MENTARI YANG TERSEMBUNYI

MENTARI YANG TERSEMBUNYI
MENUJU PUNCAK


__ADS_3

"Jangan telat, Pak Fabian selalu tepat waktu dan beliau gak suka anak yang suka telat." Aldrich mengingatkanku lewat panggilan telepon yang dilakukannya pagi ini.


"Iya Kakak Disma yang tampan! Ini udah ke seratus kali kak Al bilang sejak kemarin sore lho. Dari habis ngasi pengumuman sampai sekarang, itu terus yang dibahas." Cerocosku.


Aldrich tertawa diujung telepon. Suaranya nyaring dan terdengar sangat ceria pagi ini. Entah apa yang membuatnya sebahagia itu.


"Jangan sampai kamu ngerubah nama kontakku di ponselmu lho. Itu nama keramat. Kamu sebut 3 kali pasti aku gak akan datang!" Sahutnya diakhiri tawa yang semakin pecah.


"Yeee dasar artis jurusan! Aku jadi penasaran, hari ini peran apa yang mau Kak Al mainkan?" Sindirku.


"Hari ini aku jadi mahasiswa teladan dong, kayak biasanya." Suara Aldrich terdengar sombong.


"Auk ah. Ya udah, Kay berangkat dulu ya Kak. Kakak udah di kampus?" Tanyaku.


"Udah dari tadi. Ini lagi sarapan sama anak-anak." Aldrich menjawab dengan santai. Ku tajamkan pendengaranku dan benar saja dibelakangnya ada beberapa suara lelaki sedang berbincang.


"Ya udah Kak. Kay berangkat ya. Sampai ketemu lagi." Pamitku segera.


"Kay.. Gak pingin Kak Al jemput?" Aldrich menawariku tumpangan.


"Gak usah Kak. Kan dari semalam udah Kay bilang, Kay mau berangkat sendiri. Kay mau mampir dulu soalnya. Aku berangkat ya. Sampai ketemu di kampus." Tolakku halus. Segera aku berpamitan pada orang tuaku dan berangkat.


Aldrich memang sudah menawarkan diri untuk menjemputku sejak kemarin. Namun, rutinitas harianku yang baru satu bulan lebih ini ku jalani, tidak kuasa untuk ku tinggalkan.


Lagi-lagi, logikaku dikalahkan oleh perasaanku. Saat aku ingin mengakhiri semua ini, namun ke sinilah aku kembali. Aku menghentikan mobilku dan menatap rumah serta mobil yang ku kenal baik dari balik kemudiku.


"Ah sudah berangkat rupanya. Tumben hari ini pagi banget," aku menatap jam tanganku, "astaga, aku yang kesiangan!" Seruku.


Pagi ini aku tidak terlalu lama mengamati rumah itu. Segera ku kendarai mobilku menuju jalanan.


Secepatnya aku menyetir mobilku. Kata-kata Aldrich terus menghantuiku. Jangan telat. Pak Fabian tidak suka orang yang telat. Kata itu terus berputar di otakku hingga kaki kananku semakin dalam menekan pedal gas.


Braaakkk..


"Aahh.." Aku berteriak sekeras-kerasnya saat menyadari aku menabrak mobil yang ada di depanku.


Tanganku mendadak dingin, keringat membasahi dahiku dan tubuhku bergetar hebat. Aku sungguh terkejut. Aku melirik sekilas, astaga Kay, ini salahmu, lampunya bahkan masih merah dan kamu terus saja menekan gas. Semoga tidak parah dan tidak ada korban.


Aku menepikan mobilku, mengikuti mobil depan yang ku tabrak. Ku lihat seorang pria paruh baya keluar dari dalam mobil. Ah semoga aku bisa mendapat keringanan.


"Maaf Pak. Maaf sekali. Saya tidak sengaja. Sungguh saya tidak sengaja. Saya keburu-buru mau ke kampus. Saya salah lihat jam tadi Pak, jadi tidak sadar jika hari sudah siang." Ujarku dengan lembut dan wajah yang benar-benar ketakutan. Aku pasrah bila harus mendapat kemarahan pria ini.


