MENTARI YANG TERSEMBUNYI

MENTARI YANG TERSEMBUNYI
IZIN


__ADS_3

Mataku masih mengerjap saat sentuhan lembut mengusap kepalaku. Aku menengadah, mencari pemilik tangan yang tengah mengusapku.


"Abang." Aku berbisik sambiltersenyum menatap lelakiku itu. Ia balas tersenyum memandangku.


"Tidur di sofa sana, nanti badanmu capek kalau tidur seperti ini." Bang Arka bersiap mengangkat tubuhku yang sebelumnya tertidur sambil duduk disebelah ranjang pasien milik Kak Farel.


"Kay pingin disini Bang. Nemenin kakak." Bantahku.


"Mikha, kamu bisa menemani Farel dari sofa itu." Bang Arka terus membujukku.


Ku alihkan pandanganku pada jemariku. Tanganku bertaut dengan tangan Kakak. Seakan kami enggan berpisah. Dan untuk ukuran orang yang sakit dan tengah tertidur, genggaman tangan kakak lumayan agak kencang.


"Kakak memintaku untuk menemaninya disini Bang. Maaf, aku tak bisa meninggalkannya." Ucapku lirih sambil menatap wajah pucat kak Farel.


"Baiklah, Abang di sofa jika kamu membutuhkanku." Bang Arka bersiap kembali ke sofa saat tanganku meraihnya.


"Maaf Bang. Dan makasi untuk semuanya." Ucapku tulus.


"Tak perlu sungkan." Bang Arka mengusap kepalaku dan mencium kening ku.


Aku menyaksikan Bang Arka beranjak ke sofa. Menurunkan tubuh lelahnya untuk berbaring diatas sofa.


"Bang, Mama dan Papa kemana? Jam berapa ini? "


"Aku meminta mereka istirahat di hotel yang kita sewa tadi. Besok pagi mereka kemari. Dan sekarang masih dini hari."


Aku mengangguk. Ya, mereka juga butuh istirahat yang layak. Selama menemani kakak, aku tahu Mama dan Papa tidak pernah pergi dari rumah sakit.


***


"Mengingat kondisi Farel yang sudah sadar dan mulai stabil, kemungkinan paling lambat besok pagi atau nanti malam kami bisa memulai operasinya."


"Syukurlah."


"Bantu doa, semoga semuanya lancar."


"Tentu dokter. Usahakan yang terbaik untuk putra kami dok."


"Pastinya Pak. Melihat kondisi Farel, kamu optimistis dengan keberhasilan operasi ini."


"Kamu siap kan Farel?"


"Lakukan saja dok."


"Dokter Roy sudah diperjalanan, beliau akan ikut dalam operasi."


"Oh benarkah? Anak nakal itu sudah berubah rupanya."


"Nah Farel, banyak orang mendoakanmu dan menunggu kesembuhanmu. Jadi, semangatlah."


"Farel, berjuanglah nak. Bentar lagi kamu sembuh."


"Iya Pa."


"Jeng Mia, bagaimana yang tadi?"


"Ah jeng Ratna ini, kenapa repot-repot segala sih?"


"Ih gak repot Jeng. Malah saya senang. Farel, kamu gimana, suka yang tadi?"


"Iya tante."


"Tante sih, Ibu ah. Biar lebih akrab."


"Baiklah Ibu. Farel suka sekali. Makasi."


"Kalau Ibu punya anak perempuan, pasti Ibu jodohin sama kamu deh Rel. Ibu aja gemes lihat wajah tampanmu. Pasti turunan Jeng Mia ini."


"Jeng Ratna bisa aja."


"Untuk kita lelaki ya Pak. Saya sudah capek meski hanya membayangkannya saja."


"Benar sekali Pak."


Sayup-sayup banyak suara masuk di telingaku. Entah suara siapa saja. Beberapa suara sudah bisa ku identifikasi. Suara dan tawa riang terus bersahutan.


Mataku mulai membuka dengan perlahan, menyesuaikan banyaknya sinar yang datang. Hah sudah berapa lama aku tertidur? Jam berapa ini? Sepertinya bukan lagi pagi, ini sudah tengah hari.


Aku merasakan kenyamanan dalam posisi tidurku. Otakku langsung ku perintahkan mengingat yang telah terjadi. Nihil.


