
"Hai Bunda Kenzo yang paling cantik." Kenzo menyapa Bunda Rania dengan riang begitu wajah Bunda Rania terlihat di layar telepon selulernya. Ia sedang melakukan panggilan video.
"Eh Kenzo, lagi di mana ini? Tumben hubungin Bunda. Ke sini aja gih bantuin Bunda." Bunda Rania tak kalah heboh.
"Kan Kenzo udah bilang, hari ini gak bisa bantu Bunda, Kenzo juga sibuk Bun." Dengan suara jenaka, Kenzo coba melucu.
"Lagakmu Ken." Semprot Bunda Rania.
"Bunda, Kenzo seneng deh hari ini. Kenzo punya sopir yang imut, cantik dan paling Kenzo sayang. Pingin deh jadiin dia istri. Mau kenalan gak Bun?" Kenzo menawari.
"Hah, apaan sih Ken?" Bunda Rania kebingungan.
Kenzo langsung mengubah arah kamera, sehingga dapat menyoroti dirinya sendiri dan juga Andara yang tengah menyetir.
Andara memaksa untuk menyetir, mengingat luka yang diderita Kenzo. Selepas dari rumah sakit, Andara mengancam tidak akan mengikuti Kenzo jika dirinya tidak dibiarkan menyetir.
"Dara?? Kok kalian bisa barengan?" Bunda Rania terkejut. Andara melambaikan tangannya pada kamera, sebentar.
Bunda belum tau, berarti Karla dan Amel belum sampai ke rumah Dara nih. Batin Kenzo.
"Ada yang lagi pengen manjain Kenzo Bun. Kan Kenzo jadi ketagihan kalau gini." Kenzo menjawab asal. Andara masih terus menatap lurus jalanan di depannya.
"Kalian di mana ini?" Bunda kembali bertanya.
"Bun, izin nyulik Andara ya hari ini. Syukur-syukur kalau Andara mau aku culik tiap hari. Boleh ya Bun?" Pinta Kenzo dengan wajah memelas.
"Mau nyulik kok pakai izin. Tinggal bawa aja langsung, gampang. Lumayan ngurangin jatah beras di rumah." Bunda Rania menanggapi.
"Bunda!!" Andara berteriak setelah mendengar jawaban Bundanya.
Kenzo terkekeh mendengar jawaban Bunda Rania.
"Langsung nih berarti Bun? Boleh ya, sekalian diculik terus diajak ke KUA juga ya Bun?" Kenzo semakin gencar menggoda.
"Emang yang kamu culik sekarang udah beneran mau sama kamu, Ken?" Giliran Bunda Rania menggoda Kenzo.
"Bentar lagi dia mau Bun, yakin deh. Siap-siap punya mantu Kenzo ya Bun!" Kenzo menjawab penuh percaya diri. Bunda Rania tertawa mendengarnya. Andara mendelik.
"Boleh, asal sama-sama cinta. Kalian di mana sih ini benernya?" Bunda semakin penasaran.
Kenzo menarik nafas panjang. Dengan wajah yang serius, akhirnya ia menjawab pertanyaan yang terlontar.
"Kenzo ada di jalan arah luar kota Bun. Kenzo izin bawa Dara jalan jauh hari ini. Nanti Kenzo jelasin alasannya. Tolong izinin ya Bun."
Bunda Rania yang tiba-tiba menatap wajah serius Kenzo, seketika merasa ada yang janggal, ia ingin bertanya lebih lanjut. Tidak biasanya Kenzo yang doyan bicara ceplas-ceplos dan senang bercanda kini menatapnya dengan wajah memohon.
"Ya udah, tapi hati-hati dan sebelum makan malam harus sudah di rumah." Bunda Rania memberi izin seraya menahan rasa penasarannya.
"Bun, malam ini, izinkan Dara gak makan malam di rumah ya Bun. Tapi Kenzo janji Bun, Kenzo jagain Dara dan gak akan pulang terlalu larut."
Andara melirik Kenzo dengan bingung. Di layar telepon seluler Kenzo, wajah Bunda Rania semakin terlihat bingung, dahinya berkerut tanda semakin banyaknya pertanyaan yang ingin diajukan.
"Baiklah." Singkat Bunda menjawab.
Setelah meminta izin Bunda Rania, Kenzo menutup panggilannya. Kenzo mengetikkan sesuatu dan mengirimkannya pada Bunda rania. Kemudian Kenzo menatap Andara hangat dan penuh cinta.