Ku lirik sekilas, bagian belakang mobilnya agak penyok namun tidak parah. Dan ku lihat mobilku, astaga!! Kenapa punya Bapak ini cuma penyok dan lecet dikit sedangkan punyaku sampai separah ini? Seketika aku ngeri membayangkan reaksi Papa.


"Pak, maaf, jika diizinkan saya akan menanggung biaya kerusakan mobil bapak. Saya janji akan menanggung semuanya." Imbuhku kemudian saat tidak mendengar sepatah katapun dari si empunya mobil yang ku tabrak.


Aku benar-benar ketakutan. Tiba-tiba saja ponselku berdering kencang. Ku lihat layarnya, oh Tuhan, aku pasti terlambat. Mengingat alarm pribadiku sudah menelepon, dapat ku pastikan aku sudah berada di waktu genting.


"Apa kamu terburu-buru nak?" Pria paruh baya yang mobilnya ku tabrak tadi akirnya bersuara.


Aku mengangkat kepalaku menatap Bapak tadi. Dan aku mengangguk ragu.


"Apa kamu mahasiswa baru?" Tanya pria itu padaku.


"Benar Pak."


"Apa ini masih ospek?"


"Sudah selesai Pak ospeknya. Hari ini pertemuan pertama dengan dosen pembimbing akademik."


"Dan kamu gugup hingga tidak konsen menyetir dan menabrakku?"


"Maaf, Pak. Saya benar-benar tidak sengaja. Saya salah melihat waktu dan saat sadar hari sudah siang. Dan kabarnya dosen saya killer Pak."

__ADS_1


Aku jujur mengatakan semuanya. Entah kenapa mulutku lemas sekali mengungkap kebenaran. Atau memang aku anak yang jujur. Hahaha aku terbahak dalam hati saat memberi penilaian pada diriku sendiri.


"Hahahah dosen killer ya. Seperti apa itu dosen killer?" Pria itu bertanya dengan nada jenaka.


Jika aku punya banyak waktu, aku yakin, dengan senang hati aku akan meladeninya berbincang. Tapi sekarang aku ada di injury time!


Ponselku kembali berdering. Ku lirik tetap dari nomor yang sama. Aku mendesah kesal. Aku tahu aku terlambat, jangan malah membuatku semakin bingung. Aku masih terjebak disini.


"Angkat dulu nak, siapa tahu penting." Pak tua itu menyela pikiranku. Aku menatapnya, meyakinkan pendengaranku. Dan dia mengangguk menyetujui pertanyaan tak terungkapku.


Segera ku geser tombol hijau di layar ponselku.


"Kak Al." Aku langsung berteriak memanggilnya. Entah kenapa aku sungguh ingin mengadu padanya.


"Ada apa? Kamu di mana sekarang? Kenapa belum datang?" Aldrich mencercaku.


"Kak Al. Aku kecelakaan. Huaaa." Tangisku pecah. Rasa yang ku pendam sedari tadi ku keluarkan dengan lantang. Rasa takut dan gugupku keluar sebagai teriakan dan tangisan.


Suara Aldrich terdengar dingin saat bertanya padaku dan jelas perintah yang tak ingin di bantah.


"Di mana kamu, share loc sekarang!"


Aku segera mematikan panggilanku dan langsung mengirim lokasiku terkini.


"Sepertinya, kamu yang lebih terkejut dengan kejadian ini. Tenanglah nak, kamu tak perlu takut." Bapak paruh baya itu justru menenangkan aku.


Aku tak tahu seperti apa rupaku saat ini. Entah karena kecelakaan atau karena aku tidak mendapatkan moodbooster yang benar pagi ini, yang jelas perasaanku kacau!


"Jangan mengendarai mobil dulu. Sepertinya tadi temanmu menelepon. Apakah dia akan menjemputmu kesini? Tunggulah dia. Akan Bapak temani kamu. Duduklah di sana." Pria paruh baya tadi menunjuk sebuah pembatas yang ada di trotoar. Aku mengikuti Bapak tersebut dan ikut mendudukkan diriku di sana.