Tak ada yang ku ingat selain aku tadi malam tidur disebelah kak Farel dan sekarang aku terbangun dengan posisi tidur beralaskan sofa dengan bantal empuk dan selimut yang lembut. Hah, siapa yang sudah mengangkat tubuhku kemari? Apa Bang Arka? Eh tapi sedari tadi aku tak mendengar namanya.


Tubuhku langsung bangkit dan mengedarkan pandanganku. Benar, Bang Arka tak ada di tempat. Kemana perginya? Apa dia sudah kembali ke negara asal kami?


"Kamu udah bangun sayang?" Suara terbata dan sangat pelan menyapa gendang telingaku.


Mataku beralih pada pemilik suara itu.


"Selamat pagi kakak." Aku tersenyum menyapanya.


Kakak tertawa mendengar sapaanku begitu pula dengan lainnya.


"Ini sudah lewat tengah hari sayang." Suara lembut itu menyapaku.


"Ibu!" Kali ini suaraku sudah meninggi. Seketika aku bangkit saat melihat wajah teduh itu.


"Mama."


Mataku kembali beredar. Bingung dengan pandanganku.


"Ayah."


"Papa."


Tanpa sadar aku mengabsen seluruh penghuni kamar ini.

__ADS_1


"Hadir." Ayah menyahutku dengan terkekeh.


Aku masih mengumpulkan nyawaku yang tercecer. Berharap kesadaranku cepat pilih. Oh gosh, mengapa sudah berkumpul semua disini?


"Kay." Mama menghampiri aku dan merengkuh tubuhku.


"Kok udah ramai, Ma, kapan pada kumpul disini?" Mama membawaku mendekat ke ranjang kak Farel saat aku mulai berucap.


Tanganku terulur hendak menyalami Ibu yang duduk di sisi kiri kak Farel.


"Ibu kapan datang?" Tanyaku sambil membalas pelukan Ibu.


"Belum lama. Sekitar 4 jam lalu." Ibu terkekeh.


Aku sungguh bingung. Apa aku tertidur cukup lama?


"Kamu tidur gak kira-kira lamanya Kay. Katanya mau nungguin kakak." Kak Farel menyindirku.


Aku tersipu mendengarnya. Ah sial, aku memang tidur terlalu lama. Aku mendekati wajah kakak. Memberinya kecupan selamat pagi yang sangat terlambat.


"Selamat pagi kakakku yang tampan." Ucapku lirih.


"Selamat siang menjelang sore sayangku." Balas Farel.


Kami yang diruangan itu tertawa semuanya.


"Kamu udah siap Kay?" Aku mengernyit mendengar pertanyaan kakak.


"Siap apa Kak?"


"Siap memenuhi permintaan kakak."


Astaga! Jadi semalam itu tidak mimpi dan kakak sangat sadar. Keinginannya benar-benar tak bisa digoyahkan. Dari dulu hingga sekarang, sifat keras kepalanya sangat kuat tertanam.


"Kak--" Aku hendak membantahnya saat kakak kembali melanjutkan ucapannya.


"Kakak gak pernah minta sesuatu dari kamu kan Kay? Kakak hanya minta itu. Bisa kamu penuhi? Kakak sungguh ingin melihatmu bersanding dengan lelaki baik yang menjadi pilihanmu. Dan kakak yakin, Arka memenuhi semua kriteria yang kakak harapkan bisa kamu dapatkan untuk jadi suamimu."


Aku hampir tersedak saat mendengar ucapan kakak. Suami? Astaga! Aku sungguh belum siap untuk berumah tangga. Tapi aku juga tak bisa membiarkan kakak memasang tampang seperti ini. Oh lihatlah, wajah memelas itu, sungguh membuatku tak kuasa menolaknya.


"Tapi Kak," Lagi-lagi ucapanku terputus saat suata terbata kakak mulai terdengar.


"Lihatlah, orang tua Arka telah datang dan dia memperlakukanmu dengan baik. Arka sangat mencintaimu. Apa lagi yang kamu tunggu?"


"Kay masih kuliah kak. Masih banyak impian Kay yang belum tercapai."


"Apa impianmu itu meminta syarat jika kamu tidak boleh menikah? Raih impianmu bersama Arka Kay, biarkan dia ikut merasakan kegembiraanmu saat kamu mampu meraihnya."


"Kita akan sama-sama bahagia Kak. Termasuk kakak juga akan bahagia." Aku kembali menegaskan ucapanku semalam.


"Aku akan bahagia saat melihatmu bahagia. Dan aku bahagia jika melihatmu menikah."