"Hari ini, selesaikan sakit hatimu. Sesudah itu, biar aku yang mengobati kamu sayang. Karena aku juga ingin menyembuhkan luka hatiku saat melihatmu bersamanya terus."
__ADS_1
Andara menepikan mobilnya. Menatap Kenzo datar. Bermacam pikiran berkecamuk di kepalanya.
"Ken.. Kenzo.." Lirih Andara memanggil, tetapi bingung apa yang akan dikatakannya.
"Jangan sekarang. Kenali aku dulu. Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku. Perlahan sayang, dengan perlahan. Ikuti aja kata hatimu, beri hatimu sedikit waktu agar dia bisa terbiasa mencintaiku." Kenzo menjawab dengan senyum hangat. Mata Andara berkaca-kaca, hatinya menghangat, sejenak melupakan kesakitannya.
"Mulai sekarang, ikuti omonganku, dan ikuti aku terus. Oke?" Kenzo kembali menggoda Andara.
Andara menarik nafas panjang.
"Kita mau ke mana sekarang? Kenapa izinnya ke luar kota sih. Dikira Bunda kita mau ngapain gitu ntar." Andara bertanya sambil mengamati wajah Kenzo. Berusaha mengenyahkan perasaannya yang terus menghangat karena perlakuan Kenzo. Andara tidak ingin memanfaatkan kebaikan Kenzo.
"Kamu pengen yang ngapain emangnya? Udah ikuti aja omonganku, kita akan sampai pada tahap awal menyembuhkan lukamu." Kenzo menjawab sambil tersenyum penuh rahasia.
Andara kembali menjalankan mobilnya. Berjalan sesuai dengan arahan yang diberikan Kenzo. Memang ini jalan keluar kota, Andara mulai menyadarinya. Mereka terus berkendara tanpa henti
Hampir 2 jam Andara menyetir tanpa istirahat. Kini mereka tiba di sebuah daerah, diantara kota M dan kota P. Daerah transit, yang banyak dilalui kendaraan dari berbagai kota. Daerah pedesaan yang ramai namun asri dan berhawa sejuk. Daerah dengan pemandangan hijau di mana-mana.
Andara membelokkan mobilnya sesuai arahan Kenzo. Hingga sampailah mereka di suatu wilayah dengan jalanan yang agak menanjak. Di kanan dan kiri mereka banyak terdapat perkebunan jeruk. Rumah warga sekitar bersanding indah dengan jejeran kebun-kebun jeruk. Di ujung jalan, terdapat deretan kios yang menjajakan jeruk hasil kebun warga. Dan di kanan kirinya, terdapat deretan kedai makan yang beragam bentuknya, saling bersaing untuk menarik minat pembeli.
Kenzo mengarahkan Andara untuk berhenti pada kedai makanan yang tak jauh dari kios yang menawarkan wisata petik jeruk langsung dari kebunnya. Andara pun menuruti perintah Kenzo. Menepikan kendaraan dan memarkirnya dengan rapi.
"Aahh.." Andara menguap dan berteriak sambil mengangkat kedua tangan ke atas dan merenggangkan pinggangnya bergerak ke kanan dan kiri. Ia merasa lelah.
Kenzo tersenyum, lalu diusapnya pucuk kepala Andara penuh rasa sayang.
"Capek ya sayang. Maaf ya membiarkanmu nyetir jauh. Tapi terbayarkan kok sebentar lagi. Masuk yuk?"
Andara menatap Kenzo dengan heran. Sebebas ini aku bersama Kenzo, tanpa pernah merasa canggung, tanpa pernah merasa harus menjaga tingkah lakuku, tanpa pernah harus menutupi apapun, aku bisa menjadi diriku sendiri. Ni bocah ilfil gak sih aku nguap kayak tadi? Kok kayaknya gak ngefek ya. Batin Andara.
Andara bergegas keluar. Matanya menatap sekeliling dengan takjub. Menghirup udara dengan rakus, mengisi penuh paru-parunya dengan udara segar yang menyejukkan.
Mereka telah berada di Desa wisata yang sangat indah, pemandangan alam dan perkebunan jeruk yang diolah dengan baik ditambah letak stategis yang berada di daerah transit menjadikan Desa wisata ini sangat ramai dikunjungi wisatawan terutama di masa liburan seperti saat ini. Banyak pengunjung yang ingin menikmati indahnya pemandangan dan sejuknya udara di Desa ini.