Hari ini sungguh kacau. Berbagai pikiran berkecamuk di otakku. Rasa takut karena terlambat di pertemuan dengan dosen pembimbing akademik yang terkenal killer, ditambah dengan gagalnya diriku untuk melihat sebentar moodbooster milikku sampai terjadinya kecelakaan ini. Sungguh ini bukan pembuka hari yang ku inginkan.


Tak beberapa lama, mobil Aldrich terlihat parkir di belakang mobilku. Dengan tergesa dia menghampiriku.


"Mana yang luka? Apa yang kamu rasakan? Tunjukan padaku mana yang sakit!" Suara Aldrich terdengar lebih kacau dari perkiraanku. Dia luar biasa gugup dan tampak ketakutan. Aku menatapnya tanpa bisa bersuara.


"Ah iya. Bapak yang terlibat dengannya ya? Mohon maaf Pak. Apa Bapak ada yang terluka?" Aldrich segera bertanya dengan sopan.


"Tenanglah. Kami tidak apa-apa, tidak ada yang terluka. Tapi sepertinya kekasihmu sedikit terkejut. Tenangkan dia saja." Ujar Bapak tua itu.


Aku mengerjapkan mata. Bingung dengan perkataan Pak tua itu. Kekasih? Siapa? Aku dan Aldrich? Hah, sejak kapan? Aku ingin membantahnya, namun ku urungkan. Jangankan untuk membantah, untuk menjawab pertanyaan saja mulutku masih kelu.


"Bapak tinggal dulu ya. Bapak tadi hanya mampir sebentar melihat rumah anak bapak. Dan tidak sengaja bertemu dengannya." Bapak tua itu pamit pada Aldrich dan menunjuk padaku.


"Baik Pak. Berhati-hatilah di jalan. Oh sebelumnya, mohon maaf. Tadi seperti apa kronologisnya Pak?" Aldrich mencoba menahan langkah Pak tua itu.


Aku hanya diam dan menjadi pendengar saja. Tubuhku benar-benar lemas.


"Ah kekasihmu hanya sedang terburu-buru dan tidak melihat lampu merah. Jadi mobil kami hanya sedikit bersentuhan." Ujar Pak tua itu sambil menunjuk mobilku dan mobilnya sendiri.


Aldrich mengalihkan pandangannya dan membelalak matanya. Ah aku tahu apa yang ada dibenaknya? Kata-kata Pak tua tadi sangat tidak masuk akal memang. Bagaimana ini bisa dibilang hanya sedikit bersentuhan, jika kerusakannya sangat parah?


"Pak, mohon maaf. Tapi, izinkan saya mengganti rugi kerusakan mobil Bapak." Aldrich berkata dengan sopan.


Pak tua itu hanya tersenyum memandang Aldrich.


"Aku cukup puas melihat kalian berdua. Dan aku juga melihat rasa tanggung jawab pada diri kalian. Itu sudah cukup sebagai gantinya. Jagalah kekasihmu, dia gadis baik. Dan kamu gadis cantik, jagalah kekasihmu juga. Lelaki sepertinya sudah sangat langka." Ujar Pak tua itu sambil menepuk bahu Aldrich dan segera masuk ke mobilnya.


"Terima kasih Pak." Aldrich berteriak dan melambaikan tangannya pada mobil Pak tua yang sudah melaju.


Sedangkan aku, masih tetap bergeming. Tak tahu harus bereaksi apa.


"Masuklah. Mobilmu biar di sini dulu. Nanti kita urus atau kita panggil derek saja." Ujar Aldrich sambil membimbingku masuk ke mobil.

__ADS_1


Perjalanan kami berlangsung hening. Tak ada yang berinisiatif memecah kesunyian. Hingga kami tiba di halaman parkir kampus.


"Kak Al, makasi. Aku.. Aku.." Aku akhirnya bisa membuka mulutku, meskipun masih terdengar gugup dan bergetar.


"Sudah. Tenanglah. Ada aku, kamu aman sekarang." Ujar Aldrich menenangkan aku.


Aku hanya bisa mengangguk.


"Kay, kenapa kamu tadi ada di daerah situ? Ada apa di sana? Hmm di form biodata, rumahmu bukan di arah sana. Maaf aku melihat data pribadimu di jurusan." Lirih Aldrich bertanya padaku.