"Menikah itu butuh banyak pertimbangan kak. Kay merasa belum siap aja. Besok-besok, ketika Kay sudah siap, Kay pastikan kakak menjadi orang pertama yang tahu."


"Tak ada hari esok Kay. Kakak pinginnya sekarang. Ku mohon."


"Kenapa gak ada hari esok kak?" Tanyaku dengan mata memicing.


"Perasaanmu hari ini dan esok belum tentu sama. Karenanya, aku ingin melihatmu saat ini, saat kamu benar-benar sedang mencintai Arka." Kak Farel terus saja mendesak.


Aku bergeming, hanya mampu menatap mata kak Farel yang ku rasa sangat aneh sejak aku datang. Mata yang memancarkan kesakitan namun ada binar kebahagiaan disana. Entahlah apa namanya itu.


"Kay, Mama dan Papa menyerahkan keputusan padamu. Tapi perlu kamu tahu, kami merestuimu dengan nak Arka. Kami yakin dengan nak Arka." Mama merengkuh tubuhku, membawaku dalam pelukannya.


"Mikha, sayang. Pernikahan itu memang menyatukan dua kepala untuk satu tujuan. Pernikahan itu memang bukan hal sepele. Tak ada yang menjamin pernikahan itu akan selalu indah. Ada kalanya juga diselimuti air mata. Tugas kamu dan Arka lah untuk berusaha membuat air mata dalam pernikahan kalian itu membawa tawa bahagia. Bagaimana membawa tawa dan tangis kalian menjadi sebuah amunisi untuk memperkuat pondasi pernikahan kalian. Intinya hanya satu saling percaya dan saling bergandengan tangan agar satu tujuan." Kali ini Ibu yang berbicara panjang lebar.


Kepalaku semakin menunduk mendengarnya. Apakah semudah itu? Aku sungguh belum siap. Mungkin faktor umur yang menjadi pertimbanganku. Selain itu, kebebasanku akan dibatasi dengan garis batas pernikahan. Dan jangan lupakan permasalahan dengan Adinda yang belum selesai, menurutku.


"Jika kamu mengkhawatirkan masalah Adinda, Ayah berani jamin, dia tidak akan mengusikmu lagi. Ayah yang akan menyelesaikan semuanya." Aku menatap Ayah dengan mata berair. Bagaimana bisa dia sepeka itu? Mirip seseorang. Ah iya benar, mereka sedarah, ayah dan anak.


"Kami sudah tahu semuanya Kay. Termasuk cerita yang kamu sembunyikan tentang Adinda dan segala yang mengiringinya." Suara kakak memecah konsentrasiku.


"A-a-apa kak?" Aku gugup saat menyadari kemungkinan kebenaran itu.


"Nak Arka sudah menjelaskan semuanya pada kami, Ayah dan Ibumu juga sudah menceritakan semuanya." Kini Papa yang berbicara.


Aku menatap wajah lelaki itu. Lelaki kebanggaanku, cinta pertamaku. Papa mendekati aku dan segera aku menghampirinya.


Ku benamkan wajahku pada nyamannya dada bidang Papa.


"Sejak kapan kamu berani menyembunyikan masalahmu sendiri? Apa kamu sudah tidak menganggap kami orang tuamu? Apa kamu sudah menganggap dirimu dewasa hingga tak memerlukan kami?" Cerca Ayah yang langsung ku sahut dengan gelengan. Air mataku sudah tertumpah disana.


"Jangan memendam sendiri. Kamu tidak biasanya menyembunyikan masalah dari Mama Papa Kay? Bagi keresahanmu, kita cari jalan bersama." Papa masih bersuara.


"Kay, Papa dan Mama pernah gagal dengan pernikahan sebelumnya, begitu pula dengan nak Arka. Tapi, bukan berarti kamu juga akan mengalami semua itu. Takdir tiap orang tidak sama Kay. Dan lihatlah kami, Mama Papa bahagia dengan pernikahan kedua kami."


"Mungkin inilah kesempatan nak Arka untuk bahagia di pernikahan keduanya denganmu. Begitu pula kamu, mungkin pernikahan ini merupakan jalanmu untuk lebih dewasa, lebih membuka pola pikirmu. Jangan jadikan kegagalan kami sebagai pusat traumamu Kay. Kamu berbeda. Kamu anak hebat sayang, Papa dan Mama yakin, kamu bisa menjalani pernikahan ini dengan baik dan lancar."


