
Tiba-tiba, lengan Andara dicengkeram dengan kuat dari arah belakangnya.
"Kamu ngapain di sini?!!" Suara tajam dari pemilik tangan yang mencengkeram lengan Andara terdengar sangat menakutkan.
Sontak Andara menoleh, diiringi Amel dan Karla yang juga penasaran siapa yang berkata dengan suara sangat mengerikan. Ketiga sahabat itu terdiam, tidak dapat mengeluarkan sepatah kata pun. Mereka membeku melihat siapa yang mencengkeram tangan Andara dengan sangat kuat.
"Aku tanya ngapain kamu ke sini? Cepat pergi!!" Kenzo, lelaki yang mencengkeram tangan Andara tadi, tiba-tiba ada di belakang Andara dan teman-temannya. Ia sedang bertanya dengan nada yang mendesak dan tidak ingin dibantah.
Andara, Amel dan Karla sangat terkejut mengetahui Kenzo juga berada di sini. Mereka mencoba menebak hubungan antara Kenzo dengan pemilik acara. Namun, tak satu pun dari mereka dapat bertanya dan mengeluarkan suara. Mereka terlalu terkejut.
Kenzo yang merasa tidak mendapat jawaban, dengan segera ia mengguncang tubuh Andara. Wajah Kenzo sudah sangat pucat sejak melihat Andara berada di tempat ini.
"Kamu ngapain di sini sayang?! Kamu bilang ke acara sunatan!!" Bentak Kenzo dengan nada menuntut penjelasan dengan segera.
Melihat Andara yang tidak segera menjawab pertanyaannya, wajah Kenzo sudah tidak bisa dilukiskan lagi, amarah seakan sudah menguasai tubuhnya. Dia langsung merebut piring yang dibawa Andara, menaruhnya di meja khusus piring kotor dan menariknya kuat hendak membawanya menuju pintu keluar.
Seketika Andara dan teman-temannya tersadar.
"Kok kamu di sini juga? Kamu kenal yang punya acara Ken?" Tanya Amel.
"Dia adik kelas di sekolah. Udah kapan-kapan aku jelasin, sekarang kalian pergi dulu dari sini. Ayo." Kenzo menjelaskan singkat sambil kembali menarik lengan Andara.
Andara menahan lengan yang ditarik. Dia menatap tajam Kenzo, matanya penuh kebencian pada lelaki itu.
"Kumohon sayang, sekali ini dengarkan aku. Cepat pergi dari sini. Ayo segera keluar dari sini." Mata Kenzo melunak, menatap hangat pada mata Andara, berharap gadis yang dicintainya itu mendengarkan dan mengabulkan permintaannya.
"Kamu ngikutin aku ya Ken?" Selidik Andara.
Kenzo mengangkat alisnya sambil membuang nafas kasar. Dia menggosok wajahnya dengan kesal.
"Sumpah!! Hari ini aku bahkan gak mikirin kamu sayang, aku juga kaget ngelihat kamu di sini. Katamu kemarin kamu ke acara sunatan. Ah sudahlah, yang penting sekarang kita keluar dulu dari sini, nanti aku janji bakal jelasin alasannya. Yuk sayang." Kenzo menjelaskan sambil menarik lengan Andara lagi.
Andara yang merasa risi segera melepaskan genggaman Kenzo. Dia memandang tajam mata Kenzo. Wajah Kenzo terlihat sangat frustasi.
__ADS_1
"Kamu mau kita pergi biar gak nambahin saingan buat dapetin sepeda lipat sama laptop ya Ken? Hayo kamu kepingin juga ya hadiahnya?" Amel bertanya dengan lugu.
"Yang bener aja Amel!! Bukan itu masalahnya, sekarang pokoknya kita kudu keluar dulu dari sini, itu yang penting sekarang, ayo cepet." Kenzo yang frustasi terus mendesak tiga sahabat itu.
"Gak mau lah, kamu aja sana yang pergi, ngapain ngusir-ngusir kita. Emang kamu yang punya acara? Kita masih mau liat undian hadiahnya kok." Andara menjawab dengan sangat ketus.
Andara bersikeras tidak mau mengikuti ajakan Kenzo. Ia merasa Kenzo terlalu mengada-ada dan mencampuri urusan mereka.
"Kamu mau apa sayang? Sepeda lipat itu? Ayo sekarang aku antar kamu ke toko sepeda kita beli sepeda lipat itu sekarang juga asal kamu mau segera meninggalkan tempat ini sayang. Ku mohon, dengarkan aku kali ini." Kenzo masih berusaha membujuk Andara. Wajahnya memelas.
Ketiga sahabat itu langsung memandang Kenzo dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana bisa dia dengan gampangnya membelikan sepeda lipat yang harganya luar biasa itu, hanya agar Andara bersedia meninggalkan tempat acara itu dengan segera.
Melihat kondisi Kenzo yang beda dari biasanya, membuat tiga sahabat itu khawatir. Alis mereka bertaut. Mereka saling memandang dengan melontarkan pertanyaan melalui sorot mata.
"Kamu sakit Ken?" Andara menyentuh kening Kenzo. Sekedar memastikan bahwa dia baik-baik saja dan tidak demam. Entah kenapa Andara sempat berpikir Kenzo mengalami suatu kejadian yang menyebabkan kepalanya terbentur sehingga tingkahnya menjadi aneh.
"Aku gak lagi bercanda Dara sayang. Ayo sekarang kita berangkat. Menjauh dari tempat ini." Kenzo sudah kehabisan kata untuk membujuk.
"Aku gak mau Ken, kamu kenapa sih? Aneh tau gak!! Jangan campuri hidupku lagi." Bentak Andara sedikit berteriak. Matanya melotot penuh kebencian pada Kenzo.