"Gimana sayang? Gak nyesel kan ngikuti aku." Kenzo membuyarkan lamunan Andara.
Andara menoleh, tersenyum hangat pada Kenzo. Menatapnya penuh rasa terima kasih.
"Kamu yang terbaik Ken! Dari mana kamu menemukan tempat ini?"
"Aku gak sengaja nemu ini, waktu itu aku nyetir aja terus, eh taunya sampai di sini." Kenzo menjelaskan.
"Dih kenapa sih laki-laki itu sukanya gitu? Selalu bilang gak sengaja pas nemu tempat-tempat yang menakjubkan kayak gini. Kenapa juga harus nyetir terus eh ujung-ujungnya sampai di tempat yang indah? Kalian pasti udah cari tahu dulu kan sebelumnya?" Cecar Andara.
"Jadi dia juga pernah bilang gitu sama kamu ya sayang? Dia juga mengajakmu ke tempat indah?" Suara Kenzo tenang tapi terdengar sangat menusuk hati Andara.
Kenangan itu, masih terasa hangat di hatinya. Masih terasa sangat lekat di ingatannya. Andara menunduk tanpa menjawab pertanyaan Kenzo. Tanpa dijawab pun, Kenzo sudah menebak jawabannya.
"Itu kenanganmu bersamanya. Itu milikmu. Dan sekarang aku sedang membangun kenangan kita, milik kita." Jawab Kenzo dengan bijak.
Andara menarik nafas dalam. Matanya berkabut. Hatinya yang pedih, terasa hangat hanya dengan mendengar kata-kata Kenzo yang menenangkan. Dia tidak pernah menyalahkan, tidak pernah pula merasa paling benar. Seketika Andara menghambur ke arah Kenzo. Tak siap mendapat pelukan dari Andara, Kenzo membeku. Namun segera sadar dan membalas pelukan Andara.
"Makasi Ken, makasi. Entah aku harus membalasmu seperti apa, tapi aku sungguh berterimakasih padamu untuk semuanya." Bisik Andara.
"Aku gak perlu apapun. Aku hanya perlu kamu membuka hatimu untukku. Aku tau, tidak akan mudah tapi aku yakin kamu bisa. Kamu sanggup dan aku akan menunggumu." Balas Kenzo sambil mengecup mesra puncak kepala Andara. Andara terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya mampu membenamkan wajahnya lebih dalam di dada Kenzo.
Hangat. Dadanya hangat dan berdetak kencang. Irama yang indah. Andara berbisik dalam hati.
__ADS_1
"Woi Ken!! Cium-cium anak orang di pinggir jalan, tar kesambet lho. Masuk dulu bro, baru diterusin." Teriak seorang lelaki dari dalam sebuah kedai.
Andara dan Kenzo langsung melepas pelukan mereka dan membalik badan menghadap ke arah sumber suara.
"Bang Andre!" Teriak Kenzo sambil mengangkat tangannya. Tercetak senyum di bibirnya.
Kenzo menuntun Andara memasuki kedai itu. Terlihat seorang lelaki yang tidak terlalu tua, berumur sekitar awal 30, tampak gagah dengan kulit tubuh sawo matang, tinggi dan tegap. Ia sedang berdiri menyandar pada meja kasir, dengan kedua tangannya dimasukkan saku celananya sambil tersenyum menatap Kenzo dan Andara yang berjalan mendekat.
Bang Andre, nama lelaki itu, sedang menatap tangan Kenzo yang tak lepas dari tangan Andara. Senyum lebar terukir di bibirnya.
"Bau-bau udah jadian nih! Hai Andara, senang akhirnya ketemu kamu!" Bang Andre menyodorkan tangannya.
Andara bingung, bagaimana bisa lelaki ini mengenalnya. Matanya menatap kosong pada lelaki yang ada dihadapannya. Tak urung dia menerima uluran tangan Bang Andre.
"Udah gak usah bingung gitu. Beberapa waktu ini, tiap ke sini, yang keluar dari mulut nih bocah cuma namamu. Andara begini lah, Andara begitulah. Jadi Abang secara gak langsung, rasanya udah deket aja sama kamu." Bang Andre seperti tahu yang ada di pikiran Andara.
"Jadi begitu ngelihat kalian di depan tadi, Abang udah yakin kalau kamu Andara. Siapa lagi yang bakal dibawa bocah ini ke sini kalau bukan kamu. Udah bucin akut nih dia, tiap ke sini udah kayak orang gak dapet jatah aja semalem. Aku aja sampai geli ngelihatnya, iiih..." Bang Andre pura-pura bergidik dengan wajah jijik.