"Dan ingat satu hal Kay. Kegagalan kami karena kami belum menemukan orang yang tepat. Sekarang ikutilah kata hatimu, bukankah nak Arka orang yang tepat untukmu? Jangan menyangkalnya. Hari dimana Papa melarang nak Arka untuk datang ke acara perpisahan SMA mu, hari itu juga kamu mendatangi dia kan?"


Aku melongo mendengar ucapan Papa. Pelukanku semakin ku eratkan. Astaga, bagaimana Papa bisa tahu semua itu?


"Kay, kamu tidak pernah memberontak. Tapi saat Papa melarangmu menemui nak Arka, kamu diam-diam mendatanginya kan? Papa tahu Kay, hanya Papa diam saja. Karena Papa ingin melihat sejauh mana langkahmu. Ternyata, kalian memang tak terpisahkan. Bahkan di kampus, kalian masih bertemu sebagai dosen dan mahasiswa. Bukankah itu takdir yang indah?"


Aku semakin mengkerut di pelukan Papa. Jadi selama ini mereka tahu kelakuanku?


"Kay, tidak semua lelaki brengsek seperti Danen. Tidak semua lelaki akan menyayangimu seperti Papa. Tapi satu yang kamu perlu tahu, ada lelaki yang menyayangimu dengan jujur. Dia Bang Arka-mu. Dialah yang menjaga dan mengkhawatirkanmu diam-diam."


Cih, kenapa harus membahas Danen sih? Tapi bagaimanapun kerasnya aku membantah, tapi kenyataannya memang Danen meninggalkan tampak buruk untukku. Aku jadi berpikir negatif dulu terhadap setiap lelaki.


"Jadi Kay, ku mohon, aku ingin melihatmu menikah dengan segera." Suara kakak mulai terdengar setelah keheningan menyergap kami.


Aku mengurai pelukanku pada Papa dan membalik tubuhku menghadap kakak.


"Katakan satu alasan kuat Kak, kenapa kakak seperti ini? Dan kenapa aku harus menurutimu?" Aku penasaran dengan semua permintaan kak Farel.

__ADS_1


Kak Farel menghela nafasnya dengan berat. Mata sayunya menatapku.


"Kakak hanya ingin melihat kebahagiaanmu Kay. Sekarang, saat ini, ditempat ini."


"Iya tapi kenapa harus sekarang? Besok-besok masih banyak waktu?"


"Apa kamu yakin?" Kakak justru membalik pertanyaanku.


"Harus yakin dong kak!" Ucapku tegas.


"Karena besok perasaanmu bisa jadi beda Kay." Dengan lembut kakak berujar.


"Gak lah, Kay gak akan berubah perasaannya. Kay besok masih cinta kok Kak sama Bang Arka. Rasanya cinta Kay udah mentok sama Abang." Bantahku lagi. Jelas aku tak mau kalah, besok aku masih berharap rasa kami tak berubah. Ish pipiku mendadak panas.


"Uluuuhh uluuuhh.. Meleleh hati Abang dik!"


Aku tersentak mendengar suara itu. Suara bariton tak asing yang menyapa gendang telingaku diiringi suara gelak tawa yang sangat ku kenal. Seketika aku berputar dan melihat pemilik suara itu. Mataku melebar mendapati pemandangan di hadapanku.


"Kak Kendrick? Winda? Kenapa bisa disini?" Aku berteriak, setengah histeris mendapati siapa yang berdiri di depanku.


Mataku melirik seseorang yang tengah tersenyum lebar disamping Ayah. Astaga, apa dia mendengar semuanya? Malunya aku!


"Jelas kami disini dong, untuk memberi semangat padamu." Kendrick menjawab dengan gaya jenakanya.


"Kita juga mau dong Kay jadi saksi hari bahagiamu. Malah aku udah mendapat izin khusus dari Bang Arka," Winda menyahut tapi langsung menutup mulutnya, "maksudnya Pak Fabian ding." Imbuhnya sambil tertawa masam.


"Nilaimu langsung E sayang, kalau manggil dia Bang Arka." Kendrick terkekeh sambil mengusap puncak kepala Winda dan membawa Winda dalam pelukannya.


Mataku membulat sempurna. Oh astaga, apa ada yang ku lewatkan kali ini?


"Ehm.. Itu tangan tolong dikondisikan Kak. Kalau gak dikondisikan Kay anggap kalian memiliki hubungan lebih." Cercaku.


