MENTARI YANG TERSEMBUNYI

MENTARI YANG TERSEMBUNYI
TITIK NADIR


__ADS_3

Aku menatap amarah yang berkobar dari mata Bang Arka saat berbicara denganku, bahkan saat dia menarik istrinya keluar dari kamar ini. Tak sedikitpun aku berniat membantah setiap ucapannya, aku belum siap untuk dibentak lagi.


Dan di sinilah aku sekarang, terduduk sendiri di ranjang kamar tadi, meringkuk memeluk tubuhku sendiri. Tubuhku masih bergetar setelah tadi mendengar bentakan demi bentakan. Terakhir yang semakin melemahkan tubuh dan jiwa adalah bentakan dari Bang Arka.


Wajah bingas Bang Arka masih menari-nari di pelupuk mataku. Bang, kamu sungguh menakutkan. Apa kamu selalu seperti itu Bang? Ini pertama kali untukku Bang. Pertama kali aku di tampar, dan pertama kali aku di bentak oleh semua orang.


Aku terus menangis dan menangis. Rasa sakit di pipiku berpadu dengan rasa sakit di hatiku. Lengkap sudah, semuanya sempurna. Aku masuk dalam lubang hitam yang dalam. Aku akhirnya terseret dalam kehidupan misterius Bang Arka.


Selamat datang di pusaran kehidupan yang akan menarikmu semakin jauh dalam kehidupan rumah tangga orang lain, Kay. Selamat datang caci maki. Selamat menikmati hasil dari pelanggaran batas yang kamu lakukan sendiri, Kay. Inilah yang Mama dan Papa takutkan. Aku merinding membayangkan masalah yang mungkin akan menimpaku. Terutama jika menyangkut orang tuaku.


Tapi ke mana Bang Arka membawa wanita ular itu? Siapa tadi nama istrinya? Adinda, benarkan ya?


Bagaimana mungkin seorang wanita hamil seperti itu? Aku masih tidak habis pikir dengan kelakuannya.


Seketika aku membayangkan Bang Arka adu argumen dengan Mbak Adinda. Mbak? Ah aku malas memanggilnya dengan embel-embel, dia tak pantas dihormati. Sejujurnya aku masih sakit hati saat ditamparnya tadi.


Mengingat amarah Bang Arka dan melihat betapa mulut Adinda sangat berbisa, aku semakin tidak berani berangan tentang apa yang mereka lakukan. Tadinya dalam bayanganku akan ada suara teriakan dan bentakan bahkan pecahan barang-barang, namun sekarang yang kurasakan hanya kesunyian. Di luar sangat hening. Aneh.


Jiwa bergosipku tiba-tiba muncul saat aku tidak bisa mendengar apapun kegiatan yang terjadi di luar kamar. Aku menajamkan pendengaranku. Nihil. Aku tak mendapatkan apapun.


Seketika aku tersadar sesuatu yang sangat nyata. Bukankah mereka suami istri? Mungkin mereka saat ini di kamar dan sedang memadu kasih. Sangat wajar jika mereka saling bercumbu rayu. Ah menyebalkan! Kenapa aku melupakan itu? Pantas Bang Arka mengurungku di sini! Dia tak ingin diganggu. Tapi kenapa aku tidak diizinkan pulang saja?


Membayangkan yang mungkin Bang Arka dan Adinda lakukan, sontak membuatku bangkit dari kasur. Ada perasaan menggelitik yang terasa di hatiku. Entah bagaimana, mendadak hatiku rasanya sedikit kesal. Kesal yang, ah entahlah. Aku bahkan tidak bisa memberi nama pada perasaan ini.


Aku mendesah meratapi yang terjadi di dalam diriku. Aku ini sudah dicap sebagai orang ketiga. Padahal aku baru saja menjadi korban perselingkuhan. Kenapa roda kehidupanku bergerak sangat cepat?


Aku menempelkan telingaku pada daun pintu kamar. Sunyi sekali sih, sebenarnya kemana orang-orang tadi? Jangan-jangan aku ditinggal sendiri.


