengingatkan Abang kejadian buruk yang hampir menimpamu. Dan bahkan ada kejadian menyebalkan yang sudah terjadi di kamar itu. Abang masih suka emosi kalau inget itu. Apalagi dia ikut kesini, bisa habis dia kalau kamar itu masih ada. Pasti Abang keinget kejadian malam itu terus." Cerocos Bang Arka.


Aku memutar mataku dengan dramatis. Astaga, jadi seperti itu penilaian Bang Arka. Apa yang ku anggap kenangan indah justru menjadi kenangan pahit untuk Bang Arka. Baiklah Bang, aku bisa menerima jika alasannya seperti itu.


"Lalu kamar Abang yang dulu?" Tanyaku lagi.


"Kamar di lantai bawah Abang renovasi semua Mikha dan jadi kamar tamu. Kamar kita di atas. Mau lihat?" Ajak Bang Arka yang langsung ku setujui.


Kami menaiki tangga bersama dan sampailah kami di ujung lorong di lantai dua. Ada tiga kamar berhadapan di lorong ini. Satu kamar di sisi kanan dan dua kamar di sisi kiri. Bang Arka membuka kamar di sisi kanan.


"Ini kamar kita." Ujar Bang Arka saat kami memasuki kamar.


Aku membelalakkan mata menatap isi kamar ini. Astaga, kamar ini indah dan sangat besar. Wow!


Kakiku melangkah menjelajah isi kamar. Ada sofa lengkap dengan mejanya di sudut kamar. Ranjang besar dengan meja kecil di samping kanan dan kirinya. Televisi tepat di depan ranjang. Meja rias dan lemari baju yang berjejer rapi. Aku suka! Sangat suka kamar ini.


Ku peluk tubuh Bang Arka yang mengikuti di belakangku.


"Makasih Abang. Kay suka. Kapan kita pindah sini?" Tanyaku setelah pelukan kami terurai.


"Hari ini. Kita langsung menempatinya."


"Hari ini juga Bang? Tapi Kay belum berkemas?"


"Tak perlu berkemas. Biarkan saja barangmu di rumah Mama Papa agar mereka tetap merasa kamu ada di rumah itu. Di rumah ini, segala keperluanmu sudah Abang siapkan, baju, buku dan jurnal kuliahmu sudah Abang bawa semua."


Aku menatap kagum pada suamiku. Perencanaan langkahnya sungguh sangat luar biasa terarah.


"Siap memulai hidup baru bersamaku, istriku? Di sini, di rumah kita." Tanya Bang Arka dengan wajah berbinar.


Ku cium sekilas bibir Bang Arka dan ku jawab dengan penuh keyakinan, "Kay siap Bang. Kay siap menulis segala cerita indah kita bersama disini, di rumah kita, bersama Abang."


Hari ini, aku benar-benar akan memulai hidup baruku bersama Bang Arka. Memisahkan diri dari rumah orang tua dan membuka lembaran cerita milik kami sendiri.

__ADS_1


Semoga perjalanan hidup yang baru saja kami mulai ini mendapat restu dari semesta.


__ADS_2