Kedua manusia di hadapanku itu tersenyum lebar. Oh gosh benarkah yang ku lihat?


"Winda! Bisa-bisanya sih nyembunyiin dari aku? Sejak kapan? Ih tega deh. Gan setia kawan nih!" Gerutuku.


Semua yang di ruangan itu tertawa terbahak-bahak.


"Semua udah pada tahu?" Tanyaku.


"Sayang, daripada ngurusin mereka, coba katakan yang tadi kamu bilang, Abang pingin denger lagi." Aku melirik pemilik suara itu.


Tiba-tiba malu menyergap tubuhku. Segera ku balik tubuhku dan berjalan mendekati Mama.


Ku peluk tubuh itu dan berbisik, "Kay malu banget Ma, sumpah!"


Mama tertawa mendengar bisikanku.


"Jadi gimana Kay?" Kakak menyentuh tanganku yang memeluk pinggang Mama.


Aku menatap wajah lemah kakak.


"Apa kakak yakin dengan keinginan Kakak? Kakak janji harus sembuh ya kalau Kay nurutin kakak?"


"Kakak yakin dengan keinginan Kakak Kay dan kakak yakin bentar lagi Kakak gak merasakan sakit." Wajah kakak dipenuhi senyum lebarnya.


Senyumku terbit. Setidaknya ada semangat sembuh dalam diri Kakak.


"Karena Kay sayang kakak dan Kay juga cinta sama Bang Arka, jadi, baiklah, kita lakukan keinginan Kakak." Ucapku masih dengan memeluk Mama.


Pelukan Mama semakin erat ku rasa. Dan semakin bertambah erat saat ku rasakan ada yang memelukku dan Mama dari belakang. Aku yakin itu Papa.


"Berbahagialah Kay, dan bagilah kebahagiaanmu bersama kami." Ucap Papa.


"Aku pasti sangat bahagia saat melihatmu tersenyum seperti ini Kay." Ucap kak Farel.


Dan banyak sekali ucapan yang ku dengar setelahnya. Namun tak ku hiraukan. Aku masih menatap wajah pucat kakak yang ku rasakan semakin aneh. Apa dia sedang menahan kesakitannya?


"Ehm, Mikha," Ucapan Bang Arka mengurai pelukanku, "kamu membawanya?" Imbuh Bang Arka yang membuat dahiku berkerut.


Membawa apa sih? Kenapa bicara dengan Bang Arka ini seakan berbicara dengan alien saja.


"Cincin kita, ada padamu kan?" Bang Arka menerjemahkan kebingunganku.


Ah jadi itu maksudnya.


"Ini Bang." Ujarku sambil mengambil kalung yang memiliki gantungan dua cincin, yang saat ini ku pakai.


"Hah, dia sudah mencuri start rupanya." Desah Ayah.


"Saya kecolongan Pak William." Papa terkekeh.


"Arka sudah memikirkan semua ini jauh-jauh hari Yah, Pa." Bang Arka membantuku melepas kalung itu.


Ia tersenyum saat kedua cincin itu telah berada di tangannya.


"Kakak ipar, izinkan aku menikah adik tersayangmu." Bang Arka mendekat ke arah kak Farel dan bersalaman dengannya.


"Aku akan menjaganya dan berusaha membuatnya selalu tersenyum. Dan terima kasih untuk semuanya." Ucapan Bang Arka terdengar saat tulus.


Kini ia kembali di hadapanku.


"Sudah siap menjadi Nyonya Arka?" Tanyanya dengan senyum menawan.


Baru juga mulutku ingin menjawab, tapi ternyata ada suara yang lebih dulu menjawab.


"Awww meleleh hati adik Bang. Mau dong dinikahi juga Bang Arka. Ih so sweet banget sih Bang Arka."


Kami semua tertawa mendengar suara celetukan dari Winda kecuali satu orang yang bermuka masam.


"Minta nikahin tuh ke aku sayang, bukan ke Arka. Enak aja." Ujar Kendrick sewot.


"Eh maaf sayang, keceplosan." Winda tampak salah tingkah.


"Yeee si posesif nomor dua. Dih siap-siap deh diikutin kemana-mana." Cibirku pada pasangan itu.

__ADS_1


Kami tertawa bersama. Dalam kebahagiaan yang menyelimuti kami. Aku melirik kakak, ia tertawa dengan hangat. Wajah tampannya terlihat tenang. Ah dia memang kakak terbaikku.


__ADS_2