Aku mendongak menatapnya. Tak menyangka dengan pertanyaan yang diajukan. Bahkan Aldrich pun menyadari jika arahku mulai melenceng. Meskipun dia tidak menyadari hal yang sebenarnya.


"Aku ada perlu ke rumah temanku." Hah lagi-lagi alasan yang ku kemukakan adalah kebohongan.


Aldrich tidak bertanya lebih lanjut. Dia segera membuka pintu mobil untukku. Aku menurut dan segera turun dari mobil.


"Ayo. Kita sangat terlambat mengikuti pertemuan dengan Pak Fabian."


Mendadak jantungku berdegup kencang.


"Kak Al, aku takut. Gimana kalau aku langsung dicoret dari daftar bimbingannya di hari pertama pertemuan ini?"


"Jangan konyol. Itu tidak mungkin. Dan lagi, aku sudah meminta izin dari beliau."


Aku memandang lelaki di hadapanku ini dengan mata berbinar. Senyumku akhirnya terbit.


"Kakak DISMA yang sangat bisa diandalkan. Terima kasih kakak tampan!" Ujarku sekalian menggoda Aldrich.


"Hah dasar bau seragam! Kamu baru sadar kalau aku tampan dan bisa diandalkan, huh? Ayo cepat kita masuk." Ujar Aldrich dengan setengah menyeretku.


Beberapa mata memandang ke arah kami. Tapi aku sudah tak ada waktu untuk meladeni mereka.


Aldrich dan aku segera menaiki tangga menuju lantai 4. Tempat pertemuan dengan dosen pembimbing kami. Nafasku tersenggal, karena menaiki tangga sambil berlari.


"Kay mau pingsan Kak Al." Ujarku terengah-engah saat menapaki lantai 4. Hah akirnya..


"Jangan pingsan disini, berat bawa ke bawahnya lagi." Sahut Aldrich.


"Ayo." Ucapnya seraya menarik tanganku. Aku diam saja melihat tangannya menggenggam tanganku. Aku sungguh sudah kehabisan tenaga.


Aku terus mengikuti langkah kaki Aldrich. Hingga tiba-tiba kini kami di depan ruang kelas yang bertuliskan R. 4.1. Sayup-sayup terdengar suara lelaki dari dalam ruangan. Oh rupanya Pak Fabian sudah datang.


Degung jantungku semakin keras bertalu. Ketakutanku yang tadi belum juga usai sudah ditambah dengan ketakutanku menghadapi dosen pembimbingku yang kabarnya sangat menakutkan.


"Kak, aku takut." Ujarku sambil menguatkan genggaman tanganku.


Aldrich tersenyum melihat tanganku yang tak ingin lepas dari tangannya.


"Ada aku, tenang saja." Seperti sebuah janji, Aldrich mengucapkannya dengan tegas.


Dia kemudian berada di depanku dan membuka jalan untuk kami. Pintu ruangan diketuk dan terdengarlah sahutan dari dalam.


"Masuk." Suara Pak Fabian mempersilahkan kami.


Aku bersembunyi di belakang tubuh Aldrich dan menunduk kepalaku dalam. Sungguh sangat pengecut, Kay! Aku menyumpahi diriku sendiri. Tanganku yang genggam Aldrich disembunyikan di belakang punggungnya.


"Maaf Pak kami terlambat. Dia mengalami kecelakaan." Ujar Aldrich saat kami berjalan mendekat ke arah Pak Fabian.


"Baiklah. Tidak masalah, silakan duduk." Jawab Pak Fabian ramah. Hah, dia benar-benar tidak marah!


Namun saat mendengarnya bersuara tiba-tiba aku tersentak. Ini suara yang sangat aku kenal dengan baik. Suara bariton, yang bahkan jika aku menutup mata saja, aku bisa mengenali siapa pemiliknya.


Aku menajamkan telingaku saat Aldrich mulai menyeretku untuk duduk di bangku. Dengan perlahan ku angkat kepalaku dan memastikan pendengaranku.

__ADS_1


Oh Tuhan!! Adakah kebetulan yang sesempurna ini? Atau mungkin ini semua takdir?


Aku menatap hangat pada mata yang sedang menatapku nyalang.


__ADS_2