Bayangan diriku yang sendirian di rumah Bang Arka, membuat bulu kudukku meremang. Aduh, apa yang akan aku lakukan? Yang bisa ku pikirkan aku hanya ingin segera keluar dari sini.


Baiklah, ini cara tercepat yang bisa ku pikirkan. Aku sudah tidak peduli lagi jika aku akan mengganggu mereka. Segera ku genggam gagang pintu dan ku dobrak sekuat tenaga. Ku dorongkan tubuhku ke arah pintu, berharap pintu itu bisa terbuka dengan segera.


"Buka!! Tolong buka pintunya! Kay mau keluar!" Aku mendobrak pintu sambil berteriak kencang. Namun tetap tak ada sahutan.


"Bang Arka, buka Bang. Maafin Kay, Bang. Kay janji gak akan gangguin Abang lagi. Kay gak akan datang lagi Bang. Kay janji!" Aku terus berteriak, sekarang tanganku yang menggedor pintu kamar.


"Mas Hadi yang baik hati, bukain pintu ini dong. Tolong Kay dong Mas." Kini suara mengibaku terarah untuk Pak Hadi. Dia yang dari tadi sudah membantuku, ku harap sekarang berbelas kasih lagi padaku.


Nihil. Semua teriakanku bagai angin lalu. Sepertinya aku memang ditinggalkan. Aku tertawa sumbang. Menertawakan hidupku yang lagi-lagi ditinggalkan. Kenapa selalu seperti ini nasib hidupku? Ditinggalkan dan dicampakkan.


Pertama oleh ibu kandungku, kedua oleh kekasih hatiku dan sekarang oleh penolongku. Aku kembali menangis meratapi jalan hidupku. Kekuatanku seketika lenyap. Aku terduduk di balik pintu.


Dengan kekuatan yang tersisa, aku terus menggedor pintu. Saat aku sudah bisa mengontrol hati dan suaraku, aku kembali berteriak.


"Abang.. Mas Hadi.. Jangan tinggalkan Kay! Kay takut sendiri!"


"Mas Hadi, bantuin Kay dong."


"Mas Hadi, tadi katanya Kay cantik hari ini, kenapa Mas Hadi gak bantuin cewek cantik kayak Kay ini sih?"


Aku terus menggedor pintu dan berteriak lantang. Tenggorokanku terasa kering dan perih.


"Mas Hadi, Kay dehidrasi nih. Mau minum Mas. Tolongin Kay dong."


Aku belum menyerah untuk terus berteriak.

__ADS_1


"Mas Hadi, bukain pintu woi!! Kay cantik mau keluar Mas."


"Kay masih pakai baju kebaya nih, Kay gerah mau ganti baju. Baju Kay ada di mobil, tolong ambilin baju Kay dong, Mas Hadi yang baik hati dan tidak sombong."


"Mas Hadi.. Woi Mas Hadi! Denger gak sih. Tolongin Kay napa! Idih somsek banget sih Mas."


"Ntar Mas Hadi Kay beliin nasi bungkus yang terenak deh, ada di deket sekolah Kay."


Omonganku semakin melantur. Entah apa saja yang sudah ku ucapkan. Mungkin efek dehidrasi benar-benar sedang terjadi di tubuhku.


Cekleeekk..


Seketika aku merasa pintu kamar mendorong tubuhku. Sontak aku mendongak ingin melihat siapa yang membuka pintu. Tapi belum terlihat karena tubuhku yang terduduk dibelakang pintu membuatnya jadi sulit terbuka. Ah pasti Pak Hadi sudah bosan dengar teriakanku jadi dia yang membuka pintunya. Dia kan sejak tadi berjaga diluar kamar ini.


Aha, akhirnya aku bisa keluar. Membayangkan hal itu sontak membuat hatiku berbunga. Dengan segera aku bangkit dan bersuara.


"Mas Hadi lama ih, bukainnya. Kay kan ja...di.." Suara manjaku yang pura-pura merajuk terhenti saat mendapati bukan Pak Hadi yang membuka pintu. Ku lirik sekilas, Pak Hadi ada di ruang TV sedang membawa sapu dan ada Bi Sumi juga. Kapan dia datang?