"Ah Bang Andre, hiperbolis banget deh kalau cerita, kapan Kenzo kayak gitu Bang? Yaelah Bang, jaga wibawa dong Bang!" Kenzo memukul pelan bahu Bang Andre.
"Emang bener sampai kayak gitu dia Bang? Terus ngapain lagi dia Bang? Ada nangis-nangisnya gak Bang? " Andara ikut nimbrung.
"Enak aja, aku gak pernah nangis tau yang!" Kenzo membela diri.
"Eeh kata siapa? Gak inget kamu waktu itu---" Bang Andre belum menyelesaikan kalimatnya namun mulutnya sudah dibungkam Kenzo.
"Terus aja Bang, los aja tuh mulut. Yang bener aja Bang, bongkar semuanya!" Sindir Kenzo. Andara terbahak. Kenzo melirik Andara.
"Puas banget yang ketawanya, kayaknya seneng banget ngeliat aibku. Tapi aku tetap yang paling ganteng, yang paling baik dan yang paling cinta sama kamu! Anti gombal-gombal klub!" Kenzo memuji dirinya sendiri, sambil bibirnya siap mendekat bibir Andara.
"Gak sopan! Sungkem dulu sama yang paling tua di sini, main sosor aja!" Bang Andre menempelkan sebuah buku tepat di bibir Kenzo sesaat sebelum bibirnya menyentuh bibir Andara.
"Bang!!" Kenzo berteriak kesal. Andara kembali terbahak.
"Hahaha.. Dasar Kenzo!! Tapi Ken, Abang seneng banget hari ini. Sejak 3 tahun kenal kamu, Abang udah melihat perubahan kamu dari waktu ke waktu. Aah sekarang Abang cuma bisa doain kalian bahagia dan bisa bersama terus." Bang Andre tulus berucap sambil menepuk bahu Kenzo pelan.
"Andara, ini cowok baik-baik, dan Abang jamin setia. Sama cowok aja setia apalagi sama ceweknya. Jagain dia ya." Bang Andre menatap Andara.
"Emang Dara satpam Bang, jagain dia terus," Andara siap protes. "Tapi Bang, kenapa Abang bisa bilang gitu? Emang apa aja perubahan Kenzo? Dan lagi kenapa Kenzo setia sama cowok? Dia bukan--" Andara menggantung kalimatnya. Alisnya terangkat.
"Aku normal tau sayang, mau cobain?" Kenzo langsung menyahut begitu sadar arah pembicaraan Andara.
Bang Andre tertawa terbahak-bahak. Setelah bisa menguasai dirinya, Bang Andre menjelaskan.
"Kamu mikirnya kemana sih Andara!! Maksud Abang tuh dia setia kawan, jadi Abang yakin dia juga setia sama kekasihnya. Dulu tuh Abang kenal Kenzo awalnya tiap dia ke sini seneng-seneng aja, terus tiba-tiba bawaannya pengen marah-marah terus. Gak lama lempeng aja, adem ayem. Eh beberapa bulan ini, tiap kesini isinya Andara gini Bang, Andara gitu Bang, ternyata Andara pacarnya Vano Bang. Abang refleks dong langsung bilang, yah dia masuk lingkaran setan lagi nih. Hahahah.." Bang Andre tertawa terbahak lagi diakhir kalimatnya. Andara membeku mendengar penuturan Bang Andre. Kenzo langsung menatap nanar pada Andara, diam-diam menginjak kaki Bang Andre bermaksud menyuruhnya diam.
"Vano? Lingkaran setan? Maksud Abang apa? Abang kenal Vano juga?" Wajah Andara pucat.
Merasa keceplosan Bang Andre langsung menghentikan tawanya, melirik Kenzo yang sudah memeluk Andara erat.
Bang Andre memberi kode pada Kenzo agar membawa Andara ke lantai 2. Langsung paham bahwa telah terjadi sesuatu yang buruk.
"Ke atas dulu yuk sayang." Ujar Kenzo begitu melihat kode dari mata Bang Andre.
Andara hanya diam, menatap Kenzo dan Bang Andre bergantian namun tetap mengikuti langkah Kenzo. Hatinya berkecamuk. Penuh pertanyaan.
Siapa kamu sebenarnya, Alvano? Batin Andara.
__ADS_1