"Dara, turunin suaramu!! Malu tau dilihatin orang banyak dari tadi." Karla menginginkan.
"Lagian kamu juga ngapain sih Ken? Kayak orang ketauan habis nyolong aja tuh muka." Amel juga mulai merasa kesal.
"Iya inilah acara yang ditungu-tunggu, pemotongan kue oleh si cantik yang hari ini genap berusia 17 tahun. Vanya, sudah siap sayang?"
Belum sempat Kenzo mengeluarkan kembali kata-kata rayuan agar Andara mau pergi dari tempat itu, suara pembawa acara sudah memotongnya. Ia mengumumkan bahwa acara akan beralih ke sesi berikutnya yaitu pemotongan kue. Tepuk tangan riuh terdengar membahana.
4 pasang mata yang tadi beradu argumen langsung menoleh ke arah panggung. Ikut bertepuk tangan, melupakan pertengkaran kecil mereka.
"Eh tapi tunggu dulu, sebelum di potong kuenya, akan ada seseorang yang sangat istimewa akan mendampingi Vanya memotong kue. Kabarnya nih, udah dari bulan kemarin mereka resmi bertunangan? Benar gak Vanya?" Tanya pembawa acara itu.
Wajah Kenzo berubah jadi putih pucat saat mendengar pertanyaan itu. Vanya sedang menjawab apapun yang ditanyakan pembawa acara itu.
__ADS_1
"Dara ayo pergi!! Sekarang, dan aku gak ingin dibantah Dara!!" Ujar Kenzo tegas, matanya merah menahan amarah.
"Lepas Ken!! Cukup, aku mau di sini!! Aku yang menentukan langkahku sendiri!!" Andara memandang Kenzo dengan geram.
"Jangan bertengkar aja ah. Pada diem kenapa sih?" Amel mengingatkan.
"Kamu jelasin sekarang sama aku, sejelas-jelasnya!! Kenapa dari tadi kamu nyuruh aku keluar dari sini? Kenapa, huh?" Bentak Andara sambil menatap Kenzo penuh permusuhan.
"Itu.. Karena.." Jawab Kenzo gugup. Mulutnya tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun untuk menjelaskan.
"Nah, gak bisa jelasin kan? Kicep kan?! Kamu aneh tau gak Ken!!" Andara sudah sangat marah.
"Stt.. Jangan berisik!! Itu tunangannya mau muncul. Kalian tenang dulu ah. Ini tuh momen langka, pertunangan dini!! Baru 17 tahun udah tunangan." Karla menambahkan, sambil memandang Andara dan Kenzo bergantian.
"Kamu akan sangat sakit sayang kalau kamu tetap di sini dan aku sungguh gak tega melihat kamu tersakiti." Kenzo berkata lirih, sambil mengalungkan lengannya di bahu Andara, membawa gadis itu ke dalam pelukannya.
Andara yang tiba-tiba mendapat pelukan dari Kenzo, hanya bisa terdiam. Ia melihat ketulusan dan kerapuhan di mata Kenzo. Ia tidak menghindar dan membiarkan Kenzo memeluknya. Jantungnya berdetak dengan sangat kuat. Andara tidak bisa menyembunyikan hadirnya perasaan terlindungi. Ada perasaan nyaman yang menyeruak meskipun banyak pertanyaan yang berkecamuk di benaknya.
Amel dan Karla memandang Kenzo penuh tanya. Dahi mereka berkerut mendengar kalimat yang diucapkan Kenzo. Mereka menahan segala pertanyaan yang ingin segera dilontarkan.
"Kamu kenapa sih Ken? Aneh banget, sumpah!!" Amel memandang Kenzo, mencoba mencari jawaban dari wajahnya.
"Kamu punya ilmu gaib ya, kok bisa-bisanya memprediksi kapan Dara mau nangis atau ketawa. Jangan gila deh Ken!!" Karla menyindir.
Mereka masih menatap Kenzo dengan bingung, terlebih saat ini Andara hanya diam berada di pelukan Kenzo.
"Kamu juga kenapa sih Dara? Tidur kamu?" Karla menarik lengan Andara, mencoba membebaskan gadis itu dari pelukan Kenzo.
Namun yang terjadi adalah pelukan Kenzo semakin erat dan Andara bergeming dalam pelukan Kenzo.
"Vano kalau tau kamu pelukan kayak gini, bisa mampus beneran kamu Dara. Kamu pengen ada adu jotos lagi antara mereka?" Karla menginginkan.
"Tenang aja, biarkan kita seperti ini dulu. Dan adu jotos itu gak akan terjadi lagi. Sekarang aku cuma gak ingin Dara sakit. Karla, Amel, kalian bentar lagi juga akan.." Kenzo menggantung kata-katanya saat pembawa acara kembali bersuara.
__ADS_1
4 pasang mata itu kembali menatap ke arah panggung. Kenzo tidak melepaskan pelukannya. Ia semakin erat memeluk Andara. Kenzo menarik nafas panjang, memberikan kesempatan dirinya sendiri untuk tenang dan membiarkan detak jantungnya kembali normal. Wajah Kenzo sangat tegang. Garis wajahnya tegas dan kaku seperti sedang menunggu sesuatu yang mengerikan terjadi.
Mungkin, inilah saat yang tepat kamu mengetahuinya sayang. Ini tidak akan mungkin disembunyikan terus. Kamu berhak tau. Mungkin ini sudah takdirmu sayang, mengetahui dengan cara ini, dan untungnya aku ada di sampingmu saat ini. Aku akan melindungimu sayang. Jangan khawatir dan tolong jangan sakit. Jangan menangis sayang. Batin Kenzo. Ia sudah memutuskan membiarkan Andara mengetahuinya hari ini.