Mataku kembali menatap sosok yang membuka pintu. Aku menelan salivaku dengan kasar, saat melihat sorot matanya yang tajam. Wajahnya terlihat dingin dan kejam. Kuatlah Kay. Beranilah! Aku menyemangati diriku sendiri.


"A..bang.." Aku tertatih memanggilnya. Tak ada jawaban dari mulutnya. Aku kembali menelan salivaku.


Aku kembali melirik keadaan di luar kamar. Sepi. Kemana Adinda pergi? Aku melangkahkan kakiku ke depan, mencoba mengamati keadaan sekitar. Namun baru sedikit kepalaku yang keluar, sebuah lengan kekar menghalau lajuku. Aku hanya sempat melihat Pak Hadi dan Bi Sumi sedang menyapu. Entah apa yang dibersihkan mereka secara bersamaan.


Pinggangku ditarik dengan kuat mendekat ke arah Bang Arka. Kini tak ada lagi jarak diantara kami. Tubuhnya menempel dengan tubuhku. Tanpa banyak bicara, dia menyeretku masuk ke kamar.


"Bang, Kay mau pulang. Kay mau keluar. Tadi, apa yang terjadi?" Aku mencicit. Tak ada jawaban.


Saat tubuhku sudah menjauh, pintu ditutup dengan kencang dan dikunci dari dalam. Mata Bang Arka menatapku nyalang. Aku benar-benar ketakutan sekarang. Ayo berpikirlah Kay, apapun lakukanlah agar amarahnya segera mereda.


"Bang, maafkan aku. Aku gak berniat mencampuri urusanmu. Aku tadi kesini cuma mau minta maaf aja. Terus aku capek dan tidur di kamar ini sebentar. Gak lama istrimu datang dan salah sangka. Maafkan aku Bang, aku akan jelaskan sebisaku padanya." Lirih aku berkata, berharap amarah Bang Arka mereda. Memang salahku. Aku yang sudah terlalu jauh masuk ke hidupnya.


Bang Arka masih diam tak menjawab. Matanya masih tajam menatapku. Entah apa yang dipikirkannya.


"Bang, ngomong napa Bang. Kan Kay gak tau kalau Abang diem aja gini. Maafin Kay ya Bang. Kay janji gak akan ganggu Abang lagi. Kay juga gak akan ke sini lagi. Tapi maafin Kay Bang." Aku terus mengoceh.


"Aw.. Sakit Bang. Lepas!" Seketika aku merasa cengkeraman tangan Bang Arka menguat, membuat lenganku terasa ngilu.


Dia ini kenapa sih sebenernya? Aku benar-benar bingung dibuatnya.


"Abang lepas, Kay mau pulang. Kay mau minta tolong Mas Hadi dulu buat ambil tas Kay." Aku terus berontak.


Aduh, makan apa sih orang ini? Kenapa cengkeramannya makin kuat saja. Lengan Kay nyeri Bang.


"Abang, lepas. Ih sakit tau Bang. Abang kenapa sih? Lepas Abang. Mas Hadi, tolongin Kay Mas." Aku berteriak, mulutku tak lagi terkontrol.


Mata Bang Arka semakin tajam melihatku. Ada amarah terpendam di sana yang entah karena apa. Nyaliku menciut. Bahkan sekedar untuk bersuara kini tak sanggup lagi.


Aku melihat ke arah pintu, mencoba menghitung jarak, kekuatan dan kecepatanku untuk bisa sampai ke pintu tanpa tertangkap Bang Arka. Aku memikirkan ribuan cara untuk melepaskan diri dari cengkeraman Bang Arka.


"Bang.. Maaf untuk tadi pagi juga." Tiba-tiba aku ingat tujuan awalku datang ke rumah Bang Arka.


"Maaf karena Papa dan Mama belum mengizinkan. Mereka khawatir kejadian ini akan menimpaku. Dan ternyata benar dugaan mereka. Aku bahkan sudah dianggap menjadi orang ketiga di dalam rumah tangga kalian. Maaf Bang." Ucapku lirih sambil menundukkan kepalaku.


Tanpa kata, Bang Arka langsung mengangkatku dan menghempaskan tubuhku di kasur. Aku tertidur di kasur dengan jantung bergemuruh. Aku mendadak merasakan de javu.

__ADS_1


Duh Gusti, kenapa aku mengalami ini lagi? Dulu aku diselamatkan olehnya karena masalah ini. Kenapa dia sekarang yang akan menjadi pelaku? Pikiran kotorku terus membayangi otakku. Aku segera bangkit dan perlahan mundur.


Tapi telat, Bang Arka sudah mendapatkan kakiku. Dipegangnya kakiku dengan erat dan diseretnya aku menuju tubuh ya.


Aku memejamkan mata. Tak sanggup melihat yang akan terjadi. Aku berusaha melepas diri dengan menendang tangan Bang Arka yang memegang kakiku. Targetku itu, tapi kenyataannya aku menendang tak tentu arah. Sepertinya aku menendang tangan dan juga dada Bang Arka, terbukti dengan rintihan kecil yang dikeluarkan mulut Bang Arka.


"Jika kamu gak bisa diam, aku akan mengikatmu. Dan aku gak mau di bantah Mikha!" Akhirnya bibirnya terbuka, suara Bang Arka terdengar.


"Aku mau pulang Bang. Tolong lepasin aku." Aku mulai menangis.


"Jangan berpikir kotor, aku hanya akan mengompres pipimu." Ujar Bang Arka dengan dingin. Tak ada gurauan atau senyuman di wajahnya.


"Baru hari ini menerima ijazah, pikiranmu sudah kemana-mana!" Bentaknya.


"Ya kan aku ngerasa de javu Bang." Aku jujur menjawab. Seperti Bang Arka sudah kembali.


Bang Arka tidak memberi tanggapan. Tangannya sibuk mengoleskan entah apa, di pipiku. Seketika pipiku terasa dingin dan nyaman.


"Bang, Mas Hadi mana ya? Aku mau ambil tasku. Aku cari Mas Hadi dulu ya, terus aku pulang langsung." Aku langsung berdiri dan berteriak.


"Mas Hadi.. Mas.."


"Hmmmppphh.. Hmmppphhh.." Lengan kokoh membungkam mulutku dengan kuat. Aku tersentak dan melirik ke belakang.


Bang Arka sudah berdiri dibelakangku sambil memeluk pinggangku erat dengan sebelah tangannya membungkam mulutku.


"Sudah ku bilang, jangan panggil dia Mas. Panggil dia Pak. Sekali lagi aku dengar kamu memanggil dia Mas, kamu tanggung sendiri akibatnya." Suara dingin Bang Arka menerpa telingaku. Tubuhku yang hanya setinggi dada Bang Arka hanya bisa mengangguk di dekapannya.


Ada apa dengan Bang Arka? Apa pertengkaran dengan istrinya membuat otaknya bergeser lagi? Makin sering bergeser bisa bahaya ini orang!


"Kamu bisa janji Mikha? Jangan pernah membodohiku, karena kamu tau itu tidak akan berhasil." Aku mengangguk lagi, biar cepat selesai urusanku dengannya.


Bang Arka melepaskan tangannya. Dan tanpa memikirkan akibatnya, dengan bodohnya aku berlari sekuat tenaga menuju pintu. Ku coba membukanya.


Sekali lagi ku coba.


Ku coba lagi.


Berkali-kali aku mencoba membuka pintu di hadapanku tapi nihil, tak berhasil.


"Mas Hadi!" Aku berteriak.


Namun yang ku dapat sebagai balasan adalah sepasang lengan kokoh yang melingkar di pinggangku.


Telingaku menangkap hembusan nafas hangat yang sangat dekat.


"Jangan mencoba membodohi aku, Mikha dan jangan mencoba membantahku. Kamu sudah tidak bisa lari lagi dariku, Mikha. Kamu milikku." Suara Bang Arka terdengar sangat dekat di telingaku.


Aku terdiam. Merinding mendengarnya.


"Dan kamu Mikha, baru saja melanggar janjimu sendiri. Sekarang terima hukumanmu."


Gleek..


Aku menelan ludahku kasar.

__ADS_1


__ADS_2